eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Mei 18, 2015

lapang DADA: $1MPANG $1ur @8900 … 180515

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:37 am

 

faktanya, gw beli pertamax @8900 seh … ūüôā

JAKARTA – Rencananya, PT Pertamina (Persero) akan menaikan harga Pertamax, namun rencana kenaikan ini dibatalkan. Jika saja Pertamax jadi naik, maka itu adalah kali keduanya BBM nonsubsidi ini naik dalam satu bulan.

Pengamat energi dari ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro memperkirakan, langkah Pertamina menaikan harga Pertamax dikarenakan untuk mengurangi kerugian dari Premium dan Solar.

“Kalau saya melihat kenaikan ini latar belakanganya bukan di Pertamaxnya, tapi di Premium dan Solarnya,” ujar Komaidi saat dihubungi Okezone di Jakarta.

Komaidi menjelaskan, seharusnya Premium yang sudah tidak disubsidi dan Solar yang diberikan subsidi tetap, terus disesuaikan dari harga minyak dipasaran. Namun kenyataannya harga Premium dan Solar belum disesuaikan lagi setelah 28 Maret lalu.

“Kitakan beli Premium dari pasar internasional. Seharusnya harganya sudah diatas Rp7.400. Tapi nyatanya belum dinaikkan,” imbuhnya.

Menurut perhitungannya, Pertamina saat ini menanggung gap kerugian dari Premium dan Solar sebesar Rp15 triliun selama tahun ini. Oleh karena itu Pertamina disinyalir berniat mengurangi kerugian itu dari BBM berjenis non subsidi.

“Pemerintah kan menetapkan harganya (Premium dan Solar) tidak konsisten. Jadi menurut saya pasti rugi,” ucapnya yakin.

Sama seperti Komaidi, pengamat energi dari Universitas Indonesia Iwa Garniwa juga mempunyai pemikiran yang sama. Selain juga karena faktor anjloknya kurs Rupiah.

“Kenaikan Pertamax dimungkinkan ada dua (alasan). Pertama karena kurs, kedua saya pikir untuk menutupi pencabutan subsidi Premium dan Solar. Seharusnya ikutin harga pasar, tapi ditahan harganya. Otomatis butuh dana untuk menutupi itu. Karena itu dinaikan Pertamax,” pungkasnya.¬†http://economy.okezone.com/read/2015/05/17/19/1150890/kenaikan-pertamax-dinilai-untuk-kurangi-kerugian-dari-premium
Sumber : OKEZONE.COM

 

14 Mei 2015 23:26

Tidak Ada Perubahan Harga BBM Per 15 Mei

JAKARTA ‚Äď PT Pertamina (Persero) menyatakan tidak ada kenaikan harga seluruh jenis BBM yang dipasarkan perusahaan. Penegasan tersebut sebagai klarifikasi perusahaan terkait dengan kesimpangsiuran yang beredar di masyarakat terkait dengan harga BBM.

 

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan sejak diberlakukannya Perpres 191 tahun 2014, penetapan harga BBM diregulasi oleh pemerintah, di mana BBM jenis tertentu, yaitu Solar dan Kerosene, serta BBM penugasan, yaitu Premium untuk wilayah di luar Jawa, Madura, Bali ditetapkan oleh pemerintah. Adapun, BBM umum, dalam hal ini Premium yang dipasarkan di Jawa, Madura, dan Bali ditetapkan oleh badan usaha.

 

Bahan Bakar Khusus yang terdiri dari Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Racing, Pertamina Dex, produk bahan bakar komersial yang sepenuhnya menjadi kewenangan badan usaha, yaitu Pertamina. Untuk Bahan Bakar Khusus tersebut juga tidak akan mengalamu perubahan harga per 15 Mei 2015.

 

‚ÄúSampai dengan saat ini, baik pemerintah maupun Pertamina sesuai dengan kewenangannya tidak melakukan perubahan harga Solar/Biosolar bersubsidi maupun Premium. Demikian juga harga bahan bakar khusus tidak mengalami perubahan untuk periode 15 Mei 2015. Kami harapkan informasi ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat,‚ÄĚ katanya.

TEMPO.CO, Jakarta – PT Pertamina (Persero) merilis pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak khusus di area Jawa, Madura, dan Bali yang berlaku mulai Jumat, 15 Mei 2015, pukul 00.00. Harga Pertamax dinaikkan menjadi Rp 9.600 per liter dari harga sebelumnya Rp 8.900 per liter.

“Harga acuan pasar Singapura (MoPS) belakangan ini naik terus,” ujar Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang melalui pesan pendek, Kamis, 14 Mei 2015.

Sedangkan harga solar nonsubsidi naik menjadi Rp 9.200 per liter. Adapun harga Pertamax Plus dan Pertamina Dex naik menjadi Rp 10.550 dan Rp 12.200 per liter.

Pertamina menjamin harga Premium dan solar bersubsidi tidak naik. Saat ini di area Jawa, Madura, dan Bali, harga Premium masih Rp 7.400 per liter. Sedangkan solar bersubsidi Rp 6.900 per liter.

Di luar area Jawa, Madura, dan Bali, yang masuk area BBM penugasan, harga Premium Rp 7.300 per liter dan solar bersubsidi Rp 6.900 per liter.

ROBBY IRFANY

Iklan

Mei 16, 2015

lapangDADA: mari BERJABATTANGAN yang KWAT (16 Mei 2015)

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 2:48 am
Jakarta DETIK, Jabat tangan merupakan salah satu cara sapaan yang paling umum. Namun tahukah Anda bahwa jabat tangan juga bisa menunjukkan risiko penyakit kardiovaskular yang dimiliki seseorang?

Sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada menemukan bahwa jabat tangan yang kuat menunjukkan fungsi jantung yang baik. Sebaliknya, jabat tangan yang lemah menunjukkan bahwa ada masalah di sistem kardiovaskular, yang bisa berujung pada penyakit stroke atau serangan jantung.

“Jabat tangan bisa menjadi tes yang mudah dan murah untuk menilai risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular yang dimiliki seseorang,” tutur Darryl Leong, dari McMaster University Hamilton, Ontario, Kanada, dikutip dari ABC Australia, Jumat (15/5/2015).

Baca juga: Mudah Sakit atau Tidak, Kenali dari Cara Jabat Tangannya

Dilanjutkan Darryl, jabat tangan dapat menjadi skrining yang efektif bagi dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan jabat tangan, dokter dan tenaga kesehatan dapat mengetahui apakah pasien memiliki riwayat penyakit kardiovaskular dan dapat mencegah komplikasi jika pasien ternyata sudah mengidap penyakit kronis lainnya.

Penelitian ini dilakukan kepada 140 ribu pasien dengan rentang usia 35 hingga 70 tahun. Pasien berasal dari 17 negara dan kesehatannya dimonitor selama 4 tahun oleh para peneliti.

Menggunakan alat bernama Jamar dynamoemeter, para pasien diminta untuk meremas alat tersebut, mirip dengan gerakan jabat tangan. Alat ini memiliki fungsi untuk mengukur kekuatan otot yang ada di tangan.

Nah, penelitian mengungkap bahwa setiap pengurangan kekuatan otot memiliki pengaruh terhadap meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Tiap kekuatan otot tangan berkurang 5 kg, risiko kematian karena penyakit kardiovaskular meningkat 16 persen.

Di sisi lain, penurunan ini juga berpengaruh terhadap risiko serangan jantung dan store. Semakin lemah kekuatan tangan Anda, makan risiko kematian akibat serangan jantung meningkat menjadi 7 persen dan stroke meningkat sampai 9 persen.

Hanya saja, peneliti mengatakan jabat tangan tidak memiliki kaitan dengan penyakit lain seperi diabetes, penyakit pernapasan dan cedera. Meski begitu, peneliti percaya jabat tangan lebih akurat untuk mengukur risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular daripada mengukur tekanan darah sistolik.

Weak handgrip a mortality marker 1:42

A limp handshake could mean more than just a bad first impression, but also a marker of poor health, researchers say.

According to a new study, a weak handgrip is linked to a higher risk of dying from both cardiovascular and non-cardiovascular diseases.

The study also finds that grip strength is better at predicting the risk of dying from these diseases than blood pressure.

“One important message is really how vulnerable you are to dying of a range of illnesses if you have lower grip strength,” said lead researcher Darryl Leong, an assistant professor of medicine at McMaster and a cardiologist at the hospital.

The handgrip test using the dynamometer is simple and affordable, and can be used in countries where sophisticated and expensive tests are less accessible, Leong says. (Sunnie Huang/CBC)

Conducted by the Population Health Research Institute of McMaster University and Hamilton Health Sciences, the study was published in The Lancet, a U.K. medical journal, on Wednesday.

140,000 participants

The study took place in 17 culturally and economically diverse countries, from Canada and Sweden to Zimbabwe and Pakistan. Researchers followed about 140,000 adults between the ages of 35 to 70 for four years.

They examined the relationship between a range of health conditions and muscle strength, which was measured by grip strength.

Participants were asked to squeeze a hand-grip dynamometer, which gives a reading in kilograms, as hard as they can.

The study showed that for every five kilograms of decline in grip strength, there was:

  • 16 per cent increase in risk of death from any cause.
  • 17 per cent increase in risk of cardiovascular death.
  • 17 per cent increase in risk of non-cardiovascular death.
  • Modest increases in risk of heart attack (seven per cent) or stroke (nine¬†per cent).

These associations persisted even after adjusting for factors that can affect mortality or heart disease, such as age, education, employment status, physical activity, and tobacco and alcohol use, according to the study.

Affordable test

The grip test is particularly useful in countries where sophisticated and expensive tests are less accessible, Leong said, because it is simple and affordable.

“It’s not a very sophisticated test, but I think in many ways that’s the beauty of it,” Leong told CBC News.

McMaster professor Darryl Leong demonstrates the dynamometer, which measures the strength of a handgrip in kilograms. (Sunnie Huang/CBC)

It can help doctors identify those who are more likely to die from the diseases, so they can receive the appropriate care.

More research, however, still needs to be done to understand muscle strength, Leong said.

For example, it is still unclear whether the association is solely with muscle strength or other factors that are related to muscle strength.

“So increasing the strength just by training alone may not make a large amount of difference,” Leong said. “We just don’t know the answer.”

Grip strength varies by ethnicity, country

The study also finds that grip strength varies by ethnicity and country. Europeans tend to have a stronger grip, whereas South Asians tend to have a weaker grip.

The next step for the researchers, Leong said, is to understand more about muscle strength, such as determining what the normal level of strength is for a certain sex, age group and ethnic community, as well as the genetic and environmental effects on muscle strength.

The researchers hope to repeat the study on the participants to examine how muscle strength changes over time, what factors contribute to the change, and whether that change leads to improvement or decline in health outcomes.

“The numbers by themselves probably don’t mean a whole lot to people,” Leong told CBC News. “What might mean a lot more is when [the tests] are repeated and if their strength has increased because of something they have done, or if it’s decreased a lot.”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: