eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

April 24, 2016

Jika orang prihatin, trus berbicara: (plastiK): 2008_2016

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 9:00 pm

butterfly

JAKARTA, KOMPAS.com – Jangan memandang sebelah mata sampah plastik. Sampah jenis ini, khususnya yang berasal dari kemasan, justru jadi sumber utama penghasilan perusahaan daur ulang. Bahkan, di antaranya berhasil menembus pasar ekspor.

Misalnya saja Langgeng Jaya Group. Menurut Christine Halim, Pemilik Langgeng Jaya Group, pihaknya bisa menghasilkan 2.000 ton plastik daur ulang per bulan.

“Dari jumlah itu, ada yang dijual ke dalam negeri ada juga yang ekspor,” kata Christine, Rabu (20/4/2016).

Christine menjelaskan, dari produk yang ada, sebagian besar hasil daur ulang berupa cacahan. Adapun untuk pasar ekspor, produk yang dijual tak hanya cacahan tapi juga barang jadi.

Salah satu hasil daur ulang yang paling gampang ditemui adalah dakron untuk isian bantal dan boneka. “Kami juga menghasilkan produk geotex, yang biasa digunakan untuk lapisan jalan,” kata dia.

Namun dia mengakui, banyak produk olahan plastik hasil daur ulang masih kalah dengan produk-produk asal China. Untungnya, lanjut Christine, sebagian besar ekspor hasil daur ulang plastik di Indonesia juga menuju China, Korea dan negara lainnya.

Christine yang juga ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) mengatakan, potensi bisnis daur ulang plastik terbilang cukup besar.

“Misalnya tahun lalu, dari konsumsi plastik sekitar 3-4 juta ton per tahun, bisnis daur ulang bisa mencapai 400.000 ton per tahun. Itu belum dari perusahaan daur ulang di luar keanggotaan Adupi,” katanya.

Adupi yang baru dibentuk pada 2015 lalu baru berhasil mengumpulkan sekitar 130 anggota pendaur ulang plastik. Cuma, dia tidak mengetahui secara persis berapa jumlah industri pendaur ulang plastik di Indonesia.

Yang jelas, pendaur ulang plastik harus lebih diperhatikan pemerintah. Apalagi, katanya, bisnis ini bisa menjadi solusi atas sampah-sampah plastik yang selama ini selalu dijadikan isu bagi pemerintah untuk mencari tambahan pendapatan negara.

“Sekarang saja kami sudah dibebani PPn. Seharusnya cukup PPh saja. Belum lagi wacana pengenaan cukai plastik. Ya lebih baik dukung pendaur ulang plastik,” imbuh dia.

Belum lama ini, Adupi juga ikut bergabung dengan 16 asosiasi produsen dan pengguna plastik untuk menolak wacana pengenaan cukai plastik.

Melalui penolakan itu, Adupi berharap, industrinya bisa lebih diperhatikan pemerintah untuk jadi solusi terbaik sampah plastik.(Pratama Guitarra)

big-dancing-banana-smiley-emoticon

JAKARTA okezone – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan teknologi plastik yang ramah lingkungan. Selain mudah terurai oleh alam, teknologi plastik ini juga tidak berbahaya bagi manusia.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono mengatakan, Puslit Kimia LIPI telah berupaya membuat berbagai inovasi teknologi untuk mengatasi permasalahan limbah plastik. Ditemukan tiga teknologi plastik ramah lingkungan yakni Plasticizer turunan minyak sawit. Menurut dia, Plasticizer ini adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam formulasi plastik untuk menambah sifat kelenturannya, terutama untuk plastik PVC (polivinil klorida). Plasticizer ini dianggap mempunyai sifat aman dari plasticizer turunan phthalate yang bisa menggangu reproduksi manusia.

“Phthalate sudah dilarang di berbagai negara terutama negara Uni eropa. Plastik yang kami buat lebih aman karena tidak membawa penyakit pada manusia,” katanya dalam siaran pers, Rabu (2/3/2016).

Inovasi lainnya adalah Bioplastik yang dikembangkan dengan menggunakan bahan terbuat dari tapioka, selulosa dan poliasam laktat. Agus menjelaskan, bioplastik ini bisa menjadi alternatif pengganti plastik konvensional karena lebih cepat terurai oleh mikroba di dalam tanah atau air.

Teknologi ketiga disebut Mobile Insenerator yang dibuat karena limbah plastik meski ringan tetapi bervolume tinggi untuk diolah kembali. Sedangkan membakar sampah plastik di lingkungan terbuka sangat berbahaya karena bisa menyebabkan timbulnya gas dioksin dan furan yang dapat menyebabkan penyakit kanker.

Mobile Insenerator, kata Agus, adalah alat pengolah limbah, termasuk limbah plastik yang bisa berpindah-pindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Pengolahan limbah plastik dengan menggunakan mobile insenerator dapat membantu untuk mengatasi permasalahan limbah plastik yang dikumpulkan pada beberapa tempat.

“Insenerator ini dapat mengolah sampah plastik tanpa perlu khawatir timbulnya gas dioksin yang berbahaya,” ujarnya.

Agus menuturkan, teknologi plastik yang aman dibutuhkan karena konsumsi plastik di Indonesia per kapita sudah mencapai 17 kilogram per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai enam hingga tujuh persen per tahun. Bahkan, Indonesia sudah menjadi negara terbesar kedua di dunia yang membuang sampah plastik ke lautan.

Sampah plastik ini dapat berubah menjadi mikroplastik yang terapung di lautan dengan ukuran lebih kecil dari 1 mikron. Bahan ini menjadi berbahaya bila masuk ke dalam rantai makanan melalui ikan, biota laut, hingga masuk ke dalam tubuh manusia.

Dikatakan Agus, penggunaan plastik yang tidak benar dan tidak sesuai dengan kegunaannya bisa berpotensi membahayakan kesehatan manusia. “Berbagai jenis bahan kimia tambahan serta monomer tersisa yang tak bereaksi pada plastik bisa menyebabkan berbagai bahaya kesehatan seperti penyakit kanker, gangguan reproduksi, radang paru-paru dan lain sebagainya,” pungkas Agus.

(rfa)

ezgif.com-resize

Jakarta, Apa Kata Dunia?

Oleh
Wahyu Dramastuti

JAKARTA – Jumat (1/2) menjadi black Friday bagi Lenny. Hari Jumat yang bikin celaka karena dia terjebak di tengah-tengah truk, bus-bus besar, mobil pribadi, dan sepeda motor. Sudah satu jam dia menunggu di atas metro mini dengan harapan lalu lintas akan segera cair. Tapi ternyata meski jarum jam terus bergerak, lalu lintas tak juga beranjak satu meter pun.
Maka dengan pertimbangan hari masih pukul 17.00, Lenny mengajak beberapa penumpang di dalam metro mini untuk berjalan kaki menuju jalan umum, dengan asa selepas pintu tol akan mendapat kendaraan umum atau ojek. Peristiwa ini terjadi di jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yang keluar di pintu Kamal.
Lantas berjalan kakilah Lenny sepanjang berkilo-kilometer bersama beberapa orang—ada seorang ibu membawa bayi. Untuk menghilangkan bete, Lenny menyusuri jalanan sambil mendengarkan radio dengan ear phone HP. Tetapi cara ini tak mampu mengusir rasa kesalnya. Kejengkelannya baru hilang saat ia menyadari bahwa ia tidak menderita sendirian.
Ia melihat serombongan orang dengan mobil BMW dan Mercedes S-Class yang terbengong-bengong di luar mobil. Yang bisa mereka lakukan hanya garuk-garuk kepala sambil berjalan mondar-mandir.

Para penumpangnya yang wanita berbincang-bincang sambil duduk di pembatas tol. Ada pula dua orang ekspatriat dengan baju putih lengan panjang yang keluar dari taksi Silver Bird dengan roman muka kebingungan, lalu menulis di komunikator.
”Kasihan juga mereka, bisa-bisa tidur di jalan sampai besok pagi. Mereka kan orang gedean, kalau kita mah orang kecil, sudah terbiasa hidup seadanya,” kata Lenny kepada SH. Tapi ternyata selepas dari pintu tol Kamal, bukan berarti selesai penderitaan Lenny. Keadaan justru semakin parah karena tak ada satu pun kendaraan umum, tak ada pula ojek. Lokasinya masih di Cengkareng, jauh dari rumah Lenny di Cikupa, Tangerang.
Setelah berjalan kaki sekitar satu kilometer, Lenny bertemu manajer HRD di perusahaan mobil Mercedez. Sang manajer yang berbaju necis itu juga berjalan kaki bersama dua temannya yang berkulit putih bersih dan mengenakan rok hitam setinggi lutut. Dua karyawati itu menenteng sepatu hak tingginya dan berjalan tanpa alas kaki.
Setelah hari kian gelap, harapan yang tersisa dalam diri Lenny berubah menjadi kecemasan. Maklum, ia belum pernah melewati wilayah itu. Tak ada lampu di sepanjang jalan. Rumah-rumah penduduk terlihat becek. Tak ada toko satu pun.
Yang mencolok terlihat hanya pemuda-pemuda yang nongkrong di pinggir jalan dan truk-truk yang diparkir di sisi jalan. ”Wah, saya mulai gelisah karena serem,” ujar Lenny. Maka ia spontan mencegat sepeda motor yang di belakangnya kosong.
Beruntung, Lenny mendapat tumpangan motor gratis, meski harus nebeng berganti-ganti sampai tiga kali karena tujuan mereka berbeda. Menjelang Terminal Kali Deres, Lenny kembali harus turun dari motor lalu berjalan kaki sekitar satu kilometer. Tak ada cara lain selain berjalan kaki. Sepeda motor pun tak sanggup menerabas jalan yang tergenang air setinggi lutut orang dewasa, sedangkan jalan yang tak tergenang menjadi licin oleh tanah liat.

Ular di Jalan Raya
Tiba-tiba ketika sedang konsentrasi berjalan supaya tidak terpeleset, seorang pemuda berteriak. ”Awas, ular… ular…!” Dan benar juga, seekor ular berwarna coklat kehitaman merayap menyusuri pembatas di tengah jalan. Rupanya ular itu keluar dari Kali Cisadane.
Lenny masih bersyukur karena akhirnya kembali ke rumah dengan selamat meski menempuh perjalanan dari kantornya di Cikini, Jakarta Pusat, menuju Cikupa, Tangerang dari pukul 14.00-23.00. Pengalamannya pun tentu tak sebanding dengan penderitaan ribuan warga Jakarta yang juga terjebak banjir dan macet sepanjang Jumat.
Thio Lie Djien, pemilik Toko Murah di Senen, misalnya, terpaksa berjalan kaki di tengah air setinggi pinggang. Itu terjadi di tengah jalan dari arah jalan arteri Grogol menuju Kali Deres. ”Arusnya kencang jadi kaki terasa berat,” ceritanya kepada SH. Menurut Thio, tahun 2007 lalu saat Jabotabek juga dilanda banjir hebat, keadaan tidak separah kemarin.
Menurut pantauan SH, air menggenang di beberapa lokasi karena tidak bisa tersalurkan ke tempat yang lebih rendah. Yang terlihat di seputar Rumah Sakit Gatot Subroto dari seberang Atrium Senen, misalnya, lubang untuk membuang air ke parit tidak tampak. Begitu pula di sekitar Roxy Mas yang baru saja di depannya selesai dibangun fly over, pembangunan tidak dibarengi dengan pelebaran drainase.
Keadaan seperti ini masih diperparah dengan sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan.Pengendara mobil Toyota Fortuner yang terjebak macet di tengah tol menuju Bandara Soekarno-Hatta pun tampak membuang bungkus plastik di tengah jalan. Setelah membuang plastik, sang pengemudi mobil mewah itu langsung menumpangkan kaki di atas setir sambil menikmati cemilan lainnya.
Menghadapi situasi ini, Lenny mengaku tak tahu harus berbuat apa. Karena setahunya, sudah sekian kali Gubernur DKI Jakarta berganti dan berjanji mengatasi banjir, namun tetap saja keadaan tak berubah menjadi lebih baik.
”Saya benar-benar kapok, enggak mau lagi seperti ini,” keluh Lenny. Kegusaran perempuan ini memang tidak mengada-ada, apalagi untuk tahun 2008 ini pemerintah sudah dicanangkan pemerintah sebagai Visit Indonesia Year. Pertanyaannya, apa kata dunia? n

gifi

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: