eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

November 24, 2011

playboy: SOMIYA

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:15 am

CARA SOMIYA: cara SEMUA ORANG MAMPU JADI KAYA: somiya spirit: semangat semua orang menjadi kaya“>

November 18, 2011

playboy: keDOKTERan ijin … 181111

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 3:52 am

Dr Boyke Bantah Lakukan Malpraktik
Bramirus Mikail | Asep Candra | Jumat, 18 November 2011 | 10:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) merekomendasikan kepada Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) untuk membekukan Surat Tanda Registrasi (STR) dokter Boyke Dian Nugraha selama 6 (enam) bulan. Keputusan tersebut ditetapkan dalam sidang MKDKI yang berlangsung Kamis (17/11/2011) kemarin di Jakarta.

Seperti diungkapkan Kepala Bagian Hukum MKDKI Budi Irawan, MKDKI memutuskan memberikan sanksi administratif kepada dr Boyke berupa pembekuan izin untuk melakukan praktik selama 6 bulan ke depan.

Dokter spesialis kandungan dan seksolog ini dinilai telah melakukan pelanggaran disiplin setelah mendapatkan pengaduan dari seseorang pasien asal Jambi yang merasa telah dirugikan.

“Ini sudah menjadi keputusan final majelis, izin praktiknya di-suspend atau dibekukan selama enam bulan,” ujarnya.

Budi menambahkan, dalam sidang terungkap bahwa Dr Boyke tidak dapat menunjukkan surat izin praktik (SIP) yang merupakan salah satu syarat utama melakukan pelayanan kepada pasien.

“Menurut temuan mejelis, dia tidak bisa membuktikan dalam sidang bahwa dia punya SIP. Sedangkan dalam UU Praktik Kedokteran disebutkan, selain harus punya STR (surat tanda registrasi), dokter juga harus mempunyai SIP yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota tempat dia berpraktik,” imbuhnya.

Sidang MKDKI Kamis kemrain juga menjatuhkan sanksi kepada seorang dokter yang merupakan rekan dr Boyke. Namun sanksi yang dijatuhkan lebih ringan yaitu empat bulan.

Bantah malpraktik

Sementara itu, dalam keterangan kepada para wartawan, Kamis malam, Boyke membantah kalau pembekuan izin oleh MKDKI karena dirinya melakukan malpraktik.

“Tidak ada mal praktik. Ini hanya pelanggaran disiplin karena saya tidak melakukan perpanjangan ijin praktek,” kata Boyke di tempat prakteknya di kawasan Tebet.

Ia menuturkan, kasus ini bermula pada tahun 2008. Ketika itu, ia didatangi seorang pasien berinisial “S”. Pasien ini datang jauh-jauh dari Jambi ke tempat prakteknya (Klinik Pasutri) dalam kondisi sakit.

Si pasien kala itu meminta bantuan kepada Boyke untuk mengobati penyakit kista yang diidapnya. Melihat kondisi pasien yang sudah tidak berdaya, kata Boyke, akhirnya ia pun menyanggupi untuk memberikan bantuan. Boyke lalu merujuk si pasien ke Rumah Sakit Kanker Dharmais untuk menjalani operasi pengangkatan kista. Tapi si pasien menolak. Menurut Boyke, aasien hanya mau dioperasi jika ditemani dirinya.

Akhirnya Boyke pun merujuk pasien ke Rumah Sakit Gandaria di Jakarta Selatan. “Saya merujuk ke sana soalnya ada adik ipar saya, jadi lumayan gampang dapat ijin masuk ke ruang operasi. Saya pun mendampingi ibu itu bersama tim dokter dari Rumah Sakit Gandaria,” terangnya.

Boyke menyatakan, saat itu dirinya hanya menemani si pasien dan tidak ikut melakukan tindakan. “Kesalahan saya waktu itu, saya ikut mendampingi. Jadi saya dituduhnya ikut operasi. Padahal, saya disana cuma temanin dan itu juga atas perminta pasien,” ucapnya.

Selepas menjalani operasi di RS Gandaria, beberapa hari kemudian pasien mengalami komplikasi dan kondisinya memburuk dan kembali menjalani operasi di RS. Pondok Indah.

Mendengar kabar tersebut, Boyke menyempatkan diri bertemu si pasien, tetapi kali ini dia tidak ikut masuk ke ruang operasi. “Hasil operasinya pun berjalan lancar dan ia akhirnya sembuh,” katanya.

Kasa tertinggal

Saat disinggung tentang adanya kasa yang tertinggal di dalam tubuh pasien, Boyke mengaku dirinya tidak tahu menahu.

“Katanya ada kasa. Tapi saya tidak tahu kasa itu dari mana. Apakah dari operasi yang dulu-dulu. Ataukah dari operasi yang baru kita kan nggak tahu,” jelasnya.

Boyke mengatakan, perhitungan kasa sewaktu pasien melakukan operasi di RS. Gandaria sudah tepat. Sehingga tidak mungkin jika ada kasa yang tertinggal. Sebelum menjalani operasi di RS. Gandaria, pasien, kata Boyke sebelumnya juga pernah menjalani operasi di RS. Cikini. “Masa kita mau ninggalin kasa sih,” keluhnya.

Terkait ancaman sanksi disiplin berupa pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR) oleh KKI, Boyke mengaku bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan melakukan pembelaan.

“Saya biasa-biasa saja karena keputusan ini belum final dan masih harus ke IDI dan Kemenkes. Saya juga pasti menghadap ke IDI dan melakukan pembelaan. Saya bukannya tidak punya ijin praktik, saya sudah ngurus tapi belum keluar karena prosesnya lama,” katanya.

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini juga mengeluhkan soal berbelitnya pengurusan SIP. Ia mengaku sudah mengurus surat ijin praktek sejak tahun 2007, tapi sampai sekarang belum bisa memerolehnya.

“Jangankan ijin praktek, Sekarang STR saja banyak dokter yang nggak punya, karena persyaratannya yang ribet. Ditambah lagi kesibukan saya juga banyak,” tandasnya.

November 17, 2011

playboy: pemboros, ooops, depresi mesti DITERAPI … 171111

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 12:18 am

Transcranial magnetic stimulation
By Mayo Clinic staff
Original Article: http://www.mayoclinic.com/health/transcranial-magnetic-stimulation/MY00185
… mau tau gimana seorang pemboros bisa jadi penghemat dan penabung? well, baca posting ini juga: terapi menjadi PENABUNG
Definition

Transcranial magnetic stimulation is a procedure that uses magnetic fields to stimulate nerve cells in the brain to improve symptoms of depression. Transcranial magnetic stimulation may be tried when other depression treatments haven’t worked.

With transcranial magnetic stimulation, a large electromagnetic coil is placed against your scalp near your forehead. The electromagnet used in transcranial magnetic stimulation creates electric currents that stimulate nerve cells in the region of your brain involved in mood control and depression.

Because transcranial magnetic stimulation is a relatively new depression treatment, more studies are needed to determine how effective it is, which treatment techniques work best and whether it has any long-term side effects.
Why it’s done

Depression is a treatable condition, but sometimes standard treatments aren’t effective. Transcranial magnetic stimulation may be used when standard treatments such as medications and psychotherapy don’t work. However, more research is needed to determine how well it works to relieve depression symptoms and in whom it may be most effective.

How it works
How transcranial magnetic stimulation helps relieve depression is not completely understood. It’s thought that magnetic pulses stimulate nerve cells in the region of your brain involved in mood control. This stimulation appears to alter how this part of the brain is working, which in turn seems to ease depression symptoms and improve mood.
Risks

Transcranial magnetic stimulation is the least invasive of the brain-stimulation procedures used for depression. Unlike vagus nerve stimulation or deep brain stimulation, transcranial magnetic stimulation doesn’t require surgery or implantation of electrodes. And, unlike electroconvulsive therapy, it doesn’t require seizures or complete sedation with anesthesia. However, transcranial magnetic stimulation does have some risks and can cause some side effects.

Common side effects
Transcranial magnetic stimulation often causes minor short-term side effects. These side effects are generally mild and typically improve after the first week or two of treatment. They can include:

Headache
Scalp discomfort at the site of stimulation
Tingling, spasms or twitching of facial muscles
Lightheadedness
Discomfort from noise during treatment

Uncommon side effects
Serious side effects are rare. They can include:

Seizures
Mania, particularly in people with bipolar disorder
Hearing loss due to inadequate ear protection during treatment

More study is needed to determine whether transcranial magnetic stimulation may have any long-term side effects.
How you prepare

Before having the procedure, you may need a medical examination to make sure it’s safe and a good option for you. You may be asked a number of questions about your depression. Tell your doctor or health provider if:

You’re pregnant or thinking of becoming pregnant.
You have any metal or implanted medical devices in your body. Transcranial magnetic stimulation usually isn’t recommended if this is the case.
You’re taking any medications, including over-the-counter medications, herbal supplements or vitamins. Bring a list of what you’re taking to your doctor’s appointment and include dosages and how often you take them.
You have a history of seizures or mania. Tell your doctor about any past injuries or surgeries and about any other physical or mental health problems you have.

Little preparation is needed. Transcranial magnetic stimulation isn’t invasive, doesn’t require anesthesia and can be performed in a doctor’s office. You don’t need to arrange for someone to drive you home after treatment. Before considering treatment, however, check with your health insurance company to see whether transcranial magnetic stimulation is covered. Your policy may not cover it.
What you can expect
Illustration of transcranial magnetic stimulation Transcranial magnetic stimulation

Transcranial magnetic stimulation is usually done on an outpatient basis in a doctor’s office or clinic. It requires a series of treatment sessions to be effective. Generally, sessions are carried out daily, five times a week for four to six weeks.

Your first treatment
Before treatment can begin, your doctor will need to identify the best place to put the magnets on your head and will need to find the best dose of magnetic energy for you.

This is what will most likely occur during your first appointment:

You’ll be taken to a treatment room. You’ll be asked to sit in a reclining chair, and you’ll be given earplugs to wear during the procedure.
An electromagnetic coil is placed against your head. The electromagnetic coil is switched off and on repeatedly, up to 10 times a second to produce stimulating pulses. This results in a tapping or clicking sound that usually lasts for a few seconds, followed by a pause. You’ll also feel a light tapping sensation on your forehead. This part of the process is called mapping.
The amount of magnetic energy needed is determined. Your doctor will increase the magnetic dose until your fingers or hands twitch. Known as your motor threshold, this is used as a reference point in determining the right dose for you. During the course of treatment, the amount of stimulation can be changed depending on your symptoms and side effects.
Once the coil placement and dose are identified, you’re ready to begin. The treatment itself will last about 40 minutes. The entire appointment typically lasts about one to two hours.

During transcranial magnetic stimulation
Here’s what to expect during each treatment:

You’ll sit in a comfortable chair. The magnetic coil is placed against your head.
The machine is turned on. You’ll hear clicking sounds and feel tapping on your forehead.
Each treatment session lasts about 40 minutes. You’ll remain awake and alert. You may feel some scalp discomfort during the treatment and for a short time afterward.
After treatment, you can return to your normal daily activities.

There are different ways to perform the procedure. Techniques may change as more is learned about the most effective ways to perform treatments.
Results

Some research showed that transcranial magnetic stimulation improved depression symptoms, while in other studies it didn’t seem to help. If transcranial magnetic stimulation works for you, your depression symptoms may improve or go away completely. Symptom relief may take a few weeks of treatment.

Transcranial magnetic stimulation may be less likely to work if:

Your mental illness causes detachment from reality (psychosis)
Your depression has lasted for four or more years
Electroconvulsive therapy (ECT) has not worked to improve depression symptoms

It’s not yet known if transcranial magnetic stimulation can be used to treat depression for the long term, or whether you can have periodic maintenance treatments to prevent depression symptoms from returning. The effectiveness of transcranial magnetic stimulation may improve as researchers learn more about techniques, the number of stimulations required and the best sites on the brain to stimulate.

November 9, 2011

playboy: emaaa(1790)aa$ … 091111

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 3:22 am

SINGAPURA – Emas kembali naik tipis seiring berita Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi yang akan mengundurkan diri, guna mengatasi masalah utang negara.

Pada 00.36 GMT, emas Spot naik 0,32 persen menjadi USD1.790,49 per ounce, sementara emas Amerika Serikat (AS) GCcv1 turun 0,44 persen menjadi USD1.792,3 per ons.

Mengutip reuters, Rabu (9/11/2011), Presiden Asosiasi Emas China Sun Zhaoxue China seperti diberitakan oleh Securities Journal, memperkirakan konsumsi emas di China akan naik hampir 50 persen mencapai 400 ton tahun ini, melebihi perkiraan sebelumnya yang hanya 350 ton.

Sekedar informasi, perak spot naik ke USD35,02, paltinum spot naik menjadi USD1.661,49 dan Palladium Spot naik ke kisaran USD670,22. Sementara untuk emas jenis COMEX turun ke USD1.791,90 dan silver jenis COMEX DEC1 turun ke USD35,07.

http://economy.okezone.com/read/2011/11/09/213/526862/harga-emas-menguat-sambut-sikap-berlusconi

Sumber : OKEZONE.COM

November 8, 2011

playboy: misteri krisis euro … 081111

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 3:31 am

seorang teman gw, yang juga adalah pengamat dan pelaku investasi saham, menuliskan posting berikut (lewat e-mail):

Kalau dipikir dengan melihat berbagai berita serta analisa, apakah mungkin bahwa krisis eropa yang berkepanjangan ini adalah sebetulnya semi-rekayasa (supaya tidak terlalu cepat selesai) dari spekulan dan investor??
Melihat dari kecenderungan seorang spekulan, bahwa mereka suka dengan keadaan yang gonjang ganjing karena mereka bisa menikmati keuntungan baik saat naik dan turun, keadaan yang stabil akan menyulitkan mereka dan bukan menjadi insting alami dari mereka.
Bagaimana investor? Bagi investor yang cenderung bergantung pada suatu iklim bisnis yang baik memang tidak terlalu baik, tapi bagi investor pada surat-surat berharga di luar dari korporasi, maka ada kecenderungan keadaan krisis ini dapat memberikan keuntungan bagi mereka.
Walau dikatakan negara-negara emerging market mendapat limpahan dana or yang sering dikatakan hot money/funds, dari para fund manager yang biasa menempatkan di Eropa maupun Amerika, tapi apakah negara-negara emerging market ini segitu menguntungkan dan aman? Menguntungkan mungkin kalau kita ambil contoh dari bursa saham di Indonesia pernah tertinggi di 4.195,72 dan terendah 3.217,95, awal tahun 2011 dibuka di 3.704,44 dan per tanggal ini di 3.800-an.
Jarak dari terendah dan tertinggi adalah sekitar 30% walaupun secara awal tahun sampai dengan sekarang keadaan hampir flat / rata.
Reksadana saham sendiri di Indonesia walau hitungan 1 tahun banyak yang masih negatif tapi keadaan terlihat semakin baik dilihat dari keadaan 1 bulan yang rata-rata sudah positif di atas 10%. Kondisi ini pun didukung dengan adanya pendapat analis yang mengatakan bahwa rata-rata imbal hasil reksadana saham akhir tahun ini akan berkisar 10%.
Tapi apakah “aman” bagi investor-investor luar, keadaan di emerging market saat ini kemungkinan masih dianggap sebagai windfall dari keadaan di Eropa dan Amerika, belum sepenuhnya mencerminkan pertumbungan dan kemajuan ekonomi, hal ini mungkin kalau dipertahankan baru akan terasa sekitar 5 tahun kedepan, dikarenakan kenaikan dari indeks seperti di Indonesia lebih fokus di sektor keuangan dan komoditas.
Ini dikarenakan seperti yang para analis sering katakan bahwa sektor keuangan ataupun komoditas biasanya selangkah di depan dalam hal indikator untuk pertumbuhan / kenaikan perekonomian suatu negara.
Jadi apakah investor-investor besar itu benar-benar keluar dari Eropa dan Amerika? Saya melihat tidak sepenuhnya, walaupun keadaan dimana banyak ketidakpastian, tapi ketidakpastian itu bukan karena iklim perekonomian sepenuhnya tetapi terkadang kalau kita membaca berita, juga dikarenakan pertempuran politik juga.
Investor pun mungkin akan berubah menjadi spekulan di jaman seperti ini, maka dengan tingkat pengembalian sekitar 7% untuk obligasi negara-negara Eropa yang sedang dalam masalah (Yunani, Irlandia, Italia, dll) bukankah itu juga cukup menguntungkan bagi mereka (investor/spekulan)?
Ketidakpastian akan adanya default pun bisa semakin mengecil dengan adanya keyakinan bahwa negara-negara dalam Zona Ekonomi Eropa terutama yang mempunyai ekonomi besar tidak akan membiarkan salah satu dari anggotanya sampai terjadi default, karena hal itu akan mengguncang keseluruhan kondisi perekonomian mereka.
Bahwa kondisi “kehancuran” ini sebetulnya mungkin sudah diprediksi sebelumnya dan hanya menunggu momen yang pas bagi investor-investor untuk masuk ke perusahaan-perusahaan yang “hancur” karena krisis dengan harga murah?
Selain itu, melihat dari laporan perusahaan-perusahaan investasi di Eropa dan Amerika menjadi salah satu pendukung bahwa krisis ternyata tidak benar-benar krisis,
BNP Paribas, pada laporan akhir tahun 2010 mencatat ROE 12,3% dengan pendapatan 43,9 billion euro (2009, 40,2 billion euro), laba operasi 17,4 billion euro (2009, 16,8 billion euro).
Berkshire Hathaway, pada laporan akhir tahun 2010 mencatat total pendapatan $136.185 million (2009, $112.493 million) dan laba bersih $12.967 million (2009, $8.055 million).
Schroders, pada laporan akhir tahun 2010 mencatat pendapatan bersih 1.155,8 million pounds (2009, 749,8 million pound) dan laba bersih 311,2 million pound (2009, 95,7 million pound)
Jadi apakah Eropa benar-benar sedang dalam kondisi “krisis”?

… berikut tanggapan gw:
yang namanya krisis biasanya didefinisikan sebagai sebuah keadaan atau situasi atau kondisi ketidakstabilan yang menuju kepada kehancuran
contoh, krisis mental, berarti kondisi ketidakstabilan mental seseorang yang semakin parah dan menuju kepada kondisi gangguan jiwa berat
contoh, krisis moneter Indonesia 1997-1999, kondisi keuangan dan moneter Indonesia sebagai negara mengalami ketidakstabilan, sehingga terjadi kesulitan memenuhi kebutuhan secara ekonomi nasional dan menuju kepada kebangkrutan secara ekonomi nasional, dalam bentuk semakin sulit sebagian besar rakyat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya
pada krisis eurozone, sebenarnya kondisi ekonomi makro eurozone maseh bagus secara keseluruhan, tetapi ada ketidakstabilan pada kondisi utang negara PIIGS (portugal, irlandia, italia, yunani, dan spanyol), yang tergabung dalam eurozone, sehingga bisa membawa bencana sosial ekonomi bak permaenan kartu domino pada semua negara PIIGS tersebut, dan berimbas secara domino kepada negara-negara paling kuat eurozone juga, sehingga mata uang euro serta sistem perekonomian eurozone bahkan sistem sosial politik European Union bisa hancur
berkepanjangannya pemulihan krisis eurozone terjadi terutama karena keengganan negara-negara kuat eurozone untuk dengan sepenuh hati membantu menyelesaikan kasus utang di PIIGS tersebut, apalagi pemerintah dan rakyat setiap negara kuat tersebut belum tentu saling sepakat memulihkan kondisi krisis utang di negara anggota eurozone lainnya

playboy: $150,000/bln itu MEMBUNUH … 081111

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 12:49 am

November 7, 2011
Doctor Found Guilty in Michael Jackson’s Death
By JENNIFER MEDINA

LOS ANGELES — Michael Jackson, among the most famous and beloved performers in pop music history, spent his final days in a sleep-deprived haze of medication and misery until finally succumbing to a fatal dose of potent drugs given to him by the private physician he had hired to act as his personal pharmaceutical dispensary, a jury decided on Monday.

The physician, Dr. Conrad Murray, was found guilty of involuntary manslaughter nearly two and a half years after the star’s shocking death at age 50. The verdict came after nearly 50 witnesses, 22 days of testimony and less than two days of deliberation by a jury of seven men and five women. The trial had focused primarily on whether Dr. Murray was guilty of abdicating his duty or of acting with reckless criminal negligence, directly causing his patient’s death.

Dr. Murray now faces up to four years in prison and the loss of his medical license. Judge Michael Pastor denied a defense request for bail for Dr. Murray and ordered him handcuffed and taken into immediate custody in the courtroom.

Jackson, who had become a star as a child in Gary, Ind., singing with his siblings in the Jackson 5, grew into one of the best-known performers in the world, earning a fistful of citations in the Guinness Book of World Records, including for the best-selling album of all time, “Thriller.”

Though increasingly eccentric in his later years, living much of the year in a secluded California estate he called Neverland, Jackson always maintained a fervent core of fans and, despite his lavish lifestyle and persistent money woes, always seemed just one comeback away from a return to the top.

Dr. Murray, a Houston cardiologist, was paid $150,000 a month to work as Jackson’s personal physician as the singer rehearsed in Los Angeles for “This Is It,” a series of 50 sold-out concerts in London that he needed to pay off hundreds of millions of dollars in mounting debts.

Testimony during the trial showed that Dr. Murray had stayed with Jackson at least six nights a week and was regularly asked — and sometimes begged — by the insomniac singer to give him drugs powerful enough to put him to sleep. Jackson, Dr. Murray told authorities, was especially eager to be administered propofol, a surgical anesthetic that put him to sleep when other powerful sedatives could not. Testimony indicated that propofol, in conjunction with other drugs in the singer’s system, had played the key role in his death on June 25, 2009.

Prosecutors tried to paint Dr. Murray as a money-hungry physician who would do things no reputable doctor would do — including improperly and recklessly administering an anesthetic normally given only in a hospital. The full retinue of drugs given to Jackson while he was under Dr. Murray’s care was so beyond normal practice, prosecutors said, that it amounted to a “pharmaceutical experiment.”

For its part, the defense tried to portray Jackson as a man so desperate to make his comeback concerts a success that he was willing to take wild chances and grew terrified that he would not be able to perform to his own exacting standards without more rest and less stress.

“He tried to close his eyes, and nothing would work,” Dr. Murray told investigators in 2009, saying that Mr. Jackson worried openly about not satisfying his fans. “He complained: ‘I’ve got to sleep, Dr. Conrad. I have these rehearsals to perform.’ ”

The morning Jackson died, Dr. Conrad told investigators during a recording played in State Superior Court here, the singer told him, “Just make me sleep, it doesn’t matter what happens.”

When Jackson died he was in dire financial straits, with more than $400 million in debts, and his concerts in London were intended to raise enough money to keep creditors at bay and restart his career.

But since his death, Jackson’s estate, managed by his former lawyer and a record executive with longtime ties to the Jackson family, has prospered, generating more than $310 million and paying off most of the singer’s debts.

The estate has struck a number of lucrative deals to raise money, including a movie, video games, a new recording contract and two productions by Cirque du Soleil, the first of which, “The Immortal World Tour,” opened in Montreal last month and is touring North America through next summer.

Indeed, the estate has made enough money since the singer’s death to begin distributing large checks to the beneficiaries named in his will. According to a court filing in September, the estate distributed a preliminary payment of $30 million to Jackson’s mother, his three children and a number of charities.

Shortly after Jackson’s death, Dr. Murray told investigators that the pop star would routinely plead with him to administer more propofol, calling it his “milk.” The defense argued that Jackson administered the fatal dose of the drug to himself when Dr. Murray was out of the room.

The Los Angeles County coroner ruled that Jackson’s death was caused by “acute propofol intoxication,” in combination with two other drugs in his system.

The trial included hours of detailed information from doctors and medical experts, who outlined the most likely ways in which Jackson could have received the drug. One expert witness for the prosecution said that the idea that Jackson could have injected the drug himself was “crazy.”

Dr. Murray told investigators two days after Jackson’s death that he had been using propofol almost every night for the previous two months to help the singer sleep. He said that he had been trying to wean Jackson off the drug, but prosecutors pointed out that the doctor had ordered large amounts of the drug just days before Jackson’s death.

In their closing arguments, prosecutors repeatedly invoked Mr. Jackson’s three children to a jury that included nine parents, saying that the singer wanted to perform, in part, so that they could see their father on stage. David Walgren, the deputy district attorney in charge of the case, described the frantic moments after Dr. Murray realized that Jackson was not responsive and as the pop star’s children watched him lie lifeless on his bed.

Prosecutors sought to show that Dr. Murray veered significantly from acceptable medical practice at nearly every turn: by administering the propofol, not having proper monitoring equipment and failing to call 911 right away, among other things. They said that Dr. Murray did not keep any records of administering propofol but had taken time to record Jackson’s voice on his iPhone.

He did not tell the paramedics who responded to Jackson’s home about the propofol, which prosecutors said showed that he knew he was responsible for the singer’s death. Just one day before the trial ended, Dr. Murray decided he would not testify. The trial had prompted a circuslike atmosphere at the downtown courthouse — much as had Jackson’s own 2005 trial on child molesting charges, on which he was acquitted — with hundreds of fans showing up each morning, vying for a seat in the courtroom dispensed by lottery.

Jackson family members attended much of Dr. Murray’s trial, although there was still disagreement among them about business matters. Jackson’s mother, Katherine, and a number of his siblings took part in a tribute concert last month in Wales, but the singer’s sister Janet and his brothers Jermaine and Randy objected to the event, saying that it was inappropriate to hold such a concert during Dr. Murray’s criminal trial.

In one of the most dramatic moments in the trial, prosecutors played Dr. Murray’s iPhone recording of the rambling singer talking about his dream of building the world’s largest children’s hospital.

“I’m going to do that for them,” Mr. Jackson is heard saying in slurred speech. “That will be remembered more than my performances. My performances will be up there helping my children and always be my dream. I love them. I love them because I didn’t have a childhood. I had no childhood, I feel their pain.”

When his voice trailed off, Dr. Murray waited several seconds before asking, “You O.K.?”

After several more seconds, Mr. Jackson answered, “I am asleep.”

Ian Lovett contributed reporting from Los Angeles; Ben Sisario from New York.

November 7, 2011

playboy: IG @indo2012, lage … 071111

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:32 am

Rahmat Waluyanto optimistis RI raih investment grade

Oleh Ana Noviani

Jum’at, 04 November 2011 | 18:53 WIB

bisnis indonesia

JAKARTA: Pemerintah optimistis awal tahun depan Indonesia akan mencapai tingkat kelayakan investasi (investment grade). Meski tahun ini belum mencapai investment grade, iklim investasi Indonesia dinilai cukup baik oleh pelaku bisnis Uni Eropa.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto berharap dalam waktu depat Indonesia sudah dapat memperoleh invesment grade dari sejumlah lembaga rating investasi internasional.

“Saya kemarin sudah bertemu The Fed’s. Tampaknya tidak banyak concern mereka, mudah-mudahan tidak dalam waktu lama [investment grade],” ujarnya usai menerima perwakilan Uni Eropa, hari ini.

Optimisme pemerintah didasari oleh paparan hasil riset berbagai rating agencies yang bernada positif. “Saya baca hasil riset-riset dari berbagai investment bank besar itu mereka optimistis bahwa dalam tahun depan sudah akan ada yang memberikan investment grade. Jepang kan sudah satu JCI dia sudah memberikan investment grade 2 tahun lalu bahkan,” ujar Rahmat.

Investment grade, lanjut Rahmat, sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia sehingga target penanaman modal langsung sebesar US$280 miliar tahun depan dapat tercapai.

Meski belum mencapai investment grade, Uni Eropa menilai iklim investasi di Indonesia cukup baik. Duta Besar Uni Eropa untuk Asean Julian Wilson mengungkapkan iklim investasi Indonesia sangat baik untuk bisnis Eropa, bahkan bisa lebih baik ketika Indonesia sudah mencapai investment grade.

“Itu menjadi isu yang penting untuk memperbaiki iklim investasi. Tapi mengapa harus China atau India, sekarang waktunya [mengembangkan investasi di] Indonesia,” ujar Wilson.

Ketertarikan Eropa untuk berinvestasi di Indonesia juga disampaikan Deputi bidang Perdagangan dan Industri Menko Perekonomian Edy Putra Irawadi. Menurutnya, investor Eropa semakin giat menjajaki peluang usaha di Indonesia, a.l investor asal Norwegia, Spanyol, dan Prancis.Beberapa sektor yang diminati investor Eropa, tambah Edy, seperti sektor farmasi (obat-obatan), perkapalan, dan manufaktur umum.

“Eropa itu dengan jujur bilang kalau mereka harus lari lebih cepat ke Indonesia dibanding ke China atau India,” ujar Edy.

Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan menilai ancaman krisis global membuat kekuatan ekonomi bergeser dari Barat ke Timur. “Saat ini, investor impressed pada kekuatan fundamental ekonomi Indonesia. Saya pikir Indonesia bisa investment grade pada 2012,” ujarnya. (faa)

November 4, 2011

emaaa(Rp.518.000/Kg)aa$ … 041111

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 4:19 am

Mayoritas persedian emas 1-1.000 gram terpantau tersedia pada Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) per Jumat (4/11).

Berdasarkan data yang dilansir logammulia.com, hanya emas batangan 1.000 gram yang tak tersedia (not available). Dalam pengumumannya, UBPP juga menyatakan, ketersediaan barang dapat berubah tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu.

Dalam pengumuman terbarunya, UBPP menyatakan, per tanggal 4 november 2011 Kantor Perwakilan Surabaya telah beroperasi kembali. Dengan alamat: Kantor Pos Besar Surabaya, Jl. Kebon Rojo No 10 Tel: 031-3536131, Surabaya. “Pembelian dibatasi hanya sampai 50 orang pelanggan,” demikian bunyi pengumuman itu.

Transaksi Hari Senin hingga Kamis dimulai pukul 09.00 WIB – 13.00 WIB. Transaksi Hari jumat dimulai pukul 09.00 – 11.00 WIB.

Pembayaran dapat dilakukan secara: Cash maksimal Rp5.000.000 (lima juta rupiah); Transfer bank Mandiri atau BCA dengan menuliskan nomor faktur pada berita/keterangan di slip setoran bank; ATM Bersama. UBPP juga tidak menerima transaksi beda hari, cek atau giro.

Harga emas PT Antam Jumat (4/11) ini terus bangkit dibandingkan posisi kemarin meski harga internasional menunjukkan angka yang mulai melandai. Sementara itu, harga buy back emas Antam naik ke level Rp493.000 per gram dari Rp487.000 per gram.

Harga emas batangan 1 gram naik jadi Rp560.000 dari Rp554.000. Begitu juga harga emas batangan 2 gram yang naik ke Rp1.078.000 atau Rp539.000 per gram dari Rp1.066.000 atau Rp533.000 per gram.

Batangan 2,5 gram naik jadi Rp1.337.000 atau Rp534.800 per gram dari Rp1.322.000 atau Rp528.800 per gram. Emas batangan 3 gram naik jadi Rp1.596.000 atau Rp532.000 per gram dari Rp1.578.000 atau Rp526.000 per gram.

Batangan 4 gram naik jadi Rp2.114.000 atau Rp528.500 per gram dari Rp2.090.000 atau Rp522.500 per gram. Emas batangan 5 gram naik jadi Rp2.642.500 atau Rp528.500 per gram dari Rp2.612.500 atau Rp522.500 per gram.

Sementara itu, emas batangan 10 gram naik jadi Rp5.245.000 atau Rp524.500 per gram dari Rp5.185.000 atau Rp518.500 per gram. Emas batangan 25 gram naik jadi Rp13.037.000 atau Rp521.480 per gram dari Rp12.887.000 atau Rp515.480 per gram.

Harga emas batangan 50 gram naik jadi Rp25.997.000 atau Rp519.940 per gram dari Rp25.697.000 atau Rp513.940 per gram. Begitu juga emas batangan 100 gram yang naik jadi Rp51.924.000 atau Rp519.240 per gram dari Rp51.324.000 atau Rp513.240 per gram.

Sedangkan harga emas batangan 250 gram juga naik ke Rp129.580.000 atau Rp518.320 per gram dari Rp128.080.000 atau Rp512.320 per gram. Terakhir, emas batangan 1.000 gram naik jadi Rp518 juta atau Rp518 ribu per gram dari Rp512 juta atau Rp512.000 per gram.

Berdasarkan harga yang dikutip dari Bloomberg, Jumat (4/11) pukul 10.48 WIB, emas internasional melandai US$3,7 (0,21%) ke level US$1.761,4 per troy ounce.

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1792906/lagi-emas-antam-naik-rp6-jutakg

Sumber : INILAH.COM

November 3, 2011

playboy: bank kecil TANPA KREASI … 031111

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 3:58 am

… well, gw ikut sedih bahwa maseh banyak Bank Perkreditan Rakyat yang DILIKUIDASIKAN oleh Lembaga Penjaminan Simpanan
… gw jadi inget waktu reuni alumni smp gw, gw ketemu teman yang Direktur salah satu perusahaan besar … dia bilang: bahwa deposito di bpr memberikan bunga simpanan yang lebe tinggi daripada bank besar … gw tanya: aman gak? dia jawab: kenal ama bos bprnya … well, saat itu gw uda masuk reksa dana saham dkk
… gw ga tau sekarang gimana nasib depositonya, semoga maseh BAGUS
… tapi bpr itu sulit merekrut pegawai yang cerdas dan kreatif, mungkin kalo yang jujur dan bodoh banyak banget 😛 … tapi sebodoh-bodohnya orang, kalo mau jahat mah TETAP BISA lah 😛
Likuidasi masih menjadi penyakit laten Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Kondisi ini bukan cuma merusak imej industri BPR, juga membebani Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dari sisi penyebab, perbuatan curang pemilik (fraud) dan pengelolaan manajemen yang buruk, masih mendominasi.

Sekretaris LPS, Samsu Adi Nugroho, menyampaikan, sejak 2005 hingga September 2011, LPS telah melikuidasi 44 BPR. Sebagian besar tumbang selama periode akhir 2008-2009, ketika krisis mencuat. Jika dihitung selama tahun ini saja, LPS telah menutup 13 BPR. “Saat ini kondisi BPR relatif kondusif dan belum ada yang akan dilikuidasi dalam waktu dekat,” katanya, Rabu (2/11).

Kebanyakan BPR yang ditutup itu beroperasi di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Total dana pihak ketiga (DPK) nya mencapai Rp 1,06 triliun dan sekitar 60% masuk dalam kategori layak bayar. “LPS menggantikan sebesar Rp 642 miliar,” kata Samsu.

Tidak semua nasabah BPR mendapat penggantian dana. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, misalnya bunga simpanan tidak lebih dari bunga penjaminan LPS, rekening di bawah Rp 2 miliar, nasabah tidak mengalami kredit macet atau terlibat fraud dengan internal bank.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), Joko Suyanto, mengakui BPR sering terlikuidasi karena fraud. Namun, asosiasi bankir BPR ini tidak diam saja. Untuk meminimalisir fraud, pihaknya memberikan pelatihan khusus kepada sumber daya manusia (SDM). “Asosiasi mendorong agar BPR mampu bersaing dengan bank-bank lain,” ucap Joko.

LPS dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pengembangan (BPKP) pernah mengaudit beberapa BPR yang terlikuidasi. Hasilnya, fraud terbukti dilakukan pemegang saham, pengurus maupun pegawai bank.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif LPS, Firdaus Djaelani menuturkan, indikasi tersebut juga diketahui oleh Bank Indonesia (BI) dan sudah diproses sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Namun, tak semua bank terkena likuidasi karena tindak pidana penipuan. Hal lainnya adalah BPR kehabisan modal, dan berasal dari daerah terpencil.

http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/1320290127/81716/LPS-sudah-menutup-13-BPR-di-tahun-Ini-

Sumber : KONTAN.CO.ID

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: