eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

April 30, 2010

geregetan: pemenangnya adalah indon … 300410

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 2:06 am

Mengapa (takut) China?
Dari Japanophobia ke Chinophobia

Dalam periode kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat 1984, kandidat dari Partai Demokrat, Walter Mondale, mengajukan pertanyaan serius: “Apa yang kita ingin anak-anak kita lakukan? Menyapu bersih seluruh komputer Jepang?”
Mondale berasumsi, kemakmuran Jepang pada era 1980-an itu berkat belanja orang-orang Amerika. Namun, komentar Mondale memicu kekhawatiran di lingkaran bisnis dan pemerintahan, yang memang takut atas kecepatan pertumbuhan Jepang pada era 1960-an dan 1970-an.

Mereka khawatir bahwa perusahaan-perusahaan Jepang-yang umumnya dibantu oleh kebijakan yang protektif-bakal mengancam dominasi AS dalam industri teknologi tinggi seperti otomotif dan elektronik. Kekhawatiran itu mendorong naiknya sentimen proteksionistis di AS, sekaligus tekanan bagi Jepang untuk mengapresiasi yen serta membatasi ekspor ke Negeri Paman Sam.

Kebijakan jangka pendek berlatar belakang “Japanophobia” pada dekade 1980-an itu kini menjadi restropeksi yang lucu. Bukan saja industri tinggi di AS tetap tumbuh dan berkembang, “dominansi” Jepang nyatanya hanya berumur pendek, setelah negara Asia lainnya-pertama Korea Selatan dan baru-baru ini China-menjadi kompetitor hebat.

“Inilah satu lagi contoh [muram] zero-sum thinking,” tulis Nariman Behravesh, mantan Chief International Economist Standard & Poors, dalam bukunya Spin-Free Economics, yang terbit akhir tahun lalu.

Nukilan di atas memang saya kutipkan dari analisis Behravesh, yang mencoba memotret miskonsepsi banyak kalangan dalam melihat keajaiban China. Inilah miskonsepsi dalam melihat hubungan ekonomi bilateral, yang kini dipertontonkan secara terang-terangan oleh banyak negara.

Setelah Amerika mengalami apa yang disebut Japanophobia, kini negeri itu secara blak-blakan menyediakan panggung Chinophobia: Sebuah kecemasan terhadap penetrasi produk China yang berlebihan.

Dalam zero-sum game, jika ada yang menang, pasti ada yang kalah. Padahal, keuntungan Jepang pada dekade 1980-an, dan sekarang keuntungan China dalam dekade terakhir, bukanlah kerugian Amerika–dan negara-negara mitra dagang lainnya. Lebih dari itu, tidak ada zero-sum game dalam rumus perdagangan!

***

Analisis Behravesh, yang kini adalah Chief Economist HIS Global Insight-firma yang menyediakan analisis ekonomi dan finansial global, itu boleh dibilang mewakili perkembangan global saat ini. Hampir semua negara menyimpan ketakutan terhadap China, terutama dalam hubungan perdagangan bilateral.

Pemerintahan dan parlemen AS, misalnya, saat ini menggeser ketakutannya terhadap gerakan Beijing yang memang luar biasa.

Lalu AS mencoba menembakkan berbagai senjata melalui berbagai forum multilateral untuk memukul China, tetapi tembakan itu selalu meleset. Malahan, Beijing seperti semakin kebal terhadap aneka peluru yang dilontarkan para diplomat Amerika.

Desakan Washington kepada Beijing untuk merevaluasi nilai tukar yuan, misalnya, menjadi perdebatan panas. Financial Times pekan ini melaporkan India dan Brasil pun turut bergabung dengan front Washington, mendesak Beijing untuk menaikkan nilai tukar renmimbi. Mata uang China itu dianggap undervalued, dan dituduh sebagai penolong kinerja ekspor negeri itu.

Beijing berkukuh dan tetap percaya diri.

Produk China malah makin mendominasi pasar dunia, termasuk AS, dan banyak negara berkembang lain yang memiliki pasar besar, utamanya Indonesia dan Asia Tenggara yang pasarnya lebih dari 500 juta jiwa.

Di AS sendiri, defisit perdagangannya dengan China mencapai sepertiga dari total defisit terhadap mitra dagang seluruh dunia.

Meskipun begitu, patut dipertanyakan jika AS selalu memukul China atas kebijakan proteksionis melalui nilai tukar sebagai penyebab defisit dagang itu, karena Washington mengalami defisit dagang amat besar dari seluruh dunia, yang mencapai US$765 miliar pada 2006. Pada 2007, defisit perdagangan AS terhadap China US$250 miliar.

Gambaran ini juga terjadi ketika dominasi produk elektronik Jepang di pasar Amerika terjadi pada dekade 1980-an. Pada 1985, surplus perdagangan bilateral Jepang terhadap AS mencapai US$43 miliar, sebuah lompatan signifikan dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya, yang hanya US$2 miliar.

Seperti halnya terhadap Jepang pada dekade 1980-an itu, barangkali Washington salah alamat ketika juga menyalahkan mata uang China sebagai penyebab defisit perdagangan yang gembrot itu.

Tokyo akhirnya merevaluasi yen, tetapi tetap menikmati surplus dagang bilateral yang besar. Padahal, akibatnya Jepang dan konsumen Amerika sama-sama ‘menderita’ karena menanggung produk yang mahal. Inilah contoh miskonsepsi itu.

***

Lantas, apa sesungguhnya rahasia China sehingga begitu perkasa? Merujuk Behravesh, rahasia sesungguhnya adalah pertumbuhan produktivitas yang sangat tinggi, bukan upah buruh atau nilai mata uang yang murah.

Benar bahwa tingkat upah di China hanya sekitar 20% upah di Amerika Serikat. Namun, kecepatan pertumbuhan produktivitas di China fenomenal, dua kali lebih cepat dari pertumbuhan upah dan jauh lebih cepat dari kebanyakan negara berkembang.

Pertumbuhan produktivitas China rata-rata hampir 8% per tahun pada periode 1995 hingga 2000, dan sekitar 7% per tahun pada periode 2000-2003, mengutip data OECD.

Bandingkan dengan laju produktivitas di AS dan Jepang yang berkisar 2% per tahun pada periode itu, atau dengan Meksiko yang hanya naik di bawah 1% pada 2000-2003. China jelas tak tertandingi soal itu!

Karenanya, Behravesh menyiapkan nasihat: Jangan lawan China dengan menghambat impor barang murah, apalagi mencoba bersaing dengan upah buruh murah. Langkah itu hanya akan menghasilkan petaka ketimbang kebaikan bagi konsumen dan pekerja.

Sebagai gantinya, tantangan mitra dagang China adalah menerapkan kebijakan yang mendorong produktivitas. Dalam kasus negara miskin, di luar perbaikan governance, tantangannya adalah investasi modal manusia dan modal fisik, dan tetap membuka perdagangan, investasi serta transfer teknologi, tulis Behravesh.

Kelihatannya klasik, memang.

***

Jadi, bagaimana Indonesia harus bersikap terhadap fenomena China? Rasanya, resep Behravesh bisa pula ditelan. Benar bahwa potret perdagangan bilateral Indonesia dengan China menyimpan potensi defisit yang terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir, yang puncaknya terjadi pada 2008.

Pada 2008, impor Indonesia ke China memang melonjak menjadi sekitar US$15 miliar. Namun patut dicatat, lonjakan impor itu terutama disumbang oleh barang modal dan bahan baku penolong yang rata-rata tumbuh 49% dan 24% per tahun, merujuk angka resmi Departemen Perdagangan.

Itu berarti, industri di Indonesia semestinya menikmati daya saing yang lebih tinggi karena memperoleh bahan baku dan barang modal lebih murah. Di sisi lain, konsumen akan menikmati keuntungan karena memperoleh akses atas barang konsumsi lebih murah, sehingga daya beli mereka akan meningkat.

Wisdom yang bisa dipakai, barangkali, keajaiban China mesti dipandang sebagai peluang ketimbang ancaman. Itu pula yang harus disikapi bersama, khususnya setelah ribut-ribut pascapemberlakuan perjanjian perdagangan bebas Asean-China sejak Januari.

Bukan soal siap atau tidak siap, merujuk Rachmat Gobel, pemilik Grup Panasonic Gobel, yang memproduksi barang elektronik kualitas tinggi untuk pasar Indonesia dan pasar ekspor, ACFTA mestinya dipandang sebagai peluang.

Dengan peningkatan kapasitas sumber daya untuk mampu memproduksi barang berkualitas dan harga yang kompetitif-karena dorongan produktivitas-diharapkan produk Indonesia akan tetap, bahkan semakin mampu bersaing. “Semakin tinggi daya beli, konsumen akan semakin mencari produk berkualitas. Itu saja kuncinya,” katanya dalam suatu kesempatan.

Jadi, mengapa harus takut terhadap serbuan produk China? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)

Oleh Arief Budisusilo
Wartawan Bisnis Indonesia
Ekonomi dunia kini ada di timur

Suara keras dan memekakkan telinga yang bersumber dari genderang serta alat musik pukul lainnya yang ditabuh bertalu-talu mengiringi tarian naga-naga genit pada acara barongsai, dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat yang ada di sekitar kita.
Pertunjukan barongsai yang biasa dibawakan untuk merayakan Imlek ini, diharapkan bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Tionghoa. Setan-setan jahat yang ada dalam kehidupan sehari-hari selama tahun lalu yang jelek, serta melewati musim dingin yang berat, diharapkan bisa diusir dengan pekikan suara-suara keras tersebut.

Sejarah ini terjadi di masyarakat Tionghoa yang hidup di daerah China daratan dengan kondisi alam yang kurang bersahabat.

Lantas dengan dibawanya tradisi pertunjukan barongsai ke Indonesia yang memiliki alam subur dan bersahabat, serta tidak mengenal adanya musim dingin yang berat, hal itu menjadi tidak relevan lagi.

Barongsai kini menjadi suatu karya seni budaya bangsa Tionghoa yang dilestarikan dan dimainkan untuk memperingati Imlek. Terlebih lagi setelah Indonesia dipimpin oleh Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat etnis Tionghoa diberikan kebebasan dalam memelihara nilai budayanya.

“Apabila di Tiongkok Imlek juga dipakai untuk acara pulang kampung seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat muslim di Indonesia, bagi kami Imlek lebih dipakai untuk berlibur dari kesibukan kerja,” ujar Tahir, Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat dan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Permit).

Apalagi, sambungnya, etnis Tionghoa yang masih memiliki homebase di negeri China jumlahnya tidak melebihi 1% dari total yang ada di Indonesia. Apalagi sejak 60 tahun lalu status dwi kewarganegaraan bagi warga Tionghoa tidak diberlakukan lagi, sehingga warga keturunan benar-benar mengenyam kebebasan yang sama seperti suku bangsa Indonesia lainnya.

Perubahan budaya

Perjalanan panjang yang mengiringi keberadaan masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia, lambat laun membuat nilai-nilai yang ada melebur dalam kehidupan masyarakat pada umumnya.

Apabila kita beranggapan masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia masih memegang teguh budayanya adalah tidak seluruhnya benar.

Perubahan budaya ini pun juga terjadi di banyak sendi kehidupan masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia. Dahulu, bisnis di kalangan etnis Tionghoa dijalankan hanya atas dasar kepercayaan. Bahkan, untuk meminjam uang atau barang cukup ditulis di atas kertas putih kosong, dan kertas tersebut bisa menjadi bukti kuat dalam suatu transaksi bisnis.

Cara itu saat ini sudah tidak dipakai lagi. Apabila perjanjian bisnis hanya dilakukan dengan tulisan di atas kertas putih, niscaya akan banyak terjadi sengketa bisnis karena tidak memiliki landasan hukum yang kuat. Nilai-nilai tradisi bangsa Tionghoa kini sudah banyak digantikan dengan hukum dan peraturan yang berlaku secara universal.

Meskipun keturunan Tionghoa, tetapi tidak berarti mereka selalu memakai barang produk China. Penggunaan nilai-nilai secara universal ini, diakui oleh seorang profesional muda keturunan Tionghoa dalam menggunakan barang kebutuhan sehari-hari.

“Untuk kendaraan, saya lebih senang mobil buatan Eropa karena nyaman dan aman. Kalau saya memakai mobil buatan China, rasanya kurang sreg. Sedangkan produk elektronika, saya lebih sering memakai produk buatan Jepang,” ujar profesional yang bekerja di sebuah bank asing di Jakarta.

Persepsi bahwa bangsa keturunan adalah orang yang rajin dan pekerja keras, juga tidak bisa lagi dijadikan patokan. Tidak sedikit warga keturunan yang saat ini kehidupannya serbaterbatas karena malas bekerja.

Selain itu, kebiasaan gemar menabung, hemat, dan bisa dipercaya, tampaknya sudah luntur dari nilai-nilai kehidupan masyarakat Tionghoa. Warga keturunan kini tidak berbeda dengan masyarakat pada umumnya akan lebih memercayakan pengelolaan dananya kepada lembaga keuangan seperti perbankan.

Oleh sebab itu tidaklah mengherankan apabila kini semakin menjamur bank-bank asal China yang beroperasi di luar negara tersebut untuk menggarap besarnya potensi bisnis warga keturunan. Lembaga keuangan ini menerapkan sistem perbankan internasional seperti bank-bank lainnya.

Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) saat ini tercatat sebagai salah satu bank terbesar di dunia karena menggarap besarnya potensi ekonomi bangsa Tionghoa yang ada di China dan di perantauan.

Oversea-Chinese Banking Corporation Limited (OCBC Bank) adalah salah satu contoh bank asal Singapura yang menggarap besarnya potensi masyarakat Tionghoa yang ada di luar China. Lembaga keuangan tersebut kini menjadi pemegang saham mayoritas Bank OCBC NISP, salah satu pemain kuat di segmen pasar perbankan ritel di Indonesia.

Ambil manfaat

Tahir yang kini juga menjabat sebagai Staf Khusus Menko Kesra menambahkan saat ini ada 700 hingga 800 perkumpulan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Tiga alasan pendiriannya adalah berdasarkan kesukuan, alumni sekolah, dan kemasyarakatan seperti yang dijalankan oleh Permit.

Pada kenyataannya, etnis Tionghoa yang ada di Indonesia sudah menyebar dan berprofesi di banyak jenis pekerjaan. Ada yang setia menjadi pedagang, pengusaha, profesional, politikus, atau menjadi pejabat negara.

Chairperson kelompok usaha Mayapada ini menegaskan hal penting yang bisa diambil manfaatnya atas hubungan yang baik dengan China adalah besarnya potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia.

Bangsa Tionghoa merupakan pembelanja (spender) yang besar di industri pariwisata dunia, oleh sebab itu Indonesia harus bisa menarik turis dari China sebanyak-banyaknya.

Sejumlah pabrik di China juga sedang merelokasi usahanya ke luar negeri, sehingga kesempatan ini harus bisa dimanfaatkan oleh orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa dan orang Indonesia lainnya.

“Pertumbuhan ekonomi dunia kini ada di Timur. Indonesia dan China merupakan negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi baik. Permit akan menarik investor-investor dari China untuk menggarap sektor riil untuk meningkatkan lapangan kerja, khususnya produk-produk yang memiliki nilai tambah seperti kelautan dan perdagangan,” jelas Tahir.

Pria yang aktif di bidang sosial kemasyarakat ini menegaskan bahwa manusia tidak bisa memilih orangtua yang melahirkan dirinya.

“Takdir tidak bisa diubah, seperti kita terlahir sebagai bangsa keturunan Tionghoa. Namun, yang bisa diubah adalah pilihan untuk berbuat kebaikan.” (gung.panggodo@bisnis.co.id)

Oleh Gung Panggodo S.
Wartawan Bisnis Indonesia

geregetan: lama ta bersua, VAKSIN antiKANKER, beneran: 300410

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 12:22 am

April 29, 2010
F.D.A. Approves ‘Vaccine’ to Fight Prostate Cancer
By ANDREW POLLACK
The Food and Drug Administration on Thursday approved the first treatment that uses a so-called cancer vaccine, a drug that trains the body’s own immune system to fight the disease.

The drug, Provenge, developed by the Dendreon Corporation, was approved to treat advanced prostate cancer. In clinical trials it extended the lives of patients about four months compared with a placebo.

Getting the immune system to attack cancer has tantalized scientists for decades, because it promises to have fewer side effects than the harsh chemotherapy now used. But until now the approach has yielded little but disappointment.

“The big story here is that this is the first proof of principle and proof that immunotherapy works in general in cancer, which I think is a huge observation,” said Dr. Philip Kantoff, chief of solid tumor oncology at the Dana-Farber Cancer Institute in Boston and the lead investigator in Dendreon’s largest clinical trial for the drug.

Provenge is not a preventive vaccine like those for measles, hepatitis or even the new ones for cervical cancer, which prevent a viral infection that causes the cancer. Rather, it is a so-called therapeutic vaccine, used after prostate cancer has already been diagnosed.

Provenge has become a cause célèbre among some patients. When the F.D.A. declined to approve the drug three years ago, some prostate cancer patients and investors protested.

“I think it’s fair to say that people are waiting for it,” said Jan Manarite, who runs the telephone help line in Florida for the Prostate Cancer Research Institute, a patient advocacy group.

Some patients may be disappointed, however, because the company said it could produce enough vaccine to supply only 2,000 patients in the next year. Dendreon said Provenge would be available at first only in 50 centers that participated in the clinical trials. But manufacturing capacity will be expanded greatly in the coming year.

Provenge is personalized for each patient. The patient’s white blood cells are collected through a process often used for blood donations, and certain immune cells are separated out. The cells are then incubated with a protein often found on prostate tumors, combined with an immune system booster. The treated cells are then infused back into the patient three times over the course of a month.

A full treatment will cost $93,000. Dendreon officials defended that price, saying it was in line with those of other cancer drugs in terms of cost per extra month of life provided by the drug.

Men with prostate cancer typically have either radiation treatment or surgery to remove the prostate gland, followed by drugs that reduce the levels of the hormone testosterone, which fuels prostate tumors. Provenge was approved for men whose cancer has spread in the body and for whom the hormone-deprivation drugs no longer work but who still have minimal symptoms, or none at all.

The only approved treatment for these men before Thursday was the chemotherapy drug Taxotere, also known as docetaxel, which in clinical trials extended lives by about two or three months.

In the largest clinical trial of Provenge, involving 512 men, those who got Provenge had a median survival of 25.8 months after treatment, while those who got a placebo lived a median of 21.7 months. After three years, 32 percent of those who got Provenge were alive, compared with 23 percent of those who got the placebo. The main side effects were fever, chills, fatigue and pain.

Doctors expect that Provenge might be used before Taxotere because it has fewer side effects. Many patients do not start on chemotherapy until their symptoms, mainly bone pain, have become obvious.

Provenge is the first approved product for Dendreon, which was founded in 1992 by two professors at Stanford, Dr. Edgar Engleman and Dr. Samuel Strober. Dendreon executives said the company had spent about $1 billion developing Provenge.

David Miller, chief executive of Biotech Stock Research, predicted that sales of Provenge would reach $1 billion annually within two or three years. Dendreon’s stock rose 27 percent on Thursday to $50.18, more than double its level a year ago.

Dendreon hopes to use the same technique to make other cancer vaccines, including one for bladder cancer. There are dozens of other cancer vaccines in development by other companies.

April 29, 2010

geregetan: supaya sehat MAKAN CABE juga … 290410

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 9:43 am

Kamis, 29/04/2010 16:30 WIB
Berat Badan Turun dengan Cabai Merah
Merry Wahyuningsih – detikHealth

Jakarta, Selain dapat menghilangkan kantuk, rasa cabai yang menimbulkan sensasi terbakar ternyata juga bisa membakar lemak dan menurunkan berat badan. Bagaimana cabai bisa menurunkan berat badan?

Cabai secara alami mengandung bahan kimia dan senyawa yang dapat meningkatkan proses pembakaran lemak dalam tubuh. Ketika menggigit cabai, maka mulut seolah-olah seperti terbakar, bahan aktif yang disebut Capsaicin adalah penyebabnya.

Capsaicin merupakan bahan kimia nabati yang berasal dari alam. Bahan ini dirancang oleh cabai untuk sistem pertahanan dirinya agar tidak dimakan oleh pemangsa seperti hewan.

Seperti dilansir dari Dailymail, Kamis (29/4/2010), para peneliti menyatakan bahwa panas yang dihasilkan oleh lapisan oksida makanan pedas mampu membakar lemak dan meningkatkan metabolisme.

Pada dasarnya, ketika seseorang mengonsumsi cabai merah, tubuh akan bereaksi terhadap cabai tersebut dengan menimbulkan rangsangan reaksi panas. Ketika panas tubuh meningkat, proses termogenik dalam tubuh akan berlaku.

Proses termogenik secara sederhana adalah tingkat di mana tubuh mampu membakar kalori dan lemak tubuh. Hal ini lebih sering digambarkan sebagai metabolisme tubuh.

Metabolisme yang semakin efisien dan cepat dapat pula mempercepat pembakaran lemak dan proses penurunan berat badan.

Penelitian dilakukan terhadap 34 pria dan wanita dengan diberi makanan rendah kalori, yang dilengkapi dengan pemberian makanan pedas dan non-pedas dari cabai merah dan dari pil plasebo.

Mereka menemukan bahwa tingkat energi yang dikeluarkan oleh partisipan yang diberi Capsaicin lebih tinggi hampir dua kali lipat daripada Triallists yang terkandung pada plasebo.

Bukti lain adalah dapat meningkatkan laju metabolisme sampai 50 persen selama tiga jam setelah makan makanan mengandung Capsaicin. Efek cabai merah juga dapat membuat orang berkeringat setelah memakannya.

Selain menghancurkan lemak, seperti dilansir dari Ezinearticles, Capsaicin pada cabai merah juga dapat menghancurkan sel-sel kanker. Secara khusus, dalam satu percobaan klinis, hampir 80 persen sel-sel kanker prostat rusak akibat efek dari Capsaicin.

Penelitian lain juga menemukan bahwa cabai merah merupakan penghilang rasa sakit yang efektif. Selain itu juga bisa mencegah dan mengobati sinusitis.

Untuk mendapat khasiat, cabai merah dapat ditambahkan pada makanan ringan atau makanan utama. Penggunaan cabai merah ini dapat dicampurkan dalam makanan apa saja, tapi sebaiknya pada makanan-makanan rendah lemak, agar penurunan berat badan semakin efektif.

Namun, pada sebagian orang, cabai merupakan pantangan, seperti pada penderita maag atau orang-orang yang sensitif terhadap rasa pedas cabai. Kini Capsaisin pada cabai merah telah dimoderenisasi dan dikemas dalam bentuk kapsul, yang disebut dengan Capsiplex.

Menurut penelitian di Universitas Oklahoma, seperti dilansir dari Dailymail, pembakaran kalori Capsaicin dalam kapsul ini sama halnya dengan melakukan 80 menit berjalan kaki atau jogging selama 25 menit, yaitu membakar 278 kalori.

Dan sekarang penggunaan Capshaicin dalam kapsul ini banyak digunakan oleh artis-artis luar negeri seperti Jennifer Lopez, Brad Pitt dan Britney Spears.

(mer/ir)

geregetan: yang lemah dan bodoh, perempuan … 290410

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 1:48 am

April 23, 2010
Financial Advice by Women for Women
By TARA SIEGEL BERNARD
Several personal finance books aimed at women landed in my mailbox recently. They were hard to miss. The books had pink covers and the catchy, if cringeworthy, titles, “Shoo, Jimmy Choo!” and “Hot (Broke) Messes.” And then there was the one I found on Amazon, “A Purse of Your Own.”

The titles may seem better suited for the cover of Glamour magazine. But that doesn’t mean women don’t face special financial challenges. Women live longer, earn less and take more breaks from the workplace to care for children and elderly parents. And though studies show that women tend to save a slightly higher percentage of their paychecks then men, they ultimately end up with smaller balances because of their lower earnings.

Does that mean women need specially tailored financial advice?

Women who are suddenly single, like divorcees and widows, obviously may need help. And singles, in general, may have special needs, like disability insurance, because they don’t have a spouse’s paycheck to fall back on (though you can make the same case for single men). Financial advisers also say many women need to be prodded to evaluate whether they’re being paid what they’re worth.

But the vast majority of the financial advice is the same, regardless of sex.

The real issue, experts say, is that many women, despite strides in education and in the workplace, simply aren’t as confident and knowledgeable about financial matters as men. This problem persists even as women handle many of their families’ routine money management duties, like paying bills and making many purchasing decisions.

“Research has shown that women, even professional women with good jobs and successful careers, tend to be less financially literate than men,” said Annamaria Lusardi, an economics professor at Dartmouth College who has studied the issue. “The gap in financial literacy between women and men is large not only among older people, or those 50 and older, but also among young adults, an age group where women are more likely to have a college degree than men.”

That’s similar to what Eleanor Blayney, a financial planner who focuses on middle-age women, said she found when she gave a speech to her fellow alumnae at Mount Holyoke College a few years ago. “At the end, the hands went up, and they were all stuck at the very beginning of my speech,” said Ms. Blayney, who has a new book on the subject, “Women’s Worth: Finding Your Financial Confidence” (Directions). “They were scientists, professors, municipal elected officials. These were women with brains and jobs, and they were just at a loss to even know where to begin.”

Not all women lack financial skills, of course, and many may simply lack time. But studies show that women don’t find money and investing as interesting as men. Women also prefer to learn about money in person or in groups with others in their situation, as opposed to curling up with a book (the jury is out on whether pink covers help).

According to a 2007 study on gender differences by Tahira Hira of Iowa State University and Cäzilia Loibl of Ohio State University, women are still less likely to be socialized in financial matters, and they are more likely than men to find investment decisions stressful, difficult and time consuming. The study also found that it often takes a life event, like getting married, to prompt women to save and invest, whereas men were more likely to start investing gradually.

But while women may be less likely to enjoy investing, studies show that they may inherently be better investors than men. Females are less prone to risky behavior, for instance, and, unlike their confident male counterparts, they’re more likely to fess up to their own ignorance.

“One reason that women might be better financial decision makers, despite displaying, in general, lower literacy than men, is that women know what they do not know,” said Professor Lusardi, who is director of the Rand Financial Literacy Center..

Here’s a look at several resources geared to women:

ON THE WEB LearnVest.com is a new personal finance site for women in their 20s and 30s, but it plays down its femininity. “I wanted to approach this in a hip and sensible way,” said Alexa von Tobel, the 26-year-old founder who dropped out of Harvard Business School and started the site. “It’s personal finance in plain English in a way that women are more focused on.”

After users answer five questions about their phase in life, education, job situation and what they want to accomplish, the site generates a personalized action plan, including a checklist for various categories, like “understanding my salary.” Items on the list, which are marked off as you complete them, may include reading materials or exercises tied to a topic, like whether you should rent or buy a home.

Unlike the personal finance site Mint.com, LearnVest’s budgeting tool requires you to enter your information. Nor does it link to or automatically track your accounts. But it tells users how much money they have to work with after taxes and calculates weekly disposable income.

LearnVest also has a library of many financial topics — Cliffs Notes, as Ms. von Tobel describes them — as well as several other neat features, including a periodic 30-day financial boot camp, where participants receive an e-mail message each day with advice on tackling a small financial task.

IN PRINT The books that landed on my desk offer solid advice, if you can get past some of the silliness. Catey Hill, author of “Shoo, Jimmy Choo!” (Sterling) frosts her advice in pink, and she piles on the girlisms. “How did a cute, employed girl like yourself end up having to hock her skinny jeans on eBay just to pay the rent?”

Some women may think the references are cute, but others will find some of the tortured metaphors, like comparing little black dresses to financial basics, distracting. At least, they may wonder how long it will take to get to the budgeting and spending advice buried beneath, which, by the way, is solid.

In contrast, “Hot (Broke) Messes” (Business Plus), which comes out next month, has a more serious edge. The book, written by Nancy Trejos, is a memoir that details the author’s descent and slow emergence from debt — all the while doling out advice as The Washington Post’s personal finance writer. Ms. Trejos weaves advice about budgeting, getting professional help and credit cards into her tale, which is an engaging read and likely to resonate with younger women.

Several female financial planners, meanwhile, recommended some of Barbara Stanny’s books, including “Secrets of a Six-Figure Women” (HarperBusiness, 2002).

IN PERSON If you’d rather learn more about money with other women, you might consider a discussion group, or even starting a group of your own. Now in its 10th year, Women & Co., part of Citigroup, is a national group mainly of professional women. “We aim to provide education and insight to what we believe are the issues that women face,” said Lisa Caputo, the group’s founder and Citi’s chief marketing officer.

The group has a relatively robust Web site, but more important, it provides classes and other educational special events throughout the year. Membership costs $125, though the fee is waived for Citigold customers. (Just remember that the group is run by a bank that would like to sell you more services).

There are groups at the local level, too. Galia Gichon, founder of Down-to-Earth Finance, a financial education company in New York City, runs “Simply Money” seminars several times a year. Women get together to learn about a new topic each week. It costs about $300 for 12 sessions, or about $40 a class. She also gives “teleclasses,” the latest one being on organizing your financial life.

On the West Coast, the nonprofit group WISE — that’s Women Investing in Security and Education — runs annual conferences and mixers after work. “The educational aspect of WISE is really crucial,” said the founder, Helen Olsen, a retired molecular biologist whose interest in finance began to bud when she joined an investment club many years ago. “And we do it by having fun,” she added, “and enjoying each other as well.”

Ron Lieber is on assignment.

geregetan: detestosteronisasi … 290410

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 12:38 am

Besar Kecil Normal
Statin Diduga Bikin Lelaki Loyo
KAMIS, 29 APRIL 2010 | 07:25 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO Interaktif, Para penderita kolesterol tinggi sempat berharap pada statin. Obat ini bisa meluruhkan kolesterol di dalam pembuluh darah. Namun obat ini memiliki efek kegagalan hati dan kerusakan otot rangka. Nah, kini statin makin jadi gunjingan karena diduga menyusutkan gairah seksual lelaki, akibat menurunnya testosteron.

Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Fungsinya antara lain meningkatkan libido, energi, fungsi imun, dan perlindungan terhadap osteoporosis. Hormon ini merupakan hormon seks jantan utama. Lelaki menghasilkan testosteron sekitar 20 kali lebih banyak daripada wanita.

Penelitian di Italia menemukan hubungan antara penggunaan statin dan rendahnya tingkat hormon testosteron laki-laki. Giovanni Corona, MD, PHD, seorang peneliti di Universitas Florence di Italia, mengatakan terapi statin berhubungan dengan naiknya hipogonadisme, yakni kondisi ketika pria tidak cukup menghasilkan testosteron. “Naiknya dua kali lipat,” kata dia, seperti dikutip Healthday.

Ini adalah laporan pertama yang menunjukkan hubungan antara terapi statin dan kadar testosteron dalam kasus disfungsi seksual. Di Amerika Serikat, menurut data Centre for Disease Control, sekitar satu dari enam orang dewasa mengalami kolesterol tinggi. Akibatnya, pembeli statin naik 88 persen sejak 2000 hingga 2005, dari 15,8 juta menjadi 29,7 juta orang.

Dr Irwin Goldstein, direktur pengobatan seksual di Alvarado Hospital di San Diego, dikeluhkan para pasiennya yang kinerja seksualnya menurun setelah mereka mulai mengambil statin. Laporan ini diterbitkan di Journal of Sexual Medicine edisi April. “Fakta ini layak diobservasi,” kata dia.

Namun kemungkinan ini dibantah Jennifer St. Sauver, seorang epidemiologi di Mayo Clinic. Menurut dia, hasil penelitian di Italia bisa dijelaskan oleh populasi yang berbeda dan proporsi sampel. Di Minnesota, Amerika Serikat, 30 persen laki-laki mengambil statin. Dalam studi di Italia, hanya 7 persen dari 3.484 orang yang mengambil satin meminum obat itu.

Penelitian Italia juga tidak ada sampel orang tanpa masalah seksual sehingga tak bisa dibangun hubungan sebab-akibat. “Harus ada sampel orang tanpa disfungsi ereksi dan lihat berapa banyak yang mengambil statin,” kata St. Sauver.

Penelitian Minnesota termasuk orang-orang dalam populasi umum, sedangkan studi di Italia hanya melihat orang-orang yang dirawat untuk disfungsi ereksi.

Satu penelitian Institut Riset New England di AS pada 2007 tidak menemukan kadar testosteron yang lebih rendah dalam populasi umum laki-laki yang mengambil statin. Namun, turunnya testosteron bisa dijelaskan oleh faktor-faktor lain, seperti obesitas dan diabetes, daripada statin.

Penelitian tersebut dilakukan karena laporan bahwa adanya kemungkinan statin menurunkan risiko kanker prostat dengan mengurangi kadar testosteron. Saat itu belum ditemukan adanya efek perlindungan seperti itu. Tapi beberapa studi yang tersebar telah menemukan hubungan antara penggunaan statin dan tingkat yang lebih rendah hormon laki-laki.

Menurut Goldstein, lelaki yang mengkonsumsi statin dan mengalami masalah seksual tidak harus berhenti mengkonsumsi obat. “Mereka harus ke dokter untuk melakukan tes darah,” katanya. “Jika testosteron rendah, mereka tidak harus berhenti minum statin, tapi harus memulai perawatan testosteron.”

| nur rochmi | berbagai sumber

April 28, 2010

geregetan: pdb indon TUMBUH lumayan dah : 280410

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 5:58 am

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai denga triwulan I-2010 mencapai 5,7%. BI optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,5%-6% sampai akhir tahun 2010.

Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia S Budi Rochadi disela Asia Pacific Conference and Exhibition (Apconex 2010) di Jakarta Convention Center, Senayan, Rabu (28/04/2010).

“Pertumbuhan ekonomi domestik sampai dengan triwulan I-2010 sudah mencapai 5,7% dengan tingkat inflasi yang masih terkendali,” ujar Budi Rochadi.

Pada periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan ekonomi RI tercatat sebesar 4,4%. Dikatakan Budi, bank sentral masih memproyeksikan ekonomi sampai dengan akhir tahun 2010 akan mencapai 5,5%-6,6%. “Percepatan pertumbuhan perekonomian Indonesia juga didukung oleh membaiknya persepsi risiko,” tambahnya.

Dari sisi mikro, Budi mengatakan sampai dengan Februari 2010 Rasio Kecukupan Modal (CAR) terjaga di level 19,3%. “NPL (Rasio Kredit Bermasalah) Gross juga dibawah 4% dan NPL netto 1%,” tuturnya.

Ia menambahkan, angka-angka ini menunujukkan melimpahnya lukuiditas di perbankan. “Ditambah suku bunga PUAB rata-rata triwulan I-2010 turun mencapai 6,19% dibawah BI Rate yang sebesar 6,5% itu berarti terlihat banyak permintaan,” jelasnya.

Sumber: detikcom

geregetan: Yuan Mo DIG0T0NK … dah: 280410

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 4:39 am

HONG KONG, April 28, 2010 (AFP)
Hong Kong investors are snapping up the Chinese yuan amid widespread expectations that Beijing will soon respond to growing calls to revalue its currency.

The financial centre’s banks have seen a spike in currency transactions as speculation continues, with HSBC saying trade in March alone almost doubled from the previous month.

Dealers are rushing for the yuan as Beijing faces pressure to allow it to appreciate, with critics led by the United States saying it is being kept artificially weak — some say by as much as 40 percent — to boost exports.

Francesca McDonagh, head of personal banking services at HSBC Hong Kong, would not disclose the bank’s precise foreign-exchange trading figures, but said the recent surge was “not a tiny amount”.

The 90 percent increase in March was the highest monthly growth rate for the bank since it started yuan transactions in 2004, she added. “This is a very material upside increase from our retail clients,” she told AFP.

“We see that continuing in April.”

Hang Seng Bank has said yuan exchange transactions and yuan deposits recorded double-digit growth in the first quarter, with the trend likely to continue if the currency’s value goes higher.

In February, the Hong Kong Monetary Authority, the city’s de facto central bank, rolled out a series of measures that allowed banks to expand their yuan business.

The move was part of plan to make Hong Kong an offshore centre for trading in mainland China’s currency, with a view to the yuan eventually becoming an international currency.

Beijing had allowed the yuan to appreciate in a narrow band against the greenback until the global financial crisis began in 2008, when it informally pegged it at around 6.8 yuan to the dollar.

But the United States has called on China’s leaders to unshackle the currency amid bitter complaints in Congress that it was being manipulated.

Brazil and India recently joined the calls for revaluation and this month the International Monetary Fund advised China allow an appreciation for its own well-being, saying the undervalued currency was skewing world trade.

As speculation about revaluation mounts, Fubon Bank (Hong Kong) said it plans to roll out yuan-denominated insurance products over the next couple of months with partners China Life Insurance and MetLife.

“We know there is very hot demand for (yuan) denominated products so we’re looking probably to offer that in the second quarter,” said Harrison Ho, Fubon’s first vice-president and head of insurance.

“The market view is that the (yuan) will be increased or appreciate. No one would buy these products if they thought it would not happen.”

Despite the speculation China has so far held firm, saying it will not bow to pressure from the United States and describing its currency policy as a domestic matter.

The timing of any revaluation would depend heavily on diplomacy around the hot-button issue, said Grace Ng, an economist at investment bank JP Morgan Chase in Hong Kong.

Ng said she expected China to gradually boost its currency by about four percent over the coming year.

“Pressure from the US is a major factor in determining the exact timing of a revaluation,” she told AFP. “The US has been trying to lower the impression that it is pressuring China. That makes it a little easier from the China side.”

Beijing however isn’t likely to be influenced by news that investors are betting on the direction of its currency policy, said E. Yongjian, a Shanghai-based currency analyst with Bank of Communications.

“I don’t think it will have much impact on China’s policy, which stresses Chinese control (of the currency) and is unlikely to change due to overseas expectations of a yuan appreciation,” he said.

geregetan: cemas itu wabah, wabah itu mencemaskan… 280410

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 3:41 am

U.S. options risk gauge jumps on euro-zone woes
6:21pm EDT

By Angela Moon and Doris Frankel

NEW YORK/CHICAGO (Reuters) – Wall Street’s favorite measure of investor anxiety, the Chicago Board Options Exchange Volatility Index <.VIX>, logged its biggest one-day percentage jump in 18 months on Tuesday as investors fretted about euro-zone debt woes.

The VIX’s surge coincided with U.S. stocks posting their worst day in nearly three months after the credit ratings of both Greece and Portugal were cut, escalating concerns about their sovereign debt.

The so-called VIX jumped 30.6 percent to 22.81, its highest close since February 11.

The cost of insuring Greek and Portuguese debt against default rose to record highs after rating agency Standard and Poor’s slashed the sovereign ratings of both countries.

The benchmark Standard & Poor’s 500 index <.SPX> fell 2.34 percent to 1,183.71 after a significant advance. It has run up 75 percent from 12-year lows in March last year.

“That run has caused many market participants to believe that there is more downside risk than upside potential in the market,” said Jud Pyle, chief investment strategist at Options News Network, a division of option marketing firm PEAK6 Investments in Chicago.

“So when you get negative news like the Portuguese debt downgrade, it causes uncertainty, and that uncertainty is exemplified by the VIX.”

Chris McKhann, analyst at Web information site optionMonster, said the equities market is expected to see more stock gyrations in the coming weeks.

McKhann looks at volatility in relation to what traders are expecting from futures and options which are priced off of futures, on the VIX.

June VIX futures ended higher and stood at 22.40, with rest of the board pricing in additional volatility through the end of year.

VIX options activity was also brisk as about 228,000 calls and 127,000 puts changed hands, according to option analytics firm Trade Alert.

“Traders were buying VIX call options and S&P 500 put options as risk protection against a possible further downside correction in stocks,” said Dan Deming, VIX options trader at Stutland Equities.

“Traders are definitely bidding up VIX call options, buying everything they can get their hands on,” McKhann said.

One notable trade was the May 40 VIX calls which were bought at a premium for 25 cents, suggesting the volatility index would nearly double within the next three weeks, he said. The last time the VIX was above 40 was April 2009.

Coming into Tuesday, the historical volatility for the S&P 500 over the past 30 days stood at 9 percent, near its 52-week lows. “It will certainly come up after Tuesday’s setback in stocks,” McKhann said.

The VIX is a 30-day risk forecast of stock market volatility, conveyed by S&P’s 500 index option prices and generally moves inversely to the S&P benchmark index. Tuesday’s rise was the biggest since a 31.1 percent jump on October 22, 2008.

“There is plenty of uncertainty out there, and until the Greek financial situation and U.S. regulatory reform have more definitive answers, the 20 level in the VIX looks like it will part of the trading range for the rest of the summer,” said TD Ameritrade chief derivatives strategist Joe Kinahan.

(Reporting by Angela Moon and Doris Frankel; Editing by Kenneth Barry)



April 27, 2010

geregetan: bromo TIGA buronan … 280410

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 11:54 pm

Rabu, 28/04/2010 04:02 WIB
Bromo Masuk Tiga Besar Gunung Terbaik di Dunia bagi Pendaki
Anwar Khumaini – detikNews
Rusia – Indonesia patut berbangga. Gunung Bromo, gunung yang terletak di Probolinggo, Jawa Timur masuk tiga besar gunung terbaik di dunia bagi para pendaki dengan tanpa menggunakan porter. Gunung Bromo cuma kalah dari dua gunung lainnya, yakni Gunung Elbrus di Rusia dan Gunung Olympus di Yunani.

Seperti dikutip detikcom dari situs http://www.lonelyplanet.com, Rabu (28/4/2010), Gunung Bromo bahkan mengungguli beberapa gunung terkenal di dunia lainnya seperti Gunung Fuji di Jepang, Gunung Sinai di Mesir dan Jabal Toubkal di Maroko.

Berikut data tiga besar gunung di dunia yang layak untuk didaki seperti dimuat di situs yang berkantor pusat di Rusia tersebut:

Gunung Elbrus, Rusia

Gunung Elbrus merupakan bagian dari Pegunungan Alpen di Eropa. Gunung ini merupakan salah satu gunung tertinggi di Eropa yang memiliki ketinggian 5.642 meter. Terletak di antara perbatasan Georgia dan Rusia, Gunung Elbrus terlihat kokoh menantang langit. Dari mulai ketinggain 1.000 meter, gunung ini dikelilingi oleh gletser yang membuat tampilan Elbrus menjadi kian indah.

Gunung Olympus, Yunani

Gunung Olympus dikenal sebagai tempat para dewa bersemayam. Ini adalah gunung tertinggi di Yunani dengan ketinggian mencapai 2.918 meter. Hingga saat ini, gunung tersebut dipakai untuk menyembah para dewa. Untuk mencapai puncak gunung tersebut, dibutuhkan waktu kurang lebih selama dua hari.

Gunung Bromo, Indonesia

Gunung Bromo nan eksotik muncul dari lembah Pegunungan Tengger. Bromo adalah salah satu dari tiga puncak gunung berapi di Jawa Timur. Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.392 meter.

Rute termudah dan paling populer untuk melakukan pendakian di Bromo adalah dari Cemoro Lawang yang bisa diakses dari Kota Probolinggo. Untuk mencapai puncak Bromo, harus melewati kawah pasir terlebih dahulu. Cukup melakukan pendakian selama satu jam saja, Anda sudah bisa mencapai puncak Bromo.

Dari puncak Bromo, Anda bisa menikmati pemandangan indah, seperti kawah panas dan Gunung Semeru yang masih dalam satu rangkaian dengan Gunung Bromo. Seperti gunung-gunung di seluruh dunia pada umumnya, waktu yang paling disukai untuk mencapai puncak Bromo adalah saat matahari terbit.

Sementara 7 gunung lainnya yang masuk 10 besar gunung terbaik di dunia yang layak untuk didaki adalah Jebel Toubkal di Maroko, Gunung Matterhorn di Switzerland, Gunung Table di Afrika Selatan, Gunung Ben Nevis di Skotlandia, Gunung Sinai di Mesir, Gunung Fuji di Jepang, dan Gunung Half Dome di Amerika Serikat. (anw/anw)

geregetan: lakukan kebiasaan BAIK supaya awet … 270410

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 7:45 am

Bad habits can age you by 12 years, study suggests

By LINDSEY TANNER, AP Medical Writer – Mon Apr 26, 6:26 PM PDT
CHICAGO – Four common bad habits combined — smoking, drinking too much, inactivity and poor diet — can age you by 12 years, sobering new research suggests.

FILE – In this Tuesday, June 3, 2008 file photo, an employee takes a drag on a cigarette at Morgan’s Place bar and restaurant in Harrisburg, Pa. Four common bad habits combined — smoking, drinking too much, inactivity and poor diet — can age you by 12 years, sobering new research suggests. (AP Photo/Carolyn Kaster, File)
The findings are from a study that tracked nearly 5,000 British adults for 20 years, and they highlight yet another reason to adopt a healthier lifestyle.

Overall, 314 people studied had all four unhealthy behaviors. Among them, 91 died during the study, or 29 percent. Among the 387 healthiest people with none of the four habits, only 32 died, or about 8 percent.

The risky behaviors were: smoking tobacco; downing more than three alcoholic drinks per day for men and more than two daily for women; getting less than two hours of physical activity per week; and eating fruits and vegetables fewer than three times daily.

These habits combined substantially increased the risk of death and made people who engaged in them seem 12 years older than people in the healthiest group, said lead researcher Elisabeth Kvaavik of the University of Oslo.

The study appears in Monday’s Archives of Internal Medicine.

The healthiest group included never-smokers and those who had quit; teetotalers, women who had fewer than two drinks daily and men who had fewer than three; those who got at least two hours of physical activity weekly; and those who ate fruits and vegetables at least three times daily.

“You don’t need to be extreme” to be in the healthy category, Kvaavik said. “These behaviors add up, so together it’s quite good. It should be possible for most people to manage to do it.”

For example, one carrot, one apple and a glass of orange juice would suffice for the fruit and vegetable cutoffs in the study, Kvaavik said, noting that the amounts are pretty modest and less strict than many guidelines.

The U.S. government generally recommends at least 4 cups of fruits or vegetables daily for adults, depending on age and activity level; and about 2 1/2 hours of exercise weekly.

Study participants were 4,886 British adults aged 18 and older, or 44 years old on average. They were randomly selected from participants in a separate nationwide British health survey. Study subjects were asked about various lifestyle habits only once, a potential limitation, but Kvaavik said those habits tend to be fairly stable in adulthood.

Death certificates were checked for the next 20 years. The most common causes of death included heart disease and cancer, both related to unhealthy lifestyles.

Kvaavik said her results are applicable to other westernized nations including the United States.

June Stevens, a University of North Carolina public health researcher, said the results are in line with previous studies that examined the combined effects of health-related habits on longevity.

The findings don’t mean that everyone who maintains a healthy lifestyle will live longer than those who don’t, but it will increase the odds, Stevens said.

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: