eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

April 29, 2013

beautiful: bbm n ihsg … 290413

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 6:24 am
Tags:

WHAT IF

… menurut gw, sulit posisi SBY menaekkan harga bbm tanpa meruntuhkan persentase elektabilitas partai Demokrat dkk … liat aja
HARGA PREMIUM & SOLAR: Enak Zamanku To..?
Bayu Widagdo – Minggu, 28 April 2013, 21:48 WIB

bisnis indonesia
Apa jadinya jika di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) ada dua jenis harga untuk satu tipe bahan bakar, katakan saja bensin? Jadi kalau Anda membawa mobil pribadi, harus bayar Rp6.500 tiap liter bensin, sementara bila naik motor roda dua tetap Rp4.500.

Gambaran seperti itu merupakan salah satu hasil kajian dari pemerintah, yang berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat. Kenapa harus dinaikkan? Bukankah Indonesia produsen minyak bumi?

Betul, Indonesia memang memproduksi minyak bumi. Saat ini, produksi minyak bumi Indonesia setiap hari pada kisaran 800.000 barel. Pada akhir 2012 produksi minyak nasional 825.000 barel per hari dan normalnya produksi minyak akan mengalami penurunan alamiah. Pada saat jaya tahun 1980-an, produksi minyak Indonesia mencapai 1,6juta barel per hari.

Repotnya konsumsi minyak nasional terus mengalami peningkatan seiring semakin banyaknya orang Indonesia yang makmur. Setidaknya konsumsi minyak bumi Indonesia mencapai 1,3 juta barel. Kekurangan minyak itulah yang kita impor dari negara lain, tentunya dengan harga yang berlaku di pasar intenasional.

Persoalannya, harga BBM yang dijual di pasar domestik, sebagian besar mendapatkan subsidi dari negara, sehingga harganya jauh lebih murah ketimbang harga keekonomian BBM tersebut. Contohnya, Premium yang dijual Rp 4.500 per liter sementara harga keekonomiannya Rp 9.018 per liter pada Maret lalu. Ini berarti besaran subsidi per liternya mencapai lebih dari Rp 4.500. Juga solar yang dijual jauh di bawah harga ekonomisnya.

Dengan konsumsi BBM yang terus meningkat, negara akan menanggung beban subsidi BBM yang sangat besar. Hal ini dilatari dari kemungkinan meningkatnya volume konsumsi BBM melebihi yang dipatok dalam APBN 2013, dari semula 46 juta kiloliter (KL) menjadi 52-53 juta KL. Anggaran subsidi BBM yang semula dipatok Rp193 triliun, bisa-bisa membengkak menjadi Rp293 triliun.

Yang menjadi persoalan, sebagian besar penggunaan BBM bersubsidi itu dinikmati oleh kendaraan pribadi, yang notabene adalah orang-orang mampu. Oleh karena itu sudah sepantasnya harga BBM dinaikkan untuk mengurangi subsidi bagi orang mampu ini dan setidaknya dialihkan ke pihak-pihak yang lebih membutuhkan.

Itulah mengapa pemerintah memiliki rencana menaikkan harga BBM supaya anggaran subsidi dapat dikurangi, dan dialihkan untuk membiayai kegiatan lain yang lebih berguna seperti halnya pembangunan infrastruktur.

Penuh Keraguan

Persoalannya, pemerintah terlihat sering ragu-ragu untuk melakukan penaikkan harga BBM. Maklum saja, langkah menaikkan harga bensin merupakan tindakan yang sangat tidak popular. Apalagi Indonesia akan menghadapi Pemilu 2014.

Awal April 2013 misalnya. Menteri Energi Jero Wacik mengatakan pemerintah menyiapkan beberapa opsi penaikan harga BBM. Pertengahan bulan yang sama, dia mengatakan sudah mengerucut ke sistem dua harga, Rp4.500 untuk motor dan angkutan umum serta Rp6.500-Rp7.000 untuk kendaraan pribadi.

Pun saat yang sama, pemerintah pusat mengumpulkan seluruh gubernur untuk mendapatkan penjelasan mengenai latar belakang perlunya menaikkan harga BBM. Keluar dari gedung pertemuan, hampir semua gubernur menyatakan memahami dan mendukung langkah kebijakan pemerintah pusat soal penaikan harga BBM.

Akibatnya jelas, muncul persepsi harga BBM segera naik. Persoalannya, kapan mau naik harga ini tidak jelas waktunya. Mumpung belum naik, banyak orang melakukan aksi ambil untung dengan menimbun bensin maupun solar bersubsidi dengan harapan bisa mengambil laba pas BBM dinaikkan.

Di sisi lain, pasokan BBM pun seperti dikurangi. Buktinya banyak SPBU di berbagai daerah yang kosong sehingga mengakibatkan antrean yang cukup panjang. Dampaknya, kegiatan transportasi barang maupun penumpang pun terganggu.

“Kalau benar nanti ada dua harga, sebagian angkot saya tidak akan menarik penumpang. Kerjaannya nanti keluar masuk SPBU beli bensin subsidi dan nanti dijual eceran,”ujar satu kenalan saya, sebut saja Bagyo. Dia memiliki beberapa kendaraan angkutan kota.

Logika Bagyo lumrah saja dan ada benarnya.

Di sisi lain, para petugas SPBU bisa jadi akan semakin berat menjalankan tugasnya menghadapi para pelanggan yang ngotot meminta dilayani BBM subsidi. Beberapa teman saya sudah memiliki aneka rencana untuk tetap membeli BBM subsidi, meski menggunakan kendaraan pribadi roda empat. Maklumlah, urusan mengakali peraturan, orang kita sangat ulung.

Oleh karena itu, wajar bila Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) menilai penerapan kebijakan dua harga BBM subsidi yang rencananya diberlakukan pemerintah di Mei 2013 ini amat sulit dijalankan di setiap SPBU. Bagaimana pengawasannya supaya kebijakan itu bisa diberlakukan?

“Jelas pengawasannya dipastikan runyam. Jika tak terkontrol bisa menimbulkan kericuhan,”tegas Wakil Sekretaris DPD 3 Hiswana Migas, Syarief Hidayat, akhir pekan lalu.

Menurut dia, anggota Hiswana Migas sudah sepakat menyatakan tidak siap dan tidak setuju untuk menjalankan kebijakan pemerintah tersebut.”Kita sudah sepakat tidak siap. Bahkan beberapa daerah ada yang bersuara lebih keras, menolak rencana dual price ini.”

Yang jelas, wacana penaikan BBM ini sudah mengakibatkan ketidaknyamanan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sopir truk sudah kesulitan mencari solar, akibatnya berbagai harga juga ikut-ikutan naik.

Keresahan nasional akibat kurang tegasnya para pemimpin kita memutus persoalan harga BBM ini sudah berjalan 2-3 pekan. Sampai kapan kondisi ini akan berlangsung? Apakah harga BBM benar-benar akan dinaikkan per 1Mei mendatang?

Saya sih yakin tidak akan naik per 1 Mei. Mengapa? Hari itu merupakan peringatan Hari Buruh, May Day. Biasanya pada hari itu ribuan buruh turun ke jalan. Menaikkan harga BBM per 1 Mei pas para buruh melakukan aksi di jalanan ibaratnya sama saja menyiram bensin ke api.

Tiba-tiba saya teringat zaman masih SD, seusai siaran Dunia Dalam Berita di TVRI pukul 21.30, muncul Pak Harmoko dan Pak Subroto, selaku menteri penerangan dan menteri energi kabinet Pak Harto. Tidak sampai 30 menit, keduanya sudah mengumumkan bahwa harga bensin mulai pukul 00.00 nanti malam naik.

Spontan para tetangga berduyun-duyun ke SPBU, memborong bensin sebelum naik harganya pas pukul 12.00 malam. Banyak antrean di seluruh SPBU. Namun yang jelas kekacauan seperti itu hanya berlangsung 2-3 jam. Tidak 2-3 pekan seperti sekarang.

Jadi teringat lagi tulisan di bak belakang sebuah truk di jalanan Pantai Utara Jawa yang panas. “Piye kabare..? Enak jamanku to..?

Editor : Sutarno

Harga BBM Naik, Potensi Turun IHSG ke 4.600

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Jumat, 26 April 2013 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Jika harga BBM bersubsidi jadi dinaikan, IHSG punya risiko pelemahan hingga 4.700-4.600. Hanya saja, pelemahan ini bersifat korektif setelah indeks tembus 5.000.

Pengamat pasar modal John Veter mengatakan, jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dinaikkan, IHSG punya peluang pelemahan ke 4.700-4.600. Sebaliknya, jika tak dinaikkan, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan ke 5.200. Hanya saja, kalau harga BBM naik, penurunan IHSG lebih bersifat jangka pendek. “Itupun sifatnya korektif setelah IHSG naik cukup tinggi dengan menembus level psikologis 5.000,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Kamis (25/4/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 17,08 poin (0,34%) ke posisi 4.994,523. Intraday terendah 4.962,442 dan tertinggi 5.016,035. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG kemarin melemah 0,34% ke 4.994. Apa yang terjadi?

IHSG saat ini sedang konsolidasi. Kemarin turun, karena laporan keuangan dari PT Astra International (ASII) yang dirilis di bawah ekspektasi, minus 7%. Padahal, ASII memiliki bobot yang besar sehingga menyeret indeks turun dalam.

IHSG hanya konsolidasi biasa setelah kenaikan yang cukup tinggi sejak awal 2013. Karena itu, wajar kalau IHSG konsolidasi cukup kuat. Karena itu, tidak ada yang perlu ditakutkan karena ini merupakan koreksi minor.

Dalam rentang berapa fase konsolidasinya indeks?

Rentang konsolidasi IHSG berada dalam kisaran 4.850 hingga 5.020. Jika IHSG berada di atas 5.020, IHSG akan mengakhiri fase konsolidasinya dan kembali ke tren bullish. Artinya, selama dalam kisaran tersebut, indeks masih tetap akan konsolidasi.

Sampai kapan indeks akan konsolidasi seperti sekarang?

IHSG akan terus konsolidasi sampai ada kepastian dari pemerintah soal penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Pasar akan menuggu hingga 2-3 Mei 2013. Sebab, kabar yang santer beredar, harga BBM bersubsidi akan naik pada Rabu, 1 Mei 2013. Jadi, sampai ada kepastian naik atau tidak harga BBM bersubsidi, pasar akan konsolidasi seperti ini.

Jika harga BBM bersubsidi jadi dinaikkan, apa yang mungkin terjadi?

Mungkin akan ada sedikit koreksi pada IHSG. IHSG punya peluang pelemahan ke 4.700-4.600. Jika tak dinaikkan, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan ke 5.200. Hanya saja, kalau harga BBM naik, penurunan IHSG lebih bersifat jangka pendek. Itupun sifatnya korektif setelah IHSG naik cukup tinggi dengan menembus level psikologis 5.000.

Saham-saham pilihan Anda?

Saya rekomendasikan positif saham-saham yang kinerjanya diuntungkan oleh permintaan dalam negeri. Saham-saham tersebut adalah PT Semen Indonesia (SMGR), PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), PT Lippo Karawaci (LPKR), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Astra Graphia (ASGR) dan PT Jasa Marga (JSMR).

ASGR, penjualannya cukup baik walaupun laba bersihnya turun pada kuartal I-2013, tapi pada kuartal II bisa menghapus kerugian pada kuartal I.

Bagaimana strategi untuk saham-saham tersebut?

Karakter saham-saham tersebut cenderung defensif. Pada saat market turun, penurunan di saham-saha tersebut akan lebih kecil daripada IHSG. Bahkan, ada potensi penguatan.

Karena itu, momentum konsolidasi IHSG bisa dimanfaatkan untuk mengakumulasi tujuh saham tersebut baik untuk trading maupun untuk investasi jangka panjang. Soal target harga, tunggu IHSG menyelesaikan fase konsolidasinya dan apakah harga BBM naik atau tidak.
Kemenkeu: Ekspektasi Inflasi karena BBM 0,8%
Jumat, 26 April 2013 | 19:12
investor daily

JAKARTA – Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan ekspektasi laju inflasi karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bagi kendaraan pribadi roda empat pada Mei adalah sebesar 0,8 persen.

“Maksimal penambahan inflasi bisa 0,8 persen, itu kalau diterapkan pada Mei,” ujarnya di Jakarta, Jumat (26/4).

Bambang mengatakan dampak dari kenaikan tersebut akan berlangsung selama tiga sampai enam bulan. Apabila penerapan kebijakan tersebut mundur, akan berpengaruh terhadap laju inflasi tahun depan.

“Dampaknya tidak hanya satu bulan, karena ini berbulan-bulan. Kalau makin mundur, dampaknya masuk ke tahun depan,” katanya.

Bambang menambahkan laju inflasi tersebut dapat ditekan karena kebijakan ini tidak akan berdampak pada kendaraan umum dan sepeda motor, yang tidak mengalami kenaikan harga premium dan solar bersubsidi.

“Ekspektasi inflasi seharusnya lebih minimal karena angkutan umum plat kuning tidak mengalami kenaikan,” ujarnya.

Inflasi April Sementara, pada April, Bambang mengatakan akan terjadi laju inflasi tipis, karena masih ada tantangan di lapangan terkait distribusi penyediaan barang-barang kebutuhan pangan.

“Harapannya April ini, kalau mengikuti season-nya seharusnya deflasi. Tapi masih banyak tantangan di lapangan. Jadi kemungkinan (inflasi) nol persen atau sedikit di atas nol persen,” ujarnya.

Bambang mengatakan April belum bisa terjadi deflasi, karena faktor penyebab inflasi pada Maret masih mempengaruhi kondisi pada April dan harga-harga tidak bisa sepenuhnya turun.

“Intinya sesudah April-Mei, kesempatan kita untuk deflasi sudah agak sulit, tanpa ada masalah lain,” katanya. (tk/ant)

Iklan

beautiful: emaaa($1500-1600)aa$ … 290413

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 5:10 am

HARGA EMAS: Comex Gold Naik Rp2.819 ke Rp457.081,42
Sutarno – Senin, 29 April 2013, 07:11 WIB
bisnis indonesia
BISNIS.COM, Harga emas real time di pasar logam New York pagi hari ini waktu Jakarta, Senin (29/5/2013), menunjukkan tren kenaikan. Pada pukul 6:48 WIB, indek Comex Gold Bloomberg menunjukkan harga emas untuk kontrak Juni 2013 naik US$9/troy ounce atau US$0,29/gram ke level US$1.462,6/troy ounce atau US$47,02/gram.

Jika dikonversikan dengan kurs tengah Bank Indonesia Jumat (26/4/2013) sebesar Rp9.721, maka harga emas itu naik Rp2.819/gram ke level Rp457.081,42/gram.

Harga emas di pasar global pekan ini, Senin-Jumat (29/4-3/5), diyakini naik karena permintaan untuk pembuatan koin emas melonjak.

Di Amerika Serikat hingga Jumat (26/4/2013) permintaan emas untuk koin selama April mencatatkan volume tertinggi sejak Desember 2009.

Sementara itu, di Inggris permintaan emas kepingan untuk pembuata koin emas selama April 2013 naik tiga kali lipat.

“Tak ada tanda-tandang penurunan permintaan,” ujar Shane Bissett, Direktur Lantakan & Koin Royal Mint dari Inggris, seperti dikutip Bloomberg.

Editor : Sutarno

Hedge fund dunia kembali mengoleksi emas
Oleh Barratut Taqiyyah – Senin, 29 April 2013 | 06:44 WIB | Sumber Bloomberg
kontan

CHICAGO. Para hedge fund dunia kembali mengakumulasi emas. Berdasarkan data yang dirilis US Commodity Futures Trading Commission, hedge fund dan spekulator emas kelas kakap dunia mengempit 69.726 kontrak emas jangka pendek pada 23 April lalu. Angka tersebut hanya selisih 0,6% dari level tertingginya sepanjang sejarah yang tercapai pada enam pekan sebelumnya.

Data yang sama juga menunjukkan, kepemilikan kontrak emas jangka panjang turun 25% menjadi 46.168 kontrak futures dan options.

Aksi beli tersebut disinyalir dipicu oleh sejumlah faktor. Pertama, harga emas menorehkan reli tertinggi dalam 15 bulan terakhir seiring tingginya permintaan koin dan perhiasan emas. Sekadar informasi, harga emas sudah reli 10% sejak menyentuh level terendah dalam dua tahun pada 16 April lalu.

Faktor yang kedua, Goldman Sachs Group Inc mengakhiri rekomendasinya untuk menjual si kuning mentereng tersebut.

“Terlihat bahwa harga emas sudah kembali ke posisinya dalam waktu yang sangat singkat. Setelah terjadi penurunan dalam, permintaan melonjak sangat cepat. Bank sentral banyak yang membeli emas, dan terjadi permintaan koin emas yang menembus rekor tertinggi di seluruh dunia,” urai Donald Selkin, chief market strategist National Securities Corp di New York.

Meski demikian, kepemilikan emas pada exchange traded products (ETP) pada tahun ini anjlok 13% menjadi 2.183,57 ton pada tahun ini. Level tersebut merupakan level terendah sejak Oktober 2011 lalu.

Gold Rout for Central Banks Buying Most Since 1964: Commodities
By Debarati Roy, Maria Kolesnikova & Phoebe Sedgman – Apr 25, 2013 9:12 PM GMT+0700

bloomberg

Central banks bought the most gold since 1964 last year just before the collapse in prices into a bear market underscored investors’ weakening faith in the world’s traditional store of value.

Nations from Colombia to Greece to South Africa bought gold as prices rose for an 11th year in 2011, highlighting the reversal of a three-decade-long bout of selling that diminished the world’s biggest bullion hoard by 19 percent. The World Gold Council says they added 534.6 metric tons to reserves in 2012, the most in almost a half century, and expects purchases of 450 to 550 tons this year, valued now at as much as $25.3 billion.
Enlarge image Gold Rout for Central Banks Buying Most Since 1964

A collection of one kilogram gold bars are seen at a London bullion dealer. Photographer: Simon Dawson/Bloomberg
Sri Lanka Central Bank Governor on Economy, Gold
3:40

April 16 (Bloomberg) — Sri Lanka’s central bank Governor Ajith Nivard Cabraal talks about monetary policy and the nation’s economy. The central bank left interest rates unchanged for a fourth month to support economic growth and contain inflation. Cabraal also discusses gold prices. He speaks from Colombo with Rishaad Salamat on Bloomberg Television’s “On the Move.” (Source: Bloomberg)
Could Gold Fall to $800?: Gold-CPI Ratio Says Yes
1:24

April 24 (Bloomberg) — In Wednesday’s “Futures In Focus,” Bloomberg’s Alix Steel talks about the pressure on gold and commodities as one report targets gold to fall to $800. She speaks on Bloomberg Television’s “Market Makers.”
Enlarge image Gold Rout for Central Banks Buying Most Since 1964

Central banks are the biggest losers, with about $560 billion of value erased since gold reached a record $1,921.15 an ounce in September 2011. Photographer: Paul Taggart/Bloomberg
Sponsored Links
Buy a link

Central banks are the biggest losers, with about $560 billion of value erased since gold reached a record $1,921.15 an ounce in September 2011. The metal was already in the eighth year of its longest bull market since the end of World War I when reserves started expanding again in 2008. They were also buying in 1980 when bullion peaked at the equivalent of $2,400 in today’s money, and selling in 1999 as prices slumped to a 20- year low.

“They sell at the wrong time and buy at the wrong time,” said Walter “Bucky” Hellwig, who helps manage $17 billion of assets at BB&T Wealth Management in Birmingham, Alabama. “They aren’t traders. They are looking at it as a long-term holding, as an ultimate reserve currency. With the benefit of hindsight, they tend to get it wrong more often than not.”
Annual Decline

Gold tumbled 13 percent to $1,451.45 this year and entered a bear market on April 12. By the end of the next trading day, prices had slumped 14 percent, the biggest two-day rout in three decades. Should the metal fail to rally by the end of the year, it would mark the first annual decline since 2000. Goldman Sachs Group Inc. is forecasting $1,390 in 12 months.

The timing of the rout is surprising because the events that sustained the bull market in the last several years are still unresolved. Central banks are printing money on an unprecedented scale as they seek to boost growth, Europe’s debt crisis is spreading and the International Monetary Fund is among those getting more pessimistic on the global economic outlook. Yet investors are now shunning an asset traditionally seen as a hedge against currency devaluation and fiscal turmoil.

Central banks owned 31,671 tons at the end of 2012, about 19 percent of all the metal ever mined, the London-based World Gold Council estimates. They accumulated the hoard over decades, with about 16 percent added in the 10 years through 1965, when prices were fixed at $35, or about $258 today once adjusted for U.S. inflation. President Richard Nixon formally ended the convertibility of dollars to gold in 1971.
Sales Limits

Holdings peaked at 38,347 tons in 1965 and began their most recent contraction about a decade later. Nations from Canada to the U.K. to Belgium sold more than 2,000 tons in the 1990s, contributing to the 28 percent slump in prices and spurring an agreement between 15 central banks in 1999 to set annual sales limits. Disposals under the accord dwindled to less than 6 tons last year, compared with 400 tons when it started, and were eclipsed by the purchases of other central banks.

The U.K. had the world’s second-biggest reserves in 1958 and now ranks 18th. Gordon Brown, the finance minister at the time, sold about 400 tons in auctions from 1999 to 2002, getting no more than $296.50 and as little as $255.75. The nation raised almost $3.5 billion, which was invested in dollars, euros and yen. The gold is now valued at about $18.4 billion, data compiled by Bloomberg show.
Hold Assets

Morgan Stanley expects central banks to buy another 655 tons through 2018, while the WGC anticipates purchases of at least 450 tons this year alone. The price slump may not deter them because of how much longer they typically hold assets relative to most investors. Russia and Kazakhstan expanded gold reserves for a sixth month in March, International Monetary Fund data showed today. Russian holdings rose 4.7 tons to 981.6 tons and Kazakhstan’s hoard grew 1.2 tons to 122.9 tons.

“Central banks are strategic investors, and look at it as the currency of the last resort that lenders will gladly take,” said Rachel Benepe, who helps manage $2.2 billion of assets at the First Eagle Gold Fund in New York. “When there are any big moves, investors get panicked. Nothing has changed from our viewpoint. Gold is a hedge against policy actions, and governments globally are announcing policies that are unproven.”

The bear market is a blow to investors who anticipated that stimulus by central banks and the almost doubling of sovereign debt to $22.9 trillion since 2008 would debase financial assets and boost demand for the traditional store of value. The Bank of Japan and the Federal Reserve have said they need to keep buying bonds and the International Monetary Fund cut its 2013 estimate for world growth four times since July.
Previous Record

The plunge has encouraged some investors to buy more. The U.S. Mint said this week it ran out of its smallest American Eagle gold coin and purchases from the Perth Mint in Australia doubled. Standard Chartered Plc’s sales to India last week exceeded the previous record by 20 percent and UBS AG says physical flows there are near the highest since 2008.

Price swings are an “unavoidable risk” and aren’t a “big concern” because gold is a long-term strategy for diversifying currency reserves, the Bank of Korea said in a statement April 16. The central bank almost doubled its holdings to 104.4 tons by the end of March from a year earlier, still only equal to 1.6 percent of all its foreign reserves, WGC data show.

While the drop in prices is “extremely concerning,” the South Africa Reserve Bank won’t adjust its reserve policy, Governor Gill Marcus told reporters April 16. The bank holds 125.1 tons, little changed over the past decade. Gold traded in rand dropped about 17 percent since reaching a record Oct. 8.
Hedge Funds

The slump means Sri Lanka will “favorably” consider buying more, central bank Governor Ajith Nivard Cabraal said in a Bloomberg Television interview April 16. The nation has 3.6 tons of reserves, from 11.6 tons when prices peaked in 2011, according to WGC data.

Central banks and other bullion buyers aren’t the only losers. The Bloomberg Research Global Gold Mining & Exploration index of 190 companies tumbled 35 percent this year as the MSCI All-Country World Index of stocks gained 7.5 percent. The Standard & Poor’s GSCI gauge of 24 commodities retreated 4.5 percent and a Bank of America Corp. index shows Treasuries returned 0.7 percent.

Paulson & Co., the hedge fund company founded by billionaire John Paulson, is the biggest investor in the world’s largest exchange-traded product backed by bullion, with a holding at the end of 2012 equal to 65.7 tons. Paulson told clients in a letter that demand from central banks, India and China will support prices.
Distressed Economies

The money manager’s views aren’t shared by all his peers. Hedge funds trimmed bullish bets on gold by 40 percent this year, U.S. Commodity Futures Trading Commission data show. Holdings in ETPs contracted 13 percent to 2,299 tons, which combined with the price slump erased almost $36 billion from their combined value.

The slump into a bear market happened three days after a European Commission debt assessment said Cyprus had committed to sell about 400 million euros ($523 million) of gold. While the Cypriot central bank, ranking 61st globally for reserves, said it hadn’t discussed such plans, it spurred speculation that other distressed European economies would do the same. Portugal, Spain, Italy and Greece own 3,228 tons.

The U.S. and Germany are the biggest owners, with gold accounting for more than 70 percent of their total reserves. Both kept holdings little changed in the past decade. The U.S. officially values its bullion at $42.2222 an ounce.

“Central banks don’t think like traders, so don’t expect them to try and time the market,” said Quincy Krosby, a market strategist for Newark, New Jersey-based Prudential Financial Inc., which oversees more than $1 trillion of assets. “It’s not that they aren’t astute enough, but their focus is to diversify, and so they really don’t focus on prices.”

April 20, 2013

beautiful: emaaa(TIME2BUY)aa$ … 200413

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 3:44 pm
Tags:

Harga Lagi Murah, Emas Ludes Terjual di China
Wahyu Daniel – detikfinance
Sabtu, 20/04/2013 14:11 WIB

Beijing – Turunnya harga emas belakangan ini membuat orang makin gencar memburunya. Di China, harga emas ludes terjual karena diburu oleh masyarakat yang ingin berinvestasi di logam tersebut.

Di Departemen Store Caishikou, sebagai lokasi penjualan emas di Beijing, emas batangan dan perhiasan habis terjual.

“Tak ada lagi emas batangan yang tersisa. Konsumen banyak yang memesan emas dan baru bisa mendapatkannya seminggu lagi,” ujar salah seorang penjual di toko tersebut seperti dikutip dari Chinadaily, Sabtu (20/4/2013).

Emas di China diburu oleh kalangan berpendapatan menengah ke atas sejak sebelum harganya turun. Dengan penurunan harga emas yang signifikan saat ini, minat masyarakat di China untuk membeli emas makin tinggi.

“Saya tak sabar untuk membeli emas. Banyak teman-teman saya yang sudah berhasil membelinya,” ujar seorang calon pembeli emas Zhang Jiang yang membeli kalung dan emas batangan 5 ounces.

Zhang berharap, kerugiannya akibat turunnya harga saham bisa ditutup lewat emas.

Pada Kamis lalu, Caishikou menjual emas perhiasan seharga US$ 61,6 (Rp 585.200) per gram. Emas-emas ini telah ludes terjual.

Harga emas memang sedang mengalami penurunan, bahkan besaran penurunan emas dalam sehari pernah mencapai titik terendah sejak 1980-an pada Senin awal pekan ini.

Sebuah toko emas besar di Timur Nanjing, China punya cerita lain. Akibat penurunan harga emas yang terjadi pekan ini, ada seorang pembeli yang memborong 10 kg emas batangan dengan harga 2,9 juta yuan. Masyarakat pun memburu perhiasan dan emas batangan dengan jumlah besar.

Emas menjadi populer di China sebagai instrumen investasi, karena dipercaya sebagian orang, emas kebal terhadap laju inflasi. pembelian emas di China mencapai 832,18 ton tahun lalu.

(dnl/dnl)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: