eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

November 18, 2014

diam2suka: WHAT CRISES (kebijakan energi v. kebijakan moneter v. IHSG) : 191114

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 11:43 pm

belajar dari PENGALAMAN n TEORI EKONOMI, maka KEBIJAKAN PENGENDALIAN ENERGI itu POSITIF bwat IHSG, terutama JANGKA PANJANG
… saat pemerintah menggulirkan STIMULUS BELANJA BIDANG2 TERTENTU, maka ekspektasi PDB positif, ihsg juga
… saat BI RATE NAEK, maka PASTI ada TEKANAN PADA PEMBELANJAAN KORPORASI, namun jika BI RATE NAEK KECIL, maka TEKANAN KECIL juga diterima KORPORASI
… ekuilibrium antara dampak kebijakan pengendalian energi, dan kebijakan pengendalian inflasi akan berbuah ihsg yang tumbuh positif seh … jika kebijakan stimulus lebe signifikan daripada kebijakan pengendalian inflasi: maka PDB 6% 2015 bukan mustahil, terutama karena Masyarakat Ekonomi Asean 2015 juga

Iklan

November 11, 2014

diam2suka: BERbahasaInggris lah … 111114

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:56 am

JAKARTA, KOMPAS.com — Pidato Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada CEO Summit di Tiongkok, Senin (10/11/2014), menuai pujian dari para netizen. Presentasi disampaikan Jokowi dalam bahasa Inggris di hadapan sekitar 1.500 pimpinan perusahaan internasional.

Jokowi berbicara di CEO Summit dengan menggunakan bahasa Inggris yang sederhana dan baik, tanpa catatan, menggunakan pointer sendiri, dan menggendalikan ppt (Power Point), fokus pada kesempatan berinvestasi. @APEC_CEOsummit,” kicau Presiden East-West Center, Charles E Morrison, melalui akun Twitter-nya, @charmorrison.

Renne Kawilarang, seorang jurnalis online, juga memuji keberanian Presiden Jokowi tersebut.

Dengan bahasa Inggris logat Jowo, Presiden Jokowi berani pidato tanpa teks di depan 1.500 CEO dunia di KTT APEC :),” kicau @binyoscouser.

Seorang bloger Kompasiana, Blontank Poer, menyebut Presiden Jokowi bukanlah berpidato, melainkan menyampaikan presentasi.

Yang lain pidato, pak presiden memilih metode presentasi…,” kata @blontankpoer.

Sementara itu, penulis buku Anak Dusun Keliling Dunia, I Made Andi Arsana, menyampaikan sisi menarik Presiden Jokowi dalam berbahasa Inggris.

6. Yg menarik, Pak Jokowi tdk merasa perlu menginggris2kan diri. Ini mirip org India yg nyaman dg logat sendiri. PD! #PresentasiJokowi,” kicau @madeandi.

Kritik

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengingatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam forum internasional yang akan diikutinya.

Hikmahanto mengatakan, hal itu tertuang dalam UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Pasal 28 UU tersebut berisi, “Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri.”

Hal ini, lanjut Hikmahanto, tidak dilakukan oleh Susilo Bambang Yudhoyono selama 10 tahun pemerintahannya.

“Penyampaian pidato oleh Presiden dalam bahasa Indonesia bukan karena Presiden tidak mau dan tidak mampu menggunakan bahasa Inggris, melainkan karena kewajiban yang ditentukan oleh UU. Jika Presiden saja tidak patuh pada UU, wajar saja bila masyarakat berperilaku demikian,” ujar Hikmahanto melalui pesan singkat, Senin (10/11/2014).


Penulis : Hindra Liauw
Editor : Hindra Liauw

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Infrastruktur jalan, gudang, pelabuhan, penting. Namun sumber daya manusia dengan kecakapan berbahasanya sebagai soft infrastructure pun tak kalah penting dalam menghadapi pasar bebas ASEAN 2015 (MEA 2015).

Head of Trade Global Trade and Receivables Finance HSBC, Nirmala Salli mengatakan kecakapan berbahasa Inggris pekerja Indonesia kalah dibanding Malaysia dan Singapura. Padahal, siapapun investor yang akan masuk ke Indonesia membutuhkan para pekerja yang fasih berbahasa Inggris.

“Betul, local demand kita naik dan middle class kita selalu menarik. Tapi ini (MEA) bukan soal kalah-menang (market size). Tapi orang-orangnya siap enggak? Kalau kita tidak siap, pada akhirnya investor yang masuk, juga akan membawa serta tenaga kerja dari luar,” kata Nirmala, Kamis (25/9/2014).

Selain tenaga kerja yang handal, kunci bertarung di pasar bebas ASEAN adalah komunikasi pemerintah kepada pebisnis terkait manfaat perjanjian perdagangan bebas yang ditandatangani. Nirmala menjelaskan, sebetulnya tujuan pemerintah meneken berbagai macam Free Trade Agreement (FTA) adalah untuk memudahkan para eksportir.

“Sayangnya, pemerintah tidak melakukan sosialisasi, sehingga hanya sedikit pebisnis yang menyatakan mendapat benefit dari FTA. Kita harapkan pemerintah lebih aktif mengomunikasikan benefit dari FTA. Itu yang kita harapkan dari pemerintah yang signing agreement tersebut,” kata dia.

Hasil survei yang dilakukan HSBC pada kuartal I-2014 terhadap 800 perusahaan di delapan negara yakni Australia, China, Hongkong, India, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Vietnam, menunjukkan Indonesia adalah negara yang paling banyak memanfaatkan FTA.

Sebanyak 42 persen dari 100 perusahaan di Indonesia menyatakan sudah memanfaatkan FTA. Angka ini paling tinggi dibanding tujuh negara lain, yakni Vietnam (37 persen), Hongkong (33 persen), India (27 persen), China (23 persen), Singapura (21 persen), Australia (19 persen), dan terendah Malaysia (16 persen).

Lucunya, kata Nirmala, pada pertanyaan lain, Indonesia menjadi negara di mana para pebisnisnya memiliki pemahaman tentang FTA paling rendah. Dengan jumlah responden sama, hanya 24 persen pebisnis Indonesia yang paham apa itu FTA. Angka ini paling rendah dibanding tujuh negara lain, yakni Hongkong (32 persen), Vietnam (42 persen), Singapura (47 persen), China (48 persen), Australia (50 persen), Malaysia (52 persen), dan tertinggi India (56 persen).

 

detik Jakarta -Penguasaan bahasa Inggris di lingkup Kementerian Perdagangan (Kemendag) dianggap perlu. Ada sejumlah tugas PNS Kemendag yang bersinggungan dengan dunia internasional.

Hal ini disampaikan Dirjen Standardisasi Perlindungan Konsumen (SPK) Kemendag, Widodo kepada detikFinance, Sabtu (16/08/2014).

“Sebetulnya kita perlu,” tegas Widodo.

Di lingkup SPK, penggunaan bahasa Inggris banyak manfaatnya. Selain untuk membuat dan menerjemahkan regulasi/aturan, penggunaan bahasa Inggris juga dilakukan untuk memberikan pelayanan informasi kepada tamu asing.

“Karena untuk hubungan standardisasi ada internasional kemudian perlindungan konsumen juga sama-sama menuntut adanya regulasi-ragulasi. Ada orang Apple datang ke kita untuk melihat regulasi harus kita layani. Jadi perlu teman-teman SPK. Kalau pengawasan di pasar ya nggak terlalu penting,” paparnya.

Lalu penggunaan bahasa Inggris juga diperlukan apabila Ditjen SPK diundang ke konferensi bertaraf internasional.

“Masih banyak Indonesia, tetapi kita banyak undangan-undangan terutama di ASEAN. Kalau metrologi itu pusatnya di Prancis, selalu ada sidang standardisasi, perlindungan konsumennya sama pengembangan mutu barang,” katanya.

Meskipun begitu, Widodo mengakui nilai kemampuan bahasa Inggris di lingkup kerjanya masih harus banyak diperbaiki. Oleh karena itu setiap tahun ada program pendidikan kilat (diklat) bahasa Inggris bagi semua pegawai Kemendag Ditjen SPK yang melibatkan pihak ketiga.

“Ada program. Mulai 2012 ada pelatihan Bahasa Inggris yang pelaksanaannya di kantor. Kita undang pihak ketiga ajar itu. Dalam satu tahun ada yang belum sampai (TOEFL) 600 kita ajarkan lagi. Rata-rata kalau sekarang ini sudah (TOEFL) di atas 400,” cetusnya.

(wij/dnl)

 

… beberapa taon yang lalu, gw pernah posting pendapat gw soal BAHASA INGGRIS, maksudnya ketrampilan berbahasa bule itu … untuk bisa berinvestasi yang bagus maka wajib hukumnya kudu berbahasa Inggris yang baek … soalnya ilmu n informasi VITAL bagi investasi kita kebanyakan dalam bahasa itu … walau sekarang uda banyak ilmu n info dalam bahasa kita, tapi YANG STRATEGIS kebanyakan maseh dalam bahasa tersebut … apalagi 2015, tinggal beberapa bulan lage, siap2 kita memasuki era NERAKA bagi orang2 canggih kita … ga yakin? sila buktikan sendiri lah 🙂
Bahasa Jadi Masalah Dokter Bedah Plastik Indonesia Hadapi MEA‏

Created on Monday, 26 May 2014 22:58

Jakarta, GATRAnews – Dokter merupakan salah satu profesi yang diliberalisasi pada Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, termasuk dokter spesialis bedah plastik. Menghadapi persaingan dengan dokter bedah plastik dalam lingkup regional ASEAN, dokter spesialis Indonesia dikhawatirkan masih terkendala dalam penguasaan bahasa internasional.

the FIRST BLOG I write in ENGLISH, please enjoy it
TRU$T developed by FLUENCY IN ENGLISH, why we are more primitive than other ASEAN COUNTRIES

“Malaysia atau Singapura sehari-harinya pakai bahasa Inggris. Sedangkan dokter kita masih terkendala. Ini menjadi masalah untuk dokter bedah plastik Indonesia untuk ekspansi ke luar negeri,” kata Budiman, Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (Perapi) saat diwawancarai usai acara Perhimpunan Ilmiah Tahunan Perapi, Senin (26/5).
SAVING importance in ENGLI$H
Budiman menambahkan saat dokter bedah plastik Indonesia sulit berekspansi ke luar, Indonesia menghadapi gempuran dari dokter bedah plastik dari luar negeri. “Saat ini saja sudah banyak dokter bedah plastik dari luar yang membuka praktiknya di Indonesia,” imbuh Budiman.

Selain kendala bahasa, dokter bedah plastik Indonesia juga terkendala dalam penetapan biaya. Budiman menjelaskan biaya operasi plastik di setiap wilayah memiliki perbedaan yang jauh. “Jakarta sama Semarang saja jauh perbedaan harganya. Ini disebabkan obat dan alat pengobatan yang digunakan berbeda antara dokter bedah plastik. Di luar negeri harganya dipatok sama. Jadi pasien tahu berapa biaya berobat yang harus dikeluarkan. Kalau di Indonesia tidak tahu berapa biayanya,” kata Budiman.

Pelayanan rumah sakit yang diberikan kepada pasien juga merupakan salah satu faktor masyarakt Indonesia enggan berobat di dalam negeri. “Bagaimana memanusiakan pasien kita masih kalah,” ucap Budiman.

Menghadapi kendala tersebut, Budiman mengharapkan kepada pemerintah sebagai regulator untuk membuat kebijakan yang mendukung dokter dalam negeri. “Pajak rumah sakit masih tinggi, padahal negara diamanatkan untuk menjamin kesehatan masyarakatnya,” keluh Budiman.

Selain itu, ia juga meminta kepada dokter bedah meningkatkan kualitas sumber daya sehingga bisa bersaing menghadapi dokter bedah asing. “Secara kualitas ilmu bedah kita tidak kalah, tetapi bahasa Inggris masih menjadi faktor penghambat,” kata Budiman. (*/JNR)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: