eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Juli 27, 2012

beautiful: I(ndone$(ilicon valley)14)pad … 270712

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 10:21 am

SBY Girang Indonesia Bakal Punya ‘Pabrik iPad’
Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Jumat, 27/07/2012 14:18 WIB
Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sambut baik investasi yang masuk ke Indonesia. Salah satu rencana investasi bidang teknologi yang datang dari Taiwan yaitu Foxconn Technology Group.

SBY menilai Indonesia akan memperoleh banyak manfaat dari penanaman modal yang tergolong dalam investasi cerdas tersebut.

“Ini akan mengembangkan information teknologi dua.. tiga-empat tahun, yang akan menciptakan lapangan pekerjaan untuk tenaga intelektual,” ungkap SBY di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (27/7/2012).

Selain menciptakan lapangan pekerjaan untuk tenaga kerja intelektual dalam jumlah besar. Nantinya investasi tersebut bisa membuat produk teknologi tinggi yang berlabel Indonesia.

“Menghasilkan komponen yang dengan branding Indonesia,” tambahnya.

Selain itu, investasi yang nantinya akan masuk ke Indonesia tersebut menurut SBY, harus secara serius dikerjakan dan dikordinasikan antara Kementerian Perdagangan, Perindustrian dan BKPM.

“BKPM, perdagangan, perindustrian untuk bekerjasama di luar negeri,” tutup SBY.

Seperti diketahui, Foxconn adalah perusahaan manufaktur yang berasal dari Taiwan yang memproduksi komponen-komponen elektronik untuk beberapa merek terkenal seperti Apple, Nokia, Google.

Salah satu produksinya adalah iPad. Kata Menteri Perindustrian MS Hidayat, Foxconn sendiri telah berinvestasi di Brasil dan berencana untuk menambah lima fasilitas produksi baru di negara itu.

Mantan ketua Kadin itu sudah menyambangi Foxconn demi mempercepat investasi asing tersebut bersama Dirjen Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Budi Darmadi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ke Taiwan.

(feb/ang)
Silicon Valley Indonesia Bisa Hasilkan 1 Juta Tenaga Kerja Terdidik
Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Jumat, 27/07/2012 16:24 WIB
Jakarta – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri, mengakui investasi bidang IT dari Foxconn Technology Group yang masuk bisa berdampak besar ke Indonesia.

Chatib menilai rencana investasi perusahaan teknologi asal Taiwan ke Indonesia tersebut akan menciptakan lapangan untuk pekerjaan berintelektual dalam jumlah yang besar

“Bisa nyerap lapangan kerja. Itu pembicaraannya bisa sampai satu juta orang diserap,” ungkap Chatib di Kementerian Perindustrian Jaakrta, Jumat (27/72012).

Investasi yang disebut akan menjadi Silicon Valley Indonesia tersebut menurut Chatib sedang dalam proses negosiasi dengan investor. “Kita dalam pembicaaraan,” sambungnya.

Terkait penciptaan lapangan pekerjaan, Chatib menjelaskan jika penyerapan tenaga kerja terdidik dari investasi tersebut akan berjalan bertahap namun dalam jumlah yang besar hingga 1 juta tenaga kerja.

“Kalau sampai selesai, itu sampai project-nya sudah full. Kan kalau bikin project gini kan anda tahap ini tahap ini tahap ini,” tutup Chatib.

Pemerintah berharap investasi dari Foxconn itu bisa menghadirkan Silicon Valley versi lokal di dalam negeri. Salah satu tempat yang memungkinkan jadi lokasi wilayah industri berbasis teknologi itu adalah Bandung, Jawa Barat.

Akan tetapi, Himpunan Kawasan Industri mendorong pemerintah untuk mengalihkan lokasi kawasan industri untuk Sillicon Valley tadi ditempatkan di luar Pulau Jawa.

Hingga kini memang belum keterangan resmi pemerintah, di mana Silicon Valley Indonesia akan hadir. Pasalnya, tidak mudah menyediakan lahan 1.000 ha lengkap dengan infratruktur pendukung.

(feb/ang)

Juli 25, 2012

beautiful: tanah, RUMAH, atau aparTemeN … 240712

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:44 am

Investasi Tanah, Rumah atau Apartemen?
Senin, 16 April 2012 | 08:58 WIB

Tabel Investasi Properti

Objek

Income (Pendapatan tambahan)

Potensi terjadinya income

Capital gain (Peningkatan modal / harga)

Potensi capital gain

Anjuran Investasi (holding period)

Tanah

Harga sewa / kontrak, kost2an, dll

Kecil

Kenaikan harga per M2

besar

> 5 tahun

Rumah

Sedang

sedang

> 3 tahun

Apartemen

Besar

kecil

< 3 tahun

 

KOMPAS.com – Pembaca yang bijak, setelah artikel mengenai 5 Kiat agar Mahasiswa Mampu KPR, maka kini saatnya membahas secara garis besar mana yang lebih menguntungkan diantara investasi properti tanah, rumah atau apartemen? Bagaimana formulasi tingkat pengembalian (return) didalam investasi properti tersebut? Faktor resiko apa yang mungkin terjadi dalam investasi tersebut?

Nah sebelum menjawabnya kami ingin sampaikan bahwa apa yang akan dijelaskan hanyalah secara garis besarnya saja, penulis memfokuskan pada sisi investasi yang bermuara pada peningkatan nilai pengembalian investasi. Adapun mengenai aspek legal khususnya undang-undang yang mengatur mengenai rumah susun tidak dibahas dalam artikel ini. Artikel ini semata mata hanya untuk membuka wawasan bagi para calon investor perorangan di bidang properti.

Selanjutnya bagaimana kita memilih investasi yang kita lakukan sebaiknya di tanah, rumah atau apartemen?

Sebelum menjawabnya ada baiknya kita pahami dulu rumus atau formula dalam sebuah investasi. Investasi dalam bidang apapun tentu mengharapkan tingkat pengembalian atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah return. Faktanya return dapat menjadi positif alias untung atau chuan maupun ada kemungkinan menjadi negatif alias rugi atau amsiaw. Mengapa demikian? Berikut formula dari return:

R = Income + Capital (jika + menjadi capital gain; jika – menjadi capital loss)

Nah sebagai contoh, dari formula diatas (jika) income hanya sebesar positif (+) Rp 1.000 sedangkan capital menjadi negatif (-) Rp 1.500 maka akumulasi return menjadi negative (-) Rp 500 atau dengan kata lain investor rugi Rp 500.

Selanjutnya dalam bisnis properti kita tinggal memilah-milah mana yang berpotensi sebagai income dan mana yang berpotensi sebagai capital, nah untuk lebih jelasnya slikahkan simak tabel berikut:

Tabel Investasi Properti

Objek

Income (Pendapatan tambahan)

Potensi terjadinya income

Capital gain (Peningkatan modal / harga)

Potensi capital gain

Anjuran Investasi (holding period)

Tanah

Harga sewa / kontrak, kost2an, dll

Kecil

Kenaikan harga per M2

besar

> 5 tahun

Rumah

Sedang

sedang

> 3 tahun

Apartemen

Besar

kecil

< 3 tahun

Analisa :
1. Tanah
a. Return yang cukup besar, ini bisa didapat dari data rata-rata kenaikan tanah (disekitar Jakarta) dalam hal ini Cibubur, Depok dan Serpong pertahun dalam kisaran 15 persen s/d 30 persen tentu tergantung lokasi dan infrastruktur disekitarnya;
b. Biaya perwatan relatif sangat rendah;
c. Tidak perlu diasuransi, relatif aman karena tidak bisa terbakar.
d. Sulit untuk mendapatkan income tambahan dlm bentuk sewa, dll;
e. Lebih sulit dijadikan jaminan utang di Bank jika dibandingkan dengan rumah;
f. Semakin luas, semakin tidak likuid karena sulit mencari pembeli yang memiliki banyak uang.

2. Rumah
a. Return yang sedang, namun tetap menjanjikan. Meskipun harga permeter persegi lebih mahal sekitar + 5 persen hingga 10 persen dari harga tanah, namun kenaikan harga pertahun masih dibawah kenaikan harga tanah. Kenaikan harga berada dalam kisaran 10 persen hingga 25 persen
b. Lebih likuid dari pada tanah karena mayoritas orang lebih suka membeli rumah dari pada membeli tanah;
c. Lebih mudah untuk dijadikan jaminan utang di Bank;
d. Kemungkinan mendapatkan income tambahan sedang karena bisa disewakan.
e. Nilai ekonomis bangunan terus menyusut setiap tahunnya, biasanya sebesar 10 persen penyusutan pertahun;
f. Dengan adanya bangunan maka pembayaran Pajak (PBB) menjadi lebih mahal jika dibanding dengan tanah;
g. Perlu diasuransikan terhadap kemungkinan kebakaran.

3. Apartemen
a. Return yang kecil, hal ini disebabkan karena adanya nilai susut dari bangunan apartemen yang cukup besar yakni sekitar 20 persen pertahun;
b. Cukup likuid karena orang masih mencari apartemen yang pada umumnya berlokasi strategis. Sedangkan jika membeli rumah pada lokasi strategis memerlukan jumlah uang yang lebih besar. Meskipun harga apartemen per M2 cukup mahal, namun masih lebih sedikit dana yang dikeluarkan karena luasan partemen yang relatif kecil;
c. Jika dijadikan jaminan di Bank, nilai taksasi dibawah rumah;
d. Umumnya income tambahan cukup besar;
e. Biaya rutin seperti listrik dan perawatan relatif mahal karena dihitung dengan mengikut sertakan fasilitas bersama atau fasilitas umum;
f. Tidak dapat merenovasi sesuka hati, hanya terbatas pada interior;
g. Sering terjadi masalah yang terkait dengan unit milik orang lain, misalkan kebocoran kamar mandi atau pipa pembuangan air milik orang lain yang mengakibatkan unit yang kita miliki harus di perbaiki.

Dengan demikian anda dapat memilih serta memilah investasi properti apa yang paling cocok dengan anda. (Taufik Gumulya, CFP®, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services)

Editor :
Erlangga Djumena

Juli 20, 2012

beautiful: ex3cUt1v3 FUNCTIONS … 200712

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 6:05 am

menurut seorang motivator yang iklannya diradiokan, salah satu fungsi manusia sosialis adalah berbagi. menurutnya, penelitian membuktikan bahwa fungsi berbagi pada anak2 tidak berkembang karena area PRE FRONTAL CORTEXnya maseh lom berkembang
ternyata memang diketahui bahwa fungsi berbagi itu merupakan bagian dari executive functions yang terdapat pada prefrontal cortex, seperti pada posting berikut:
Maturation of the Prefrontal Cortex
pertumbuhan lambat area prefrontal cortex yang merupakan CEO REGION of the BRAIN
The prefrontal cortex, the part of the frontal lobes lying just behind the forehead, is often referred to as the “CEO of the brain.” This brain region is responsible for cognitive analysis and abstract thought, and the moderation of “correct” behavior in social situations. The prefrontal cortex takes in information from all of the senses and orchestrates thoughts and actions to achieve specific goals.1,2

The prefrontal cortex is one of the last regions of the brain to reach maturation. This delay may help to explain why some adolescents act the way they do. The so-called “executive functions” of the human prefrontal cortex include:

Focusing attention
Organizing thoughts and problem solving
Foreseeing and weighing possible consequences of behavior
Considering the future and making predictions
Forming strategies and planning
Ability to balance short-term rewards with long term goals
Shifting/adjusting behavior when situations change
Impulse control and delaying gratification
Modulation of intense emotions
Inhibiting inappropriate behavior and initiating appropriate behavior
Simultaneously considering multiple streams of information when faced with complex and challenging information

This brain region gives an individual the capacity to exercise “good judgment” when presented with difficult life situations. Brain research indicating that brain development is not complete until near the age of 25, refers specifically to the development of the prefrontal cortex.3

MRI studies of the brain show that developmental processes tend to occur in the brain in a back to front pattern, explaining why the prefrontal cortex develops last. These studies have also found that teens have less white matter (myelin) in the frontal lobes of their brains when compared to adults, but this amount increases as the teen ages. With more myelin comes the growth of important brain connections, allowing for better flow of information between brain regions.4

This body of brain research data has led to the idea of “frontalization,” whereby the prefrontal cortex gradually becomes able to oversee and regulate the behavioral responses initiated by the more primitive limbic structures.

MRI research has also revealed that during adolescence, white matter increases in the corpus callosum, the bundle of nerve fibers connecting the right and left hemispheres of the brain. This allows for enhanced communication between the hemispheres and enables a full array of analytic and creative strategies to be brought to bear in responding to the complex dilemmas that may arise in a young person’s life. Once again the role of experience is critical in developing the neural connectivity that allows for conscious cognitive control of the emotions and passions of adolescence. Teens who take risks in relatively safe situations exercise the circuitry and develop the skills to “put on the brakes” in more dangerous situations.5

With an immature prefrontal cortex, even if teens understand that something is dangerous, they may still go ahead and engage in the risky behavior. Recognizing the asynchrony of development of the regions of the brain helps us to see adolescent risk-taking in a whole new light. This broadened view of risk-taking and the concept of self-regulation are explored in the next section.

Casey BJ, Jones RM, Hare TA. The Adolescent Brain. Ann NY Acad Sci 1124: 111-126. 2008. ↑
Walsh D. Why do they act that way? A survival guide to the adolescent brain for you and your teen. New York: Free Press. 2004. ↑
Walsh D. Why do they act that way? A survival guide to the adolescent brain for you and your teen. New York: Free Press. 2004. ↑
Giedd JN. Structural Magnetic Resonance Imaging of the Adolescent Brain. Ann NY Acad Sci 1021:77-85. 2004. ↑
Giedd JN. Structural Magnetic Resonance Imaging of the Adolescent Brain. Ann NY Acad Sci 1021:77-85. 2004. ↑
Are teenage brains really different from adult brains?

by Molly Edmonds
Browse the article Are teenage brains really different from adult brains?

Electric Youth: These people understood what it was like to be a teenager in the 1980s. From left to right, the Fresh Prince Will Smith, Debbie Gibson and DJ Jazzy Jeff. See brain pictures.

Jeff Kravitz/FilmMagic/Getty Images
Are teenage brains really different from adult brains?

In 1988, hip-hop artists DJ Jazzy Jeff and the Fresh Prince sent out a message of solidarity and support to all teenagers who felt misunderstood. Over a hypnotic and funky beat, Will Smith reminded us that sometimes, parents just don’t understand. The message, according to the duo, was universal to teens all over the land, and indeed, it might be hard for teenagers not to glimpse a little bit of themselves in the tragic tales the Fresh Prince told. Who, for example, hasn’t felt the frustration of asking a parent for an awesome pair of shoes, only to end up with a low-class knockoff? And most kids have at least toyed with the idea of “borrowing” the family Porsche to impress the opposite sex.

As the Fresh Prince spins his heartbreaking tales of not being able to do what he wants, even if he knows that it might be a mistake, some adults in the crowd may be rolling their eyes. It’s just not practical for teenagers to drop so much dough on a back-to-school wardrobe, and it’s certainly not a good idea for unlicensed drivers to borrow a sports car, pick up a 12-year-old runaway and get stopped by the police, as the Fresh Prince did. No one wants to be the parent of a thug or a rebel without a cause. It’s hard enough accepting that your child is an outcast member of the breakfast club.

Until recently, DJ Jazzy Jeff and the Fresh Prince could have also opined that scientists just don’t understand either. Scientists have traditionally thought that a person’s brain growth was complete and the structure was more or less fixed by the age of 3. Sure, connections between neurons were rewired as children went off to school and acquired information, but scientists believed the blueprint for the brain was set.

However, with the use of magnetic resonance imaging, or MRI, scientists have been able to look inside the brain, and it seems that changing voices, body hair and awkwardness around the opposite sex are not the only big changes occurring in the teenage years. The brain appears to undergo a growth spurt of its own, and this changing brain may in part explain why teenagers turn into a walking army of emotional loose cannons. On the next page, we’ll take a look at just what’s going on in the mysterious brain of a teenager.

Wondering what happened to your little princess? Blame it on the brain.

Johannes Kroemer/Digital Vision/Getty Images
Teenage Brain Development

In adults, various parts of the brain work together to evaluate choices, make decisions and act accordingly in each situation. The teenage brain doesn’t appear to work like this. For comparison’s sake, think of the teenage brain as an entertainment center that hasn’t been fully hooked up. There are loose wires, so that the speaker system isn’t working with the DVD player, which in turn hasn’t been formatted to work with the television yet. And to top it all off, the remote control hasn’t even arrived!

The brain’s remote control is the prefrontal cortex, a section of the brain that weighs outcomes, forms judgments and controls impulses and emotions. This section of the brain also helps people understand one another. If you were to walk into a sports bar full of Lakers fans wearing a Celtics jersey, your prefrontal cortex would immediately begin firing in warning; those teams are bitter enemies, and it might serve you to change your behavior (and your clothes). The prefrontal cortex communicates with the other sections of the brain through connections called synapses. These are like the wires of the entertainment system.

What scientists have found is that teenagers experience a wealth of growth in synapses during adolescence. But if you’ve ever hooked up an entertainment center, you know that more wires means more problems. You tend to keep the components you use the most, while getting rid of something superfluous, like an out-of-date laserdisc player. The brain works the same way, because it starts pruning away the synapses that it doesn’t need in order to make the remaining ones much more efficient in communicating. In teenagers, it seems that this process starts in the back of the brain and moves forward, so that the prefrontal cortex, that vital center of control, is the last to be trimmed. As the connections are trimmed down, an insulating substance called myelin coats the synapses to protect them.

As such, the prefrontal cortex is a little immature in teenagers as compared to adults; it may not fully develop until your mid-20s . And if you don’t have a remote control to call the shots in the brain, using the other brain structures can become more difficult. Imaging studies have shown that most of the mental energy that teenagers use in making decisions is located in the back of the brain, whereas adults do most of their processing in the frontal lobe . When teenagers do use the frontal lobe, it seems they overdo it, calling upon much more of the brain to get the job done than adults would . And because adults have already refined those communicating synapses, they can make decisions more quickly.

Adult brains are also better wired to notice errors in decision-making. While adults performed tasks that required the quick response of pushing buttons, their brains sent out a signal when a hasty mistake was made. Before 80 milliseconds had passed, adult brains had noticed the blunder, but teenage brains didn’t notice any slip-up .

An area of the teenager’s brain that is fairly well-developed early on, though, is the nucleus accumbens, or the area of the brain that seeks pleasure and reward. In imaging studies that compared brain activity when the subject received a small, medium or large reward, teenagers exhibited exaggerated responses to medium and large rewards compared to children and adults . When presented with a small reward, the teenagers’ brains hardly fired at all in comparison to adults and children.

So what does it mean to have an undeveloped prefrontal cortex in conjunction with a strong desire for reward? As it happens, this combination could explain a lot of stereotypical teenage behavior.

Hormones bear the brunt for much of what goes wrong in adolescence. Teenagers can seem like emotional time bombs, apt to explode at any minute into tears or rage. They engage in rebellious and risky behaviors, and it seems like they’re always in trouble. But what these imaging studies show is that the brain may be behind much of this behavior.

First, let’s consider the prefrontal cortex, particularly how it can aid people in understanding each other. We began this article with a song called “Parents Just Don’t Understand,” but as it turns out, teenagers don’t understand well, either. While the Fresh Prince feels that his mother doesn’t understand that the other kids will mock him for wearing outdated styles, he doesn’t seem to fully listen when his mother explains her reasoning that school is not about showing off designer duds. Part of communicating with teenagers may require the insight that they’re not necessarily hearing what you say.

­But it’s the combination of that prefrontal cortex and a heightened need for reward that drives some of the most frustrating teenage behavior. For most adults, climbing hotel balconies or skateboarding off roofs of houses sound like awful ideas. Their prefrontal cortex curbs any impulse to do so, because the possible negative outcomes outweigh any potential thrill. But teenagers may try these things because they’re seeking a buzz to satisfy that reward center, while their prefrontal cortex can’t register all the risks these actions entail.

This behavior is evident on a much smaller scale as well; when a teenager goes to the mall to watch a movie but comes back with an iPod, then the prefrontal cortex didn’t curb the impulse buy. If a teenager spends an hour on the Internet instead of focusing on homework, it’s because the teenage brain doesn’t register delayed gratification. Even though the teenager can vaguely register that there will be parental punishment later on, the appeal of fun now is too strong.

To some extent, risk taking may be an evolutionary necessity; otherwise, the teenager would spend his whole life in the basement listening to whatever noise those crazy kids call music these days. To leave the nest, you have to get comfortable taking a few chances. But not being able to reign in thrill-seeking impulses can have devastating effects, particularly when alcohol, nicotine and drugs enter the picture. This is also around the time when teenagers get behind the wheel of a car for the first time, as well as when they might be engaging in sexual behaviors.

Studies have shown that teenagers are more likely to become addicted to alcohol and drugs . In that developing prefrontal cortex, synapses are selected based on whether they’re used or not, so behaviors that shape the brain are more likely to be maintained if started at this age

behaviors

. The brain is acting a bit like a sponge; it can soak up new information and change to make room for it, a concept known as plasticity.

But the teenage years don’t have to be all doom and gloom — plasticity can also help teens pick up new skills. The teen years may be the time when potential poets start scribbling furiously in notebooks and future hoops heroes start really hitting their shots. Before the brain is fully molded is a great time to take up the guitar or learn a new language. Not that teenagers will listen if you tell them this. But just knowing that the teenage brain needs more time and experience to develop may help both parent and child survive adolescence. After all, the Fresh Prince seems to be doing pretty well these days.
http://health.howstuffworks.com/human-body/systems/nervous-system/teenage-brain1.htm/printable

beautiful: emaaa($1580)aa$ … 200712

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 2:20 am

San Francisco – Emas berjangka ditutup menguat Jumat (20/7/2012), menyudahi koreksi tiga hari berturut-turut. Investor kembali ke logam di tengah kegelisahan tentang Timur Tengah, reli harga minyak dan koreksi dolar yang moderat.

Emas untuk pengiriman Agustus naik US$ 9,60 atau 0,6%, ke level US$ 1.580,40 per ons di divisi Comex New York Mercantile Exchange.

Emas turun US$ 21 di tiga sesi terakhir, atas kekecewaan testimoni Ketua Federal Reserve AS Ben Bernanke.

“Beberapa mental pengambil risiko kembali ke pasar, dan reli minyak setelah meningkatnya kekhawatiran tentang bahwa Timur Tengah, mengangkat emas,” ujar Bill O’Neill, analis di Logic Advisors New Jersey.

Rekor tertinggi jagung berjangka juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan emas, karena kenaikan harga dianggap inflasi.

Jagung ditutup di level rekor setelah laporan Kementrian Pertanian AS menunjukkan penurunan 82% dalam ekspor jagung mingguan.

Sementara Bernanke mengakui kelemahan dalam perekonomian tetapi tidak mengindikasikan bahwa stimulus ekonomi lebih lanjut akan datang.

Sementara itu, tembaga memimpin kenaikan di antara logam berjangka, dengan kontrak September naik 6 sen atau 1,7%, ke level US$ 3,53 per pon. Hingga awal tahun, tembaga telah naik lebih dari 2%, menjadi komoditas terbaik, termasuk emas.

Perak September menguat 12 sen atau 0,5%, ke leve US$ 27,22 per ons.

Melemahnya dolar juga memberikan dukungan untuk logam. Indeks dolar ICE turun pada 82,866 dari 82,990 akhir Rabu. Platina Oktober naik US$ 18,90 atau 1,4% menjadi US$ 1.423,10 per ons. Paladium September naik US$ 7,30, atau 1,3% menjadi US$ 584,85 per ons.

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1884612/emas-ditutup-menguat-tembaga-memimpin

Sumber : INILAH.COM

Juli 14, 2012

beautiful: TAK$1 porsche NEH … 140712

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 4:37 am

Sabtu, 14/07/2012 08:38 WIB
Porsche: Yang Punya Taksi ‘Gendeng’
M Luthfi Andika – detikOto

Jakarta – Siapa pemilik mobil-mobil Ferrari dan Porsche yang menjadi taksi masih gelap. Info yang masuk ke redaksi, aksi ini sebenarnya aksi marketing dari sebuah bank besar di Indonesia. Lepas dari itu, jika memang Ferrari dan Porsche itu jadi taksi, pemiliknya cukup ‘gila’ untuk menjadikan kedua mobil sport itu sebagai taksi di Jakarta.

Apakah pamor mobil mewah ini akan jatuh jika menjadi taksi?

“Saya rasa ini tidak akan menjatuhkan pamor kami, itu hanya lucu-lucuan dan kita tidak masalah. Kecuali kalau sudah sampai 50 unit-an. Malah banyak orang agak bingung, mungkin yang punya gendeng,” guyon VP Sales and Marketing PT Eurokars Artha Utama, Yudy W. Widodo kepada detikOto.

Tampilan mewah tubuh Ferrari 360 Modena dan Porsche Boxster S model tahun 2011, diubah dengan balutan cat warna kuning dan stiker hitam putih. Di bagian atap pun terlihat jelas tulisan Taxi layaknya sebuah taksi di Amerika.

“Kalau aku sih belum pernah lihat, tapi banyak temen-temanku yang melihat. Tapi ide ini sepertinya diambil dari Italia, karena di Italia sudah terlebih dahulu seperti ini. Untuk lucu-lucuan saja dan ini tidak masalah, tapi tidak tahu deh kalau untuk Ferrari,” katanya.

Bagaimana perawatan taksi ini? Apakah dari sehari ‘narik’ bisa menutupi biaya operasionalnya? Yudy pun menambahkan untuk melakukan perawatan Porsche terbilang tidak terlalu mahal.

“Kalau untuk perawatan tidak terlalu mahal, hanya Rp 4-5 juta untuk ganti oli per 5.000 km. Dan kalau kendaraannya jarang dipakai ganti olinya bisa setahun sekali kali tuh mobil,” jawab Yudy santai.

Adalah perusahaan MM Cab yang menjadi pionir soal taksi sport di Jakarta. Armada taksi yang digunakan adalah model Ferrari 360 Modena dan Porsche Boxster S model tahun 2003.

Kedua mobil ini berwarna kuning dan memiliki strip hitam dan putih seperti halnya taksi-taksi di Amerika.

Di situs resmi MM Cab, mereka mengklaim tidak hanya menyediakan layanan transportasi prima bagi warga Jakarta tetapi juga untuk menunjang gaya hidup kota besar yang membutuhkan layanan yang cepat. Sebagai promosi hingga 18 Juli, layanan taksi ini gratis.

Operator taksi, MM Cab rencananya akan mengumumkan semua hal tentang taksi ini pada 18 Juli mendatang.

( ddn / ddn )

Juli 13, 2012

beautiful: GW bukan EK0N0M, mbak … 130712

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 6:25 am

Sri Mulyani: Ekonomi Hal Populer, Jangan Kaget Banyak yang Jadi Ekonom
Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Kamis, 12/07/2012 14:24 WIB
Jakarta – Saat ini ilmu ekonomi sudah sangat populer di kalangan masyarakat di dunia. Karena populernya, jangan heran kalau banyak orang yang mendadak jadi ahli ekonomi.

Direktur Bank Dunia Sri Mulyani yang juga mantan menteri keuangan menyatakan, banyak orang di dunia termasuk di Indonesia yang belajar ilmu ekonomi kemudian mendadak menjadi ahli ekonomi yang bisa memberikan pendapat dan komentar mengenai berbagai hal menyangkut ekonomi.

“Sekarang ekonomi merupakan hal populer. Jangan terkejut kalau banyak orang bisa menjadi seorang ekonom meskipun kontennya berbeda,” ungkap Sri Mulyani di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/7/2012).

Sri Mulyani menilai, para ekonom di Indonesia bisa mengeluarkan pernyataan luar biasa yaitu memprediksi ekonomi dunia akan mengalami kebangkrutan.

“Jadi saya pikir beberapa minggu terakhir, beberapa ekonom Indonesia memprediksi ekonomi dunia ada dalam 2 atau 3 bulan ke depan akan kolaps,” sebutnya.

Namun, Sri Mulyani berkeyakinan kehancuran ekonomi dunia dapat dicegah dengan peran dari negara berkembang termasuk Indonesia.

“Artinya negara-negara berkembang menjadi pemain yang penting dalam mengimplementasikan pertumbuhan ekonomi dunia,” imbuhnya.

(feb/dnl)

Juli 6, 2012

beautiful: bu$way YANG JALAN DI TEMPAT … 060712

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 1:11 am

Ini kritik ahli tata kota terhadap Transjakarta
Oleh Melati Amaya Dori – Kamis, 05 Juli 2012 | 15:46 WIB

kontan

JAKARTA. Kehadiran bus Transjakarta dinilai belum efektif menjalankan fungsi sebagai alat transportasi massal di Jakarta. Hal ini disampaikan oleh pengamat tata kota dari University of California, Berkeley Amerika Serikat (AS), Profesor Robert Cervero, saat memberikan kuliah umum di Kementerian Perhubungan di Jakarta, Kamis (5/7).

“Transjakarta belum efektif karena busnya berhenti di titik tertentu yang letaknya jauh dari pusat aktivitas,” kata Carvero. Selain itu, masalah Transjakarta lainnya adalah kecepatan bus yang lambat ditambah lagi dengan jumlah armada yang terbatas.

Padahal, kata Carvero, Transjakarta yang mengadopsi konsep Bus Rapid Transit (BRT) memiliki konsep pemberhentian ada di pusat pemberhentian publik seperti sekolah, pusat belanja atau rumah sakit. “Titik pemberhentian harus dibangun di lokasi tepat. Jangan karena alasan biaya, titik pemberhentian dipindah dan dibangun di lokasi yang tak tepat dan jauh,” terangnya.
well, kalo ga BOLE PAKE ALASAN BIAYA, napa ga skalian BUAT BUSWAY terpisah dari jalur publik lainnya, sama sekale 😛
Selain itu, ia juga mengkritik penggunaan armada bus yang terlalu besar, bahkan ada yang memakai bus yang bergandengan. Ia menilai, bus yang tepat untuk konsep BRT adalah bus yang berukuran lebih kecil agar gerak dan kecepatannya lebih baik mengangkut penumpang.

Selain itu, pemakaian konsep BRT harus di dukung oleh penggunaan armada yang banyak, sehingga waktu tunggu penumpang tidak terlalu lama.

Juli 3, 2012

beautiful: kerja $4M4 itu LABA … 030712

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 9:59 am

Selasa, 03/07/2012 15:25 WIB
Banyak Bekerjasama Bikin Otak Manusia Makin Pintar

Putro Agus Harnowo – detikHealth

Jakarta, Pesatnya kemajuan peradaban manusia tak lepas dari makin cepatnya perkembangan kecerdasan manusia. Para ilmuwan telah menemukan bukti bahwa evolusi kecerdasan dan makin besarnya ukuran otak manusia disebabkan oleh meningkatnya kerja sama kelompok.

Para peneliti dari Trinity College Dublin dan University of Edinburgh membuat model komputer yang dilengkapi dengan otak buatan. Model komputer ini memiliki otak buatan yang bisa saling terhubung satu sama lain dalam sebuah permainan untuk melihat interaksi sosial manusia.

“Pemilihan terhadap orang dengan otak yang lebih cerdas terjadi ketika kelompok sosial pertama kali mulai mulai menjalin kerja sama. Kerja sama ini kemudian menjadi evolusi di mana orang mencoba mengakali orang lain dengan cara berinvestasi pada orang yang memiiki otak lebih besar,” kata peneliti, Andrew Jackson dari Trinity College Dublin seperti dilansir Science Daily, Senin 2/7/201).

Para peneliti menggunakan 50 otak digital buatan. Masing-masing otak memiliki hingga 10 proses internal dan 10 node memori. Kesemua otak diadu satu sama lain dalam permainan klasik. Permainan ini layaknya sebuah kompetisi, sama seperti kehidupan nyata. Yang mendapat predikat terbaik adalah yang mampu mencetak gol sebanyak-banyaknya dalam permainan.

Dengan membiarkan otak organisme digital berkembang secara bebas dalam model ini, para peneliti mampu menunjukkan bahwa perubahan masyarakat menjadi lebih kooperatif mengarah pada pemilihan orang yang berotak lebih besar sebagai pemimpin. Otak yang lebih besar akan bekerja lebih baik saat hubungan kerja sama makin meningkat dan kompleks.

Strategi yang dimiliki secara spontan pada individu berotak besar menunjukkan baiknya daya ingat yang kompleks dan kemampuan pengambilan keputusan. Perilaku seperti pengampunan, kesabaran, kebohongan dan tipu daya berkembang saat individu mulai mencoba beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Gagasan bahwa interaksi sosial menyebabkan evolusi kecerdasan manusia sudah ada sejak pertengahan tahun 70-an. Namun sebagian besar gagasan ini berasal dari penelitian terhadap mengamati hewan. Penelitian baru ini memberikan bukti bahwa pengambilan keputusan dalam interaksi sosial berkaitan dengan evolusi kecerdasan manusia.

“Model kami memanfaatkan penggunaan teori evolusi eksperimental yang dikombinasikan dengan jaringan syaraf tiruan untuk membuktikan adanya hubungan sebab akibat antara kebutuhan akan otak yang besar dengan persaingan dan kerja sama kelompok,” kata Jackson.

Dalam artikel yang dimuat jurnal Proceeding of Royal Society B, peneliti menegaskan bahwa kecerdasan membuat manusia berbeda dari hewan. Otak manusia mengajarkan tentang seni, ilmu pengetahuan dan bahasa. Yang paling penting adalah kemampuan untuk mempertanyakan eksistensi dan merenungkan asal-usul yang membuat manusia menjadi makhluk yang unik.

(pah/ir)

How Social Interaction and Teamwork Led to Human Intelligence

ScienceDaily (Apr. 19, 2012) — Scientists have discovered proof that the evolution of intelligence and larger brain sizes can be driven by cooperation and teamwork, shedding new light on the origins of what it means to be human. The study appears online in the journal Proceedings of the Royal Society B and was led by scientists at Trinity College Dublin: PhD student, Luke McNally and Assistant Professor Dr Andrew Jackson at the School of Natural Sciences in collaboration with Dr Sam Brown of the University of Edinburgh.

The researchers constructed computer models of artificial organisms, endowed with artificial brains, which played each other in classic games, such as the ‘Prisoner’s Dilemma’, that encapsulate human social interaction. They used 50 simple brains, each with up to 10 internal processing and 10 associated memory nodes. The brains were pitted against each other in these classic games.

The game was treated as a competition, and just as real life favours successful individuals, so the best of these digital organisms which was defined as how high they scored in the games, less a penalty for the size of their brains were allowed to reproduce and populate the next generation of organisms.

By allowing the brains of these digital organisms to evolve freely in their model the researchers were able to show that the transition to cooperative society leads to the strongest selection for bigger brains. Bigger brains essentially did better as cooperation increased.

The social strategies that emerge spontaneously in these bigger, more intelligent brains show complex memory and decision making. Behaviours like forgiveness, patience, deceit and Machiavellian trickery all evolve within the game as individuals try to adapt to their social environment.

“The strongest selection for larger, more intelligent brains, occurred when the social groups were first beginning to start cooperating, which then kicked off an evolutionary Machiavellian arms race of one individual trying to outsmart the other by investing in a larger brain. Our digital organisms typically start to evolve more complex ‘brains’ when their societies first begin to develop cooperation.” explained Dr Andrew Jackson.

The idea that social interactions underlie the evolution of intelligence has been around since the mid-70s, but support for this hypothesis has come largely from correlative studies where large brains were observed in more social animals. The authors of the current research provide the first evidence that mechanistically links decision making in social interactions with the evolution of intelligence. This study highlights the utility of evolutionary models of artificial intelligence in answering fundamental biological questions about our own origins.

“Our model differs in that we exploit the use of theoretical experimental evolution combined with artificial neural networks to actually prove that yes, there is an actual cause-and-effect link between needing a large brain to compete against and cooperate with your social group mates.”

“Our extraordinary level of intelligence defines mankind and sets us apart from the rest of the animal kingdom. It has given us the arts, science and language, and above all else the ability to question our very existence and ponder the origins of what makes us unique both as individuals and as a species,” concluded PhD student and lead author Luke McNally.

beautiful: BANDARA raya Soetta … 030712

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 3:46 am

Kapasitas Bandara Soetta di Cengkareng itu akan ditingkatkan dari 22 juta penumpang per tahun menjadi 62 juta per tahun.

PT Angkasa Pura II (Persero) memastikan proses pemancangan tiang pertama (ground breaking) proyek pengembangan Bandara Soekarno Hatta (Soetta) senilai Rp 11,7 triliun dilakukan pertengahan bulan ini. Kapasitas Bandara Soetta di Cengkareng itu akan ditingkatkan dari 22 juta penumpang per tahun menjadi 62 juta per tahun.

Corporate Secretary PT Angkasa Pura II Trisno Heryadi mengatakan langkah ini merupakan realisasi dari konsep Grand Design Bandara Soetta menuju Bandara Aerotropolis. Selama proses pengembangan tersebut, PT Angkasa Pura II akan memastikan agar layanan bagi pengguna jasa tetap berjalan normal.

”Pekerjaan-pekerjaan pra-ground breaking sudah dilakukan. Insya Allah, pada 2014 bisa selesai, sehingga kita dapat merasakan perubahan yang signifikan di Soekarno-Hatta,” kata Trisno, dalam siaran pers di Jakarta, hari ini.

Bandar Udara milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu untuk sementara akan membiayai proses pengembangan Bandara Soetta dengan kas internal lebih dulu.

Tahun ini, PT Angkasa Pura II mengalokasikan belanja modal Rp 1,4 triliun khusus untuk pengembangan bandara tersibuk tersebut. Bandara Soetta sudah mengalami over capacity, kapasitas desain 22 juta penumpang per tahun, namun sudah terlampui jadi 44 juta per tahun.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/57730-juli-proyek-bandara-soetta-rp-11-7-t-dimulai.html

Sumber : BERITASATU.COM

beautiful: h3m4t 3N3R61 ala HEMAT biaya … 030712

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 2:29 am

Selasa, 03/07/2012 07:19 WIB

Cara Nyeleneh Irit BBM, Cukup Pakai Kertas dan Selotip!

Dadan Kuswaraharja – detikOto

img
dok autoevolution

Jakarta – Tak perlu repot-repot mengotak-atik mesin atau membeli mobil hybrid yang mahal biar kita bisa ngirit pengeluaran bensin. Cukup bermodal kertas, selotip dan pulpen saja. Lho kok?

Lihat saja foto di atas ini seperti dilansir autoevolution, Selasa (3/7/2012). Caranya mengirit BBM cukup elegan dan nyentrik.

Yakni dengan menempelkan kertas peringatan (NO!) di jarum RPM dan speedometer. Artinya mobil jangan sampai melebihi kecepatan 100 km per jam, dan putaran mesin dijaga di bawah 2.000 RPM.

Memang dengan tidak mengebut dan menjaga mesin tetap berada di putaran secara signifikan bisa mengurangi konsumsi BBM.

Jadi moga-moga dengan adanya sedikit kertas di speedometer bisa menjaga kita untuk tetap menjaga kecepatan dan membuat kita tetap safety driving. Bravo!

( ddn / ddn )

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: