eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Oktober 30, 2008

BURSA PERAGU SEDUNIA: bei

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 1:08 am

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (30/10) diperkirakan masih mengalami tekanan. Investor pun disarankan fokus pada pembelian jangka panjang di sektor perbankan seperti BMRI, BDMN dan BBCA.
Analis Valbury Securities Mastono Ali mengatakan, indeks saham masih akan sulit mengikuti rally yang terjadi di bursa Asia mengingat banyaknya katalis negatif di pasar. Kendati bank sentral AS, The Fed memangkas suku bunga acuannya, resesi masih akan membayangi bursa Wall Street.
“Pelaku pasar masih mencermati dampak penerapan kebijakan pemerintah terhadap sektor finansialnya,” ujar Mastono kepada INILAH.COM, di Jakarta, semalam. Selain itu, investor saat ini juga sedang menanti dua kebijakan penting dari dalam negeri, yaitu penurunan harga BBM dan data inflasi Oktober.
Menurutnya, inflasi bulan ini diprediksikan cenderung tinggi, sehingga BI bakal menemui kesulitan menurunkan suku bunga acuan BI rate-nya. Mastono pun memprediksi BI justru akan menaikkan tingkat suku bunganya terkait volatilitas rupiah yang tinggi.
Apalagi ada ancaman dana-dana nasabah di perbankan (deposito) akan lari ke bank luar negeri seperti Singapura karena adanya penjaminan penuh. “Pengalihan ini juga didukung kondisi dolar Singapura yang lebih stabil,” tandasnya.
Lebih lanjut Mastono mengungkapkan bahwa tekanan terhadap pasar bursa belum mereda karena rebalancing para hedge fund masih berlangsung terlihat dari masih terjadinya gelombang arus dana keluar (capital outflow). Alhasil, sentimen positif yang masuk ke bursa hanya ditanggapi dingin oleh pasar.
Sementara daya beli investor pasar modal juga melemah karena memang likuiditas minim, Alhasil, ketika harga saham menjadi

murah, investor tidak punya dana

untuk melakukan pembelian.
Mastono menyarankan investor jangka panjang mulai mengakumulasi saham yang valuasinya sudah rendah. Selain juga mempunyai fundamental bagus dan membukukan pertumbuhan penjualan di kuartal III 2008.
Emiten yang disarankan adalah saham

perbankan, mengingat price earning ratio (PER)
sektor ini merupakan yang terendah dari semua sektor di pasar
modal

. “Saham yang valuasinya sudah murah adalah BMRI, BDMN, BBCA,” katanya.
Namun, Mastono mengakui pertumbuhan kredit perbankan sebenarnya mengalami pelambatan. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan kredit kuartal IV 2008 dan berlanjut pada tergerusnya margin pendapatan perbankan.
Ia juga mengingatkan, harga saham saat ini sudah tidak mencerminkan fundamental perusahaan, karena sudah terlalu murah. Namun, sulit mengharapkan pertumbuhan terkait tren melemahnya kinerja perseroan akibat meluasnya krisis finansial.
“Semua kinerja akan melemah dengan kadar yang berbeda, ada yang melemah signifikan tapi ada pula yang hanya melambat. Yang pasti semua merosot,” ujarnya.
Di sisi lain, Mastono tidak merekomendasikan berinvestasi saham untuk jangka pendek. Pasalnya, dengan proyeksi penurunan pendapatan emiten, sulit mengharapkan saham untuk rebound dalam jangka pendek.
Apalagi valuasi rendah belum memastikan bahwa saham tersebut sudah berada di level bottom. “Itu cuma menunjukkan PER rendah, tapi belum ada konfirmasi. Jadi masih ada kemungkinan turun lagi,” tukasnya.
Perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi 50.759 kali, dengan volume 2,434 miliar unit saham, senilai Rp 1,682 triliun. Sebanyak 70 saham naik, 99 saham turun dan 46 saham stagnan.
Saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 400 ke posisi Rp 6.550, PT Indosat (ISAT) Rp 350 ke posisi Rp 5.150, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 175 ke posisi Rp 2.200 dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) naik Rp 175 ke posisi Rp 2.000.
Demikian pula saham PT Telkom (TLKM) naik Rp 100 menjadi Rp 5.100, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 25 menjadi Rp 4.175 dan PT Bank Internasional Indonesia (BNII) naik Rp 10 menjadi Rp 455.
Sedangkan saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 650 ke posisi Rp 5.950, PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) turun Rp 325 ke posisi Rp 2.975, serta PT Astra International (ASII) turun Rp 200 ke posisi Rp 7.100.
Saham PT United Tractors (UNTR) juga turun Rp 250 menjadi Rp 2.400, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 25 menjadi Rp 2.650, dan PT Timah (TINS) turun Rp 10 menjadi Rp 990. [E1]

Iklan

Oktober 27, 2008

Naas KOK good NEWS sih

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 12:35 am

detik.com Jakarta – Dua kali crash besar di pasar saham di tahun 1929 dan 2008 sama-sama terjadi di bulan Oktober. Demikian pula sejumlah kejatuhan besar bursa dunia.Orang pun mengkaitkan bulan Oktober sebagai bulan penuh kesialan untuk pasar saham. Boleh percaya, boleh tidak.
Yang pasti, selama Oktober 2008, pasar saham di berbagai belahan dunia terantuk-antuk ke level terendahnya akibat rangkuman berbagai sentimen negatif. Peristiwa yang sama terjadi di bulan Oktober, 79 tahun silam.Siapapun tentu ingat dengan peristiwa Great Depression atau depresi besar yang dipicu oleh kejatuhan indeks Dow Jones, yang kebetulan juga terjadi di bulan Oktober tahun 1929. Peristiwanya ditandai dengan ‘Black Monday’ yang terjadi pada 28 Oktober 1929. Saat itu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) tercatat merosot hingga 12,82%. Hari berikutnya dikenal dengan ‘Black Tuesday’ yakni saat indeks Dow Jones kembali merosot hingga 11,73% pada 29 Oktober 1929.Sementara pada Oktober 2008, indeks Dow Jones sudah sial sejak awal bulan. Dow Jones mengawali bulan Oktober dengan hingga 3,22%. Indeks Dow Jones terus menerus mengalami kejatuhan terbesar, bahkan hampir seburuk saat peristiwa Great Depression.Dan pada Jumat, 24 Oktober 2008, indeks Dow Jones masih ditutup merosot 312,30 poin (3,59%) ke level 8.378,95. Seperti dikutip dari Reuters, sepanjang bulan Oktober, indeks Dow Jones tercatat merosot hingga 22,8%, S&P 500 merosot 24,7%.
Reuters mencatat, kejatuhan pasar di bulan Oktober juga terjadi pada tahun 1987 dan 1929, termasuk pelemahan tajam pada 27 Oktober 1997.Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) pun tak bisa lepas dari kesialan untuk bulan Oktober 2008 ini.
Catatan kelam BEI terjadi pada 8 Oktober 2008, saat lantai bursa untuk pertama kalinya ditutup karena transaksi perdagangan yang terus merosot. Kesialan-kesialan juga terus dicetak BEI sejak awal Oktober. Sempat libur perdagangan selama 4 hari karena lebaran, IHSG terus terguling hingga pada 24 Oktober lalu ditutup terpuruk ke level 1.244,864, yang merupakan level terendah sejak Juni 2006.Kemerosotan ini tampaknya sedikit tertolong oleh auto rejection batas atas bawah 10% yang diterapkan oleh BEI. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja tak ada aturan auto rejection itu.
Bursa-bursa dunia lain pun mencatat pelemahan terburuk sepanjang Oktober. Tak ada bursa dunia yang kebal dari kejatuhan selama bulan Oktober 2008 ini.Terlepas dari faktor kebetulan sial atau tidak, namun yang pasti kejatuhan bursa-bursa dunia kali ini terutama dipicu oleh kekhawatiran investor akan kondisi institusi finansial yang berjatuhan dan harus mendapatkan suntikan dana dari pemerintah.Kecemasan investor makin menjadi-jadi setelah Lehman Brothers bangkrut, dan diikuti oleh AIG yang harus diselamatkan pemerintah AS. Kejatuhan itu diikuti oleh institusi finansial besar dari berbagai belahan dunia seperti Fortis, ING dll.Amerika bahkan menyiapkan dana talangan hingga US$ 700 miliar untuk menyelamatkan institusi finansialnya, setelah raksasa bank investasi Lehman Brothers bangkrut. Sementara masing-masing negara Eropa juga menyiapkan dana talangan hingga ratusan miliar dolar juga.Terbaru adalah pendanaan melalui mekanisme swap yang disediakan oleh ASEAN+3 atau ASEAN tambah Korsel, China dan Jepang sebesar US$ 80 miliar untuk menghadapi krisis.Bagaimana prospek pasar saham untuk pekan ini?
Semua mata kini akan tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committe (FOMC) selama dua hari yang akan mulai diselenggarakan pada Selasa, 28 Oktober 2008. Para analis memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunganya 50 basis poin dari 1,5% menjadi 1%. Sebagian lagi bahkan memperkirakan ada kemungkinan hingga 20%, the Fed akan memangkas suku bunganya lebih agresif menjadi 0,75%.”
Antisipasinya adalah the Fed akan menurunkan suku bunga. Pertanyaannya adalah: seberapa besar?” ujar Bucky Hellwig, senior vice president Morgan Asset Management seperti dikutip dari Reuters.”Penurunan suku bunga kemungkinan tidak akan memberi banyak keuntungan ke pasar. Secara psikologis, penurunan suku bunga yang lebih besar dari ekspektasi akan mengkongirmasi bahwa the Fed sesungguhnya menggunakan seluruh senjata dalam rangka mencoba dan membuat kejatuhan kali ini tidak terlalu menyakitkan,” imbuhnya.Sentimen lainnya adalah dari pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) AS yang akan diumumkan pada Kamis. Dari data itulah orang akan mengetahui, seberapa jauh kejatuhan ekonomi AS.Para analis berpendapat, pekan ini akan menjadi momen yang krusial untuk pasar saham karena begitu banyak data yang keluar. (qom/qom) –>
http://www.finfacts.com/Private/curency/djones.htm
27 October 1997

Chaos on Asia’s financial markets leads to a global selloff. The Dow Jones index
falls 554 points – its biggest single-day point drop. However, as the index has
dramatically grown in size, this amounts to “only” 7.2% of the Dow’s overall
value. For the first time curbs – that were instituted after the 1987 crash –
halt trading for 30 minutes after the Dow falls 350 points. After the Dow falls
more than 550 points, trading is halted again for the final 30 minutes of
trading.

28 October 1997

The next day, Wall Street leads a global stock rebound. The Dow finishes up 337
points, or 4.7%, at 7,498, its fourth-biggest single-day points gain. NYSE daily
volume tops 1bn shares for the first time, ending the day at 1.2bn shares
traded.

3 April 1998

The Dow rises above 9,000 points early in the session as a surprisingly weak
report on U.S. employment sends interest rates lower.

17 July 1998

New heights are scaled as the Dow closes at 9,337 points

.
4 August 1998

The Dow closes 299.43 points down at 8487.31 – then the index’s third biggest
one-day points loss.

31 August 1998

Another bad day for Wall Street. The ‘bears’ are rampant as the Dow Jones drops
to 7,539 – down 512 points or more than 6%. The Dow has now lost 19.2% since its
high in July.

17 March 1999

For the first time the index sails past the 10,000 points mark – but profit
taking in the afternoon drives down share prices and the Dow closes at 9,931
points. The feat is repeated during the following two days, but the index always
closes in the four-digit range.

29 March 1999″

Dow 10,000″ – after a surge of 170 points the Dow Jones closes at 10,006.78 –
for the first time above the 10,000 level.

03 May 1999″

Dow 11,000″ – up 225 points to close at 11,014. It takes the Dow just over a
month to reach this landmark, the fastest 1,000 points jump. Records tumbled
during April, as the Dow steadily edged towards this new all-time high.

Oktober 25, 2008

to buy n to hold, no more, that’s it

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 7:25 am

Strategi Beli Lalu SimpanSenin, 20 Oktober 2008 – 10:11 wibTEXT SIZE : Artikel ini Disajikan oleh Tim BEI
Ketika pasar saham turun, tidak mesti ditindaklanjuti investor untuk keluar dari pasar. Sebaliknya mereka terus memantau kinerja pasar, apalagi saham-saham yang menjadi incaran. Pendeknya mereka berharap bisa membeli saham incarannya itu pada harga murah lalu menyimpannya. Strategi investasi yang demikian itu dalam investasi saham disebut dengan strategi beli dan simpan atau buy and hold. Karenanya jangan heran begitu pasar turun, seperi saat ini, sebagian investor yang justru menambah dananya untuk membeli saham.
Sepekan terakhir penerapan strategi investasi seperti itu tampak jelas terlihat di lantai bursa. Apalagi bagi fluktuasi harga saham yang terjadi saat ini sifatnya sesaat. Lebih tepat lagi karena aspek psikologis dari pasar. Risiko pasar adalah sebuah risiko yang sama sekali tidak bisa dijelaskan secara ekonomi. Misalnya pertumbuhan ekonomi bagus, inflasi terkendali, tingkat suku bunga stabil, tapi boleh jadi pada suatu kondisi pasar justru bergerak negatif lantaran ekspektasi investor tidak sama dengan ekspektasi pasar. Dalam konteks perdagangan saham, ketika pasar turun boleh jadi ekspektasi sebagian investor justru naik. Perbedaan ekspektasi ini� selalu terjadi, karena investasi saham adalah investasi pada prospek, sedangkan penciptaaan harga saham yang dibuat pasar adalah harga yang terjadi pada saat selama pasar berlangsung sehingga ekspektasi investor dengan ekspektasi pasar pada hari itu akan berbeda.
Penyebabnya bisa apa saja. Penyebab yang paling sederhana adalah mungkin karena supply dan demand yang tidak seimbang. Ketika supply saham berlebih, sementara demand tetap maka dengan sendirinya harga saham akan turun. Intinya risiko pasar sering terjadi di pasar modal karena kondisi yang tidak bisa dijelaskan secara ekonomi. Faktor regional dan global juga bisa berpengaruh terhadap kondisi harga saham di lantai bursa secara mendunia. Kapan itu terjadi? Adalah saat ini. Saat dimana investor asing banyak melakukan penjualan atas investasinya di BEI karena alasan kebutuhan likuiditas di negara seperti yang terjadi saat ini.
Kita tahu investasi saham adalah investasi jangka panjang (long term) dengan horizon di atas lima tahun.� Dengan membentuk horizon waktu yang demikian panjang itu menjadikan investor bisa mengoptimalkan hasil investasinya. Setidaknya dengan sudah menerapkan bahwa investasinya di atas lima tahun hingga 10 tahun, investor tak perlu ketar-ketir menghadapi kondisi indeks harga saham gabungan sebagaimana yang terjadi saat ini. Malah sebaliknya ketika harga saham turun justru terus menambah kepemilikan sehingga begitu batas waktu investasi berakhir dan harga saham naik keuntungan menjadi sangat maksimal. Jadi tujuan dari buy and hold adalah untuk mendulang keuntungan pada masa yang akan datang. Karenanya agar strategi ini sukses diterapkan investor harus memahami faktor-faktor menyebabkan harga saham turun dan sifatnya sementara, sebagaimana faktor pasar.
Faktor-faktor yang bisa dikategorikan sebagai faktor sementara dalam penurunan harga saham misalnya terkait dengan sukubunga dan inflasi, serta akibat faktor interaksi bursa saham secara global dimana informasi saling terkoneksi sebagaimana yang terjadi saat ini dimana penurunan harga saham di bursa yang satu akan berpengaruh pada bursa yang lain.
Risiko Permanen
Setelah kita mengenal risiko temporari di pasar modal, dan berusaha memanfaatkan risiko yang temporari itu (suku bunga, inflasi dan risiko pasar) tentunya kita juga harus mengenal risiko yang permanen dalam investasi saham. Risiko permanen yang mungkin terjadi adalah bubarnya perusahaan yang menjual saham alias dilikuidasi. Untuk likuidasi ini tidak datang begitu saja, melainkan ada tahap-tahapan dan warning yang diberikan oleh Bursa Efek Indonesia. Misalnya ketika laporan keuangan perusahaan disclaimer, BEI akan mempertanyakan going concern dan diwajibkan melakukan public expose. Jadi untuk bisa mengetahui “bahaya” permanen dalam investasi saham ini investor harus menyerap informasi penting bursa, mempelajari industri dari saham yang dimiliki dan mempelajari laporan keuangan perusahaan.
Dalam laporan keuangan misalnya, ketika harga saham sudah jatuh dari nilai buku, maka investor bisa segera berancang-ancang untuk melepas saham itu kecuali perusahaan itu akan melakukan corporate action. Dari sisi industri, kalau sudah diketahui bahwa industri sebuah emiten tergolong sunset industri, jual lalu beli saham lain yang lebih prospektif lalu hold. Strategi buy and hold ini digunakan oleh investor karena berkeyakinan bahwa suatu perusahaan akan berkembang salam jangka panjang, misalnya perusahaan yang produknya sangat strategis. Umumnya strategi ini juga cocok digunakan pada saat harga mencapai titik terendah atau umumnya pasar sedang bearish (harga-harga saham sangat rendah) yang terjadi karena faktor yang sifatnya sementara. (tim bei)

Oktober 22, 2008

seharusnya ihsg itu valid dan solid

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 10:37 am

cara penghitungan INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN BURSA EFEK INDONESIA:

Oktober 20, 2008

investasi reksa dana saham yang ANEH

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 4:36 pm

namanya hebring: pro shares … mendukung saham … jadi beneran deh, ketika saham2 dow jones bertumbangan, maka reksa dana ini justru berjaya … kenapa di Indonesia ga ada jenis reksa dana seperti ini?

September 20, 2008

reksa dana saham emang buruk saat ini…

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 3:38 pm

jika dibandingkan NAB 28 Desember 2007:
REKSA DANA SAHAM
fortis ekuitas
28 desember 2007: 10.202,65
19 september 2008: 6.613,91 GAIN: -35,17% (NGERI….)
manulife saham andalan:
28 desember 2007: 1.028,96
19 september 2008:709,19 GAIN: -31,08% (ASTAGA….)
manulife dana saham:
28 desember 2007: 6,845,53
19 september 2008:4.686,46 GAIN:-31,54% (ANCUR…)
phinisi dana saham:
28 desember 2007: 11.989,75
19 september 2008:8.465,59 GAIN:-29,39% (PUZZINGG…)
schroder dana istimewa:
28 desember 2007: 2.956,45
19 september 2008:2.183,96 GAIN:-26,13% (MENGGIGIL…)
schroder dana prestasi plus
28 desember 2007: 13.379,55
19 september 2008:9.862,03 GAIN:-26,29% (MERINDING…)
karena gw baru punya, maka dibandingkan dengan tgl masuknya
pnm ekuitas syariah
30 april 2008: 1.422,5
19 september 2008: 980,3 GAIN: -31,09% (SADIS)

REKSA DANA CAMPURAN (saham+obligasi/surat utang)
manulife dana campuran:
28 desember 2007: 3.659,75
19 september 2008:2.857,46 GAIN: -21,92% (SESAK NAFAS..)
schroder dana terpadu II:
28 desember 2007: 1.571,34
19 september 2008:1.381,96 GAIN: -12,05% (BUSET, TERKECIL MINUSNYA)
reksa dana pnm syariah
13 maret 2008: 2.865,47
19 september 2008:2.269,74 GAIN:-20,79% (NYERI DADA…)

INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN BURSA EFEK INDONESIA:
28 desember 2007: 2745 (desimal dihilangkan)
19 september 2008:1891 GAIN:-31,11%

gw mah emang uda pasrah waktu memasuk 2008, karena gw uda liat data2 n komentar para ekonom luar dan dalam negeri yang sangat seragam: BEARISH, jadi gw ga salah di awal taon uda berkomentar: (klik aja link ini)
ocehan-prediksi-gw-bener-ga

September 16, 2008

tiba2 positif:

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 9:32 am

artinya: invisible hand works today … semua bursa regional merah negatif; cuma bursa indonesia yang hijau norak abis … bole sering2 neh, invisible hand-nya … he3 … ini baru invisible hand yang kecil lho … coba kalo Invisible Hand yang maha2 itu yang bekerja … (mungkin aja beda hasilnya kale)

Composite Index(Jakarta: ^JKSE)Index Value: 1,735.636
Trade Time: 5:02AM ET
Change: 16.382 (0.95%)
Prev Close: 1,719.254

… gejala tiba2 positif di bursa saham indonesia sering terjadi, sehingga gw mah uda ga heran lage … apalagi pemerintah dan bank sentral berduet (sri m + budiono) telah menjanjikan ikut menenangkan pasar … biasa lah yao

ini kata indofinanz (menutupi kenyataan bahwa ada invisible hand…)
Muantap, IHSG Rebound Dari Keterpurukan
Selasa, 16 September 2008

Jakarta (Indofinanz) – Fantastis, mungkin itu salah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang hari ini (16/09). Sempat menyentuh level terendah di 1.592,24, atau terkoreksi lebih dari 100 pts, indeks akhirnya ditutup menguat 16,38 pts atau naik 0,95 persen menjadi 1.735,64 ditopang dengan reboundnya saham-saham blue chip.

Transaksi saham sepanjang hari ini dipenuhi dengan aksi jual dan beli silih berganti. Nilai transaksi secara keseluruhan mencapai Rp4,926 trilyun (sudah kembali ke kondisi normal) dengan volume saham yang berpindah tangan 4,54 milyar lembar. Hanya 74 saham yang naik harga, 125 saham turun harga dan 50 saham statis.

Beberapa saham unggulan yang mampu bangkit dan meraih gain adalah ASII Rp1.000 ke posisi Rp16.200, BDMN Rp500 menuju Rp5.100, INTP Rp350 ke level Rp6.150, TLKM Rp350 ke harga Rp6.600 dan BBRI Rp350 ke level Rp5.150.

Adapun saham yang tetap terkoreksi sampai penutupan perdagangan hari ini antara lain BATA Rp1.250 ke harga Rp19.500, HMSP Rp700 menuju Rp10.000, BYAN Rp500 menjadi Rp2.525, PTBA Rp350 ke level Rp8.650 dan ITMG Rp300 ke level Rp19.400.

April 20, 2008

Tren Reksa Dana Saham: MDS v. IHSG

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 2:16 am

… grafik di atas menunjukkan perbandingan antara tren Nilai Aktiva Bersih Manulife Dana Saham dan Indeks Harga Saham Gabungan sejak 29 September 2003 s/d 18 April 2008. Namun grafik terutama berdasarkan data pada bulan Maret-April 2008. Data tahun2 sebelumnya hanya diambil menurut tgl2 tertentu saja, sebagai indikasi saja. Jelas peningkatan NAB MDS lebih tinggi daripada peningkatan IHSG. Namun kebalikannya, apabila IHSG cenderung merosot, maka penurunan NAB MDS lebih tajam. Keberhasilan mendapatkan laba terjadi saat tren naik. Kemungkinan risiko adalah saat tren turun. Risiko belum terjadi jika memang MDS belum dicairkan (redemption). Sementara laba juga belum terealisasi jika belum dicairkan saat tren naik. Nilai aset secara terus menerus berlangsung setiap hari kerja, yaitu Nilai Aktiva Bersih (NAB). … gimana?

« Laman Sebelumnya

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: