eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Maret 28, 2013

beautiful : TANPA $UB$1D1 listrik … 280313

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 2:33 am

Tarif Listrik 1 April Naik Lagi, 4 Golongan Ini Naik Paling Tinggi
Rista Rama Dhany – detikfinance
Minggu, 24/03/2013 14:11 WIB

Jakarta – Pemerintah akan kembali memberlakukan kenaikan tarif listrik pada 1 April 2013 nanti. Kenaikan ini merupakan yang kedua kalinya pada tahun ini sejalan rencana kenaikan tarif listrik bertahap 3 bulan sekali semenjak 1 Januari 2013.

Dari berbagai golongan pengguna listrik PT PLN (Persero), setidaknya ada 4 golongan listrik yang paling tinggi mengalami kenaikan.

“Pasti naik, kenaikan tarif listrik 1 April sebesar 4,3% (rata-rata) tetap sesuai ketentuan,” kata Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman dikutip Minggu (24/3/2013).

Dengan kenaikan tarif listrik tersebut, sebanyak 4 golongan mengalami kenaikan tarif paling tinggi dibandingkan golongan listrik lainnya. Hal ini karena 4 golongan tersebut tidak lagi memperoleh subsidi listrik dari negara, antaralain:

Golongan pelanggan Rumah Tangga Besar (R-3 dengan daya 6.600 Volt Amper ke atas), contohnya rumah mewah. Mengalami kenaikan 9,62%, naik dari Rp 1.195/Kwh menjadi Rp 1.310/Kwh.
Pelanggan Bisnis Menengah (B-2 dengan daya 6.600 Va sampai dengan 200 kVa), contoh hotel berbintang 3 ke atas, kantor perbankan, restoran besar. Kenaikannya sebesar 8,23%, naik dari Rp 1.216/Kwh menjadi Rp 1.315/Kwh.
Pelanggan Bisnis Besar (B3, dengan daya diatas 200 kVa), contoh : Shopping Center/mal, hotel bintang 4, hotel bintang 5, taman hiburan dan rekreasi komersial, stasiun televisi swasta. Kenaikannya sebesar 10,26% dengan tarif naik dari Rp 975/Kwh menjadi Rp 1076/Kwh.
Pelanggan kantor pemerintah sedang (P1 daya 6.600 Va sampai dengan 200 kVa), contoh : Kantor Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Golongan ini mengalami kenaikan 3,69%, naik dari Rp 1.220/Kwh menjadi Rp 1.265/Kwh

(rrd/hen)

Maret 27, 2013

beautiful: GANDAin KARTU KREDIT/DEBIT … 270313

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:16 am

BI Larang ‘Gesek Ganda’ Kartu Kredit
Senin, 25 Maret 2013 | 9:23
investor daily
JAKARTA-Bank Indonesia melarang semua pedagang (merchant) melakukan penggesekan ganda (double swipe) dalam transaksi menggunakan kartu kredit untuk menghindari terjadi penyalahgunaan data di kartu kredit tersebut.

“Bank Indonesia (BI) melarang kegiatan double swipe pada merchant dalam rangka merekam data kartu,”kata Direktur Grup Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah di Jakarta, Senin (25/3).

Dia mengatakan BI akan menyiapkan surat himbauan kepada seluruh penerbit kartu kredit dan penyedia electronik data capture (acquirer) untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan kerjasama dengan merchant.

Larangan ini terkait kasus pencurian data kartu kredit dari dua penerbit kartu kredit di Indonesia yaitu Bank Mandiri dan BCA, yang ditelusuri dilakukan di merchant Body Shop di dua buah mall di Jakarta.

BI juga mengingatkan kepada acquirer dan penerbit pentingnya penggunaan PIN dalam setiap transaksi kartu debet baik di mesin ATM maupun di EDC, sebagai pengganti masih adanya pilihan tanda tangan.

Difi menambahkan, pihaknya dalam waktu dekat akan mengundang seluruh acquirer kartu ATM/Debet dan Kartu Kredit dalam pertemuan konsultatif di BI.

BI juga meminta acquirer untuk melakukan pengawasan dan edukasi kepada merchant, dan kewajiban prinsipal dalam melakukan pengawasan yang lebih intensif terhadap keamanan dan keandalan sistem dan/atau jaringan seluruh penerbit dan/atau acquirer yang menjadi anggota principal yang bersangkutan.

Sementara itu, Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) dan prinsipal Visa telah menyepakati untuk membuat laporan ke pihak kepolisian terkait kasus pencurian data kartu kredit ini.

Selain itu AKKI dan Vusa juga sedang melakukan uji forensik terhadap kasus ini dan melarang merchant Body Shop di seluruh Indonesia untuk melakukan gesek ganda kartu kredit.

AKKI juga meminta kepada Visa untuk dapat melakukan kontrol atas industri dan mengusulkan pada BI untuk menerbitkan regulasi mengenai praktek double swipe ini. (*/hrb)

Bank Mandiri Akui Nasabahnya Jadi Korban Penggandaan Kartu
Fri, 22 Mar 2013, 14:27 WIB Headline, Perbankan
infobank
Kendati jumlah transaksinya tidak bombastis, namun Bank Mandiri mengakui ada nasabah kartunya yang menjadi korban penggandaan data usai melakukan transaksi di gerai Body Shop. Paulus Yoga

Jakarta–PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengakui ada nasabahnya yang menjadi korban penggandaan data kartu debit di mitra merchant-nya, yakni The Body Shop beberapa waktu lalu. Untuk mengantisipasi bertambahnya korban fraud tersebut, perseroan mengambil langkah sigap dengan memblokir kartu dari nasabah yang sempat melakukan transaksi di Body Shop.

“Kartu yang kita blokir sedikit, jumlahnya tidak sampai 100 (yang data kartunya digandakan), nilai transaksinya (yang ditengarai berasal dari penggandaan kartu) pun di bawah Rp200 juta, jadi ini memang kita antisipasi sejak awal,” ujar Direktur Micro and Retail Banking Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin, kepada wartawan di Jakarta, Jumat, 22 Maret 2013.

Menurutnya, penyalahgunaan kartu kredit dan kartu debit ini terjadi saat nasabah Bank Mandiri melakukan transaksi di salah satu gerai ritel fashion, Body Shop, di Indonesia. Rupanya ada oknum yang melakukan pencurian data saat pembeli bertransaksi menggunakan kartu debit.

Langkah antisipatif yang diambil Bank Mandiri, sambung Budi, dilakukan dengan melihat lokasi transaksi kartu nasabah yang bersangkutan usai melakukan transaksi di Body Shop. “Jadi data itu digandakan ketika nasabah melakukan swipe di mesin EDC (di Body Shop), dan kita otomatis memblokir transaksi yang ada ditemukan dari negara Meksiko dan Amerika Serikat,” terangnya. (*)

Maret 13, 2013

beautiful: INVESTASI YANG GAMPANG itu PENIPUAN … pa$t1 : 26/02/2013

Praktik Busuk Pialang Berkedok Fund Manager
OJK DIMINTA LEBIH WASPADA
Rabu, 13/03/2013

neraca

Jakarta – Adanya temuan oknum agen penjual (salesman) perusahaan efek yang menjadi pengendali dana nasabahnya, menjadi \”bom waktu\” yang bakal merugikan investor pasar modal. Pasalnya, temuan perilaku menyimpang agen penjual yang berkedok jadi fund manager ini sudah ditengarai banyak berkeliaran di lapangan. Namun hingga kini, kasus tersebut belum direspon serius oleh investor maupun otoritas bursa.

NERACA

Menurut pengamat pasar modal dari FEUI Budi Frensidy, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama ini masih bertindak reaktif. “OJK belum bertindak preventif,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (12/3).

Menurut dia, kasus pialang saham yang bertindak mirip fund manager itu akan mengalami pendekatan yang sama seperti sebelumnya. “Banyak produk seperti ini berjalan, OJK tidak buru-buru memberikan peringatan. Kalau uang nasabah sudah dibawa kabur baru diambil tindakan,” ujar Budi.

Dia menuturkan, investor Indonesia masih banyak yang kurang paham risiko. Dimana investor, hanya mengenal orang yang menawarkan produk tersebut dan tergiur dengan keuntungan-keuntungan yang dijanjikan. Namun, menurut Budi, investor juga punya andil kesalahan. Seharusnya, investor menanyakan, apakah pialang tersebut mempunyai izin untuk menghimpun dana. Kemudian patut dipertanyakan bagaimana kontrak dengan nasabah. Kalau tidak ada izin, maka patut dicurigai. Investor wajib harus kritis menghadapi perilaku fund manager bodong alias tidak memiliki sertifikat keahlian.

Sulit Dipantau

Sementara menurut pengamat pasar modal dari Universal Broker, Satrio Utomo menilai, banyaknya pialang berperilaku sebagai manajer investasi karena sulitnya pemantauan oleh pihak otoritas. “Tidak ada perjanjian tertulis, hanya mulut ke mulut. Ini bukan semata pialang, tapi juga nasabahnya sendiri,” ujarnya.

Menurut dia, sebagian besar nasabah lebih memilih untuk menyelesaikan transaksi dengan sang pialang dibanding harus kembali mengurus masalah transaksinya ke manajer investasi untuk kemudian dilaporkan ke pasar modal. “Nasabah kadang-kadang tidak mau tahu, yang paling penting bagaimana agar dia untung. Karena itu dia berurusan dengan pialang.”ungkapnya.

Dalam hal ini, pialang pun karena diiming-imingi akan memperoleh untung besar dari pihak nasabah sehingga sulit juga untuk menolak. Karena itu, permasalahan ini bukan sebatas masalah target ataupun kompetisi perusahaan, “Banyak yang melakukan karena iming-imingnya cukup besar. Dengan gaji Rp 5 juta misalnya, kemudian nasabah datang dengan nilai puluhan juta rupiah, tentu si salesman itu akan tergiur menangguk untung jika bisa menang, ini kan faktor manusiawi si pialang.” jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, perlu tindakan yang tegas dari pihak bursa efek untuk bisa meminimalisir adanya “oknum” pialang. Dalam hal ini bursa pun tidak boleh tebang pilih. Artinya, tidak hanya menindak orang-orang yang berada di luar bursa saja yang apabila diketahui melakukan hal tersebut kemudian ditindak, namun juga orang-orang yang dikenal dekat pun harus diperlakukan hal yang sama.

“Kalau memang yang namanya otoritas bursa mau menindak tepat, bersikaplah dengan tepat. Yang saya khawatirkan otoritas bursa tidak terpanggil, sebagian hanya dibiarkan. Sementara orang-orang yang di luar ditindak. Jadi, kalau mau ungkap, ya ungkaplah.” jelasnya.

Sementara Managing Partner PT Henan Putihrai Sekuritas, Ferry Sudjono mengakui, kasus perilaku salesman yang berperan jadi manajer investasi (fund manager) pernah terjadi di Medan, Sumatera Utara beberapa bulan lalu.

Dia menuturkan, hal semacam ini dilakukan untuk kepentingan pribadi yang tentunya merugikan perusahaan,”Tergantung itikad si sales tetapi peristiwa seperti ini pasti saling kerjasama antara sales dan pihak yang terlibat di dalamnya,”ungkapnya.

Menurut Idhamsyah Runizam, Direktur Utama BNI Aset Mangement dalam menyikapi kasus seperti ini harus diperhatikan mengenai izin atau sertifikasi sebagai manajer investasi. Dia juga menegaskan bahwa sales tidak diperbolehkan mengelola dana nasabah walaupun investor tersebut percaya pada sales-nya, “Dana tersebut disimpan untuk diperjualbelikan saham dan sales tersebut diberi kepercayaan tetapi tidak boleh menyelewengkan dana tersebut,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, otoritas bursa juga harus memberikan sanski tegas karena pelanggaran yang dilakukan oleh sales perusahaan tersebut, “Sanksi yang diberikan haruslah tegas agar tidak terulang lagi seperti ini,”tandasnya.

Rugikan Investor

Sebelumnya, Direktur Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo pernah bilang, saat ini masih ditemukan banyak praktek penyimpangan agen penjual perusahaan efek terhadap nasabah atau investor, “Dari beberapa kasus ditemukan, ada oknum sales tetapi memiliki perilaku seperti fund manager yang memutuskan jual atau beli saham milik nasabah, “katanya.

Menurut dia, praktik seperti ini jelas melanggar aturan pasar modal. Pasalnya, selain merugikan nasabah juga menyalahi peran dan fungsi agen penjual yang hanya mencari nasabah atau investor. Karena bagaimanapun juga, keputusan membeli atau menjual saham adalah peran dari fund manager di perusahaan efek yang dipercayakan mengelola dana nasabah.

Menurut Uriep, kasus semacam ini sulit dideteksi dan hanya ditemukan jika ada pengawasan dari BEI atau audit khusus. Kedepan pihaknya akan terus melakukan edukasi kepada investor untuk mempercayakan dananya kepada fund manager sebagai penanggung jawab dan bukan sales.

Selain itu, BEI juga akan memberikan sanksi tegas jika masih ditemukan praktek penyalahgunaan fungsi agen penjual perusahaan efek berupa mencabut izin operasional. Pasalnya, hal ini jelas diatur dalam aturan pasar modal. Oleh karena itu, perusahaan efek juga bertanggung jawab terhadap praktek oknum sales hingga direksi perusahaan efek, “Jelas perusahaan efek bertanggung jawab, khususnya direksi ikut mengawasi atau tidak, “tandasnya.

Dia menambahkan, biasanya praktik semacam ini timbul karena kompetisi bisnis perusahaan efek yang tidak sehat dan juga agen penjual yang mencari komisi tambahan. Maka untuk meminimalisir praktik ini, peran investor juga penting untuk tidak mudah menyerahkan dananya kepada agen penjual perusahaan efek, apalagi yang belum memiliki sertifikasi manajer investasi.

Karena bagaimanapun juga, praktik semacam ini jelas akan merugikan nasabah. Karena transaksi yang dilakukan tidak jelas dan nasabah tidak mendapatkan konfirmasi atas transaksinya. Sebaliknya, bila dana tersebut di kelola fund manager, nasabah berhak mendapatkan surat laporan transaksi setiap bulan. “Oleh sebab itu, investor harus memonitor dananya di pasar modal dengan kartu AkseS untuk pengamanan transaksi,” jelasnya. nurul/lia/iqbal/bani

CONTOH PENIPUAN INVESTASI BERDASI
BERKEDOK INVESTASI EMAS, KOPERASI, UTANG PERUSAHAAN, dll
… well, mudah sekale, orang Indonesia khan makin KAYA, jadi KEBUTUHAN UNTUK INVESTASI MAKIN TINGGI … namun pada dasarnya ORANG KAYA BARU ini adalah BERMENTAL HIGH GAIN, LOW RISK … maksudnya RISIKO KECIL, dan LABA RAKSASA … faktanya, KENYATAANNYA, in reality, the fact is THERE IS DEFINITELY NO HIGH GAIN LOW RISK … TIDAK ADA DALAM FAKTANYA RISIKO RENDAH BERLABA RAKSASA … yang ADA HIGH RISK HIGH GAIN: berisiko RAKSASA BERLABA SELANGIT … jadi, mau LABA GEDE, MESTI CARI YANG BENERAN SERIUS AMAN, well, bole baca2 posting gw yang laen neh: gw TERSENYUM karena SEDERHANA AJA, yaitu INVESTASI YANG TERBUKTI AMAN dan NYAMAN, TETAP BERISIKO TINGGI dan BERLABA GEDE dan CONTOH INVESTASI SUDAH LEBE DARI LIMA TAONan, TERBUKTI BERISIKO, AMAN, DAN BERI GW POTENTIAL GAIN % DI RATUSAN PERSEN
… well, gw mah cari INVESTASI YANG RESMI AJA … 🙂

YAKINkan DIRI SENDIRI: INVESTASI GAMPANG ITU PENIPUAN SEJATI, yang MENJANJIKAN PASTI DAPAT SEKIAN PERSEN ITU boong BANGET dah … ANDA PUNYA MODAL, MAKA SIAP2 UNTUK BELAJAR BERINVESTASI YANG BENAR aja lah dan AMAN … TETAP : HIGH RISK HIGH GAIN: asri, saham favorit gw seh …

Investasi Skema Ponzi
Selasa, 5 Maret 2013 | 11:47 WIB

Apa beda praktik penipuan investasi emas yang kita alami baru-baru ini dengan investasi skema ponzi model Bernard Madoff di AS?

Prinsipnya sama saja, berawal dari sikap aji mumpung yang bertemu mental ingin cepat kaya atau greedy. Dari sisi penawaran dan permintaan, ini sudah cukup menciptakan penyimpangan perilaku investasi, baik sederhana maupun canggih. Kasus penipuan investasi emas yang melibatkan Raihan Jewellery dan Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) menyita perhatian publik karena menyeret nama-nama besar. Kasus ini menambah panjang daftar penipuan berkedok investasi di Indonesia.

Beberapa tahun lalu, muncul kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (PT QSAR), G Cosmos, Voucher Key, dan lain-lain. Tak boleh dilupakan kasus Antaboga, disusul bail out Bank Century. Sebenarnya, penipuan mereka tergolong primitif. Memanfaatkan kekosongan regulasi dan pemahaman investor.

Justru yang merisaukan, jika hal seprimitif itu pun lolos dari pengamatan regulator, bagaimana dengan ”penipuan” yang melibatkan teknik dan metode kuantitatif tingkat lanjut? Madoff dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana menjalankan investasi skema ponzi. Kerugian yang ditimbulkan lebih dari 50 miliar dollar AS, hampir setengah cadangan devisa kita saat ini. Pihak yang dirugikan pun bank-bank terkemuka, seperti HSBC, BNP Paribas, dan Santander (bank terbesar di Spanyol).

Ada yang menarik dalam persidangan kasus ini. Madoff yang pemilik Madoff Investment Securities mengatakan, semua negara mengembangkan sistem ponzi dalam mengelola keuangan publik. Mungkin fakta di negara maju memang begitu. Sementara masalah kita jauh lebih sederhana, tipu-menipu dan model korupsi primitif.

Perilaku ekonomi

Istilah ponzi sebenarnya mengambil nama mafioso Italia yang menetap di AS, yakni Charles Ponzi, yang menjalankan usaha dengan cara kotor melalui tipu muslihat untuk menumpuk keuntungan. Pemikir ekonomi beraliran strukturalis, Hyman Minsky, memaparkan secara teoretis perilaku agen ekonomi. Ada tiga karakteristik, yaitu mereka yang tergolong hedge, speculative, dan ponzi.

Mereka digolongkan hedge jika dalam mengelola usaha atau portofolio kekayaannya cenderung hati-hati dan menghindari risiko berlebihan. Speculative jika cenderung berani dalam mengambil keputusan sehingga kadang berada pada situasi berisiko. Sebagai ponzi apabila dengan sengaja membiarkan dirinya tidak mampu melunasi kewajibannya. Bahkan, jika seluruh asetnya dijual sekalipun, utang-utangnya tidak akan tertutup.

Meski bersifat kriminal, investasi skema ponzi ini bermain di wilayah elite dalam kesadaran masyarakat. Sama seperti GTIS atau QSAR, mereka menjual nama-nama besar sebagai endorser. Sistem pengelolaannya dibungkus sedemikian rapi dan sepertinya bonafide. Padahal, skema yang dijalankan sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Mereka menjalankan usaha dengan teknik pemasaran andal dan progresif sehingga investor cenderung tergiur membeli. Dalam investasi, sering muncul perilaku mengekor (herd behavior). Bahkan, di pasar modal yang begitu maju, terkadang keputusan beli atau jual saham hanya didasari sikap mengekor. Mengapa bursa kadang mengalami kenaikan atau penurunan terlalu tajam dari yang semestinya, tak lain adalah faktor sikap mengekor dari para investor.

Belum lagi kalau alasan utama melakukan investasi atau mengelola usaha adalah untuk mengeruk untung sebesar-besarnya dalam waktu secepat-cepatnya. Mereka tak lagi memperhitungkan risiko karena motif utamanya adalah meraih keuntungan setinggi-tingginya.

Risiko sistemik

Model-model kejahatan itu tampaknya sederhana dan kasuistis belaka. Namun, jika tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan risiko sistemis berkepanjangan. Kasus Antaboga yang merembet ke Century adalah satu contoh. Ke depan, hal-hal semacam itu sangat mungkin akan sering terjadi dalam skala lebih besar, serta lebih rumit. Mengapa? Ada alasan dari dua sisi, permintaan dan penawaran.

Dari sisi permintaan, dengan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen bertahun-tahun ke depan, jumlah orang kaya dan kelas menengah akan terus bertambah. Jika merujuk klasifikasi kelas menengah versi Bank Dunia, mereka yang berpendapatan 2-20 dollar AS per hari. Kategori ini terlalu longgar. Jika memakai penghasilan 6-20 dollar AS, angkanya sekitar 6,5 persen dari total penduduk pada 2010.

Jumlah kelas menengah dengan kemampuan investasi relatif tinggi akan terus meningkat seiring booming ekonomi. Populasi orang sangat kaya (high net worth individual/HNWI) atau penduduk dengan investasi minimal 1 juta dollar AS memang masih sedikit.

Menurut Asia Pacific Wealth Report 2012 terbitan Royal Bank of Canada Wealth Management, baru sekitar 32.000. Namun, pertumbuhannya tergolong cepat, yakni 23,8 persen 2009-2010. Pada periode itu, negara lebih maju dari Indonesia pertumbuhan HNWI-nya lebih rendah. Di Singapura 21,3 persen, Korsel 15,5 persen, Australia 11,1 persen, India 20,8 persen, dan Jepang 5,4 persen.

Mereka pasti perlu instrumen investasi lebih rumit dan tak lagi puas dengan bunga tabungan dan deposito. Mereka ini pasar berbagai produk investasi nonkonvensional. Maka, industri reksadana dan wealth management begitu menjanjikan di negeri ini.

Di sisi penawaran, ada kecenderungan terjadi konglomerasi sektor keuangan. Perbankan mulai ekspansi ke berbagai sektor keuangan lain, seperti pembiayaan, asuransi, sekuritas. Perbankan di Indonesia termasuk yang paling menguntungkan di seluruh dunia. Tahun lalu, bank-bank BUMN mengantongi laba Rp 45 triliun. Maka, mereka melakukan ekspansi ke lembaga keuangan lainnya.

Perkembangan sisi permintaan dan penawaran ini terjadi dalam situasi regulasi masih relatif lemah. Sementara tingkat kesadaran investasi masyarakat cenderung rendah. Kasus Citibank di mana banyak nasabah ternama menyerahkan begitu saja pengelolaan investasinya ke satu orang menjadi bukti. Ketika terjadi manipulasi, dampaknya ke mana-mana. Kian berbahaya jika perilaku aji mumpung terjadi dalam sistem keuangan yang terkoneksi dalam konglomerasi sektor keuangan.

Gejolak pada satu sektor bisa cepat menyebar ke sektor lain. Jika sampai ke perbankan, bisa menimbulkan instabilitas pada perekonomian secara makro. Otoritas Jasa Keuangan harus sistematis mengantisipasi berbagai perilaku penyimpangan moral lewat berbagai kedok investasi, dari yang sederhana hingga yang rumit dalam sebuah sistem investasi berskema ponzi. Masih ada waktu, sebelum perilaku mereka berevolusi kian rumit dan sulit dideteksi. Kasus-kasus primitif itu harus secara proaktif diusut dan diantisipasi.

A Prasetyantoko Pengamat Ekonomi; Dekan Fakultas Ilmu Administrasi dan Ilmu Komunikasi, Unika Atma Jaya, Jakarta

Maret 8, 2013

beautiful: emaaa(NAEK TURUN)aa$ … 080313

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 12:50 am
Tags:

Ini Dia Penyebab Harga Emas Naik Turun
Kamis, 7 Maret 2013 | 13:49 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com — Harga kontrak emas bergerak naik turun pada transaksi siang ini, Kamis (7/3/2013). Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, pada pukul 12.09 waktu Singapura, harga emas di pasar spot diperdagangkan di posisi 1.584,28 dollar AS per troy ounce dari posisi 1.583,90 dollar AS per troy ounce posisi kemarin. Pada transaksi sebelumnya, harga emas sempat tertekan sebesar 0,3 persen.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga emas mengalami fluktuasi. Pertama, data ekonomi AS semakin membaik. Namun, investor juga masih berspekulasi bank sentral global masih akan tetap melanjutkan penggelontoran stimulus.

Kedua, euro perkasa terhadap dollar AS. Sementara indeks Dollar ditransaksikan mendekati level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

“Seiring data ekonomi AS yang semakin membaik, kejelasan mengenai kelanjutan stimulus the Federal Reserve masih belum jelas. Tergantung pada mood pasar, harga emas akan diperdagangkan sejalan atau bertolak belakang dengan dollar AS,” kata Sun Yonggang, Macroeconomic Strategist Everbright Futures Co.

Sementara itu, harga kontrak emas untuk pengantaran April naik sebesar 0,6 persen menjadi 1.584,90 dollar AS per troy ounce di Comex, New York. Harga kontrak emas yang paling aktif diperdagangkan ini sudah melorot 5,5 persen di sepanjang tahun ini. (Barratut Taqiyyah/Kontan)

Maret 5, 2013

beautiful: emaaa($8???)aa$ … 050313

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 7:50 am

Analis: Emas menuju US$ 8.000 dalam 5 tahun
Oleh Barratut Taqiyyah – Selasa, 05 Maret 2013 | 10:56 WIB

kontan
JAKARTA. Para investor emas saat ini tengah was-was. Pasalnya, harga emas masih menunjukkan sinyal bearish. Apalagi, Frank Lesh dari FuturePath Trading LLC memprediksi, secara teknikal, harga si kuning kinclong akan terus melorot hingga menyentuh level US$ 1.100 pada 2014 mendatang.

Lesh menjelaskan, rasio Fibonacci memberikan indikasi, penurunan yang mencapai 76,4% dari level rekor US$ 1.923,70 pada September 2011 lalu akan menyebabkan harga emas akan kembali menurun sebesar US$ 430.

“Jika harga emas turun di bawah harga level krusial yakni US$ 1.500, kita akan melihat penurunan yang signifikan terhadap harga emas. Pasar emas masih terlihat lemah. Kami melihat banyak dana yang keluar dari emas,” papar Lesh, director FuturePath yang berbasis di Chicago.

Namun, pendapat berbeda diungkapkan oleh Wakil Kepala Riset Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere. Menurut Nico, dirinya masih sangat bullish dengan harga emas dengan target harga US$ 8.000 per troy ounce dalam lima tahun ke depan.

“Level terendah sudah tercapai untuk tahun ini atau sudah sangat dekat. Maka, saya merekomendasikan untuk beli emas sekarang,” tegas Nico kepada KONTAN. Adapun level terendah harga emas tahun ini yang dimaksud Nico adalah US$ 1.555 per troy ounce.

Dia juga sempat menjelaskan, jika melihat grafik bulanan emas, dapat diketahui bahwa chart pattern yang berkembang saat emas bergerak di kisaran $1,500 hingga $1,800, telah bertahan dalam kisaran tersebut selama 18 bulan.

“Waktu yang akan bicara apakah kita bersiap untuk meroket naik sekarang ini, sehingga memberikan peluang beli yang sangat baik seperti yang pernah terjadi sebelumnya pada periode akhir 1990an-2000an awal, periode 2006-2007 serta di 2008-2009 saat krisis kredit. Yang menarik adalah peluang beli dalam 3 periode tersebut masing-masing berlangsung dalam 12 sampai 18 bulan,” urai Nico.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: