eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Maret 31, 2016

5 Sila

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 10:21 am

Arti dan Makna Lambang dan Simbol Negara (Lengkap)

MARKIJAR: MARi KIta belaJAR

Arti dan Makna Lambang dan Simbol Negara – Garuda Pancasila merupakan Lambang negara Indonesia, yang juga memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Meskipun Berbeda-beda tetapi tetap satu jiwa). Lambang negara Indonesia berbentuk burung Garuda dengan kepala menghadap ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), dan mempunyai perisai berbentuk seperti jantung, yang digantung menggunakan rantai pada leher Garuda, dan terdapat semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna “Meskipun Berbeda-beda tetapi tetap satu Jiwa” tertulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Sultan Hamid II lah yang merancang Lambang ini, namun kemudian disempurnakan oleh Bung Karno, Setelah itu diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada tanggal 11-Februari-1950 dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat.
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologi
Ideologi Pancasila

Lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila penggunaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 43/1958.

Deskripsi dan arti filosofi Lambang Negara

Garuda

  • Garuda Pancasila merupakan burung yang sudah dikenal melalui mitologi kuno di sejarah Nusantara (Indonesia), yaitu tunggangan Dewa Wishnu yang berwujud seperti burung elang rajawali. Garuda dipakai sebagai Simbol Negara untuk menggambarkan Negara Indonesia merupakan bangsa yang kuat dan besar.
  • Warna keemasan di burung Garuda mengambarkan kejayaan dan keagungan.
  • Garuda memiliki sayap, paruh, cakar dan ekor yang melambangkan tenaga dan kekuatan pembangunan.
  • Jumlah bulu Garuda Pancasila mengambarkan hari / Tanggal proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, yaitu tanggal 17-Agustus-1945, antara lain: Jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17, Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8, Jumlah bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19, Jumlah bulu di leher berjumlah 45.

Perisai

  • Perisai merupakan tameng yang telah lama dikenal dalam budaya dan peradaban Nusantara sebagai senjata yang melambangkan  perlindungan, pertahanan dan perjuangan diri untuk mencapai tujuan.
  • Di tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang menggambarkan garis khatulistiwa hal tersebut mencerminkan lokasi / Letak Indonesia, yaitu indonesia sebagai negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa.
  • Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara Pancasila.
  • Warna dasar pada ruang perisai merupakan warna bendera Indonesia (merah-putih). dan pada bagian tengahnya memiliki warna dasar hitam.

Berikuut adalah Pembagian dan penjelasan lambang pada ruang perisai:

arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologi
Makna Sila Pertama Pancasila, Bintang Tunggal
Makna Sila 1, Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan Perisai hitam dengan sebuah bintang emas berkepala lima menggambarkan agama-agama besar di Indonesia, Islam, Buddha, Hindu, Kristen, dan juga ideologi sekuler sosialisme.
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologi
Makna Sila Kedua Pancasila, Rantai Emas
Makna Sila 2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan Rantai yang disusun atas gelang-gelang kecil ini menandakan hubungan manusia satu sama lain yang saling membantu, gelang yang persegi menggambarkan pria sedangkan gelang yang lingkaran menggambarkan wanita.
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologi
Makna Sila Ketiga Pancasila, Pohon Beringin
Makna Sila 3, Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin (Ficus benjamina) di bagian kiri atas perisai berlatar putih, Pohon beringin merupakan sebuah pohon Indonesia yang berakar tunjang – sebuah akar tunggal panjang yang menunjang pohon yang besar ini dengan tumbuh sangat dalam ke dalam tanah. Hal ini mencerminkan kesatuan dan persatuan Indonesia. Pohon Beringin juga mempunyai banyak akar yang menggelantung dari ranting-rantingnya. ini mencerminkan Indonesia sebagai negara kesatuan namun memiliki berbagai latar belakang budaya yang berbeda-beda (bermacam-macam).
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologi
Makna Sila keempat Pancasila, Kepala Banteng
Makna Sila 4, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan. yang disimbolkan dengan kepala banteng pada bagian kanan atas perisai berlatar merah. Lembu liar atau Banteng merupakan binatang sosial, sama halnya dengan manusia cetusan Bung Karno dimana pengambilan keputusan yang dilakukan secara musyawarah, kekeluargaan dan gotong royong merupakan nilai-nilai yang menjadi ciri bangsa Indonesia.
arti pancasila, garuda pancasila, ideologi pancasila, pengertian pancasila, pancasila sebagai ideologi
Makna Sila kelima Pancasila, Padi Kapas
Makna Sila 5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan padi dan kapas di bagian kanan bawah perisai yang berlatar putih. kapas dan padi (mencerminkan pangan dan sandang) merupakan kebutuhan pokok semua masyarakat Indonesia tanpa melihat status maupun kedudukannya. ini mencerminkan persamaan sosial dimana tidak adanya kesenjangan sosial anatara satu dan yang lainnya, tapi hal ini (persamaan sosial) bukan berarti bahwa Indonesia memakai ideologi komunisme.

Pita yang bertulis semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”

  • Sehelai pita putih dengan tulisan “Bhinneka Tunggal Ika” berwarna hitam dicengkeram oleh Kedua cakar Garuda Pancasila.
  • Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata “bhinneka” memiliki arti beraneka ragam atau berbeda-beda, sedang kata “tunggal” berarti satu, dan kata “ika” bermakna itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diartikan “Beraneka Satu Itu”, yang bermakna meskipun berbeda beda tapi pada hakikatnya tetap satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk melambangkan kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam ras, budaya, bahasa daerah, agama, suku bangsa dan kepercayaan.
Letak Warna Pada Bagian-bagian Garuda Pancasila
  • Warna yang digunakan dalam lambang Garuda Pancasila tidak boleh diletakkan asal asalan karena warna warna itu telah ditentukan untuk diletakkan pada bagian-bagian yang ada pada lambang Garuda Pancasila.
  • Warna hitam menjadi warna kepala banteng yang terdapat di lambang Garuda Pancasila. Warna hitam digunakan juga untuk warna perisai tengah latar belakang bintang, juga untuk mewarnai garis datar tengah perisai. dan Warna hitam juga dipakai sebagai warna tulisan untuk semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
  • Warna merah digunakan untuk warna perisai kiri atas dan kanan bawah yang terdapat pada lambang Garuda Pancasila.
  • Warna hijau digunakan sebagai warna pohon beringin.
  • Warna putih dipakai untuk warna perisai kiri bawah dan kanan atas. warna putih juga diberi pada Pita yang dicengkeram oleh Burung Garuda Pancasila.
  • Sedangkan Warna kuning diletakkan sebagai warna Garuda Pancasila, untuk warna bintang, rantai, kapas, dan padi.
Makna Warna pada Garuda Pancasila
Ada beberapa warna yang terdapat pada Lambang Garuda Pancasila. Warna-warna yang dipakai menjadi warna pada lambang Garuda Pancasila ini memiliki makna dan arti sebagai berikuut.
  • Warna putih memiliki arti kesucian, kebenaran, dan kemurnian.
  • warna hitam memiliki makna keabadian.
  • Warna merah memiliki artian keberanian.
  • Warna hijau artinya adalah kesuburan dan kemakmuran.
  • Warna kuning berarti kebesaran, kemegahan, dan keluhuran.

makna ideologi terbuka @ Pancasila:

Pengertian, Makna & Ciri-Ciri Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka| Pengertian Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah Ideologi yang dapat menyesuaikan diri dari perkembangan zaman tanpa mengubah nilai dasar pancasila. Makna pancasila sebagai ideologi terbuka adalah Pancasila dapat menyesuaikan dan diterapkan dari dinamika di Indonesia dan didunia. Tetapi tidak merubah nilai-nilai dasar Pancasila itu sendiri. Sehinga pancasila dapat digunakan dan diterapkan dalam berbagai zaman.

A. Syarat- Syarat Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka – Pancasila dikatakan sebagai ideologi terbuka, karena telah memenuhi syarat-syarat sebagai Ideologi terbuka antara lain sebagai berikut…
Nilai Dasar, adalah nilai dasar yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945 yang tidak berubah
Nilai Instrumen, ialah nila-nilai dari nilai dasar yang dijabarkan lebih kreatif dan dinamis ke bentuk UUD 1945, ketetapan MPR, dan peraturan perundang-undangan lainnya
Nilai Praktis, adalah nilai-nilai yang dilaksanakan di kehidupan sehari-hari, baik di masyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai praktif bersifat abstrak, seperti mengormati, kerja sama, dan kerukunan. Hal ini dapat dioperasionalkan ke bentuk sikap, perbuatan, dan tingkah laku sehari-hari.
B. Dimensi Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka – Ideologi Pancasila memiliki 3 dimensi penting yaitu sebagai berikut…
1. Dimensi Realitas adalah mencerminkan kemampuan ideologi untuk mengadaptasika nilai-nilai hidup dan berkembang dalam masyarakat
2. Dimensi Idealisme adalah idealisme yang ada dalam ideologi mampu menggugah harapan para pendukugnya
3. Dimensi Pendukung adalah mencerminkan atau menggambarkan kemampuan suatu ideologi untuk memengaruhi dan menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat.

makna ideologi terbuka Pancasila

Iklan

Maret 22, 2016

lapangDADA: OBAT ini D1TAR1K … 170215_220316

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 5:27 am

kontan Jakarta. Bagi pria yang merasa ereksinya kurang kuat atau mudah loyo, sildenafil alias viagra menjadi andalan untuk meningkatkan kemampuan seksualnya. Namun, berhati-hatilah membeli obat disfungsi ereksi ini di tempat tidak resmi.

Hasil penelitian Victory Project Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2011-2012 menemukan, obat viagra palsu banyak ditemukan di Indonesia. Dari 518 tablet sildenafil 100 mg yang dibeli dari apotek, toko obat, penjual obat jalanan, dan tiga situs web di Indonesia, diketahui 45% adalah viagra palsu.

Sildenafil palsu paling banyak ditemukan pada pedagang obat jalanan (100%), toko obat (56%), dan dari internet (33%). Meski begitu, di apotek (13%) ternyata juga ditemukan viagra palsu.

Penelitian yang dipimpin oleh Akmal Taher, spesialis urologi itu dilakukan dengan mengambil sampel obat di Jabodetabek, Malang, Surabaya, Bandung, dan Medan.

Kemudian obat-obat tersebut diuji di Divisi Operasi Kualitas Pfizer di Dalian China, untuk dinilai keasliannya dengan analisis spektrum infra merah. Semua obat yang palsu kemudian dikirim ke laboratorium obat palsu Pfiser di inggris.

Kandungan sildenfail (zat aktif) dari 106 tablet viagra palsu yang dianalisis bervariasi antara 24 sampai 157 mg per 100 mg tablet. Namun zat aktif lain yang terkandung dalam obat itu tidak diteliti.

Widyaretna Buenastuti, Public Affair and Communication Director Pfizer Indonesia mengatakan, konsumen sangat dirugikan dengan peredaran obat palsu karena tidak mendapatkan efek yang diinginkan.

“Terkadang bukan soal harga yang membuat konsumen membeli obat palsu, yang mahal pun tetap dibeli. Obat disfungsi ereksi dan obat pelangsing memang paling banyak dipalsukan, kemungkinan karena orang malu membelinya di tempat resmi,” kata Widya.

Salah satu cara untuk memastikan keaslian produk obat yang dibeli adalah dengan membelinya di apotek resmi. “Sildenafil juga tidak bisa dibeli sembarangan, harus dengan resep dokter,” katanya.

(Lusia Kus Anna)

Sumber : Kompas.com
Editor : Adi Wikanto

TEMPO.CO, Jakarta – Ingin terlihat cantik dan bugar tentu dambaan semua wanita. Tapi, salah pilih obat bisa berbahaya. Kebanyakan obat-obat berbahaya yang sering dikonsumsi wanita murah harganya dan mudah dicari via media online.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) hari ini, Senin, 30 November 2015, mengumumkan daftar obat tradisional dan suplemen kesehatan yang mengandung bahan kimia obat (BKO). “Mereka merasakan khasiatnya, persepsinya obat tersebut aman ditambah harga terjangkau,” kata Kepala BPOM Roy Alexander Sparringa di Balai Kartini, Jakarta hari ini.

Tahun ini, hingga November, terdapat 54 obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat yang sebagian juga dikonsumsi oleh kaum hawa, antara lain Plus Herbal Slip dan Potre Koneng. BPOM juga mendapati 30 jenis kosmetik, selama setahun sejak Oktober 2014 sampai September 2015, yang mengandung bahan berbahaya. Bahan berbahaya itu  pewarna Merah K3 dan Merah K10 (Rhodamin B), Asam Retinoat, Merkuri, dan Hidrokinon.

Maka berhati-hatilah dalam mengonsumsi obat-obatan dan kosmetika. Demikian daftar 54 obat tradisional dan 30 jenis kosmetik berbahaya bagi para wanita:

 

Obat Tradisional Mengandung Bahan Kimia Obat

 

1. Jiangsuan Zhitong Capsule

 

2. Amutik cairan obat dalam

 

3. Mahabbah Kapsul

 

4. Pegal Linu cap Kuda Balap cairan obat dalam

 

5. Pegal Linu cap Tunjung Biru cairan obat dalam

 

6. Pegal Linu Husada cairan obat dalam

 

7. Remak cairan obat dalam

 

8. Asam Urat + Flu Tulang Gingseng Plus

 

9. Asmat

 

10. Asmulin Serbuk

 

11. Borneo Jamu Pegal Linu dan Asam Urat

 

12. Buah Merah Asam Urat Flu Tulang

 

13. Buah Rosela

 

14. Bunga Sakti Plus Sirih Merah

 

15. Bunga Teratai

 

16. Cap Payung Super Ramuan Tradisional Madura diracik sempurna dan halal oleh K. Sa’um/ H. Murais

 

17. Daun Encok

 

18. Daun Madu

 

19. Daun Sambung Nyowo

 

20. Duta Sehat Kapsul

 

21. Ekstrak Kapsul Pace-G

 

22. Extra Binahong

 

23. Extra Murinda

 

24. Ekstrak Kapsul Tujuh Daun

 

25. Fung She Gu Tong Wan

 

26. Gingseng Kianpi Capsule

 

27. Gingseng Kianpi Pil

 

28. Jamu Asam Urat ++ Akut Menahun

 

29. Jamu Asam Urat dan Pengapuran

 

30. Jamu Tradisional Pegal Linu Cap Madu Manggis

 

31. Jianbu Huqian Wan

 

32. Kapsul Asam Urat Laba-laba

 

33. King Cobra

 

34. Kuda Hitam Serbuk

 

35. Laba-laba Jamu Asam Urat

 

36. Leaves God Gingseng

 

37. New Bintang-bintang Tangkur Cobra

 

38. Plus Herbal Slim

 

39. Potre Koneng

 

40. Power Dragon Kapsul

 

41. Raja Tawon Cairan Obat Dalam

 

42. Sesak Nafas + Batuk Asthma Gingseng Plus

 

43. Seven Leave Gingseng

 

44. Shing Bee Bebas Nyeri Lambung

 

45. Simurat 99

 

46. Seledri Mahkota Dewa

 

47. Tabib Guna Gemuk Sehat Sempurna

 

48. Tian Ma Tu Chung Seven Leave Ginseng

 

49. Tongkat Naga Kapsul

 

50. Top Jaya Sakti Gemuk Sehat

 

51. Osagi Obat Sakit Gigi

 

52. Jamu Lotus

 

53. Jipin Srigala Biru (Jipin Lang Yi Hao)

 

54. Magic Penis

 


30 Kosmetik Memakai Bahan Kimia Berbahaya

 

1. MUKKA 12 Colors Eye Shadow 02, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

2. MUKKA Blush On 02, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

3. MUKKA Blush On 03, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

4. MUKKA 6 Colors Eyeshadow 01, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

5. MUKKA Blush On 01, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

6. MUKKA Blush On 04, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

7. MUKKA Lip Gloss 05, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

8. MUKKA Lip Gloss 09, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

9. MUKKA Eyepalette, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

10. MUKKA Lip Gloss 10, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

11. MUKKA 6 Colors Eyeshadow 02, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

12. BEAUVRYS Color Cream 5/5, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K10.

 

13. DALTON Whitening Care System Essence Concentre, Kandungan berbahaya yang terkandung Hidrokinon.

 

14. SENSWELL Summer Floral Body Lotion, Kandungan berbahaya yang terkandung Hidrokinon.

 

15. RENY Lipstick 02, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

16. RENY Lipstick 03, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

17. RENY Lipstick 04, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

18. RENY Lipstick 05, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

19. RENY Lipstick 06, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

20. RENY Lipstick 07, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

21. RENY Lipstick 08, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

22. RENY Lipstick 09, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

23. RENY Lipstick 10, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

24. RENY Lipstick 11, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

25. RENY Lipstick 12, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

26. AVIONE Ls Excelent 793 Sun Kissed Coral, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

27. AVIONE Lipstics Xp 313, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

28. AVIONE Glamour Lipstick Red River 202, Kandungan berbahaya yang terkandung Pewarna Merah K3.

 

29. DEST SKIN Cream malam Gold, Kandungan berbahaya yang terkandung Asam Retinoat.

 

30. BEEN PINK Whitening Night Cream, Kandungan berbahaya yang terkandung Merkuri.

 


AHMAD FAIZ IBNU SANI | ARIEF HIDAYAT

TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan daftar obat tradisional dan suplemen kesehatan yang mengandung bahan kimia obat. Hingga November 2015, terdapat 54 obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat, 47 di antaranya ilegal (mencantumkan nomor izin fiktif) dan tujuh lainnya terdaftar tapi nomor izinnya telah dibatalkan.

Obat-obat tradisional ini rata-rata mengandung parasetamol dan fenilbutazon. Ada pula yang mengandung indometasin, kofein, natrium diklofenak, siproheptadin HCl, deksametason, CTM, sildenafil sitrat, dan sibutramin HCl.

Berikut daftar obat tradisional yang teridentifikasi BPOM mengandung bahan kimia obat.

1. Jiangsuan Zhitong Capsule
2. Amutik cairan obat dalam
3. Mahabbah Kapsul
4. Pegal Linu cap Kuda Balap cairan obat dalam
5. Pegal Linu cap Tunjung Biru cairan obat dalam
6. Pegal Linu Husada cairan obat dalam
7. Remak cairan obat dalam
8. Asam Urat + Flu Tulang Gingseng Plus
9. Asmat
10. Asmulin Serbuk
11. Borneo Jamu Pegal Linu dan Asam Urat
12. Buah Merah Asam Urat Flu Tulang
13. Buah Rosela
14. Bunga Sakti Plus Sirih Merah
15. Bunga Teratai
16. Cap Payung Super Ramuan Tradisional Madura diracik sempurna dan halal oleh K. Sa’um/H. Murais
17. Daun Encok
18. Daun Madu
19. Daun Sambung Nyowo
20. Duta Sehat Kapsul
21. Ekstrak Kapsul Pace-G
22. Extra Binahong
23. Extra Murinda
24. Ekstrak Kapsul Tujuh Daun
25. Fung She Gu Tong Wan
26. Gingseng Kianpi Capsule
27. Gingseng Kianpi Pil
28. Jamu Asam Urat ++ Akut Menahun
29. Jamu Asam Urat dan Pengapuran
30. Jamu Tradisional Pegal Linu Cap Madu Manggis
31. Jianbu Huqian Wan
32. Kapsul Asam Urat Laba-laba
33. King Cobra
34. Kuda Hitam Serbuk
35. Laba-laba Jamu Asam Urat
36. Leaves God Gingseng
37. New Bintang-bintang Tangkur Cobra
38. Plus Herbal Slim
39. Potre Koneng
40. Power Dragon Kapsul
41. Raja Tawon Cairan Obat Dalam
42. Sesak Nafas + Batuk Asthma Gingseng Plus
43. Seven Leave Gingseng
44. Shing Bee Bebas Nyeri Lambung
45. Simurat 99
46. Seledri Mahkota Dewa
47. Tabib Guna Gemuk Sehat Sempurna
48. Tian Ma Tu Chung Seven Leave Ginseng
49. Tongkat Naga Kapsul
50. Top Jaya Sakti Gemuk Sehat
51. Osagi Obat Sakit Gigi
52. Jamu Lotus
53. Jipin Srigala Biru (Jipin Lang Yi Hao)
54. Magic Penis

AHMAD FAIZ IBNU SANI

 

Jakarta detik – Dua pasien di RS Siloam Karawaci dilaporkan meninggal setelah pemberian injeksi obat anestesi Buvanest Spinal yang kini sudah ditarik. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menduga ada kesalahan yang membuat isi obat tertukar.

“Sementara ini diduga obat anestesi yang dipakai tertukar isinya,” kata Tengku Bahdar Johan Hamid, MPharm, Apt, Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA BPOM saat dikonfirmasi detikHealth, Selasa (17/2/2015).

Obat Buvanest Spinal yang disuntikkan seharusnya berisi Bupivacaine 0,5 persen, namun ternyata berisi Asam Tranexamat. Keduanya sama-sama merupakan obat injeksi dengan kemasan berupa ampul atau vial.

Baca juga: RS Siloam: 2 Pasien Meninggal Setelah Pemberian Obat Buvanest yang Ditarik

RS Siloam Karawaci telah membenarkan informasi adanya dua pasien yang meninggal pada 12 Februari 2015, setelah sehari sebelumnya mendapat injeksi obat berlabel Buvanest Spinal. Satu di antaranya merupakan kasus obsgyn (Obstetrics and gynaecology), sedangkan yang satu kasus lagi merupakan kasus urologi.

Kalbe Farma pada 12 Februari 2015 juga telah melakukan penarikan atas 2 produk obatnya yakni seluruh batch Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy 4 ml dan Asam Tranexamat Generik 500 mg/Amp 5 ml dengan nomor batch 629668 dan 630025. Dalam laporannya untuk Otoritas Jasa Keuangan, Kalbe menyampaikan bahwa penarikan tersebut dilakukan secara sukarela sebagai komitmen untuk bertanggung jawab atas segala produk dan layanannya.

Baca juga: Ini Penjelasan Kalbe Soal Penarikan Obat Buvanest dan Asam Tranexamat

Maret 20, 2016

diam2suka: daging $api+ antilengket … 220414_210316

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 11:47 pm

Jakarta kontan. Alat masak antilengket semakin marak di pasar. Produknya pun beragam, mulai dari wajan, panci hingga penanak nasi.

Namun, beberapa kalangan menilai, alat masak antilengket bisa merugikan kesehatan. Alat masak antilengket diduga ikut berperan menyebabkan kanker.

Menurut WebMD.com, berbagai penelitian mengenai keamanan produk berlapis antilengket telah banyak dilakukan. Secara umum para pakar menyimpulkan produk ini aman, tetapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Menurut Robert L.Wolke, profesor kimia dari Universitas Pittsburgh, selama alat masak itu tidak dipanaskan dalam suhu sangat tinggi maka aman.

Penggunaan suhu tinggi bisa memecah partikel di dalam alat masak antilengket dalam skala partikel. Akibatnya, zat-zat bersifat toksik bisa saja terlepas dan tercampur dalam makanan.

“Ada sejumlah bahan yang terkandung dalam produk antilengket dan bisa terdekomposisi jika dipanaskan dalam suhu tinggi,” kata Wolke.

Suhu tinggi yang dipakai maksimal adalah 260 derajat celcius. Pada suhu ini akan mulai terjadi penguraian dan zat kimia dilepaskan. Efek paling berbahaya dari zat-zat tersebut adalah memicu kanker.

Menurut Lady Kumala Dewi dari RS.Kanker Dharmais Jakarta, alat masak antilengket yang lapisannya mudah mengelupas bisa membuat zat-zat kimia atau alumunium menempel di makanan. Lapisan yang mengelupas juga dapat menyebabkan karat atau jamur.

“Selain memicu kanker juga bisa memengaruhi fungsi liver dan fungsi kognitif,” ujarnya acara peluncuran Lock&Lock Hard & Light di Jakarta (17/3/2016).

Meski demikian, ia menyatakan bahwa ada banyak faktor yang memicu kanker. “Di Indonesia, sekitar 50% pemicu kanker adalah faktor genetik, selain juga gaya hidup dan pola makan,” kata Lady.

Selain mengatur suhu api saat memasak, sebaiknya pilih alat masak antilengket yang memiliki lapisan teknik pelapisan yang baik sehingga tidak mudah mengelupas.

Cara lainnya adalah menghindari penggunaan perkakas dari metal saat menggoreng atau memasak karena bisa membuat lapisan mengelupas. Gunakan bahan kayu atau plastik. Sebaiknya ganti wajan atau panci yang lapisan antilengketnya mulai mengelupas.

(Lusia Kus Anna)

Sumber : Kompas.com
Editor : Adi Wikanto

Eating Red, Processed Meat Raises Your Risk of Early Death
Eating a hot dog or a couple of slices of bacon a day comes with a surprisingly high cost to your health.

By Alice Park @aliceparknyMarch 13, 2012Add a Comment

Those juicy burgers and sizzling steaks may look innocent enough (not to mention temptingly tasty), but they could be driving meat eaters to an early death.

It’s no secret that red meat can be harmful to our health — while high in protein, it’s also packed with fats that can contribute to heart disease and diabetes and other compounds that can promote cancer. Now researchers led by An Pan at the Harvard School of Public Health quantify how eating red meat can hasten death, and, perhaps more importantly, how substituting it with other forms of protein, such as fish and chicken, can counteract that deadly effect.

Reporting in the Archives of Internal Medicine, lead author Pan studied more than 121,000 doctors and nurses enrolled in two large studies that tracked the health professionals’ eating and lifestyle habits, as well as their health outcomes — including incidence of heart disease, stroke, cancer and death — for up to 22 years. When he and his colleagues parsed the data by how much red meat the participants ate, they found that an additional single serving of meat a day (about the size of a deck of cards) contributed to a 13% increased risk of dying, and an added serving of processed red meat a day (a hot dog or two slices of bacon) increased the risk of dying during the study period by 20%. Much of that risk was due to heart problems; on average, a daily serving of red meat boosted the risk of heart disease death by around 19.5%, and the risk of dying from cancer by 13%. (Cooking red meat can release nitrosamines, which have been linked to an elevated risk of developing cancer, as has increased exposure to the iron found in red meats.)

Overall, according to the more than two decades of data that Pan and his team collected, about 9.3% of the deaths among the men and 7.6% of the deaths among the women in the study could have been avoided if the participants ate 42 g of red meat a day, or less than half a serving.

But instead of merely documenting how harmful red meat can be for the body, Pan decided to see how healthier alternatives, such as fish, chicken, nuts and whole grains, stack up against steaks and burgers. And the numbers may be revealing enough to finally help some of us make the switch. Overall, substituting one serving a day of red meat with one of these other sources of protein lowered the risk of dying over two decades by up to 19%: chicken or whole grains each reduced the risk by 14% while nuts lowered the risk by 19%.

“We should move to a more plant-based diet,” senior author Dr. Frank Hu, a professor of nutrition and epidemiology at the Harvard School of Public Health, told HealthDay. “This can substantially reduce the risk of chronic disease and the risk of premature death.”

That’s certainly going to be challenging since the average American downs 65 lb. (30 kg) of pork and beef, respectively, every year. And not everyone is convinced by the results, including, not surprisingly, those in the meat industry. “Research clearly shows that choosing lean beef as part of a healthful diet is associated with improved overall nutrient intake, overall diet quality and positive health outcomes,” Shalene McNeill, a dietitian and executive director of nutrition research at the National Cattlemen’s Beef Association, told HealthDay. “Overall, lifestyle patterns including a healthy diet and physical activity, not consumption of any individual food, have been shown to affect mortality.”

Still, says Dr. Dean Ornish of the University of California, San Francisco, and a longtime proponent of lower-fat diets as the strongest weapon in preventing chronic diseases, the study provides convincing evidence that choosing the right alternatives to eating red meat might help us live healthier and longer lives. “What we include in our diet is as important as what we exclude, so substituting healthier foods for red meat provides a double benefit to our health,” he wrote in an editorial accompanying the study. Maybe the key to eating healthier isn’t focusing on what we’re giving up, but on what we’re gaining in terms of our health instead.

Park is a writer at TIME

Fakta Tentang Daging Merah

Fakta Tentang Daging Merah
-Secara umum, dunia kuliner dan para ahli nutrisi membagi daging menjadi dua kelompok besar, yaitu daging merah dan daging putih.
Daging merah adalah jenis daging yang berwarna merah saat belum dimasak. Sapi, kerbau, kambing, domba dan babi adalah anggota keluarga daging merah.
Daging putih adalah daging yang berwarna putih saat belum dimasak. Unggas seperti ayam, bebek dan turkey adalah para anggotanya.
Dampak bagi kesehatan. Dari dua keluarga daging tersebut, daging merahlah yang sering disalahkan atas berbagai penyakit. Mulai dari kolesterol yang tinggi, darah tinggi, hingga kanker. Bahkan pada tahun 2007, World Cancer Research Fund menyatakan bahwa daging merah merupakan penyebab kanker usus besar. Menurut para peneliti, hal ini disebabkan karena kandungan karsinogen (pencetus kanker) yang muncul saat proses memasak daging. Sehingga jika dikonsumsi dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko terhadap kanker –khususnya kanker usus besar.

Porsi yang tepat. Untuk itu, World Cancer Research Fund menambahkan porsi yang tepat untuk konsumsi daging merah agar tidak mengganggu kesehatan. Para peneliti menganjurkan agar jumlah yang dikonsumsi dibatasi sebanyak 70 gram per hari.

Manfaat daging merah.
Daging merah juga kaya kandungan nutrisi yang baik bagi kesehatan. Salah satunya adalah protein. Daging merah adalah sumber protein yang berkualitas tinggi. Protein berguna untuk membangun kembali sel-sel yang rusak di dalam tubuh dan pembentuk zat-zat pengatur seperti enzim.
Daging merah juga kaya akan vitamin B dan D. Anggota keluarga vitamin B yang banyak terdapat di dalam daging merah adalah B2 (riboflavin), B3 (niasin), B6 (piridoksin), dan B12 (kobalamin).
Terdapat juga seng dan selenium yang merupakan sumber nutrisi penting bagi sistem imunitas tubuh. Bahkan tubuh Anda dapat menyerap seng yang berasal dari daging merah jauh lebih baik daripada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Selain ikan laut, daging merah juga merupakan bahan makanan yang kaya akan Omega 3. Senyawa ini penting untuk membantu fungsi jantung, hati dan sistem saraf pusat.
Lemak pada daging merah. Kekawatiran banyak orang mengenai kandungan lemak dalam daging merah memang tidak sepenuhnya salah. Tapi kadar lemak –baik lemak jenuh maupun lemak tak jenuh– pada setiap jenis daging berbeda. Hal ini bergantung pada pemberian makanan dan pemeliharaan ternak. Para ahli menemukan bahwa daging sapi yang berasal dari sapi pemakan grass-fed cattle memiliki kandungan lemak jenuh yang rendah dan kadar conjugated linoleic acid (CLA) yang tinggi. CLA dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan meningkatkan pertumbuhan otot tubuh. Karena itu, daging jenis ini menjadi pilihan tepat bagi Anda yang sedang menjalani diet.

Daging Merah Kaya Zat Gizi
Daging Merah Kaya Zat Gizi Ayahbunda.co.id

Daging sapi muda mengandung mioglobin sekitar 0,1-0,3%, sementara daging sapi dewasa, mengandung sekitar 1,5-2,0%. Bandingkan dengan daging ayam yang mioglobin-nya tak sampai 0,05% sehingga tampak berwarna putih. Tak hanya protein, daging merah juga mengandung banyak zat gizi. Apa saja?
Protein. Tiap 100 gram daging merah mengandung protein 20-25 gram. Protein dari daging sapid an daging kambing lebih mudah dicerna tubuh balita sebanyak 94%, dibandingkan protein dari gandum yang hanya tercerna 86% dan protein dari kacang-kacangan yang Cuma 78%.
Lemak. Bila seluruh lemak yang (ibisanya) menempel pada permukaan dihilangkan, daging merah sebenarnya memiliki kandungan lemak jenuh dan lemak tran yang relative rendah sehingga tidak memicu gangguan kesehatan. Kolesterol yang terkandung di dalamnya tidak memicu kenaikan kadar kolesterol di dalam darah.
Energi. Konsumsi 100 gram daging merah dapat memenuhi 27% dari kebutuhan energi dalam sehari.
Vitamin D. Daging merah juga termasuk sumber vitamin D yang dibutuhkan untuk membentuk tulang dan gigi yang kuat.
Vitamin B kompleks. Daging mengandung aneka jenis vitamin B, termasuk riboflavin, niasin, asam pantotenat, vitamin B6 dan vitamin B12. Vitamin B12 dibutuhkan balita untuk membantu kerja sistem saraf otak, kemampuan berkonsentrasi dan mengingat.
Zat besi (Fe). Zat gizi pembentuk sel-sel darah ini dapat memenuhi 21% kebutuhan tubuh balita. Zat besi dari daging, lebih mudah diserap tubuh balita dibandingkan dari sayuran. Mineral yang satu ini dibutuhkan untuk menghantarkan oksigen, membentuk energi dan sel-sel otak.
Asam lemak omega-3. Daging merah menduduki posisi ke-2 sebagai sumber asam lemak omega-3, setelah ikan laut. Di dalam 150 mg daging merah terkandung sekitar 30 mg asam lemak omega-3. Senyawa ini penting untuk membantu fungsi jantung, sistem saraf pusat dan hati.
Zat seng (Zn). Zat gizi ini diperlukan tubuh balita untuk membentuk dan mamperkuat sistem imun, proses pertumbuhan, dan mempercepat penyembuhan luka. Daging sapi mengandung zat seng sebanyak 4,0 mg/100 gram, sedangkan daging anak sapi sebanyak 4,2 mg/100 gram.
Selenium. Zat antioksidan yangemmbantu meningkatkan kekuatan system imun balita ini cukup banyak terdapat dalam daging merah. Daging sapi mengandung selenium sebanyak 17 mg/100 gram, sedangkan daging anak sapi sebanyak 10 mg/100 gram.
Daging boleh mulai diberikan pada bayi usia 7-10 bulan.
Bila belum punya gigi geraham (molar), sebaiknya berikan dalam bentuk daging cincang halus, pure atau blender, yang dicampur dalam makanan lain, misalnya bubur saring.
Bila bayi sudah mulai makan biscuit atau buah dan giginya juga sudah mulai tumbuh, dapat diberikan daging yang dipotong kecil-kecil atau suwir.
Berikan daging merah dalam komposisi sembang dengan zat gizi lainnya, yaitu 55-60% karbohidrat, 15-20% protein hewani (daging dan ikan) serta nabati (tahu dan tempe), 30% lemak dengan kandungan asam lemak jenuh tidak melebihi 10% dari jumlah kalori dalam sehari.

Why I Do Not Recommend Pork – Nearly 70 Percent Contaminated with Dangerous Pathogens
December 12, 2012 | 326,360 views

By Dr. Mercola

Regardless of your spiritual beliefs, there may be good reason to carefully consider your decision to include pork as a regular part of your diet, because despite advertising campaigns trying to paint pork as a “healthy” alternative to beef, research suggests it may be hazardous to your health on multiple levels. One of the most potentially acute hazards is contamination with pathogenic bacteria.

According to a surprising new investigation by Consumer Reports1, 69 percent of all raw pork samples tested — nearly 200 samples in total — were contaminated with the dangerous bacteria Yersinia enterocolitica, which causes fever and gastrointestinal illness with diarrhea, vomiting, and stomach cramps.

Ground pork was more likely than pork chops to be contaminated.

The pork also tested positive for other contaminants, including the controversial drug ractopamine, which is banned in many parts of the world, including China and Europe. The drug, which was found in more than 20 percent of the samples, is used to boost growth in the animal while leaving the meat lean. Worst of all, many of the bacteria found in the pork were resistant to multiple antibiotics, making treatment, should you fall ill, all the more problematic and potentially lethal.

According to the featured report:

“We found salmonella, staphylococcus aureus, or listeria monocytogenes, more common causes of foodborne illness, in 3 to 7 percent of samples. And 11 percent harbored enterococcus, which can indicate fecal contamination and can cause problems such as urinary-tract infections.”

While Nutritionally Sound, Pork is Probably Still Best Avoided

Pork is an arguably “healthy” meat from a biochemical perspective, and if consumed from a humanely raised pastured hog like those on Joel Salatins’ farm and prepared properly, there is likely minimal risk of infection. However, virtually all of the pork you’re likely to consume do not fit these criteria.

So for most all industrially raised pork, I believe there is enough scientific evidence to justify the reservations or outright prohibitions in many cultures against consuming it. Nearly all pigs raised in the U.S. come from Concentrated Animal Feeding Operations, or CAFO’s. These inhumane environments are typically toxic breeding grounds for pathogens.

These animals spend their short, miserable lives on concrete and steel grates. Antibiotics are given liberally with their feed, making their massive waste even more toxic.

This is why you can smell a CAFO swine operation miles before you see it. At an operation like Joel Salatin’s, you couldn’t smell any sign of pigs. These pigs were raised humanely and organically, where both animal and land are managed symbiotically.

Unfortunately, raising animals in CAFO’s is the standard for Americans. For many of us, CAFO pork is the only option available.

This is why my nutrition plan recommends consciously avoiding pork whenever possible unless you can assure yourself that the hogs were raised like the video above. Granted, the occasional consumption of pork might be fine, but it’s a risk, and the more you consume it the more likely it is that you will eventually acquire some type of infection. The pork and swine industry has been continually plagued, and continues to be so to this day, by a wide variety of hazardous infections and diseases, including:

PRRS — A horrendous disease, which I first reported on in 2001, but which had been a nightmare for many nations since the mid-1980s, is still alive and kicking today. At one point referred to as “swine mystery disease,” “blue abortion,” and “swine infertility,” the disease was finally named “Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome” (PRRS), and may afflict about 75 percent of American pig herds.
The PRRS virus primarily attacks the pig’s immune system, leaving its body open to a host of infections, particularly in the lungs. Initial research revealed that the virus was transmitted via semen, saliva and blood, leaving pigs herded closely together and transported in close quarters by trucks more susceptible to infection. However, according to research presented at the 2007 International PRRS Symposium, the disease is also airborne, making eradication efforts very difficult.

The Nipah Virus – Discovered in 1999, the Nipah virus has caused disease in both animals and humans, through contact with infected animals. In humans, the virus can lead to deadly encephalitis (an acute inflammation of your brain). I originally reported on this virus in 2000, but according to CDC data, the Nipah virus reemerged again in 20042.
Porcine Endogenous Retrovirus (PERV) – According to a study in the journal Lancet, this virus can spread to people receiving pig organ transplants, and according to test tube studies, PERV strains do have the ability to infect human cells3. PERV genes are scattered throughout pigs’ genetic material, and researchers have found that pig heart, spleen and kidney cells release various strains of the virus.
Menangle Virus – In 1998, it was reported that a new virus infecting pigs was able to jump to humans. The menangle virus was discovered in August 1997 when sows at an Australian piggery began giving birth to deformed and mummified piglets.
Pork is NOT Advisable in a Raw Diet

As explained by Consumer Reports, thoroughly cooking your pork is important for safety, so if you’re on a raw diet (which can include raw meats), pork should definitely NOT be part of your menu… Again, while I don’t recommend it, if you DO opt to eat pork, it would be wise to follow these safe handling tips and guidelines, issued by Consumer Reports4:

When cooking pork, use a meat thermometer to ensure that it reaches the proper internal temperature, which kills potentially harmful bacteria: at least 145° F for whole pork and 160° F for ground pork.
Keep raw pork and its juices separate from other foods, especially those eaten raw, such as salad.
Wash your hands thoroughly after handling raw meat.
Choose pork and other meat products that were raised without drugs. One way to do that is to buy certified organic pork, from pigs raised without antibiotics or ractopamine.
Look for a clear statement regarding antibiotic use. “No antibiotics used” claims with a USDA Process Verified shield are more reliable than those without verification. Labels such as “Animal Welfare Approved” and “Certified Humane” indicate the prudent use of antibiotics to treat illness.
Watch out for misleading labels. “Natural” has nothing to do with antibiotic use or how an animal was raised. We found unapproved claims, including “no antibiotic residues,” on packages of Sprouts pork sold in California and Arizona, and “no antibiotic growth promotants” on Farmland brand pork sold in several states. We reported those to the USDA in June 2012, and the agency told us it’s working with those companies to take “appropriate actions.” When we checked in early November, Sprouts had removed the claim from its packages.
If your local supermarket doesn’t carry pork from pigs raised without antibiotics, consider asking the store to carry it. To find meat from animals that were raised sustainably — humanely and without drugs — go to eatwellguide.org. To learn about the Consumers Union campaign aimed at getting stores to sell only antibiotic-free meat, go to NotinMyFood.org.

The Healthiest Meats For Men
Dustin Driver

Credit: MGDThis article is sponsored in part by MGD 64 (What’s this?)
Red-meat addicts, it’s time for a dose of reality. A recent 10-year study, the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC), found that guys (and girls) who eat just 10 oz (283 g) of red meat a week are more likely to develop colon cancer than guys who don’t. Not a nice thought. If you want to learn which meats are the worst offenders, check out our article on unhealthy meats.

While nothing can replace a mouth-watering steak, there are plenty of tasty alternatives to hold you over. Here are five healthy meats that won’t wreak havoc on your colon.

Buffalo (Bison)
No matter how good white meat can be, it will never truly satiate the craving for red meat. Buffalo, however, can. It’s probably the reddest meat you’ll ever see and unlike beef, it’s pretty good for you.
A hunk of buffalo has far less fat than steak and buffalo are generally grass-fed, which means healthier meat. Let’s compare burgers: Your typical lean hamburger (10% fat) contains about 0.32 oz (9 g) of fat. Buffalo burgers, on the other hand, contain less than half that, about 0.14 oz (4 g). Not bad for a tasty burger. There was a point when buffalo were endangered, but the beasts have made a comeback, especially on ranches. Today, buffalo meat is readily available in most grocery stores.
Pork
Pork chops used to be on the doctors’ hit list. Today, however, pork is “the other white meat” and is a healthy alternative to red meat. And when it’s eaten in reasonable quantities (8 oz), a pork chop can be quite good for you. Pork chops can be relatively lean, but they’re typically not as low-fat as chicken or fish. By contrast, however, a USDA, University of Wisconsin and Maryland study found that a 3 oz (85 g) serving of pork tenderloin contains 0.105 oz (2.98 g) of fat and that the same portion of skinless chicken breast contains 0.106 oz (3.03 g) of fat.
If chops are still your thing, look for lean ones, and trim the fat before you eat them. A typical pork chop, with the fat cut off, contains about 0.3 oz (8 g) of fat. Beware, however, of cured pork, like ham and bacon; both meats may contain nitrates and nitrites as preservatives, which have been linked to cancer.
Chicken
White meat is much better for you than red — that’s a well-known fact. As such, chicken (not deep-fried) is a great alternative to red meats. It’s low in fat — without the skin — and it’s pretty tasty if it’s prepared correctly. Chicken is a great source of protein and, as an added bonus, it’s less expensive than beef. But remember, there’s always the risk of E. coli infection when you’re dealing with chicken. Be sure to cook or heat it to an internal temperature of at least 165F to kill off the bugs.
Also, charred grilled chicken can contain some cancer-causing chemicals, such as heterocyclic amines, so limit your consumption of well-blackened chicken.
Turkey
This big bird never saw it coming. Domestic turkey is a relatively recent addition to the world’s protein menu, and it’s great for you. Turkey is generally a white meat (turkey breast), but it packs more flavor than chicken, and its dark meat can be downright gamy. Turkey meat is also relatively low in fat: one 4.9 oz (140 g) serving of skinless roasted turkey contains about 0.25 oz (7 g) of fat.
The healthiest meats aren’t always found on dry land…
There’s a popular belief that turkey makes you sleepy, and it does, due to the sleep-inducing amino acid tryptophan within, but it’s not enough to knock you out. The sheer size of the average Thanksgiving feast, especially when combined with alcohol and a pleasant atmosphere, is more likely to influence your post-meal slumber.
Fish
A properly cooked hunk of fish can be as satisfying as a great steak. Plus, many fish (typically salmon and tuna) are packed with omega-3 fatty acids, which have been linked to decreased rates of heart disease. Circulation published a study that suggests lean, white fish, such as cod, don’t provide the same health benefits as fattier fish do. Another extensive EPIC study found that people who eat lots of fish are less likely to develop colon cancer than those who don’t. But be careful: big fish like tuna can contain high levels of mercury, which is a poison to the human body.
So, how much fish can you eat and be safe? It depends. Avoid large fish that eat other fish — tuna, swordfish and shark — and stick to smaller fish, which tend to contain less mercury than bigger fish. Local levels of mercury vary; check with your nearby fish and game agency to see which fish contain high levels of mercury.
everything in moderation

It is absolutely true that you can have too much of a good thing. Moderate your overall intake of meat and fat, and you’ll stay healthy. As a general rule, many nutritionists suggest that your portion of meat should be about the size of your fist. It seems small, but it’s enough. And be sure to balance your diet with lots of fruits and
veggies.

Daging, Beda Jenis Beda Gizinya
Jumat, 12 Agustus 2011 | 11:35 WIB
r
Kompas.com – Banyak orang takut mengonsumsi daging merah karena alasan kesehatan. Padahal, jika diolah dengan benar dan tidak berlebihan konsumsi daging merah aman untuk kesehatan.
Malahan daging merupakan sumber protein yang sangat baik. Protein yang terkandung dalam daging memiliki asam amino esensial. Perlu diketahui pula bahwa jumlah protein dalam makanan merupakan ukuran yang penting untuk kualitas diet. Selain itu daging juga mengandung zat besi, vitamin B6, vitamin B12, dan niasin.
Ada beberapa jenis daging yang umum digunakan di hampir semua bagian dunia. Kita bisa mempelajari plus minum masing-masing jenis daging.
– Ayam
Daging ayam merupakan pilihan yang lezat sebagai alternatif daging merah. Manfaat dari daging ayam meliputi:
– Sumber protein yang kaya. Dalam 100 gm ayam sudah terkandung 60 persen dari nilai kecukupan harian untuk protein.
– Tinggi niasin (vitamin B3) dan vitamin B6. Niasin penting untuk menjaga kesehatan kulit dan sistem saraf. Niasin dan vitamin B6 juga diperlukan dalam metabolisme lemak, karbohidrat dan protein dalam tubuh.
– Sumber mineral dan selenium yang sangat baik. Selenium merupakan komponen penting dari beberapa jalur metabolisme, termasuk metabolisme hormon tiroid, sistem pertahanan antioksidan, dan kekebalan tubuh.
– Dapat disajikan dalam berbagai jenis hidangan. Minus:
Makan ayam goreng berlebihan dapat meningkatkan risiko sindrom koroner akut, meningkatkan kolesterol secara signifikan, dan meningkatkan risiko serangan jantung. Batasi diri Anda untuk memakan ayam, minimal dua kali dalam seminggu.
– Ikan
Ikan merupakan makanan yang sangat bergizi dan tambahan yang luar biasa untuk diet sehat Anda. Keunggulan ikan meliputi:
– Mengandung protein yang berkualitas tinggi dengan jumlah yang cukup dari semua asam amino esensial, dan rendah lemak.
– Kaya akan asam lemak esensial omega-3 yang memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung dan otak.
– Minyak ikan adalah salah satu dari beberapa sumber makanan alami vitamin D.
Minus: Akhir-akhir ini ditemukan merkuri pada beberapa jenis ikan air dingin. Kadar yang tinggi ditemukan dalam ikan besar yang biasanya memakan ikan kecil. Merkuri dapat merusak perkembangan otak.
– Kambing
Inilah jenis daging merah yang dikonsumsi di berbagai bagian dunia. Kelebihan daging kambing adalah:
– Kaya akan protein berkualitas tinggi dan zat besi. Konsumsi daging kambing juga akan meningkatkan penyerapan zat besi nonheme dari makanan nabati. Daging kambing juga kaya akan seng.
Minus:
Kandungan kolesterolnya tinggi dan tidak memiliki serat. Daging yang sudah diproduksi secara komersial juga mengandung antibiotik, hormon, dan toksin.
– Sapi
Daging sapi dianggap pilihan yang paling populer dari semua daging merah.
Kelebihannya:
– Daging sapi tanpa lemak mengandung 60 persen dari nilai kecukupan harian untuk protein hanya dalam 100 gram.
– Sumber vitamin B12 dan sumber vitamin B6. Vitamin B12 adalah hanya ditemukan dalam produk hewani dan sangat penting untuk metabolisme sel, menjaga sistem saraf yang sehat dan produksi sel darah merah dalam tubuh.
– Daging sapi tanpa lemak memiliki zinc (seng) enam kali lebih tinggi dari pada daging lainnya. Zinc membantu mencegah kerusakan pada dinding pembuluh darah yang berkontribusi terhadap penyempitan pembuluh darah. aterosklerosis.
– Sumber zat besi yang baik serta mengandung selenium dan fosfor.
Minus: Daging sapi mengandung lemak jenuh yang tinggi dan dianggap meningkatkan risiko kanker. Daging sapi yang tidak dimasak dengan benar juga bisa mengundang penyakit. Untuk pilihan terbaik, pilihlah daging sapi organik yang bebas hormon dan antibiotik. Selain itu pilihlah bagian daging tanpa lemak.

– Babi
Meski di negara Muslim daging ini dilarang, tapi di banyak negara daging babi sangat populer.
Kelebihannya: – Daging babi sangat kaya vitamin B6, B12, tiamin, niasin, riboflavin dan Pantothenic acid.
– Daging babi merupakan sumber zat besi yang mudah diserap tubuh daripada zat besi dari sumber daging lainnya vegetarian lainnya. – – Babi juga memiliki kandungan mineral yang tinggi fosfor, selenium, natrium, seng, kalium dan tembaga.
– Dagingnya juga baik untuk kulit, mata, sistem saraf, tulang dan performa mental.
Minus: Tinggi dalam kandungan lemak jenuh. Untuk mengurangi lemaknya, bersihkan daging dari semua lemaknya. Kekurangan lainnya, babi juga tinggi natrium sehingga tidak disarankan untuk orang dengan tekanan darah tinggi (hipertensi). (M05-11)

Maret 17, 2016

beautiful: FU (faktor ….) : 200212_170316

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:43 am

rose KECIL

time.com: More companies are recognizing the value of mature workers—and they’re starting to hire them.

Things are finally looking up for older workers.

The latest data show the unemployment rate for those over age 55 stands at just 4.1%, compared with 5.7% for the total population and a steep 18.8% for teens. The ranks of the long-term unemployed, which ballooned during the recession as mature workers lost their jobs, are coming down. Age-discrimination charges have fallen for six consecutive years. And now, as the job market lurches back to life, more companies are wooing the silver set with formal retraining programs.

This is not to say that older workers have it easy. Overall, the long-term unemployment rate remains stubbornly high—31.5%. And even though age-discrimination charges have declined they remain at peak pre-recession levels. Meanwhile, critics note that some corporate re-entry programs are not a great deal, paying little or no salary and distracting workers from seeking full-time gainful employment.

Still, the big picture is one of improving opportunity for workers past age 50. That’s welcome news for many reasons, not least is that those who lose their job past age 58 are at greater health risk and, on average, lose three years of life expectancy. Meanwhile, older workers are a bigger piece of the labor force. Two decades ago, less than a third of people age 55 and over were employed or looking for work. Today, the share is 40%, according to the St. Louis Federal Reserve.

AARP and others have long argued that older workers are reliable, flexible, experienced and possess valuable institutional knowledge. Increasingly, employers seem to want these traits.

This spring, the global bank Barclays will expand its apprenticeship program and begin looking at candidates past age 50. The bank will consider mature workers from unrelated fields, saying the only experience they need is practical experience. The bank says this is no PR stunt; it values older workers who have life experience and can better relate to customers seeking a mortgage or auto loan. With training, the bank believes they would make good, full-time, fairly compensated loan officers.

Already, Barclays has a team of tech-savvy older workers in place to help mature customers with online banking. The new apprenticeship program builds on this effort to capitalize on the life skills of experienced employees.

Others have tiptoed into this space. Goldman Sachs started a “returnship” in the throes of the recession. But the program is only a 10-week retraining exercise, with competitive pay, and highly selective. About 2% of applicants get accepted. It is not designed as a gateway to full-time employment at Goldman, though some older interns end up with job offers at the bank.

The nonprofit Encore.org offers mature workers a one-year fellowship, typically in a professional capacity at another nonprofit, to help mature workers re-enter the job market. Again, this is a temporary arrangement and pays just $25,000.

But a growing number of organizations—the National Institutes of Health, Stanley Consultants, and Michelin North America, among many others—embrace a seasoned workforce and have programs designed to attract and keep workers past 50. Companies with internship programs for older workers include PwC, Regeneron, Harvard Business School, MetLife and McKinsey. Find a longer list at irelaunch.com. And get back in the game.

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0026

Senin, 20/02/2012 06:57 WIB
Apakah Anda Siap Pensiun?
Yosephine P Tyas – detikFinance

… well, gw siap lah 🙂

Jakarta – Sebelum belajar Financial Planning, rasanya hampir tidak pernah terpikirkan soal pensiun, apalagi dananya.

Dalam dunia perencanaan keuangan baik didalam maupun diluar negri Dana Pensiun/Pension Fund ini merupakan variable yang sangat penting dan hampir selalu menjadi bagian dari Perencanaan Keuangan seorang client, tentunya yang sudah aware mengenai pentingnya Perencanaan Keuangan.

Kalau disimpulkan dan dilihat dari sejumlah fakta, ada beberapa hal yang membuat orang tidak aware atau tidak terlalu memikirkan soal Dana Pensiun :

1. Umur masih muda

Karena merasa umur masih muda, atau masih jauh dari usia pensiun, atau malah belum tau atau terbayang akan pensiun di usia berapa, maka Dana Pensiun adalah sesuatu yang dianggap tidak major atau tidak urgent. Masih jauh, masih puluhan tahun lagi, jadi merasa sekarang lebih baik dinikmati saja, karena masih banyak kebutuhan lain yang dirasa lebih penting.

2. Gaji dirasa cukup besar

Saat gaji cukup atau sangat besar, terkadang membuat seseorang lupa bahwa suatu hari nanti dia tidak akan mendapatkan gaji sebesar itu lagi. Gaji yang besar itu membuat seseorang merasa kebutuhannya pasti bisa di-cover dan tidak merasa akan kurang, dan rasanya orang tersebut juga berpikir bahwa ia masih terus dapat bekerja dan menghasilkan gaji yang lumayan walau sudah tua.

3. Pendapatan pas-pasan
Bagi sejumlah orang yang dikemukakan adalah bagaimana mau memikirkan dana pensiun, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah pas atau malah kurang.

4. Dana Pensiun dari perusahaan

Beberapa alasan yang dikemukakan jika ditanyakan mengenai persiapan Dana Pensiun, jawabannya adalah “Oh sudah ada, disediakan dari perusahaan” jadi kalau sudah ada dari perusahaan untuk apa dipikirkan lagi, selama loyal di perusahaan itu, dananya akan cair di usia pensiun yang ditentukan.

Mungkin ada sejumlah alasan lain yang membuat orang tidak memikirkan atau menganggap Dana Pensiun tidak terlalu penting. Tapi sebenarnya alasan apapun itu Dana Pensiun tetap perlu disiapkan dari usia semuda mungkin (usia produktif) mulai dari gaji pertama anda, seberapapun besarnya gaji anda saat ini yang tidak akan bisa menjamin ter-cover-nya kebutuhan anda nanti jika semua habis digunakan untuk expense yang bersifat konsumtif, dan walaupun saat ini anda sudah memiliki Dana pensiun dari perusahaan anda, anda perlu mengetahui berapa nanti yang akan anda terima sehingga bisa diketahui kekurangannya dan menyiapkan kekurangannya itu.

Like once said, “If you fail to plan, you plan to fail!”

Yosephine P. Tyas S.Kom, MM, RFA® -Senior Associate Advisor AFC

(qom/qom)

Senin, 20/02/2012 07:09 WIB
8 Target Finansial Memasuki Usia 30
Angga Aliya – detikFinance

Jakarta – Setelah sekian lama bekerja, Anda pun akhirnya memasuki usia 30 tahun. Mungkin sebagian dari anda berpikir, apa yang sudah saya capai setelah bekerja sekian lama?

Biasanya, banyak orang melakukan banyak kesalahan dalam situasi finansialnya di awal umur 20-an tahun. Apalagi yang baru bekerja dan punya uang sendiri, ditambah dengan gairah masa muda yang jarang berpikir panjang.

Maka dari itu, mendekati umur kepala tiga, jangan sampai kesalahan itu terulang lagi. Berikut ini, delapan hal yang sebaiknya anda lakukan sebelum meninggalkan umur kepala dua, seperti dikutip Financial Highway, Senin (20/2/2012).

1. Lunasi semua utang, kecuali cicilan rumah

Yang paling penting adalah melunasi seluruh tagihan kartu kredit. Jika belum, sekaranglah saat yang tepat untuk memulainya. Jangan sampai anda meninggalkan masa muda dengan utang kartu kredit yang menumpuk.

Lunasi juga utang-utang lain, kecuali utang rumah yang biasanya masih membutuhkan waktu cukup lama sampai benar-benar lunas. Begitu anda selesai, masa-masa awal di umur 30 bisa anda konsentrasikan untuk tabungan masa depan anak dan keluarga, sambil terus membereskan cicilan rumah.

2. Lindungi harta anda

Tinjau kembali polis asuransi anda, pastikan rumah, kendaraan dan kesehatan bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi. Cari juga cara untuk mendapatkan uang dari asuransi, tapi jangan sampai menggangu perlindungan anda. Pikirkan kerugian seperti apa yang bisa anda derita tetapi tidak ditutupi oleh perusahaan asuransi.

3. Cek asuransi jiwa anda

Setelah anda cukup mapan, serta akan atau sudah berkeluarga, anda harus bisa menjamin keluarga anda bisa mendapatkan sesuatu jika hal terburuk menimpa anda. Cari asuransi jiwa yang tepat, jangan sampai terjebak premi yang murah tapi hasil yang anda dapat tidak maksimal.

4. Bikin surat warisan

Bukannya anda sudah bersiap-siap untuk mati muda, tapi baik itu anda sudah berkeluarga atau tidak, sebaiknya anda mempersiapkan diri sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, harta dan investasi anda tidak akan jatuh ke tangan yang salah.

Pastikan surat wasiat atau akses untuk membuka surat ini diketahui dengan baik oleh keluarga atau teman terpercaya anda. Buat juga salinannya untuk dipegang oleh satu atau dua anggota keluarga besar anda.

5. Memulai simpanan dana pensiun

Bagusnya, anda mulai mengumpulkan dana pensiun sejak awal umur 20an, tapi jika belum maka sebelum umur 30an untuk memulai. Jika punya pasangan, buka rekening untuk dana pensiun dia juga. Perhitungkan dana yang anda mampu untuk disetor per bulannya tanpa mengganggu biaya bulanan dan investasi. Rencanakan masa depan dengan serius.

6. Alokasikan aset anda dengan baik

Sekarang saat yang tepat untuk meninjau kembali portofolio anda, mulailah menempatkan aset-aset di instrumen investasi yang tepat. Rancang sebuah rencana yang cocok bagi jangka penjang, selalu lakukan diversifikasi portofolio demi mencegah kerugian tinggi.

Anda mungkin butuh bantuan profesional dalam hal ini, carilah penasihat keuangan yang tepat sehingga anda tidak salah arah. Anda sudah harus mulai aktif mengawasi portofolio setidaknya satu tahun dua kali supaya perkembangannya terpantau.

7. Mulai hidup sederhana
Tanpa melihat pemasukan yang anda dapat tiap bulan, ada bagusnya anda hidup sederhana dan berkecukupan, tanpa berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang. Tapi bukan berarti anda harus serba hemat tanpa menikmati kehidupan.

Sesekali anda bisa pergi liburan bersama keluarga tanpa harus mengeluarkan banyak uang dan berlebih-lebihan. alangkah lebih baik jika uang lebih tersebut ditabung untuk masa tua atau tabungan pendidikan anak. Jangan tergoda dengan gaya hidup saudara atau tetangga yang selalu terlihat mewah.

8. Pertajam keahlian anda

Jangan berhenti belajar dan pertajam skill yang anda miliki. Pelajari teknologi-teknologi baru dan tren industri terbaru. Jika anda memutuskan untuk sekolah lagi, pastikan sejalan dengan karir yang anda kejar sehingga setelah lulus anda tidak perlu memulai dari awal lagi.
… kayanya gw lom berhenti dan

lom kapok

lom kapok mempertajam keahlian berinvestasi termasuk yang berisiko tinggi, sekali pun 🙂
Kesimpulan:

Awal 30-an adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kondisi finansial anda. Belum terlambat unuk memulai dari awal, jika ternyata kondisi finansial anda masih berantakan sejak awal umur 20-an. Jika fondasi finansial anda sudah kuat, maka anda tinggal membangun sisanya.

(ang/qom)

Jakarta – Uang sering membuat orang pusing dari waktu ke waktu. Beberapa orang berusaha melakukan hal yang bisa membuat uang semakin berharga, namun beberapa orang justru malah membiarkan uangnya hilang begitu saja.

Salah satunya adalah dengan melakukan beberapa hal tidak menguntungkan, seperti pemborosan dan tidak pernah menabung atau berinvestasi. Hal-hal percuma seperti ini yang membuat orang tidak sadar kalau kekayaannya akan lenyap dalam waktu singkat.

Berikut ini beberapa hal yang harus anda hindari atau berhenti lakukan jika sudah terjadi, karena bisa mengancam kesehatan finansial anda, seperti dikutip dari freefrombroke.com, Kamis (15/2/2012).

1. Tidak punya anggaran

Tidak punya anggaran sama sekali bisa berbahaya bagi kondisi finansial anda. Jangan sampai anda memutuskan untuk “pakai saja dulu uangnya, baru nanti kita hitung di akhir bulan.”

2. Tidak punya gambaran untuk pengeluaran bulanan

Belum punya catatan anggaran, setidaknya anda harus punya perkiraaan biaya pengeluaran per bulan. Gambaran dan catatan pengeluaran itu perlu karena akan ada beberapa biaya yang sering tanpa sadar anda keluarkan.

3. Tidak punya investasi yang menghasilkan

Anda bisa mengucapkan selamat tinggal kepada kondisi finansial anda karena akan segera mati jika tidak punya satu pun investasi yang menguntungkan, minimal yang bisa menghasilkan uang meski hanya sedikit. Jangan pakai internet hanya untuk belanja online, tapi juga cari informasi mengenai instrumen investasi, dan berinvestasilah!

4. Tidak menyadari perkembangan ekonomi terkini

Meski mereka mendewakan uang (untuk dihambur-hamburkan), orang yang boros tidak akan tahu mengenai perkembangan ekonomi terakhir. Eropa krisis, oh? Indonesia masuk investment grade, apa itu? Barulah setelah uangnya habis, mereka sadar bahwa kelakuannya sia-sia.

5. Tidak menikmati karirnya tapi diam saja

Jika anda tidak suka dengan karir yang anda jalani, jangan diam saja, masih banyak pilihan karir di luar sana yang siap anda garap. Jika diteruskan, selain tidak produktif juga tidak membuat anda nyaman dalam mencari uang.

6. Tidak punya prioritas dalam finansial

Tentu saja, hal pertama yang dia lihat akan dia beli untuk orang-orang yang suka boros. Mereka tidak punya prioritas dalam hidupnya, bahkan untuk menabung sekalipun.

7. Sering ganti-ganti mobil

Membeli mobil, baik itu kredit atau tunai sebaiknya dilakukan dengan rencana jangka panjang. Jangan sampai, anda cuma membeli mobil dengan perkiraan kalau anda bosan tinggal beli lagi. Jangan biarkan perasaan gengsi anda menang dalam posisi seperti ini. Tak usah sombong karena tidak bagus secara finansial.

8. Tidak merawat barang

Orang yang boros tidak hanya karena sering menghamburkan uang, tidak menghargai barang yang dibeli pakai uang termasuk pemborosan. Bahkan, orang yang malas merawat barang biasanya tidak mau memperbaiki sesuatu jika rusak, tapi memilih untuk beli yang baru. Itulah kenapa biasanya mereka punya mobil baru, komputer baru, handphone baru.

9. Membeli TV layar datar berukuran raksasa

Semua orang pasti ingin tv raksasa di rumah supaya bisa merasa punya bioskop pribadi. Tapi, kalau anda berpikir jernih, uangnya bisa dipakai untuk keperluan lain. Tak perlu memaksakan diri sampai mencicil segala. Memangnya tidak ada layar datar yang berukuran lebih kecil? Dan bukankah tv tabung juga masih tersedia? Atau anda merasa ketinggalan jaman dengan tv model lama?

10. Langganan TV Kabel Premium

Siapa yang tidak suka dengan acara-acara HBO atau Fox? Sah-sah saja jika anda ingin berlangganan channel tersebut, tapi jangan sampai anda ingin berlangganan seluruh channel yang disediakan oleh operator kabel.

Bahkan, mereka akan memaksa anda berlangganan secara paket karena lebih murah, padahal tidak. Akui saja, tidak mungkin semua channel lainnya anda tonton juga setiap hari. Alangkah sayangnya jika anda menghabiskan Rp 1 juta sebulan hanya untuk tv berlangganan.

11. TV di setiap ruangan

Setelah punya tv raksasa dan TV berlangganan yang cukup mahal, anda masih ingin menikmati semua salurannya di setiap ruangan, maka anda memutuskan membeli TV untuk disimpan di tiap sudut rumah. Anda pasti senang menonton TV sampai tidak rela untuk ketinggalan setiap acaranya.

12. Sering makan di luar

Selain tidak sehat bagi tubuh, sering makan di luar juga membahayakan kesehatan finansial anda. Jangan sampai anda terbiasa disajikan makanan oleh orang lain padahal anda atau istri anda bisa menyiakan sendiri, dengan harga yang lebih murah.

13. Berganti-ganti ponsel

Sudah jelas, sering berganti-ganti ponsel (apalagi mengejar tren model terbaru) adalah pemborosan nomor wahid. Jika dipikir baik-baik, harga produk elektronik yang sudah dibeli tidak pernah naik, berbeda dengan rumah atau tanah.

Nilai barang yang anda beli akan berkurang seiring waktu. Anda akan sangat rugi kalau mencicil ponsel, begitu lunas, nilai sebenarnya sudah jauh berkurang dari harga awal. Biasanya, orang-orang seperti ini selalu mengaku tidak rugi karena mendapat kepuasan dari gonta-ganti ponsel.

14. Tidak pernah berolahraga

Apa hubungannya berolahraga dengan kondisi keuangan? Banyak. Tubuh yang sehat adalah aset yang harus dijaga baik-baik. Semakin anda sehat, semakin banyak kesempatan mencari uang. Jika anda sakit-sakitan, selain susah mencari uang juga anda harus mengeluarkan uang banyak untuk biaya perawatan.

15. Sering belanja baru bermerek terkenal

Pakaian terbaru dengan merek terkenal selalu menjadi musuh finansial anda. Jangan sampai tergoda dan terjebak untuk membelinya kecuali anda benar-benar butuh. Anda butuh merek? Mungkin saja, untuk mereka yang ingin dipandang oleh orang lain. Sesuaikan merek dengan kebutuhan.

16. Banyak beli hadiah untuk hari raya

Pernah dengar cerita orang yang terjerat utang kartu kredit hanya gara-gara lebaran kemarin terlalu banyak membeli barang untuk dibagi-bagi keluarga dan tetangga di kampung? Berbagi itu indah dan menghubungkan tali silaturahmi, tapi bukan berarti anda harus berkorban begitu banyak bukan?

17. Upgrade komputer setiap tahun

Orang yang boros senang mengganti-ganti komponen komputer sesering bayi mengganti popok. Mereka selalu punya alasan untuk membeli komponen baru setiap beberapa bulan sekali. Ya anda betul, komputernya bahkan tidak dipakai untuk membantu pekerjaan.

18. Punya banyak gadget

Punya banyak alat-alat elektronik (gadget) yang terkadang dengan fungsi yang sama. Ingin dengar musik, punya iPod atau MP3 player. Ingin main game, punya iPod Touch atau Sony Playstation Portable (PSP). Ingin berselancar di internet, punya iPad atau Samsung Galaxy Tab. Ingin baca buku, punya Kindle atau Kobo eReader. Kalau dipikir-pikir, semua fungsi tersebut bisa ditemukan di satu ponsel pintar saja.

Kesimpulan:

Kebiasan-kebiasaan seperti ini merupakan kabar buruk bagi kondisi finansial anda. Jika setelah membaca ini anda menemukan poin yang ternyata pernah anda lakukan, evaluasi kembali dan lakukan perubahan positif dalam hidup anda.

Maret 5, 2016

beautiful: mutan kanker DIKENDALIKAn … 080712_181215_050316

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 1:08 am

the guardian: A landmark discovery into the genetic makeup of tumours has the potential to open a new front in the war on cancer, delivering potent therapies that are tailored to individual patients, scientists have said.

The breakthrough comes from research into the genetic complexity of lung and skin cancers which found that even as tumours grow and spread around the body, they carry with them a number of biological “flags” that the immune system can be primed to attack.

Because the flags, which appear as surface proteins, are found only on cancer cells, they provide what scientists described as “exquisite targets” for new therapies that draw on the power of the immune system to combat cancer.

Treatments that harness the immune system have shown great promise against some forms of cancer, such as melanoma, but they do not work in everyone.

One approach releases the brakes on the immune system, unleashing the full force of killer T cells, which are otherwise dampened down by cancer cells. But to work, the patient’s immune system must first recognise the cancer as the enemy.

Charles Swanton, an expert on cancer evolution who led the latest study at the Francis Crick Institute in London, said the discovery of surface proteins shared by all of a patient’s cancer cells provided an “achilles heel” for future therapies to target.

https://interactive.guim.co.uk/uploader/embed/2016/03/cancer_immune_cell_treatment-zip/giv-271673a474gh7miup
How immune cell treatment works

The international team, involving scientists from Harvard, MIT and University College London, found that the patients in their study had already launched immune reactions against their cancers. But the attacks were too feeble to destroy the malignant cells. Close inspection of the tumours revealed immune cells buried inside them: some had recognised the cancer’s unique flags, but were either outnumbered or defeated by the cancer’s defences.

“What we’ve found for the first time is that tumours essentially sow the seeds of their own destruction. And that within tumours, there are immune cells that recognise those flags which are present in every tumour cell,” said Swanton.

As tumours grow, they evolve. Over time, mutations scramble the DNA, and one part of the tumour starts to look very different to another. But Swanton found that even complex tumour cells can bear the hallmarks of their origins. Writing in the journal, Science, he describes how, in two lung cancer patients, surface proteins had mutated early on and appeared throughout the tumours.

The work, funded by Cancer Research UK and the Rosetrees Trust, raises two possible routes to treat future cancer patients.

  1. In one scenario, doctors could take a biopsy from a patient’s tumour, read its genome and work out which flags are present on all of the malignant cells. If they find immune cells inside the tumour that recognise these flags, they could be multiplied in the lab, and then re-infused into the patient, producing an overwhelming precision attack on the cancer cells.
  2. In another scenario, the protein flags themselves could be used to make a vaccine against the cancer. Inject them into the body, and immune cells would identify them as invaders and launch an attack. In practice, the new therapies would have to be used alongside existing drugs called “checkpoint inhibitors” that stop cancers neutralising T cells.

Swanton, whose study appears in Science, hopes to launch the first human trial in lung cancer patients in the next two to three years. The disease is the UK’s biggest cancer killer, claiming more than 35,000 lives a year. It is unclear whether the treatment will work, but scientists believe it has a better chance if the immune system targets multiple flags on a tumour. “We haven’t proved that this can impact on patient care. What we have shown is that there are unique therapies potentially present within each patient’s tumour,” Swanton said. “This is taking personalised medicine to its absolute limit.”

The treatment, if it works at all, is likely to be most effective in cancers that have a lot of mutations, such as melanoma and smoking-related lung cancer. But the scientists plan further research to investigate whether it could be effective against less mutated cancers, such as bladder, prostate and pancreatic cancer. Swanton has not costed the procedure, but conceded that it not be cheap.

David Adams, a cancer geneticist at the Wellcome Trust Sanger Institute, said the research could help doctors work out who is most likely to benefit from new therapies that exploit the immune system. “The greatest use of this knowledge is in working out which patients are most likely to be treatable,” he said. “The issue with these immunotherapies is they are extremely expensive and we don’t know who will respond and who won’t.”

But he said more patients would have to be studied before the potential for developing a therapy was clear. “The opportunity here is to be able to identify T-cells within tumours that react with trunkal flags, to expand these T-cells in culture, and re-introduce these cells back into patients to target the patient’s tumour. This is the epitome of personalised therapy,” he said.

“This work is right on the cutting edge. The next stage will be to expand the approach to larger cohorts and to use it as part of clinical trials,” he added.

science:

Clonal neoantigens elicit T cell immunoreactivity and sensitivity to immune checkpoint blockade
Science  03 Mar 2016:

Abstract

As tumors grow they acquire mutations, some of which create neoantigens that influence the response of patients to immune checkpoint inhibitors. We explored the impact of neoantigen intra-tumor heterogeneity (ITH) on anti-tumor immunity. Through integrated analysis of ITH and neoantigen burden, we demonstrate a relationship between clonal neoantigen burden and overall survival in primary lung adenocarcinomas (n = 139). CD8+ tumor-infiltrating lymphocytes reactive to clonal neoantigens were identified in early-stage non-small cell lung cancer (NSCLC) and expressed high levels of PD-1. Sensitivity to PD-1 and CTLA-4 blockade in patients with advanced NSCLC (n = 31) and melanoma (n = 135) was enhanced in tumors enriched for clonal neoantigens. T cells recognizing clonal neoantigens were detectable in patients with durable clinical benefit. Cytotoxic chemotherapy-induced subclonal neoantigens, contributing to an increased mutational load, were enriched in certain poor responders. These data suggest that neoantigen heterogeneity may influence immune surveillance and support therapeutic developments targeting clonal neoantigens.

marketwatch: Do most people who get cancer simply have bad luck? Or is cancer something they might be able to prevent? A new study suggests the latter.

The study, whose results have just been published in Nature, revealed that it is mostly environmental and external factors like smoking, drinking, diet, getting too much sun and exposure to toxic chemicals that cause cancer, rather than intrinsic factors like random cell mutations.

Intrinsic factors accounted for just 10% to 30% of people’s lifetime risk of getting cancer, while extrinsic risks accounted for 70% to 90% for most common cancer types, the study showed. “Cancer risk is heavily influenced by extrinsic factors,” the study researchers, who work at Stony Brook University in New York, concluded.

Source: Nature

That’s good news for many, as it means that cancer might be more avoidable — through changes in our lifestyles — than we previously thought. “Environmental factors play an important role in cancer incidence and they are modifiable through lifestyle changes and/or vaccinations,” the researchers write.

Many experts cheered this finding. “There’s no question what’s at stake here,” John Potter, a doctor who studies cancer at the Fred Hutchinson Cancer Research Center, told Nature. “This informs whether or not we expend energy on prevention.”

The study’s conclusions do fly in the face of other cancer research.

A report in the journal Science published earlier this year concluded just the opposite: that roughly two-thirds of cancers were caused by intrinsic factors. (These findings came to be known as the “bad luck” hypothesis.)

But the Stony Brook researchers concluded that the incidence of cancer is too high for that to be true. “The rates of mutation accumulation by intrinsic processes are not sufficient to account for the observed cancer risks,” they write in the study published in Nature.

July 7, 2012
In Treatment for Leukemia, Glimpses of the Future
By GINA KOLATA
NYT
ST. LOUIS — Genetics researchers at Washington University, one of the world’s leading centers for work on the human genome, were devastated. Dr. Lukas Wartman, a young, talented and beloved colleague, had the very cancer he had devoted his career to studying. He was deteriorating fast. No known treatment could save him. And no one, to their knowledge, had ever investigated the complete genetic makeup of a cancer like his.

So one day last July, Dr. Timothy Ley, associate director of the university’s genome institute, summoned his team. Why not throw everything we have at seeing if we can find a rogue gene spurring Dr. Wartman’s cancer, adult acute lymphoblastic leukemia, he asked? “It’s now or never,” he recalled telling them. “We will only get one shot.”

Dr. Ley’s team tried a type of analysis that they had never done before. They fully sequenced the genes of both his cancer cells and healthy cells for comparison, and at the same time analyzed his RNA, a close chemical cousin to DNA, for clues to what his genes were doing.

The researchers on the project put other work aside for weeks, running one of the university’s 26 sequencing machines and supercomputer around the clock. And they found a culprit — a normal gene that was in overdrive, churning out huge amounts of a protein that appeared to be spurring the cancer’s growth.

Even better, there was a promising new drug that might shut down the malfunctioning gene — a drug that had been tested and approved only for advanced kidney cancer. Dr. Wartman became the first person ever to take it for leukemia.

And now, against all odds, his cancer is in remission and has been since last fall.

While no one can say that Dr. Wartman is cured, after facing certain death last fall, he is alive and doing well. Dr. Wartman is a pioneer in a new approach to stopping cancer. What is important, medical researchers say, is the genes that drive a cancer, not the tissue or organ — liver or brain, bone marrow, blood or colon — where the cancer originates.

One woman’s breast cancer may have different genetic drivers from another woman’s and, in fact, may have more in common with prostate cancer in a man or another patient’s lung cancer.

Under this new approach, researchers expect that treatment will be tailored to an individual tumor’s mutations, with drugs, eventually, that hit several key aberrant genes at once. The cocktails of medicines would be analogous to H.I.V. treatment, which uses several different drugs at once to strike the virus in a number of critical areas.

Researchers differ about how soon the method, known as whole genome sequencing, will be generally available and paid for by insurance — estimates range from a few years to a decade or so. But they believe that it has enormous promise, though it has not yet cured anyone.

With a steep drop in the costs of sequencing and an explosion of research on genes, medical experts expect that genetic analyses of cancers will become routine. Just as pathologists do blood cultures to decide which antibiotics will stop a patient’s bacterial infection, so will genome sequencing determine which drugs might stop a cancer.

“Until you know what is driving a patient’s cancer, you really don’t have any chance of getting it right,” Dr. Ley said. “For the past 40 years, we have been sending generals into battle without a map of the battlefield. What we are doing now is building the map.”

Large drug companies and small biotechs are jumping in, starting to test drugs that attack a gene rather than a tumor type.

Leading cancer researchers are starting companies to find genes that might be causing an individual’s cancer to grow, to analyze genetic data and to find and test new drugs directed against these genetic targets. Leading venture capital firms are involved.

For now, whole genome sequencing is in its infancy and dauntingly complex. The gene sequences are only the start — they come in billions of small pieces, like a huge jigsaw puzzle. The arduous job is to figure out which mutations are important, a task that requires skill, experience and instincts.

So far, most who have chosen this path are wealthy and well connected. When Steve Jobs had exhausted other options to combat pancreatic cancer, he consulted doctors who coordinated his genetic sequencing and analysis. It cost him $100,000, according to his biographer. The writer Christopher Hitchens went to the head of the National Institutes of Health, Dr. Francis Collins, who advised him on where to get a genetic analysis of his esophageal cancer.

Harvard Medical School expects eventually to offer whole genome sequencing to help cancer patients identify treatments, said Heidi L. Rehm, who heads the molecular medicine laboratory at Harvard’s Partners Healthcare Center for Personalized Genetic Medicine. But later this year, Partners will take a more modest step, offering whole genome sequencing to patients with a suspected hereditary disorder in hopes of identifying mutations that might be causing the disease.

Whole genome sequencing of the type that Dr. Wartman had, Dr. Rehm added, “is a whole other level of complexity.”

Dr. Wartman was included by his colleagues in a research study, and his genetic analysis was paid for by the university and research grants. Such opportunities are not available to most patients, but Dr. Ley noted that the group had done such an analysis for another patient the year before and that no patients were being neglected because of the urgent work to figure out Dr. Wartman’s cancer.

“The precedent for moving quickly on a sample to make a key decision was already established,” Dr. Ley said.

Ethicists ask whether those with money and connections should have options far out of reach for most patients before such treatments become a normal part of medicine. And will people of more limited means be tempted to bankrupt their families in pursuit of a cure at the far edges?

“If we say we need research because this is a new idea, then why is it that rich people can even access it?” asked Wylie Burke, professor and chairwoman of the department of bioethics at the University of Washington. The saving grace, she said, is that the method will become available to all if it works.

A Life in Medicine

It was pure happenstance that landed Dr. Wartman in a university at the forefront of cancer research. He grew up in small-town Indiana, aspiring to be a veterinarian like his grandfather. But in college, he worked summers in hospitals and became fascinated by cancer. He enrolled in medical school at Washington University in St. Louis, where he was drawn to research on genetic changes that occur in cancers of the blood. Dr. Wartman knew then what he wanted to do — become a physician researcher.

Those plans fell apart in the winter of 2002, his last year of medical school, when he went to California to be interviewed for a residency program at Stanford. On the morning of his visit, he was nearly paralyzed by an overwhelming fatigue.

“I could not get out of bed for an interview that was the most important of my life,” Dr. Wartman recalled. Somehow, he forced himself to drive to Palo Alto in a drenching rain. He rallied enough to get through the day.

When he returned to St. Louis, he gave up running, too exhausted for the sport he loved. He started having night sweats.

“I thought it might be mono,” he said. “And I thought I would ride it out.”

But then the long bones in his legs began to hurt. He was having fevers.

He was so young then — only 25 — and had always been so healthy that his only doctor was a pediatrician. So he went to an urgent care center in February 2003. The doctor there thought his symptoms might come from depression, but noticed that his red and white blood cell counts were low. And Lukas Wartman, who had been fascinated by the biology of leukemia, began to suspect he had it.

“I was definitely scared,” he said. “It was so unreal.”

The next day, Mr. Wartman, who was about to graduate from Washington University’s medical school, went back there for more tests. A doctor slid a long needle into his hip bone and drew out marrow for analysis.

“We looked at the slide together,” Dr. Wartman said, recalling that terrible time. “It was packed with leukemia cells. I was in a state of shock.”

Dr. Wartman remained at the university for his residency and treatment: nine months of intensive chemotherapy, followed by 15 months of maintenance chemotherapy. Five years passed when the cancer seemed to be gone. But then it came back. Next came the most risky remedy — intensive chemotherapy to put the cancer into remission followed by a bone-marrow transplant from his younger brother.

Seven months after the transplant, feeling much stronger, he went to a major cancer meeting and sat in on a session on his type of leukemia. The speaker, a renowned researcher, reported that only 4 or 5 percent of those who relapsed survived.

“My stomach turned,” Dr. Wartman said. “I will never forget the shock of hearing that number.”

But his personal gauge of recovery — how far he could run — was encouraging.

By last spring, three years after his transplant, Dr. Wartman was running six to seven miles every other day and feeling good. “I thought maybe I would run a half marathon in the fall.”

Then the cancer came back. He remembered that number, 4 or 5 percent, for patients with one relapse. He had relapsed a second time.

This time, he said, “There is no number.”

His doctors put him on a clinical trial to try to beat the cancer with chemotherapy and hormones. It did not work.

They infused him with his brother’s healthy marrow cells, to no avail.

A Clue in RNA

Dr. Wartman’s doctors realized then that their last best hope for saving him was to use all the genetic know-how and technology at their disposal.

After their month of frantic work to beat cancer’s relentless clock, the group, led by Richard Wilson and Elaine Mardis, directors of the university’s genome institute, had the data. It was Aug. 31.

The cancer’s DNA had, as expected, many mutations, but there was nothing to be done about them. There were no drugs to attack them.

But the other analysis, of the cancer’s RNA, was different. There was something there, something unexpected.

The RNA sequencing showed that a normal gene, FLT3, was wildly active in the leukemia cells. Its normal role is to make cells grow and proliferate. An overactive FLT3 gene might be making Dr. Wartman’s cancer cells multiply so quickly.

Even better, there was a drug, sunitinib or Sutent, approved for treating advanced kidney cancer, that inhibits FLT3.

But it costs $330 a day, and Dr. Wartman’s insurance company would not pay for it. He appealed twice to his insurer and lost both times.

He also pleaded with the drug’s maker, Pfizer, to give him the drug under its compassionate use program, explaining that his entire salary was only enough to pay for 7 ½ months of Sutent. But Pfizer turned him down too.

As September went by, Dr. Wartman was getting panicky.

“Every day is a roller coaster,” he said at the time, “and everything is up in the air.”

Desperate to try the drug, he scraped up the money to buy a week’s worth and began taking it on Sept. 16. Within days, his blood counts were looking more normal.

But over dinner at a trendy St. Louis restaurant, he picked at his chicken and said he was afraid to hope.

“Obviously it’s exciting,” he said. “But Sutent could have unanticipated effects on my bone marrow.” Maybe his rising red blood cell counts were just a side effect of the drug. Or maybe they were just a coincidence.

“It’s hard to say if I feel any different,” Dr. Wartman said.

And the cost of the drug nagged at him. If it worked, how long could he afford to keep taking it?

The next day, a nurse at the hospital pharmacy called with what seemed miraculous news: a month’s supply of Sutent was waiting for Dr. Wartman. He did not know at the time, but the doctors in his division had pitched in to buy the drug.

Two weeks later, his bone marrow, which had been full of leukemia cells, was clean, a biopsy showed.

Still, he was nervous. The test involved taking out just a small amount of marrow. Cancer cells could be lurking unseen.

The next test was flow cytometry, which used antibodies to label cancer cells. Again, there were no cancer cells.

But even flow cytometry could be misleading, Dr. Wartman told himself.

Finally, a yet more sensitive test, called FISH, was done. It labels cancer cells with fluorescent pieces of DNA to identify leukemia cells. Once again, there were none.

“I can’t believe it,” his awe-struck physician, Dr. John DiPersio, told him.

Dr. Wartman, alone in his apartment, waited for his partner, Damon Berardi, to come home from work. That evening, Mr. Berardi, a 31-year-old store manager, opened the door with no idea of Dr. Wartman’s momentous news. To his surprise, Dr. Wartman was home early, waiting in the kitchen with champagne and two flutes he had given Mr. Berardi for Christmas. He told Mr. Berardi he should sit down.

“My leukemia is in remission,” he said. The men embraced exultantly, and Dr. Wartman popped open the champagne.

“I felt an overwhelming sense of relief and a renewed vision of our future together,” Mr. Berardi said. “There were no tears at that moment. We had both had cried plenty. This was a moment of hope.”

Hunches and Decisions

Dr. Wartman and his doctors had fateful decisions to make, with nothing but hunches to guide them. Should he keep taking Sutent or have another bone-marrow transplant now that he was in remission again?

In the end, Dr. DiPersio decided Dr. Wartman should have the transplant because without it the cancer might mutate and escape the Sutent.

Meanwhile, Pfizer had decided to give him the drug. Dr. Wartman has no idea why. Perhaps the company was swayed by an impassioned plea from his nurse practitioner, Stephanie Bauer.

Dr. Wartman’s cancer is still gone, for now, but he has struggled with a common complication of bone-marrow transplants, in which the white blood cells of the transplanted marrow attack his cells as though they were foreign. He has had rashes and felt ill. But these complications are gradually lessening, and he is back at work in Dr. Ley’s lab.

His colleagues want to look for the same mutation in the cancer cells of other patients with his cancer. And they would like to start a clinical trial testing Sutent to discover whether the drug can help others with leukemia, or whether the solution they found was unique to Lukas Wartman.

Dr. Wartman himself is left with nagging uncertainties. He knows how lucky he is, but what does the future hold? Can he plan a life? Is he cured?

“It’s a hard feeling to describe,” he said. “I am in uncharted waters.”

Monday: Promise and heartbreak.

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: