eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Agustus 31, 2010

geregetan : titip dan hemat … 310810

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:44 am

Senin, 23/08/2010 10:03 WIB
Melirik Park and Ride
Ogah Macet? Coba Park and Ride Saja!
M. Rizal – detikNews
… di brisbane, queensland australia, dan mungkin di semua kota besar oz, sudah menjadi pemandangan biasa bahwa para sub-urbaners memparkir kendaraannya di lingkungan perumahan lalu ikut kereta api listrik ke pusat kota setiap hari kerja …
Jakarta – Puluhan kendaraan berbagai jenis, masuk ke area parkir Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Padahal, waktu masih menunjukan pukul 06.00 WIB. Kebun binatang ini pun belum buka sepagi itu. Mobil-mobil itu ditinggalkan pemiliknya setelah diparkir dengan rapih dengan tarif Rp 5.500.

Setelah para pemiliknya mengunci pintu, atau bahkan menambah kunci pengaman tambahan, lantas mereka melenggang menuju Halte Busway Ragunan di depan Taman Margasatwa itu. Mereka memang bukan untuk berwisata melihat aneka ragam satwa di Ragunan, tapi warga yang akan bekerja di sejumlah wilayah Jakarta dengan menumpang bus TransJ.

Warga memanfaatkan areal parkir Taman Margasatwa Ragunan yang dikenal dengan sebutan Park and Ride itu. Anda memarkir mobil di sini, lalu melanjutkan perjalan ke Jakarta menumpang bus TransJ. Area Park and Ride ini terletak di Pintu Utama utara, khusus untuk mobil. Sementara sebelah barat, tetap areal parkiran bagi pengunjung. Sementara untuk parkir motor bersebelahan dengan loket parkir atau pintu masuk Taman Margasatwa. Secara kasat mata, tidak ada bedanya antara parkir pengunjung Ragunan dan parkir para penumpang TransJ. Tapi memang, Park and Ride di Ragunan menjanjikan tempat yang rindang dan terlihat aman.

Kebanyakan pemilik kendaraan dan pengguna bus TransJ itu adalah warga yang tinggal di kawasan pinggiran Jakarta Selatan dan Depok. Sejak beroperasinya jalur busway Koridor 6 jurusan Ragunan-Kuningan-Dukuh Atas, banyak pemilik kendaraan pribadi memanfaatkan busway untuk berangkat ke kantor.

Tentunya, langkah para pemilik kendaraan ini lebih efisien dan efektif, daripada membawa kendaraannya sendiri ke kantor, apalagi melalui jalur Three in One. Apalagi areal parkiran di Ragunan ini bisa menampung sekitar 500 mobil, sehingga bagi yang akan parkir masih banyak lahan yang kosong, begitu juga di areal parkir sepeda motor.

“Bayangkan, kita harus bayar joki, kan bisa keluar Rp 5.000 sampai Rp 10.000. Belum ongkos untuk bensin, belum lagi macet di mana-mana, pusing kan kalau setiap hari, Mas. Kan enak begini. Mobil tinggal disimpan di sini,” kata Abdul Rahman (45) karyawan perusahaan swasta di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan itu kepada detikcom di Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat (20/8/2010) kemarin.

Abdul pun mengatakan, sejak setahun lalu dirinya memanfaatkan areal parkir Taman Margasatwa Ragunan untuk menitipkan mobil. Setiap hari dirinya paling mengeluarkan tiket parkir Rp 5.500 per harinya untuk mobil atau Rp 3.000 untuk sepeda motor. “Ya pokoknya seharian tarifnya Rp 3.000 untuk motor dan mobil Rp 5.500. Nggak ada tambahan uang parkir setiap jamnya. Ya banyak juga yang bukan pengunjung parkir di sini, kan ada yang mau naik bus TransJ,” ujar salah seorang petugas satpam di Taman Margasatwa Ragunan itu.

Sementara, untuk penitipan kendaraan bermotor khususnya yang bayar langganan, berada di luar lokasi parkiran TM Ragunan. Persis dibalik tembok tinggi yang memisahkan jalur busway dan jalanan umum, terlihat beberapa titik atau tempat penitipan motor.

Abdul mengaku senang dengan adanya jasa penitipan mobil ini. Perjalanan dari Depok menuju ke kantornya di bilangan Kuningan tak harus dengan susah payah di dalam mobil dengan suasana kemacetan jalanan. “Bisa capek kalau sampai ke kantor pakai mobil, walau duduk di dalam kan pegel juga. Boros BBM lagi,” ujar sambil tertawa.

Namun Abdul juga mengatakan, kadang-kadang dirinya dalam satu minggu, satu atau dua hari tak menitipkan kendaraannya. Terkadang Abdul harus bepergian untuk bertemu klien. “Kadang ada tugas kantor ke tempat lain, untuk menjalin hubungan relasi bisnis kantor kita. Terpaksa kita pakai mobil sendiri, apalagi ke tempat itu nggak ada jalur busway,” jelasnya.

Sementara itu, Yudi warga Meruyung, Limo, Depok juga memanfaatkan Park and Ride di area parkir Taman Margasatwa Ragunan ini. Ia, walau tidak setiap hari, selalu menitipkan motornya kalau menuju kantor di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur.

“Ya nitipnya murah. Saya nggak capek bawa motor ke Pulogadung. Kan tinggal taruh motor, lalu naik bus TransJ dari sini dan ganti di Latuharhary,” katanya.

Yudi saat itu ditemui tengah memarkirkan motor dan menutupnya dengan terpal putih, yang disewa di situ. Yudi merupakan karyawan swasata di kawasan industri Pulogadung. “Jauh juga Mas ke sana. Belum macet kalau pagi kayak gini, ya pegal lama-lama kalau duduk di atas motor,” ungkapnya.

Humas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang Prihantoro mengakui, konsep Park and Ride di area parkirannya itu memang tak diberlakukan secara khusus. “Sebenarnya kita nggak sengaja dan mereka kita anggap semuanya pengunjung Taman Margasatwa. Toh, kalau mereka parkir untuk melanjutkan menggunakan busway, ya monggo,” jelasnya kepada detikcom.

Bambang mengatakan, sebenarnya konsep ini sudah berjalan lama, sejak mulai dioperasikannya busway. “Mulai seperti itu sejak ada busway saja. Kita tidak secara sengaja menyiapkan parkir untuk para pengguna busway, tapi kita melihat ada sisi positifnya makanya kita beri ruang untuk mereka,” katanya.

Dari dua area parkir yang ada di barat dan utara kebun binatang, pihaknya hanya menyediakan kawasan utara untuk penitipan kendaraan pengguna busway. Sementara parkir barat kebun binatang khusus untuk para pengunjung. Area yang memiliki luas sekitar 2 hektare itu mampu menampung sekitar 500 kendaraan roda dua dan 200 kendaraan roda empat.

“Kita sebenarnya tidak secara khusus menyiapkan tempat itu, makanya kita tak memiliki data tentang jumlah kendaraan yang hanya dititipkan untuk menggunakan busway itu. Pokoknya semua kita anggap pengunjung semua. Ini berlaku sama dengan jam kunjungan ke Taman Margasatwa ini,” pungkasnya.

Park and Ride adalah batas dimana pengendara roda dua dan empat dapat menitipkan kendaraannya untuk selanjutnya menggunakan angkutan massal ke tempat tujuannya. Konsep ini memang saat ini sudah dikembangkan Pemprov DKI Jakarta, khususnya untuk mengurangi kemacetan di Jakarta yang kian hari kian parah itu. Selain di Ragunan, Park and Ride sendiri sudah ada di Kampung Rambutan (Jakarta Timur), Kalideres (Jakarta Barat), dan sejumlah tempat di Jabodetabek.

Park and Ride semakin berfungsi efektif ketika sterilisasi busway dilaksanakan. Masyarakat bukannya tidak mau memakai transportasi publik. Mereka hanya butuh kendaraan umum yang cepat dan nyaman, sehingga mereka pun dengan rela meninggalkan kendaraan pribadi untuk menghindari kemacetan.

(zal/fay)

Iklan

geregetan: sabota$3 radar … 310810

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:10 am

DPR Curiga Radar Bandara Mati karena Sabotase
Senin, 30 Agustus 2010 – 16:23 wib

Ajat M Fajar – Okezone

JAKARTA – DPR menuding pemerintah dan pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kurang transparan terhadap segala informasi terkait sarana dan prasarana bandara.

“Harusnya kalau begini kita kan dikasih laporan dari pemerintah dan pengelola. Ini kan kondisi darurat, tapi yang ada kita kan mencari informasinya sendiri,” kata Wakil Ketua Komisi V Yosep Umarhadi saat ditemui okezone, Senin (30/8/2010).

Selain itu menurutnya, pengelola bandara harusnya bisa menginformasikan segala sesuatu kepada masyarakat, minimal kepada anggota dewan mengenai gangguan apapun. Sehingga, tidak ada lagi informasi simpang siur yang beredar di lapangan.

“Harusnya hal-hal seperti ini diinformasikan, misalnya membuat pernyataan kepada kita dan masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu menurut Sadaretuwati, anggota Komisi V dari Fraksi PDI Perjuangan, tidak tertutup kemungkinan ganguan radar tersebut diakibatkan adanya sabotase.

“Segala sesuatu hal bisa saja terjadi, jadi tidak menutup kemungkinan hal tersebut (sabotase) terjadi,” pungkasnya.

Sebelumnya dikabarkan, radar navigasi bandara Internasional Soekarno Hatta mengalami gangguan. Akibatnya beberapa pesawat tidak bisa melakukan pendaratan sehingga harus berputar-putar di udara.
(lam)

Agustus 30, 2010

geregetan: cowo PEDE … 310810

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 11:45 pm

Selasa, 31/08/2010 03:00:03 WIB
Gaji laki-laki & wanita di Australia makin timpang
Oleh: Antara
SYDNEY: Gaji yang sama untuk karyawan laki-laki dan perempuan di Australia masih saja menjadi mimpi karena berdasarkan laporan yang dirilis Senin gaji semakin timpang selama 30 tahun terakhir.

Laporan KPMG, yang dipimpin oleh Diversity Council Australia, mendapati bahwa perempuan Australia digaji nyaris 18 persen lebih kecil daripada laki-laki untuk pos pekerjaan yang sama.

Ketimpangan gaji ini terjadi semakin parah selama tiga dekade terakhir. Pada 1977, perempuan di Australia menerima rata-rata 88% dari gaji laki-laki, sementara di tahun 2010 angka itu turun menjadi 82%.

“Ini adalah hasil temuan yang mengejutkan, ketika Anda mengira gaji yang setara antara lelaki dan perempuan sudah diimplementasikan pada 1972 di Australia,” ujar Lisa Annese, Direktur Riset Diversity Council Australia, kepada Reuters.

Selama satu tahun terakhir ketimpangan gaji antara pekerja perempuan dan laki-laki rata-rata bertambah sekitar A$7,9 per pekan, dari A$231,4 ke A$239,3 (A$1 = Rp8.030).

Ini artinya, untuk mendapatkan gaji yang sama dengan laki-laki, perempuan harus bekerja tiga hari ekstra di tahun 2010.

Laporan KPMG juga menyebutkan bahwa perempuan hanya memegang 7% posisi eksekutif di perusahan-perusahaan yang terdaftar dalam bursa saham Australia ASX 200, walaupun perempuan memiliki porsi 42% dalam lapangan kerja dan menjadi mayoritas (70%) di kelompok pekerja paruh waktu.

Menurut Annese, Australia jelas telah menunjukkan perbaikan di kondisi kerja untuk karyawan perempuan selama 1 abad terakhir, tetapi nihilnya kemajuan selama beberapa tahun terakhir adalah hal yang mengecewakan. “Kita tidak mundur, kita cuma tidak bergerak maju,” ujarnya.(yn)

geregetan: global itu penTINK … 300810

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 5:00 pm

Tak Terjadi Krisis Dunia, Prospek Ekonomi RI Masih Baik
Senin, 30 Agustus 2010 – 20:17 wib

Rheza Andhika Pamungkas – Okezone

JAKARTA – Prospek perkembangan ekonomi Indonesia tampaknya akan cukup baik, sekali pun dengan ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia. Selama tidak terjadi krisis dunia (double dip recession) maka perkembangan ekonomi akan terus meningkat.

“Bagi Indonesia yang penting dilakukan adalah bagaimana mengelola kemungkinan pembalikan aliran modal ke luar. Untuk itu memperbanyak aset finansial melalui IPO dan juga memperbolehkan asing memiliki properti tertentu perku dilakukan,” ujar Ketua Dewan Direktur Center For Information & Development Studies (CIDES) Umar Juono kepada wartawan saat acara Paparan Ekonomi Politik CIDES di Hotel Ambara Jakarta, Senin (30/8/2010).

Selain itu, dia menambahkan, perlu juga dipertimbangkan kebijakan yang membuat modal portofolio lebih lama tinggal di Indonesia.

“Tentu permasalahan klasik perbaikan regulasi dan pembangunan infrastruktur harus mengalami perbaikan yang signifikan. Revitalisasi Industri, pertanian, dan pertambangan-migas, sangat menentukan sejauh mana perkembangan ekonomi akan bersifat berkelanjutan,” jelasnya.

Berkaitan dengan investasi portofolio, lanjutnya, maka langkah-langkah tertentu harus dilakukan agar tidak terjadi pembalikan aliran modal keliar dan terjadinya bubble pada aset keuangan.

“Langkah berupa capital control tampaknya bukanlah pilihan karena akan menimbulkan reaksi yang justru malah menyebabkan kerugian. Namun jika aliran modal masuk semakin deras, maka langkah-langkah untuk mensyaratkan modal tersebut Lebih lama tinggi di Indonesia harus dilakukan,” jelasnya.

Karena, lanjutnya, jika tidak maka keadaan pasar keuangan akan labil terhadap kemungkinan pembalikan aliran modal. Begitu pula langkah untuk memfasilitasi aliran modal ini dengan aset yang lebih banyak untuk diperdagangkan harus dilakukan.

“Karena itu penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) harus didorong baik untuk BUMN maupun untuk perusahaan swasta. Insentif pajak telah diberikan kepada perusahaan yang akan melakukan IPO,” pungkasnya.(adn)(rhs)

geregetan: emas is a must (792) : 300810

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 3:12 am

Pergerakan harga emas hari ini mulai mengalami penurunan. Janji the Federal Reserve untuk mengeluarkan stimulus baru membuat pelaku pasar berspekulasi dan memilih menjual kepemilikan emasnya.

Tadi pagi, kontrak harga emas untuk pengantaran cepat mengalami penurunan sebesar 0,3% menjadi US$ 1.234,60 per troy ounce. Namun pada pukul 09.20, kontrak yang sama naik tipis dan berada di posisi US$ 1.235,05 per troy ounce. Jika dihitung, sepanjang satu bulan terakhir, harga emas sudah mengalami kenaikan hingga 4,6%. Kenaikan tersebut terjadi seiring langkah investor yang mencari proteksi di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.

“Pada saat harga menuju level US$ 1.250, pasar memilih istirahat dan ada tekanan jual. Meski tren jangka panjang masih tetap naik, emas hari ini mengalami penurunan seiring kenaikan di pasar saham,” jelas Park Jong Beom, trader Tongyang Futures Co.

Sekadar tambahan, sepanjang tahun ini, kontrak harga emas sudah mengalami kenaikan hingga 13%. Emas sempat menyentuh rekor tertingginya di posisi US$ 1.265,30 per troy ounce pada Juni lalu.

Sumber : KONTAN.CO.ID

Agustus 29, 2010

geregetan: emas is a must (771) : 290810

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 5:10 pm

August 26, 2010, 5:00PM EST
Gold’s Evangelist
With gold a fashionable hedge against turbulent times, one billionaire is doing everything he can to get his hands on the actual stuff

By Jason Kelly

“I’m not a goldbug, but there are times when I feel like an evangelist for it,” says Thomas Kaplan, an Oxford-educated historian and chairman of Manhattan-based Tigris Financial Group. “To my amazement, it’s a hard sell. The conventional wisdom is that gold is for primitives. That derision shows me that contrary to the notion we’re in a bubble, we haven’t yet begun the real bull market.”

The 47-year-old New York-born billionaire is a bundle of eccentricities, from his unplaceable but alien accent to his three-piece suits and his decidedly un-Wall Street way of talking (“as the thesis is confirmed, well-founded conviction gives way to the calm of metaphysical certitude”). Sitting in a windowless conference room decorated with lavish photographs of panthers, jaguars, and tigers—preserving big-cat habitats is his other major passion—he explains his training as an investor. “I’m much more qualitative than quantitative in my approach,” Kaplan says. “It would have been an alien concept for me to think about an MBA.”

His conviction about gold puts him in the company of such celebrated figures as George Soros and John Paulson, both of whom have been betting heavily on the yellow metal (and have invested alongside Kaplan in Vancouver-based mining company NovaGold Resources (NG)). At the moment, the wager looks inspired: The price of gold has risen for nine straight years, hitting an all-time high of $1,256.30 an ounce on June 21. While the price has fallen about 2 percent since then, Kaplan says the big rally is still to come. It’s not riots in the streets he envisions, but a more fundamental case of demand outstripping supply as gold becomes a currency in its own right.

Variations on this view have become so popular in recent years that gold has gone from being an obsession of conspiracy theorists and kooks to a fully respectable investment idea that gets promoted at PTA meetings. Kaplan is not content to merely run with this crowd. To maximize his returns, he has engaged in the much trickier task of digging fresh gold out of the ground. But mining is a double risk—there’s the cost, hassle, and uncertainty of extraction, and then there’s the volatility of the market. The financial risks of mining show up in their stocks, especially compared with gold prices. While gold rose 13 percent this year, the Bloomberg World Mining Index dropped 9.7 percent. And gold is no more of a certainty than anything else. Before its recent ascent, it was stuck in a bear market for two decades. What if the threat of hyperinflation never materializes? A mere uptick in confidence about global growth could put gold right back in the doldrums.

Kaplan doesn’t see that happening, and that’s why he has fallen in love with the leafy green hills of Transylvania in central Romania. He owns an 18 percent stake in a Canadian company called Gabriel Resources that is attempting to reopen what is widely believed to be Europe’s largest gold deposit, an estimated 10 million ounces, worth more than $12 billion at today’s price, as well as 47.7 million ounces of silver. There’s one problem: Some residents of the economically ravaged area, where unemployment is 80 percent, are fiercely contesting the project on environmental grounds.

Despite the opposition, the potential windfall has attracted investors, including Paulson, of whom Kaplan is an unabashed admirer. “If he sticks to his conviction on gold, he may yet become the richest man in America,” Kaplan says, “and I’d love to see it happen.” Kaplan would do well, too, though he brings his own particular dilemma—striking a balance between an urge to expand his mining empire and what he insists is an even greater desire to save the planet from environmental harm.

In 1988, Kaplan was completing his dissertation at Oxford—on the Malayan counterinsurgency and the way commodities influence strategic planning—and earning extra money analyzing Israeli companies listed on U.S. stock exchanges. The work involved traveling to Israel, and while there Kaplan connected with two people who would shape the rest of his life. First was Daphne Recanati, who had attended the same boarding school Kaplan had and was then just beginning her compulsory military service. She would eventually become his wife, mother of his three children—and his “reality check” for new investment ideas. “Her instincts are pretty much perfect,” he says.

Through Recanati’s mother, Kaplan was introduced to Avi Tiomkin, a well-known Israeli investor with whom he established a close bond. “There was immediate chemistry,” says Tiomkin, now 62. “His views, his conviction were impressive.” Kaplan sealed his standing with his mentor by predicting the invasion of Kuwait by Saddam Hussein several years before it happened, contradicting widely held wisdom that one Arab country would never attack another. “It was against all forecasts,” Tiomkin remembers. “It was a huge surprise.”

Kaplan commuted between Oxford and Tel Aviv until Recanati was accepted to New York University in 1991, and they moved back to the U.S. Tiomkin hired him as a junior partner, a position he held until 1993, when Tiomkin decided to focus on his Israeli investments and Kaplan left to execute his own big ideas, including major bets on silver, natural gas, and, eventually, gold.

He and Tiomkin kept in close touch. “We could’ve not seen each other for a few months and then continued the conversation where we left off,” says Tiomkin. Like Kaplan, Tiomkin eschews his office most of the time, preferring to work from home or elsewhere. “It’s in our genes, it’s how we were born. It keeps us away from being too much under the influence of conventional wisdom.” The two men have reunited and are now avoiding the same office. After working for various hedge funds including Caxton Associates, Tiomkin joined Tigris in 2008 as chief macro strategist, the same year he wrote an article for Forbes predicting the “demise of the euro.”

Kaplan credits Marc Faber, the notoriously bearish Hong Kong-based publisher of the Gloom, Boom & Doom Report, with inspiring his move into natural resources investing in 1993. Faber has long argued that precious metals represent vital protection against the monetary foolishness of central governments. That year marked Kaplan’s first defining deal, the launching of Apex Silver Mines to dig for silver in San Cristóbal, Bolivia. Among the early backers of Apex was Soros Fund Management.

With Apex, Kaplan pursued a strategy he is now trying to replicate in Romania: relocating villagers and buildings in the path of his mining plans to a new town nearby. Apex spent $12 million to move about 200 people as well as a cemetery and a colonial church, which was completely restored and rebuilt “brick by brick,” Kaplan says. “San Cristóbal was transformed, and we established a foundation to create new, sustainable enterprises. To be from the new San Cristóbal became a badge of prosperity.” Kaplan served as chief executive officer of Denver-based Apex and later its chairman. He resigned in 2004, and the company went bankrupt four years later, reemerging from bankruptcy protection in 2009.

Although he’s fixated on gold these days, Kaplan hasn’t abandoned silver. Through Silver Opportunity Partners, an affiliate of Kaplan’s Electrum exploration group of companies, he bought key assets of Sterling Mining Co.—which include the Sunshine Mine, nestled in the heart of the “Silver Valley” of Idaho—out of bankruptcy earlier this year. Well known in mining circles, Kaplan and his team worked hard to keep a low profile leading up to the bankruptcy auction so as not to tip their hand and drive up the bidding. The Sunshine transition team was headed by Mark Wallace, president of Tigris.

Sunshine is among the most notorious mines in the world. First discovered in 1884, Sunshine produced an estimated 360 million ounces of silver. It closed in 2001, then reopened in 2007 before going broke less than a year later. Its checkered history includes a 1972 fire that killed 91 miners, one of the worst disasters of its kind in the U.S. A 12-foot-tall, painted-steel sculpture of a silver miner with a rock drill stands along I-90 between Kellogg and Wallace, Idaho, in memorial to the dead workers.

Now, Silver Opportunity is studying the economic and environmental issues surrounding restarting the mine. Wallace says the deal was a case study for Kaplan’s investment approach. “It was no doubt a complicated and risky transaction,” Wallace says. “Through our expertise, we were able to minimize the risk involved, resolve litigation, and reunite the patchwork and fractured ownership interests that inhibited the mine and limited its value over the last decade.”

While Wallace sorts out the Sunshine mess, Kaplan pursues other interests: In 2006 he created a nonprofit called Panthera to focus on saving big cats. Among its projects is a collaboration with the Wildlife Conservation Society to boost the tiger population in certain countries, including India, Myanmar, and China, by 50 percent over the next decade. After a long and involved courtship, he persuaded Alan Rabinowitz, a zoologist with a specialty in big cats, to become president of Panthera. When he was first approached by Kaplan, Rabinowitz, who had spent his career at WCS, was close to retirement and was torn about taking a new job. Kaplan kept the position open for a full year while Rabinowitz debated whether to accept it. On Apr. 1, 2008, he and five other WCS employees joined Panthera, with ambitious goals. “We have realized that you have to fight for them as a species everywhere they exist on earth,” Rabinowitz, now 56, says. To that end, Panthera is negotiating with governments across the globe to create “genetic corridors” so cats can move freely without being constrained by man-made borders. Kaplan and Rabinowitz have developed a deep friendship; they are “BB” and “LB” to each other; Rabinowitz is the big brother, Kaplan the little brother.

“When I met Alan, I realized he’d been doing what I’d wanted to do with my own life,” says Kaplan. “Nonetheless, I’d always harbored this dream that I’d be able to return to my true love.”

Kaplan acknowledges the paradox of promoting conservation while investing in an industry long associated with extreme environmental degradation, but he says any conflict between the two is easy for him to resolve. “If I’m given a choice between conservation and business, conservation wins, always,” he says. “I’ve conserved a great multiple more than I’ve disturbed.” His geologists apply what he calls the Tom Rule to their decisions about what land to acquire for mining. “If it looks like we shouldn’t build a mine here, either take it and I’ll hold the land to stop others from building on it, or skip it,” he says. “I tell them: ‘Use your common and aesthetic sense.’ It sounds crazy to refer to aesthetics, but ultimately the morality of the endeavor should win out.”

This was on his mind when he arrived in Transylvania in 2009 to get a gut check on Rosia Montana. He had alerted no one there about his visit, flying into the tiny Romanian city of Saibu with several colleagues from Tigris’ London office and enduring a three-hour drive through the mountains. They explored the back roads around the mine, witnessing a degree of ecological damage that left Kaplan to theorize that the pollution dated to the time when the Roman Emperor Trajan conquered the region, marking the beginning of Rosia Montana’s mining heritage.

Community and environmental activists have been fighting Gabriel Resources’ plans for a decade, arguing that the use of cyanide in the mine threatens nearby villages and that a spill could contaminate the countryside extending into neighboring Hungary, where officials have joined the opposition. Kaplan counters that the area already has been devastated by centuries of mining—”the river literally runs red from sulfides”&mdashand that digging the mine would in fact help the county of Alba by repairing some of the damage of past mining projects.

Leading the resistance to the mine is a nongovernmental organization called Alburnus Maior, which was started in 2000 and is based at Rosia Montana. The group contends that Gabriel’s plans will destroy historical sites and force resettlement of 740 farms and 140 apartments. The group also says that 40 Romanian NGOs and institutions support its “Save Rosia Montana” campaign, which proposes to boost the local economy through tourism, agribusiness, and small industries, including crafts. “We will continue to use all legal means at our disposal to stop this proposal from ever being realized,” Alburnus Maior’s Stephanie Roth said in an e-mail. Roth, a former environmental journalist, was instrumental in persuading the European Parliament to publicly oppose the mine. She said the fact that some residents will ultimately refuse to sell their properties to Gabriel means the mine won’t ever get under way because the company needs all of the land to secure a construction permit. “I don’t think that Gabriel’s project will ever go ahead, and in contrast to Gabriel, the locals have all the time in the world,” Roth said.

Rozalia Drumus, a 79-year-old retired schoolteacher, lives in Rosia Montana with her unemployed daughter and subsists on a 1,159 lei ($337) monthly pension. She has planted a sign on her gate: This property is NOT for sale. “We had a small happy village, but people’s greed for money was too much,” she says. “Gold is a bastard.”

Kaplan ardently defends Gabriel’s efforts, arguing that mining is the best way to help the economy of Romania. “Those who say a scarred landscape should be preserved at the expense of a truly exciting economic future for a poor community are being unjust,” he says. “This is telling the local people to bootstrap their way to progress when they don’t have the means to procure boots.”

In June, Romania’s environment minister said the government probably will resume a review of the project, which likely means months more of public debate. Even if Romanian government approval is obtained, it will take at least a year before gold can be pulled out of the ground. Meanwhile, as gold prices swing wildly and talk of a double-dip recession ripples across the markets, Kaplan retains his karmic calm. “People view gold as emotional, but when they demythologize it, when they look at it for what it is and the opportunity it represents, they’re going to say, ‘We really should own some of that.’ The question will then change to ‘Where do we get the gold?’ ”

With Irina Savu in Bucharest

Kelly is a reporter for Bloomberg News.

Agustus 28, 2010

geregetan: PS yang pernah menghidupi gw : 280810

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 9:50 am

Sabtu, 28/08/2010 15:32 WIB

Rahasia Simbol PlayStation Terungkap
Trisno Heriyanto – detikinet

Simbol PlayStation (ist)
Jakarta – Para gamer mungkin sudah tak asing lagi dengan logo berbentuk segitiga, kotak, lingkaran ataupun tanda silang seperti huruf X yang ada pada tombol kendali Sony PlayStation. Namun tahukah arti sebenarnya dari simbol tersebut?

Teiyu Goto, sang desainer konsol game ternama dari Jepang itu itu pun akhirnya buka suara dan menceritakan asal-muasal bagaimana logo simbol tersebut tercipta.

“Merek lain ada yang menggunakan tanda alphabet atau pun angka, tapi kami menginginkan hal yang lebih ringkas,” jelasnya, seperti dikutip detikINET dari 1Up, Sabtu (28/8/2010).

Selain bentuk yang memiliki arti, ternyata masing-masing warna pada simbol yang melekat pun punya makna tersendiri. “Saya memberikan simbol dengan warna yang berbeda, dan masing-masing memiliki arti tersendiri,” ujar Goto.

Logo kotak bewarna hijau, misalnya, menurut dia merupakan representasi dari makna penunjukan arah ke depan. Lalu ada simbol kotak yang diartikan sebagai bagian dari kertas yang berfungsi untuk membuka dokumen.

Sedangkan logo lingkaran dan silang merupakan tanda setuju dan tidak. “Banyak yang mengira warna untuk lingkaran dan silang tertukar, tetapi saya memang sengaja melakukan hal tersebut,” tandas Goto.

Agustus 27, 2010

geregetan: emas is a MUST (739) : 270810

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 4:00 am

Emas yang kini membukukan peningkatan di tahun yang ke-10, kemungkinan akan menembus US$ 1.300 per ounce tahun ini seiring investor yang mencari instrumen investasi yang lebih aman ditengah kondisi finansial yang masih terbilang kacau, lemahnya mata uang dan inflasi. Hal ini ditegaskan oleh GFMS Ltd., Jumat (27/8).

“Kemungkinan akan ada peningkatan investasi hingga akhir tahun ini yang menggiiring harga akan menembus level US$ 1.300; dan bisa jadi lebih dari level itu,” kata Chief Executive Officer Paul Walker.

Menurut World Gold Council, permintaan emas dalam jumlah besar meningkat 36% di kuartal kedua lalu. Investor meningkatkan investasinya di keranjang emas ini dan mendorong harga emas untuk terus menguat selama krisis Eropa terjadi. Investor membungkus 291,3 ton di exchange-traded funds, atau ETFS, membukukan peningkatan kuartalan tertinggi untuk kedua kalinya.

“Ada begitu banyak kelompok orang yang akan trus membelanjakan emas untuk beragam alasan; dan hal ini akan menjadi kunci penggiring peningkatan harga emas,” kata Walker dari Goa, India. Menurutnya, pasar perhiasan hanya akan berperan sedikit dalam peguatan harga emas kali ini.

Awal bulan ini, Goldman Sachs Group Inc. mmemprediksi bahwa harga emas berpotensi terkerek hingga US$ 1.300 dalam enam bulan. Bahkan, Deutsche Bank AG sempat memprediksi harga si kuning bisa melejit hingga US$ 1.700 seiring dengan mata uang yang loyo.

Sumber : KONTAN.CO.ID

geregetan: laju pertumbuhan ekonomi filipina Q2 2010:270810

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 3:18 am

… indon kalah cepat tukh dari filipino 😀 …
Laju pertumbuhan ekonomi Filipina pada kuartal II/2010 mencapai 7,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu (year-on-year), tertinggi dalam 3 tahun terakhir karena disokong belanja konsumen dan pemerintah.

Badan Koordinasi Statistik Nasional kemarin mengumumkan pertumbuhan kuartal II lebih tinggi dari kuartal I yang mencapai 7,8%. Cayetano Paderanga, Menteri Perencanaan Ekonomi, meyakini pertumbuhan pada 2010 akan melampaui target yang berkisar 5% hingga 6%.

Pemerintah setempat berencana meningkatkan belanja pemerintah pada tahun depan guna memacu pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 7% hingga 8%. Pada 2009, perekonomian Filipina turun 1,1%, laju terendah dalam 11 tahun terakhir.

Sumber : BISNIS.COM

geregetan: indon MASEH ngekspor BO … 270810

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:18 am

Ekspor Automotif Sumbang Pertumbuhan Tertinggi
Kamis, 26 Agustus 2010 – 19:11 wib

Safrezi Fitra – Okezone

JAKARTA – Dalam laporan ekspor komoditas utama semester I-2010, indeks pertumbuhan automotif tercatat mengalami kenaikan tercepat dibanding lima sektor utama komoditi nonmigas lain. Pertumbuhan ekspor tersebut tercatat naik sekira 84,7 persen.

Hal ini terungkap pada laporan yang dipaparkan oleh Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar, di kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Kamis (26/8/2010).

Sebelumnya pertumbuhan ekspor automotif pada semester I-2009 berkurang sampai minus 36,8 persen, sedangkan pada semester I tahun ini naik menjadi 47,9 persen yaitu sekira USD1,32 miliar.

“Hal ini dapat terjadi karena pangsa pasar ekspor produk automotif tumbuh di negara-negara emerging market seperti Thailand, Saudi Arabia dan Brazil. Dalam ukuran prosentase terlihat bahwa ekspor ke Thailand sebesar 22 persen, Jepang 15 persen, dan Malaysia sebanyak 10 persen,” ungkap Mahendra.

Untuk tiga komoditi utama dibidang manufaktur yaitu automotif, elektronika, dan alas kaki mengalami pertumbuhan di atas 25 persen.

“Ekspor elektronik kita juga meningkat dari yang sebelumnya pada semester I-2009 berkurang 0,4 persen, naik menjadi 38 persen dengan nilai sebesar USD4,83 miliar. Negara tujuan ekspor paling besar untuk elektronik adalah Singapura sebesar 22 persen, kemudian Amerika sebesar 12 persen dan Jepang sembilan persen,” jelasnya.

Sedangkan untuk komoditi alas kaki, juga mengalami peningkatan ekspor yang cukup signifikan. Dari minus 7,9 persen pada semester I-2009 naik menjadi 26,1 persen pada semester I-2010 dengan nilai sekira USD1,17 miliar. Negara tujuan ekspor dari alas kaki paling besar diduduki oleh Amerika Serikat sebesar 24 persen, serta Belgia dan Inggris sebesar sembilan persen.

Industri ekpor lain dari lima komoditi utama Indonesia adalah Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) serta Crude Palm Oil (CPO). Untuk TPT, nilai ekspor tercatat mengalami peningkatan yang cukup berarti. Dari -8,7 persen pada semester I-2009 naik menjadi 17,4 81 persen dengan besaran USD 4,95 miliar. Amerika Serikat menjadi pasar ekspor paling besar sekira 38 persen, kemudian Jepang dan Jerman sekira lima persen.

“CPO memberikan kontribusi yang paling besar, sekira 9,6 persen dari lima komoditi utama lainnya,” tandasnya.(adn)(rhs)

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: