eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Juni 11, 2015

lapang DADA: Sri Mulyani, lage … 110615

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 2:57 am

AYO ATASI KR1$1$ HOT MONEY LAGE yang repatriasi k amrik

… menurut gw: Sri Mulyani itu doktor ekonomi yang jenius, namun suka dimanfaatkan oknum karna manusia tidak ada yang sempurna, well, gw bersyukur bahwa beliau mampu menganalisis data n info ekonomi secara matang sehingga setidaknya pada periode 2006-2008 beliau pernah memperingatkan Indonesia akan kemungkinan Krisis Finansial di Asia akibat ketimpangan kebijakan di amrik dan global waktu itu … kita maseh akan meliat sepak terjang beliau selanjutnya:
Energi dan Pembangunan Berkelanjutan: Berikutnya Apa?

Sri Mulyani Indrawati

International Student Energy Summit

Bali, Indonesia

10 Juni 2015

Sesuai yang Dipersiapkan untuk Penyampaian

Terima kasih telah mengundang saya untuk berbicara pada konferensi penting ini. Saya senang bisa kembali berada di Indonesia, dan juga senang berada di Bali.

Berbicara dengan kalian semua menjadi sebuah inspirasi. Kalian masih muda, berpendidikan, dan sebentar lagi akan membuat beberapa pilihan yang penting – pribadi dan profesional. Jadi izinkan saya, lewat pidato ini, menyampaikan beberapa nasihat.

Iya, memberi pidato seperti ini memang hak generasi saya. Orang-orang seperti kami bisa memberi tahu anak-anak muda bagaimana cara terbaik untuk mengarahkan upaya yang dapat dilakukan.

Kalian bisa tanya ke diri sendiri: Di mana saya akan tinggal? Apakah saya akan menikah? Mungkin punya anak? Di mana saya mau bekerja? Dan untuk organisasi apa?

Apapun yang akan menjadi jawaban, jangan menganggap remeh kekuatan masing-masing ketika membuat pilihan. Tidak hanya dalam kehidupan pribadi. Kalian memiliki pilihan untuk memberi, untuk ikut membuat perubahan, melalui kerja keras untuk memiliki keterampilan yang tinggi dan menggunakan moral sebagai kompas yang memandu.

Sulit bagi saya untuk melihat ada bidang lain yang lebih penting dari pada bidang tempat kalian kelak akan bekerja: karena semua peserta di sini dapatteman-teman menjadi pakar yang bisa ikut membantu meningkatkan akses energi dengan harga terjangkau, handal, berkelanjutan, dan modern bagi semua masyarakat.

Bahkan, kalian bisa membantu Bank Dunia untuk mencapai sasaran kami dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem pada tahun 2030, dan memastikan bahwa kesejahteraan dirasakan semua lapisan masyarakat.

Kita tidak akan bisa mencapainya apabila kita tidak menyediakan listrik kepada lebih banyak masyarakat dengan cara yang ramah lingkungan.

Hari ini saya akan memberi fokus pada tiga pertanyaan yang saya harap akan membantu mengarahkan konferensi ini:

Pertama, kenapa akses kepada energi penting dalam melawan kemiskinan?

Dan kedua, kenapa kita harus melakukannya dengan cara yang ramah lingkungan?

Ketiga, dan terakhir, bagaimana kita bisa mengatasi hambatan yang ada?

I. Kemiskinan Energi

Jadi mengapa akses adalah penting?

Sektor energi memiliki potensi sangat tinggi untuk mengentaskan kemiskinan.

Sekitar satu dari tujuh orang – atau sekitar 1,1 milyar orang – di dunia belum memiliki listrik dan hampir 3 milyar masih memasak dengan bahan bakar yang menghasilkan polusi seperti minyak tanah, kayu, arang, dan kotoran hewan.

Tanpa listrik, perempuan dan anak perempuan harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengambil air, klinik kesehatan tidak bisa menyimpan vaksin, anak-anak tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah di malam hari, pengusaha kurang kompetitif, dan negara tidak bisa menggerakkan ekonomi.

Di Afrika, tantangan sangat besar untuk menyediakan listrik. Misalnya di Ethiopia dengan penduduk 91 juta orang, di mana 68 juta penduduk masih hidup dalam kegelapan.

Bahkan untuk negara-negara yang sudah memiliki akses listrik, layanannya belum handal. Dalam satu bulah, satu dari tiga negara berkembang mengalami setidaknya 20 jam pemadaman listrik.

Bahkan di beberapa negara, pernah terjadi pemadamam listrik total, seperti di Nigeria (hingga beberapa waktu belakangan ini) dan di wilayah utara India pada tahun 2012.

Bahkan ketika listrik tersedia, harganya sangat mahal: banyak negara di Sub-Sahara Afrika mengalami harga listrik setinggi 20-50 US sen per kilowatt-jam. Sementara rata-rata global hampir 10 US sen.

Pembangunan ekonomi yang infklusif adalah cara paling efektif untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. Tetapi sebagian besar kegiatan ekonomi mustahil dilakukan tanpa tersedianya energi modern yang cukup, handal, dan memiliki harga yang kompetitif.

Ketika kita tidak memiliki listrik, tidak akan ada mesih jahit atau mesin penggiling padi atau pompa untuk mengairi tanaman.

Tanpa listirk, kita tidak bisa menjalankan usaha di malam hari dan nyaris tidak mungkin menarik usaha ke daerah kita yang dapat membuka lapangan kerja dan peluang bagi kaum muda seperti teman-teman semua.

Di Liberia – sebuah negara di barat Afrika di mana hanya dua persen penduduk mempunyai akses listrik yang memadai – siapapun akan mengatakan bahwa tidak mungkin menciptakan pekerjaan dan peluang tanpa energi.

Kemiskinan energi memiliki dua arti: masyarakat miskin adalah yang terakhir memiliki akses listrik. Dan kemungkinan besar mereka akan tetap miskin apabila terus tidak memiliki akses.

Inilah mengapa akses kepada energi sangat penting dalam melawan kemiskinan.

II. Energi yang Berkelanjutan

Hal kedua yang saya ingin angkat adalah keberlanjutan. Energi dan cara kita menggunakannya harus efisien, berkelanjutan dan sebisa mungkin terbarukan.

Ada kabar baik: Menurut data terbaru, ada semakin banyak penduduk miskin yang kini punya akses ke listrik dengan peningkatan yang lebih cepat dari sebelumnya. Tetapi porsi energi terbarukan tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Dan kita tertinggal dalam hal efisiensi energi.

Pertimbangkan hal ini: menurut The International Energy Association, di negara-negara berpenghasilan tinggi, efisiensi energi adalah sumber energi terbesar karena energi yang dihemat adalah energi yang bisa dipakai di tempat lain.

Ini berarti kita bisa memutus ikatan antara pertumbuhan ekonomi dengan permintaan energi hanya dengan meningkatkan efisiensi energi.

Dalam 20 tahun terakhir, beberapa negara telah melakukan langkah besar dalam mengurangi intensitas energi. Tiongkok menjadi raksasa dalam hal ini, dengan penghematan energi sejumlah yang mereka konsumsi antara tahun 1990 hingga 2010. Meskipun ketika kita pertimbangkan bahwa ekonomi Tiongkok memiliki intensitas energi sekitar dua kali lebih besar dari pada Jepang, kita bisa melihat bahwa masih ada ruang untuk perbaikan lebih lanjut.

Apabila kita menerapkan semua teknologi efisiensi energi yang tersedia saat ini, kita bisa memangkas konsumsi energi secara signifikan menjadi sekitar sepertiga. Namun hanya sebagian kecil dari potensi ini yang terealisasi.

Melalui kombinasi beberapa teknologi efisiensi energi, desain bangunan yang baik, dan teknologi atap terbarukan yang baru, saat ini kita sudah bisa membangun gedung zero net energy. Dalam banyak kasus, gedung-gedung tersebut menghasilkan tenaga matahari yang dialirkan ke dalam jaringan untuk dipakai pihak lain.

Tentunya selain efisiensi energi, reformasi kebijakan dan penghapusan subsidi, kita juga perlu memastikan bahwa negara-negara beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.

Kabar baik lagi, hal ini mulai terjadi. Kemajuan teknologi yang pesat telah menurunkan biaya energi terbarukan bagi tiap orang. Kita sekarang melihat investasi skala besar dalam energi terbarukan yang sudah umum – seperti tenaga air – juga teknologi maju seperti tenaga panas bumi, matahari dan angin.

Turunnya harga per unit solar photovoltaic menjadi sepertiga dari harga pada tahun 2010 telah membantu menempatkan tenaga matahari pada harga yang bisa bersaing dengan pilihan energi tradisional, di tempat yang semakin banyak.

Antara tahun 2010 dan 2012, kita melihat kenaikan sebesar 4 persen secara global dalam penggunaan energi terbarukan yang modern – tiga perempat disediakan oleh tenaga angin, matahari dan air. Asia Timur memimpin dunia dalam hal ini, dengan porsi 42 persen.

Sejak tahun 2010, lebih dari setengah pembangkit listrik baru di seluruh dunia menggunakan energi terbarukan.

Namun, negara-negara berkembang baru menyentuh kulit terluar saja dalam hal potensi penggunaan energi terbarukan. Misalnya, di Asia dan Afrika hanya 10-20% potensi tenaga air yang telah dimanfaatkan, dan potensi tenaga matahari baru mulai dipahami.

III. Tantangan

Ada juga tantangan politis, ekonomi, dan teknis.

Banyak negara tetap memberikan subsidi untuk bahan bakar fosil sebagai cara mengurangi biaya bagi konsumen dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Tetapi subsidi yang tidak tepat sasaran membawa biaya sangat besar dan menjadi hambatan penghematan energi.

Pada tahun 2013, hampir $550 milyar uang pemerintah di berbagai negara terpakai untuk subsidi langsung bahan bakar fosil – subsidi yang sebagian besar lebih bermanfaat pada yang kaya, karena mereka yang lebih banyak menggunakannya dari pada masyarakat kurang mampu.

Pada bulan Januari tahun ini, Pemerintah Indonesia mengambil langkah penting dalam menerapkan sistem harga bahan bakar yang mengurangi subsidi bensin dan solar secara signifikan. Tindakan ini memperkecil risiko fiskal sehingga sumberdaya dapat dialihkan kepada prioritas pembangunan.

Tantangan ekonomi yang lain bagi banyak negara adalah modal besar untuk energi terbarukan yang sulit diperoleh tengah situasi penuh risiko saat ini. Banyak negara telah menetapkan adanya insentif kebijakan guna mengatasi hambatan ini. Negara-negara seperti Brazil dan India telah menikmati manfaat melalui lelang energi terbarukan.

Beberapa negara juga menemukan bahwa tenaga matahari skala kecil dapat mempercepat akses energi secara signifikan. Di berbagai negara seperti Bangladesh dan Mongolia, sistem tenaga matahari biaya rendah untuk rumah telah membantu menyediakan energi kepada rumahtangga berpenghasilan rendah yang sebelumnya hidup dalam kegelapan. Kini, Bangladesh memiliki program listrik di luar jaringan yang terbesar di dunia. Dimulai sejak 2003 dengan sambungan untuk hanya 11.000 rumahtangga, program tersebut telah berkembang dan kini menyediakan tenaga matahari yang aman bagi lebih dari 850.000 rumahtangga.

Juga ada hambatan teknis: Bagi energi terbarukan yang tersambung ke jaringan, tantangan utama adalah ketersediaan listrk yang tidak konsisten. Tenaga matahari hanya bisa dihasilkan pada siang hari dan tenaga angin memiliki intensitas yang bervariasi seiring pola cuaca yang berbeda. Hal tersebut membuat energi terbarukan sulit untuk diintegrasikan ke dalam jaringan. Tetapi di negara-negara seperti Denmark dan Irlandia, tantangan tersebut mulai diatasi melalui sistem transmisi yang canggih, ramalan cuaca mikro, dan sistem pengelolaan jaringan. Mereka bisa menjadi contoh bagi yang lain.

Terobosan besar sekarang adalah penyimpanan energi. Teknologi penyimpanan batere yang sekarang ada dapat mendorong dunia agar semakin cepat bergerak mengadopsi energi terbarukan hingga 50 persen – atau bahkan lebih.

Saya menyerukan agar kalian semua, para pakar energi masa depan, ikut mengatasi tantangan-tantangan tersebut agar bermanfaat bagi setiap orang.

IV. Peran Bank Dunia.

Di Kelompok Bank Dunia, kami menganggap isu energi berkelanjutan adalah sangat serius.

Kami faham bahwa keberhasilan program energi bersih akan membutuhkan aliran modal sebesar tiga kali lipat dari program energi tradisional.

Pinjaman kami untuk bidang energi bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah juga terfokus pada sasaran ini. Tahun lalu, dua-pertiga pinjaman kami ditujukan kepada negara-negara Asia Selatan dan Sub-Sahara Afrika, di mana sebagian besar penduduk hidup tanpa akses energi.

Lebih dari 90 persen pinjaman kami untuk pembangkit listrik ditujukan kepada energi bersih: gas alam, tenaga air, matahari, angin, dan panas bumi. Kami tidak memberikan pinjaman untuk pembangkit listrik tenaga batubara, kecuali bila kondisi tidak memungkinkan opsi yang lain.

Kami juga berperan penting ketika bekerjasama dengan berbagai negara untuk menciptakan iklim yang mendukung investasi lebih besar – terutama dalam bidang energi terbarukan.

Kami sangat percaya bahwa mengentaskan kemiskinan adalah tujuan yang patut mendapatkan perhatian penuh kita semua.

Kami berharap bahwa kemiskinan energi akan mendapat perhatian khusus diantara sasaran pembangunan berkelanjutan yang baru, yang akan disetujui komunitas global tahun ini.

Itu alasan mengapa kami, bersama Sekretaris Jendral PBB, ikut memimpin inisiatif Sustainable Energy for All. Bersama-sama kami akan berfokus pada tiga sasaran: memastikan akses universal layanan energi modern; melipatgandakan porsi energi terbarukan dalam bauran energi global; dan melipatgandakan peningkatan efisiensi energi.

Dalam masa kehidupan kalian, semua akan menyaksikan dampak buruk dari polusi dan perubahan iklim. Namun sebagai mahasiswa dan pakar energi masa depan, kalian berperan penting dalam potensi keberhasilan pembangunan berkelanjutan yang baru dalam bidang energi. Dunia akan memerlukan orang-orang cerdas dengan motivasi yang tulus – dunia akan memerlukan kalian semua yang ada dalam ruangan ini.

Dengan bantuan dan dedikasi kerja bersama, kita bisa mengakhiri kemiskinan energi dalam masa kehidupan kita.

Anda semua duduk di balik setir sebagai pengemudi. Ayo kita berangkat menuju masa depan.

Terima kasih.
TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pertumbuhan ekonomi selama ini tak inklusif. Ia mengatakan, dibutuhkan target ambisisus untuk memastikan 40 masyarakat di kelompok terbawah menikmati memanfaat kemajuan ekonomi.
Selama 20 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi telah membantu satu miliar orang bebas dari kemiskinan. Namun masih ada satu miliar orang yang bertahan dengan penghasilan US$ 1,25 perhari. Selain itu, menurut Sri Mulyani, juga ada lebih dari 1,1 mliar orang tak punya akses terhadap listrik, dan lebih dari 2,5 miliar orang tak memiliki akses sanitasi. “Sukses akan bergantung sejauh mana negara tumbuh, bukan soal berapa besar pertumbuhannya,” kata dia dalam sambutannya pada Indonesia Green Infrastructure Summit 2015 di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2015.
Ia mengatakan Produk Domestik Bruto Indonesia sudah meningkat dua kali lipat selama satu dekade terakhir. Pertumbuhan ini, telah mengurangi kemiskinan hingga separuhnya atau turun menjadi 11,3 persen pada tahun 2014.
Namun tak semuanya menikmati manfaat dari pertumbuhan ekonomi ini. Selain itu pertumbuhan ekonomi juga memakan biaya tinggi dengan merusak lingkungan. Sri Mulyani juga mencontohkan Cina yang telah tumbuh dua digit selama beberap dekade tetapi kehilangan 9 persen dari PDB karena tak ramah lingkungan.
Kini Cina berkomitmen untuk menerapkan proses produksi yang ramah lingkungan. Menurut dia, jika seluruh neara bertahan dengan caralama maka manfaat pertumbuhan ekonomi akan berkurang karena sumber daya alam akan habis dengan cepat. “Kita akan lebih rentan menghadapi perubahan iklim atau risiko kesehatan,” tutur mantan menteri keuangan tersebut. Kerusakan lingkungan, kata dia, memang berpengaruh pada semua orang. Namun yang paling rentan adalah kelompok masyarakat miskin. Musababnya, mata pencaharian mereka lebih tidak pasti. Tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia, menurut Sri Mulyani, diderita oleh yang tinggal di daerah berlingkungan rusak. Jadi, kata dia jika ingin mengentaskan kemiskinan tak bisa hanya mengandalakan pertumbuhan ekonomi sajatetapi harus inklusif dan berkelanjutan bagi lingkungan. TRI ARTINING PUTRI

… well, SM belum ngoceh soal KRISIS PASCA KENAEKAN SUKU BUNGA THE FED seh (padahal IMF dah memberi komentar)… artinya SM tidak meliat atawa memang tidak meliat sama sekali adanya BAHAYA KRISIS … 🙂

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: