eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Februari 25, 2010

pelan-pelan saja: emas is A MUST (36) … 250210

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 2:34 pm

Emas, Investasi Jitu di Tahun Macan Emas
CLSA memperkirakan pada 2010 menjadi tahun untuk emas.
RABU, 17 FEBRUARI 2010, 09:54 WIB
Heri Susanto

BERITA TERKAIT
Orang RI Paling Yakin Keuangannya Membaik
BRI Akan Buka Tabungan Emas
Menabung Dengan Pulsa, Kenapa Tidak!
Tips Agar Anda Tak Tertipu Dalam Berinvestasi
Tips Berinvestasi Bagi Investor Pemula

VIVAnews – Bangsa dan keturunan China baru saja merayakan Imlek pergantian tahun. Kini, menurut kepercayaan China, memasuki Tahun Macan Emas.

Berdasarkan tradisi China, pergantian tahun juga menjadi arahan bagi bisnis dan investasi mereka. Tahun Macan Emas dikaitkan dengan perubahan besar dan volatilitas.

Lantas, apa maknanya bagi investasi?

Menggabungkan tradisi China yang percaya nasib tergantung waktu atau Feng Shui dengan tren pasar, CLSA baru-baru ini meluncurkan laporan tahunan Indeks Feng Shui untuk melihat bagaimana prospek investasi 2010, untuk saham, komoditas dan properti. Pesan utama mereka adalah “Ini tahun gejolak. Jadi tetaplah bersikap tenang.”

“Tahun Macan identik dengan perubahan dramatis dan pergolakan,” demikian disampaikan dalam laporan yang dipublikasikan terkait Imlek tersebut.

Seperti halnya roller-coaster, tidak ada titik tertinggi tanpa ada yang terendah. Namun, demikian anda bisa ancang-ancang lebih baik jika anda melihat putaran itu sebelum tiba.

Ini mungkin tidak mengejutkan bahwa Tahun Macan Emas melambangkan pada barang berharga itu sendiri. Lembaga investasi terkenal, CLSA memperkirakan pada 2010 menjadi tahun untuk emas. Bahkan, CLSA memperkirakan harga emas kuning akan memecahkan rekor pada US$ 2.000 per ons.

“Kami melihat harganya akan terus naik pada pertengahan tahun,” ujar laporan itu.

Ahli Feng Shui, seperti dikutip CNBC, Brandon Chua juga memiliki pendapat yang sama. “Saya kira harga emas akan terus naik.”

Produk logam lainnya, seperti tembaga, perak, seng, dan alumunium juga diperkirakan akan naik pada tahun ini. Sedangkan, investasi lain yang terkait dengan air, seperti pelayaran dan transportasi tampaknya tidak terlalu bagus.

heri.susanto@vivanews.com

• VIVAnews

Iklan

Februari 24, 2010

pelan-pelan saja: emas is A MUST (35) … 240210

Filed under: EMAS or GOLD...ce'ileh... — bumi2009fans @ 12:41 am

Selasa, 23 Februari 2010 | 09:45

PROSPEK HARGA EMAS

Harga Emas Batangan Ikut Terangkat Pasar Berjangka

JAKARTA. Harga emas batangan di pasar domestik mulai menanjak, mengekor transaksi logam mulia di pasar berjangka. Lihat saja, harga emas batangan di Unit Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk, Senin (22/2), naik 2,05 % menjadi Rp 348.000 per gram. Ini merupakan rekor harga tertinggi emas batangan dalam sebulan terakhir.

Martono, Manager Pemasaran Logam Mulia, mengatakan, kenaikan harga emas batangan ini tidak lepas dari pergerakan harga kontrak emas. Sampai pukul 15.30 WIB kemarin, harga kontrak emas pengiriman April 2010 di bursa NYMEX naik 0,21% menuju US$ 1.124,5 per ons troi.

Martono bilang, selama pekan lalu permintaan emas relatif naik. “Rata-rata terjual 10 kilogram per hari,” kata dia. Rudy Kurniawan, Manajer Divisi Syariah Perum Pegadaian, mengakui bahwa volume penjualan emas batangan memang tidak melonjak drastis. “Tapi terlihat ada tren peningkatan,” tuturnya.

Penjualan emas batangan di Pegadaian saat ini rata-rata sebanyak 2 kg per hari. “Dalam setahun ini, total penjualan emas bisa mencapai 600 kilogram,” kata Rudy.

Pegadaian tahun ini menargetkan total penjualan emas batangan sebanyak 250 kg atau naik 79% dari realisasi penjualan tahun lalu sebanyak 140 kg. “Daerah penjualan kami semakin luas sehingga permintaannya bertambah,” imbuh Rudy.

Pelaku pasar optimistis harga emas batangan akan lebih tinggi lagi. “Harga emas pernah mencapai Rp 385.000 per gram, ketika nilai tukar rupiah Rp 12.000 per dollar AS di awal 2009,” kata Rudy.

Ke depan harga emas batangan berpeluang menanjak lagi seiring menguatnya harga emas di pasar berjangka. “Jika harga kontrak emas menyentuh US$ 1.200 per ons troi, maka harga emas batangan bisa mencapai Rp 360.000 per gram,” tutur Martono.

Wahyu Tri Rahmawati, Sandy Baskoro
Be brave on gold and Vietnam oil
Robin Bromby From: The Australian February 23, 2010 12:16PM
Increase Text Size
Decrease Text Size
Print
Email
Share
GOLD stocks led the way down when trading began this morning after the yellow metal fell $US9 to $US1113/oz in New York overnight.

But be still your trembling heart.

Usually, when reporting what analysts have to say, the routine is to condense their comments with perhaps one of two pithy quotes. But Warwick Grigor is pretty pithy throughout in his latest client note. And anyone who has gone weak at the knees about their gold investments should read what he has to say, take a belt of something strong, and calm down.

He makes the point that commodities and currencies came off against the US dollar when the euro was battered last week. But he goes on:

“That was understandable, but what didn’t make sense was the slump in the gold price. It should have actually moved higher. There is no point wondering too long on this, though, as we know that central banks and particularly the Fed take every opportunity (they) can to lay the boot into the gold price – and still it recovers.

“We have been saying for some time now that the world will have to reinflate to absorb the high levels of government debt,” he continues. “Some commentators have scoffed at this idea, saying it can’t happen when there is a threat of a recession. Those people are being too academic, and not viewing the future with the cynicism that history forces on to us. There will be inflation, and that will be good for gold.

“The IMF has just said there is nothing wrong with countries aiming for a 4 per cent inflation rate. Really! Why do they pick on that figure? Does that mean we already have inflation? If they aim for 4 per cent, do you think they can hold it at that level? They are preparing us for bad news.

It gets better. Grigor concludes: “The announcement that the IMF will sell 191 tonnes of gold is just another attempt to hold down the gold price. When this tactic was last used in earnest, in the late 1970s, it just fuelled the rise in the gold price. It will happen again. Watch what happens when China or India snaps up the parcel. It will lead to a $50/oz jump in the gold price overnight. Keep buying those gold stocks and take advantage of the recent weakness.”

Now, Grigor has never been one of your gold conspiracy theorists. In fact, his comments reflect a view that has now entered the mainstream of gold market commentary. And, more importantly, coincide with those at Pure Speculation.

****

BUT there’s gold, and there’s gold in Zimbabwe.

The government in Harare has the occasional moment of rational thought, and last year removed draconian rules applying to gold mining. This has seen a number of companies looking to re-enter the country.

From Pure Speculation’s point of view, there is undoubtedly a lot of gold in Zimbabwe. But is the potential for trouble just so great that it makes it just too hard?

So it was intriguing to see an announcement this morning out of Cape Range that it was taking an option over the Kadoma gold project in that benighted southern African country. It looks great on paper: it is located next to the Cam and Motor mine, the biggest gold operation in Zimbabwe’s history. And there is a long list of impressive sample results, including 160m at 10.8 grams/tonne and 60m at 65.8g/t.

The deal, if it goes through, will involve issuing $2 million worth of shares to a Hong Kong outfit.

Yet there was a notable omission in the release today. Given that it is all about Zimbabwe, is Pure Speculation being totally unreasonable in asking whether Cape Range might have added a few sentences on how it saw the political risk? Or how it assessed the present climate for investment in Zimbabwe? Perhaps, though, we’re being a little old fashioned worrying about such things.

Perhaps we are being an old fuddy-duddy by watching with interest the battles over the diamond business being waged in Zimbabwe between political and business figures over control of the stones. And noting – also with interest – that Finance Minister Tondai Biti has been making noises about foreign miners making a greater contribution to the government’s revenues – perhaps he should study Ken Henry’s plan for a resources tax as a way to really stick it to the miners.

And Zimbabwe is moving to provide that foreign enterprises hand over 51 per cent of their businesses to indigenous owners within five years. (But, to be fair, at least the Harare mob haven’t spent billions on making fire traps of hundreds of thousands of their citizens’ homes.)

Big turnover this morning in CAG, with 36m going through. Interesting, though, that the price is unchanged at 0.8c.

Cape Range has a long and interesting history, having been Cape Range Oil until 1987 and Cape Range Wireless at one stage of life. Then there was its “breakthrough” power technology that never broke through (and which your correspondent could never understand, no matter how many times it was explained to him).

Zimbabwe is just one more interesting Cape Range project.

****

pelan-pelan saja: properti @ausie, bwat banding2…240210

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:28 am

Houses are a safe bet if you buy wisely
Robin Bromby From: The Australian February 24, 2010 12:00AM

DONE right, buying an investment property can transform your finances.

Say you bought an investment property for $500,000 10 years ago. Its value, on a conservative estimate, is now $1.1 million.

Using your home’s equity, you borrowed more than the purchase price in order to cover the stamp duty, and took an interest-only loan.

However, you kept pumping spare money into the mortgage account, getting the outstanding balance down to $300,000, at which point the rent covers the interest bill. You now want to cash out. After repaying the outstanding mortgage, you’re left with $800,000, including $600,000 subject to capital gains tax.

Assuming your other earnings this year are $100,000 (and leaving agent and legal fees, plus any money you spent on improvements, out of the equation), the tax man will take $133,900 for capital gains. That leaves you with $666,100 in your hand.

Related Coverage
Gotta know where and when to hold ’em The Australian, 11 hours ago
Investors gear up for rent rises Adelaide Now, 9 days ago
High expectations for rental market The Australian, 12 Feb 2010
Living the landlord dream Adelaide Now, 1 Feb 2010
Being the lord of your land Courier Mail, 31 Jan 2010

Which is not a bad result considering you put up zero capital to begin with. For a salary or wage earner on medium scale, a windfall of two-thirds of a million over 10 years is probably as good as it gets.

Provided, of course, you buy at the right time, at the right price and — most important — in the right place. And you were prudent when it came to calculating how much you could safely borrow, of course.

Had our hypothetical property investor bought at the top of the price cycle, or in an unfashionable area, the outcome would not have been nearly so felicitous.

But, assuming you have cleaned up, taking your profit is one scenario.

John Manciameli, who is a franchise holder with Mortgage Choice, suggests another strategy: keep buying more property.

Now 39, he bought his first investment property at the age of 27, and by 32 he had seven. The key, in his view, is to use increasing equity in existing properties to leverage for further purchases.

Rather than cash up, says Manciameli, wait until your first and, possibly, second properties have appreciated to the level where you can sell them and reap profits that will extinguish the mortgages on more recently purchased properties. You may not be getting your hands on the cash, but you have

several income producing (and mortgage free) properties.

There are plenty of rules that apply and plenty of advice available for those who want to take the plunge into an investment property. It’s a cliche now, but a cliche any investor ignores at their peril, and that is the golden rule: location, location, location.

Lisa Montgomery, head of consumer advocacy at Resi Mortgage Corp, says there are plenty of areas across the country that offer the potential for growth and capital gain.

In Melbourne, there’s Frankston and the peninsula where money is being ploughed into improved transport and infrastructure. There’s the growth corridor of southeast Queensland, around Logan and Beenleigh; and parts of the outskirts of Adelaide are being tipped to show good property price gains over the coming 12 to 24 months. As for Sydney, Montgomery sees part of the inner city, along with the suburbs just beyond Leichhardt and into the Hills district, as areas that should be on investors’ radars. Manciameli avoids regional areas but, other than that, looks for bargains wherever they pop up, which is the reason that his portfolio covers Sydney, Darwin, Brisbane and Perth.

Best of all in his mind: Sydney. Nowhere else in the country has such an undersupply of property been combined with a flood of new migrants, he argues.

Wherever you are looking, search for areas that have population growth and changing demographics, Manciameli says. Parramatta in Sydney’s west is one example. It is undergoing an extensive transformation and will house the country’s largest legal precinct.

Concentrating everyone’s minds at the moment, according to anecdotal evidence, are two factors. One is the threat of higher interest rates, the other the potential for higher rents.

Some newspaper reports on the property outlook would tend to encourage you to take the plunge.

There is talk of a bumper year for investors as rent levels surge and properties appreciate. This is based on the reasoning that the end of the first-home buyer’s grant will ease the pressure on property demand (and prices), while the threat of higher interest rates will deter some renters from buying.

Australian Property Monitors have forecast rents will rise by up to 11 per cent this year. Even outside Sydney and Melbourne, income prospects look good. Rents for houses in Adelaide are forecast to rise an average 6.3 per cent, for units by 7.7 per cent.

But there is also evidence to the contrary. In the December quarter, according to Australian Property Monitors, Melbourne was the only big city where asking rents for houses did not move in the December quarter, the average staying at $360 a week, the same level as a year earlier. They ascribed this partly to the first-home buyer’s grant taking the pressure off rental accommodation.

Remember, the forecasts for rent increases are only that: forecasts. So are the predictions for more interest rate rises, but no would-be investor should fail to factor in the Reserve Bank adding another few rises this year.

Capital gain is one thing, income another. The latest RP Data-Rismark home value index shows the gap.

Rents may not have moved in Melbourne, but the cost of becoming a landlord did. Melbourne dwelling values rose 15.6 per cent in 2009, beaten only by Darwin (16.6 per cent).

Sydney, Hobart and Canberra were all in double-digit growth figures, while the remaining state capitals lagged: Brisbane rose by 7.3 per cent, Perth by 7.1 per cent and Adelaide by 6.2 per cent. But the report also shows that rental markets across the country have failed to keep pace with the rapid growth in home values, resulting in lower rental yields across every capital city. Nationally, yields fell by 2.5 per cent during 2009. The highest rental yields were in Darwin (5.7 per cent for houses, 5.9 per cent for units), the lowest yields for houses in — yes, you guessed it — Melbourne (3.7 per cent) and for units in Perth (4.4 per cent).

But you can’t beat the Australian appetite to buy property, and then even more property. Resi’s research shows the number of people planning to become property investors has doubled during the past year.

But first, Montgomery suggests you sit down and answer a few basic questions before taking the plunge.

The first question: Do you have a detailed financial plan or retirement structure? Then the other things you should ask yourself, such as whether you have attained enough equity in another property that you can borrow against it; whether you are likely to have any surplus cash flow to funnel into the mortgage; and whether there is a lump sum of money likely to land (an inheritance or work bonus, for example).

And, we would add, always allow a margin for the unexpected.

pelan-pelan saja: FULL JORR EXPECTED nicely …240210

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:19 am

DKI desak sarana warga sekitar tol
JORR W1 akan lebih efektif jika JORR W2 rampung

JAKARTA: Pemprov DKI mendesak pengelola jalan tol lingkar dalam Jakarta (JORR) W1 segera melengkapi sarana dan prasarana pendukung, karena menghambat akses dan aktivitas warga sekitarnya.
Sementara itu, pembangunan pusat bisnis dan permukiman baru di kawasan sekitar pintu gerbang jalan tol harus dihindari untuk mencegah munculnya kemacetan lalu lintas di lokasi baru.

Gubernur DKI Fauzi Bowo mengingatkan Kementerian Pekerjaan Umum bahwa sarana dan prasarana pendukung tol JORR W1 sampai saat ini belum dibangun meskipun ruas itu sudah resmi dioperasikan.

Beberapa sarana dan prasarana pendukung yang harus dipercepat pembangunannya a.l jembatan penyeberangan orang mengingat kehadiran jalan tol itu telah memotong atau menghapuskan akses penghubung warga dengan lokasi aktivitasnya.

Selain itu, pembangunan JORR W1 juga memotong akses jalan raya yang ada, seperti di Jl Raya Kapuk Jakarta Barat yang terputus dan belum disambung kembali aksesnya.

“Pemprov DKI telah mengirimkan surat resmi pada Kementerian PU untuk segera merealisasikan hal itu, agar aktivitas warga Jakarta tidak terganggu hanya karena pembangunan jalan tol yang menghubungkan jalan tol Tomang di Kebon Jeruk dengan jalan tol Bandara Soekarno Hatta di Penjaringan itu,” papar Fauzi, kemarin.

Sementara itu pembangunan pusat bisnis dan permukiman baru di kawasan sekitar pintu gerbang jalan tol JORR harus dihindari karena berpotensi menimbulkan kemacetan lalu lintas.

“Pemprov DKI harus berani menolak pengembang yang minta izin membangun bangunan properti di sekitar pintu gerbang tol itu,” tutur perencana kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna.

Kalau sampai diberikan izin pembangunan bangunan properti skala besar, menurut dia, akan terjadi kemacetan yang parah di pintu masuk dan keluar gerbang tol itu.

Pengalaman menunjukkan setiap kali dibangun jalan arteri atau jalan tol di Jakarta dan daerah sekitarnya, segera bermunculan bangunan properti baru di kanan-kirinya.

Kondisi yang sama diperkirakan akan terjadi di sepanjang jalan tol JORR West-1 Kebon Jeruk-Penjaringan dan West-2 Kebon Jeruk-Ulujami, jika Pemprov DKI tidak dapat mengendalikan.

“Sebab belum ada sosialisasi bahwa pembangunan jalan tol JORR W1 dan W2 sudah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah Jakarta 2030 yang sedang disusun.”

Selain mengendalikan pembangunan properti itu, Pemprov DKI juga perlu mengawasi rencana pembangunan pintu gerbang baru yang akan dilakukan operator JORR. “Pembangunan pintu gerbang di ruas jalan tol JORR yang tidak terkendali justru akan menghambat arus lalu lintas di jalan tol itu sendiri dan ruas jalan di luarnya.”

Dengan dibukanya JORR W1, pelaku bisnis menilai waktu pengiriman barang akan lebih tepat sehingga dapat menekan biaya logistik.

“Sebab selama ini biaya logistik di Jakarta dan daerah lain sangat mahal akibat buruknya infrastruktur dan lalu lintas macet,’ tutur Wakil Ketum Kadin Jaya Yukki N. Hanafi.

Hadirnya JORR W1, lanjutnya, akan mengurangi kepadatan arus lalu lintas di jalan tol simpang susun Tomang sehingga arus pengiriman barang dari Pelabuhan Tanjung Priok ataupun dari kawasan industri di Cilegon dan daerah lain di Banten serta Jawa Barat menjadi lebih lancar.

“Kelancaran arus barang sangat penting bagi kalangan dunia usaha, terutama industri yang produk barang jadi, untuk menjamin ketepatan waktu pengiriman [delivery] kepada pembeli dan pemesan,” ujarnya.

Tunggu JORR W2

Gubernur DKI mengakui operasional JORR W1 memang baru terasa efektif jika pembangunan JORR W2 sudah terealisasi. Karena dua jalan tol ini saling berimpitan satu sama lain sehingga kendaraan yang masuk JORR W1 bisa langsung menuju JORR W2 tanpa perlu masuk ke jalan dalam kota.

Karenanya, dia berharap agar pembangunan JORR W2 bisa segera dirampungkan tahun ini atau paling lambat tahun depan, sehingga upaya menekan kemacetan di Jakarta bisa lebih optimal.

“Jika keduanya sudah beroperasi, saya yakin kemacetan terutama di kawasan Gatot Subroto dan S. Parman yang selama ini terjadi di jam-jam sibuk bisa dikurangi. Jadi kita harapkan ini segera direalisasikan,”ujar Fauzi.

Deputi Bidang Perdagangan, Industri dan Transportasi Sutanto Husodo mengatakan sampai saat ini proses pembebasan lahan untuk JORR W2 masih belum dilaksanakan karena belum adanya kesepakatan harga antara warga Pemprov DKI.

Berdasarkan aturan, Pemprov DKI hanya bisa menerapkan harga jual tanah sesuai dengan nilai jual obyek pajak (NJOP), sedangkan warga meminta harga jual tanahnya lebih dari harga NJOP.

Selain pembangunan kedua tol JORR tadi, menurut Fauzi, kemacetan Jakarta juga dapat ditekan jika akses tol Tanjung Priok bisa segera dibangun karena dengan pengoperasian jalan tol lingkar dalam dan pengembangan lingkar luar tol itu, mobilitas kendaraan akan lebih luas dan merata,

Yukki juga mengakui jika sebaiknya pemerintah mempercepat pembangunan jalan tol JORR W2 Ulujami-Kebon Jeruk untuk mengintegrasikan seluruh jalan dari dan ke Merak-Bandara Soekarno Hatta-Serpong-dan Cikampek.

“Pembangunan JORR W1 dan W2 memiliki arti penting untuk mendukung industri dalam negeri mencapai tingkat efisiensi optimal pada biaya logistik dan ketepatan waktu distribusi.” (mia.chitra@bisnis.co.id/nurudin.abdullah@bisnis.co.id) (Rustam Agus)

Oleh Mia Chitra Dinisari & Nurudin Abdullah
Bisnis Indonesia
SEPUTAR KOTA
Sebagian Tubagus Angke ditutup

JAKARTA: Dinas PU dan Dishub DKI mulai hari ini akan menutup sebagian ruas jalan di Tubagus Angke sehubungan adanya pekerjaan fly over di Jl. Pangeran Tubagus Angke Jakarta Barat.
Kepala Dinas Perhubungan DKI M Tauchid mengatakan dengan penutupan jalan itu, sebagian arus kendaraan akan dialihkan ke beberapa jalan alternatif di sekitarnya.

Bagi kendaraan dari arah timur yakni Jl. H Mas Mansyur atau Pejagalan yang akan menuju Jl Jembatan Dua atau Dr Latumeten, akan dialihkan ke Jl. Gedong Panjang-Jl Pluit Selatan Raya-Jl. jembatan Dua dan seterusnya. Sedangkan kendaraan dari Jl.Dr Latumeten atau Jembatan Dua yang akan menuju Gedong Panjang atau Kota Tua, disarankan melalui jembatan Tiga Jl. Pluit Selatan dan seterusnya.

Pembangunan fly over Tubagus Angke telah dilaksanakan sejak pertengahan Januari 2010. (Bisnis/mcd)

Februari 23, 2010

pelan-pelan saja: keberatan MISI PRIBADI, dokter indon KONTROVERSIAL

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 11:07 pm

Rabu, 24/02/2010 04:07 WIB
Pelayanan Kesehatan Buruk
IDI Harus Perbaiki Kinerja Dokter
Didi Syafirdi – detikNews

Foto: Ilustrasi Jakarta – Cerita miring kinerja dokter di Indonesia diulas secara luas di dunia internasional. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) diminta segera memperbaiki kinerja para dokter.

Adalah wartawan Jason Tedjasukmana, yang menjadi koresponden untuk Time Asia menceritakan pengalaman pribadinya saat menderita sakit mata dan harus berobat ke dokter-dokter di Indonesia.

Di saat, tak ada satu dokter Indonesia pun yang bisa mendiagnosis penyakitnya, dokter Amerika bisa mengetahuinya hanya dalam 5 menit.

“Saya terpaksa pergi ke Amerika karena enam dokter di Indonesia sudah tidak bisa menjelaskan penyakit tersebut. Berbeda dengan dokter Indonesia, seorang dokter di Michigan langsung bisa mendiagnosis masalah dalam 5 menit,” ujar Jason seperti dikutip detikcom dari Situs majalah Time edisi 17 Februari 2010.

Menanggapi keluhan ini Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Kartono Mohammad meminta agar IDI dapat segera merespon keluhan tersebut untuk melakukan perbaikan.

“Saya menghimbau IDI lakukan tindakan perbaikan, anggap saja kritik untuk mencambuk,” ujar Kartono saat berbincang dengan detikcom, Selasa (23/2/2010) malam.

Menurut Kartono, hal seperti ini harus dijadikan pemicu seperti kasus Prita Mulyasari yang mengeluhkan pelayanan di RS Omni Internasional. “Kasus-kasus seperti itu harusnya menjadi pemicu buat Menkes memperbaiki mutu pelayanan,” kata Kartono.

Jika tidak segera diperbaiki lanjut Kartono, jangan berharap Indonesia dapat bersaing dengan negara lain dalam hal kesehatan. Masyarakat akan memilih ke luar negeri untuk berobat

“Sebaiknya segera diperbaiki kalau kita ingin bersaing dengan negara lain. Jangan sampai orang Indonesia berobat ke luar negeri,” katanya.

Kartono juga meminta agar tidak melulu menyalahkan minimnya peralatan. Sudah seharusnya pemberi pelayanan memperbaiki mutu pelayanannya. “Indonesia sudah canggih, pemberi pelayanan yang harus diperbaiki,” tandasnya. (did/mok)

pelan-pelan saja: parkir di LANGIT-LANGIT aja …:P

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 1:23 am

10 Pengelola parkir nakal kena sanksi
Fauzi: Tarif parkir di DKI mestinya lebih mahal

JAKARTA: Sedikitnya 10 operator parkir swasta di Jakarta masih mengenakan tarif lebih tinggi berdasarkan hasil evaluasi dari unit pelaksana teknis (UPT) Parkir DKI.
Kepala UPT Parkir DKI Benyamin Bukit mengatakan 10 perpakiran swasta itu akan dikenakan sanksi teguran melalui surat peringatan tahap 1, yang jika dilanggar maka dilakukan proses lanjutan berupa surat peringatan tahap kedua dan ketiga.

Jika dari surat peringatan itu belum juga dipenuhi, akan dilakukan dengan proses penutupan usaha dengan pencabutan mesin parkir dan gardu parkir. “Jika mereka tidak juga mengindahkan teguran kami dan terus melanggar, bisa kami pidanakan bekerja sama dengan kepolisian,” ujarnya kemarin.

Penerapan sanksi itu, katanya, sesuai dengan Pergub No.92/2004 tentang Pengelolaan Parkir di Jakarta, yang menyebutkan teguran pertama diberlakukan selama 3 hari, teguran kedua berlaku selama 2 hari, dan peringatan ketiga berlaku selama 1 hari. Adapun dalam pergub itu juga disebutkan UPT parkir dapat melakukan langkah selanjutnya yakni penutupan tempat usaha.

Dia mengatakan berdasarkan observasi yang dilakukan UPT Parkir selama 2 pekan terakhir, ada sebanyak 87 perpakiran swasta yang melakukan penyimpangan tarif. Kemudian, berdasarkan atas peringatan dan teguran UPT mereka sepakat untuk mengembalikan ke tarif semula pada Selasa pekan lalu.

Komitmen itu, telah disepakati oleh seluruh pengelola, terutama dari Secure Parking. Namun, kemudian diketahui ada 10 di antaranya yang masih melanggar. Di Jakarta sendiri, menurut Benyamin ada sebanyak 554 operator yang memiliki izin usaha yang dikeluarkan oleh UPT Parkir.

UPT, lanjutnya, akan menindaklanjuti keinginan operator swasta untuk mengkaji kembali isian Pergub No. 48/2004 tentang Tarif Parkir dan Retribusi Daerah, dan menyampaikan usulan itu kepada Dinas Perhubungan dan Pemprov DKI untuk dibahas bersama.

“Karena ini bukan kewenangan kami dalam menetapkan tarif, jadi akan kami sampaikan usulan ini,” tambahnya.

Mereka juga mengimbau bagi warga yang menemukan pengelola parkir swasta yang masih melakukan pelanggaran, mereka bisa melaporkan langsung pada UPT parkir melalui Nomor telepon ke 08118118999.

Tarif retribusi parkir diatur berdasarkan perda No.1/2006 tentang Retribusi Daerah. Di dalamnya diatur besaran tarif retribusi parkir untuk mobil pada jalan golongan A Rp1.000 dan dapat dipungut secara progresif apabila tersedia alat ukur parkir.

Tarif lebih tinggi

Gubernur DKI Fauzi Bowo setuju jika tarif parkir di Jakarta sebagai ibu kota negara nilainya lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Dia juga menyetujui jika penetapan tarif parkir diterapkan dengan sistem zoning per wilayah untuk mengurangi beban jumlah kendaraan pribadi yang menjadi pemicu utama dalam kemacetan di Jakarta.

Meski demikian, katanya, sistem itu perlu dipelajari dan dilakukan kajian yang mendalam agar penerapannya bisa efektif dan tidak lantas menjadi sumber masalah baru.

Selain itu, pola pikir warga yang selama ini menganggap pungutan parkir merupakan sumber penerimaan Pemda DKI itu perlu juga diubah karena, pungutan ini juga ditujukan sebagai instrumen pengaturan lalu lintas, bukan semata sebagai sumber uang.

“Sebetulnya saya setuju kalau tarif parkir di Jakarta itu ditetapkan sesuai dengan referensi kota-kota besar lain, karena harga properti disini kan juga udah mahal,” ujarnya. (mia.chitra@ bisnis.co.id)

Oleh Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia

pelan-pelan saja: briC-R+i= biiC … 230210

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:56 am

Dunia capai keseimbangan baru
China, India, Brasil, dan Indonesia bisa menjadi penyeimbang ekonomi global

JAKARTA: Krisis finansial yang mendera ekonomi dunia dalam 2 tahun terakhir praktis menciptakan keseimbangan baru di tataran ekonomi global.
Laporan riset investasi yang disusun ekonom UBS AG, menyebutkan keseimbangan baru di dunia saat ini terutama terpicu oleh menurunnya surplus neraca keuangan yang dicatat negara-negara penghasil minyak serta China, Jerman, dan Jepang.

Negara-negara maju di Eropa Barat dan Timur serta AS yang sebelumnya dikenal sebagai ekonomi yang kuat mengalami kontraksi pada neraca berjalannya. Kondisi ini ikut berkontribusi terhadap penciptaaan keseimbangan baru tersebut.

“Di antara negara maju, banyak negara di Eropa Barat dan Timur mencatat posisi neraca keuangan yang buruk, di mana mereka mengalami perlambatan pertumbuhan secara struktural. Hanya Jerman yang kelihatannya mampu menjadi kandidat penyeimbang ekonomi,” tulis Cates dalam laporan itu.

Secara umum, UBS menganalisis negara-negara maju mempunyai potensi yang sangat rendah untuk menjadi penyeimbang ekonomi global. Hal itu ditandai dengan prospek tren pertumbuhan yang sangat rendah dan demografi yang buruk. Selain itu, tekanan terbesar berasal dari neraca keuangan masing-masing negara tersebut sehingga mengakibatkan perlambatan ekonomi global.

Khusus terkait Jepang, UBS menilai negara itu masih berpotensi menjadi penyeimbang ekonomi global meskipun prospek pertumbuhan strukturalnya buruk.

UBS juga menggarisbawahi sejumlah tantangan ekonomi yang akan dihadapi negara maju ke depannya, seperti potensi kenaikan harga rumah yang terbatas, populasi yang menua, dan ketidakpastian yang meningkat terkait hasil-hasil ekonomi.

Kemudian, akibat pengetatan kebijakan moneter dan fiskal, negara-negara maju akan menghadapi kenaikan simpanan pada tahun-tahun mendatang.

Hal yang sebaliknya terjadi di negara-negara berkembang, di mana mereka mengalami tingkat simpanan rendah, investasi tinggi akibat neraca keuangan yang sehat, potensi kenaikan harga aset, populasi yang relatif lebih muda, potensi produktivitas yang tinggi dan rendahnya ketidakpastian siklus usaha.

Negara penyeimbang

UBS melaporkan China berpeluang besar menjadi penyeimbang ekonomi dunia menyusul potensi pertumbuhan produktivitas yang besar dan rendahnya risiko gejolak makroekonomi.

Bersama Indonesia, India, dan Brasil, China diyakini bank asal Swiss itu akan mampu mengelola kinerja ekonominya dengan baik. Tren pertumbuhan struktural China dan India sudah cukup tinggi sejauh ini dan neraca mereka dinilai cukup kuat.

Namun bank itu menggarisbawahi sejumlah faktor yang menjadi tantangan ekonomi China, seperti kapasitas industri yang berlebihan dan rendahnya kesempatan menabung.

Dalam hal India, UBS menekankan adanya tantangan dari defisit neraca berjalan yang besar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, bank itu meyakini India mampu menggerakkan ekonomi dunia ke depannya.

Di luar empat negara itu, UBS juga melihat kinerja ekonomi yang baik akan dicatatkan oleh Filipina, Malaysia, Meksiko dan Argentina. (erna.girsang@bisnis.co.id/nana.oktavia@bisnis.co.id)

Oleh Erna S.U. Girsang & Nana Oktavia Musliana
Bisnis Indonesia

pelan-pelan saja: JANGAN MENTANK2 dong …230210

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:37 am

… gw baru aja mencoba jalan tol bakrie toll di kanci-pejagan, brebes, jateng … wow, keren pemandangannya walau mendung dan ujan rintik2 sedikit … jalan mulus walau pake jalan beton … gw bisa ngebut 140-150 km/jam … maseh sepi seh dan harus lebe dulu lewat jalan umum yang agak sempit … gw harus bayar Rp.30.000,- total untuk jarak pejagan-kanci-palimanan… koreksi besar: PAPAN PENUNJUK ARAH KE JAKARTA HARUS BESAR DAN JELAS donk … tapi lumayan cepat dan aman dah … nah bandingin dengan yang di dekat kota Jakarta neh:
Kualitas jalan dan tarif JORR W1 tak sebanding

JAKARTA: Tarif tol Kebon Jeruk-Penjaringan (JORR-W1) sebesar Rp7.000 sepanjang 9,7 km merupakan yang termahal dibandingkan dengan ruas lingkar luar Jakarta yang lainnya. Akan tetapi, tarif yang mahal dianggap tidak dibarengi dengan kualitas yang sebanding.
Tarif jalan tol itu tercatat mencapai Rp721 per km. Bandingkan dengan jalan tol JORR S (Pondok Pinang-Kampung Rambutan) yang membentang sepanjang 43 km dengan tarif Rp7.000 atau setara dengan Rp162 per km.

Bahkan, tarif jalan tol JORR W1 juga merupakan paling mahal dari seluruh ruas jalan tol yang sudah beroperasi. Sebanyak 14 ruas jalan tol yang dikelola PT Jasa Marga Tbk dan beberapa ruas lain yang dikelola oleh perusahaan swasta masih berkisar Rp150-Rp450 per km.

Meskipun mempermudah akses, tarif yang mahal dan kualitas jalan yang bergelombang menjadi keluhan para pengguna.

Seorang Pengendara, Isal Nevananda, 41, mengatakan hanya perlu 5 menit untuk melahap ruas jalan tol sepanjang 9,7 km itu.

“Hanya saja, kualitas jalannya jelek, bergelombang sehingga getarannya sangat terasa. Kualitasnya mirip dengan ruas Pondok Ranji-Serpong.”

Ketua Umum Gabungan Forwarder, Logistik, dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) Iskandar Zulkarnain mengungkapkan pendapat yang senada.

Menurut dia, anggotanya banyak yang ngedumel karena buruknya kualitas jalan tol ruas Kebon Jeruk-Penjaringan.

Iskandar menilai kondisi jalan bergelombang menyebabkan kualitas barang yang dikirim melalui jalan tol itu turun sehingga pemilik barang mengeluh. “Kualitas konstruksinya tidak membikin nyaman pemilik barang karena takut rusak,” katanya kepada Bisnis, kemarin.

Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) M. Kadrial dan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta (Kadin Jaya) Yukki N. Hanafi berpendapat beroperasinya jalan tol Kebon Jeruk-Penjaringan dapat mendongkrak produktivitas pengiriman barang di Jakarta.

Di sisi lain, Dirut PT Jakarta Lingkar Baratsatu Fatchur Rochman, selaku pengelola utama JORR-W1, beralasan faktor konstruksi berupa jalan layang juga memengaruhi sambungan permukaan jalan.

“Bila mau mulus sekali, itu hanya bisa dilakukan di jalan mendatar seperti Jagorawi.”

Terkait dengan tarif yang mahal, Fatchur menyatakan sudah memperhitungkan biaya konstruksi yang dikeluarkan.

Pembangunan jalan tol JORR W1 yang berupa jalan layang membutuhkan usaha keras dan biaya tinggi dibandingkan dengan membangun jalan tol secara melintang di tanah.

“Bandingkan saja, biaya investasi kami Rp2,3 triliun untuk 9,7 km. Kalau mau murah, nanti investornya bangun jalan tol asal-asalan,” tegasnya.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Nurdin Manurung mengatakan perhitungan tarif jalan tol sudah ada rumus baku, yang dikaitkan dengan biaya investasi yang dikeluarkan dan masa konsesi. Tarif jalan tol semakin mahal, karena biaya investasi membangun jalan tol semakin tinggi.

Namun, jika ada laporan mengenai kualitas yang masih di bawah standar, BPJT bisa saja melakukan evaluasi dan meminta operator untuk memperbaikinya.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi mengatakan selama ini kebijakan tarif jalan tol bermasalah, karena pemerintah terlalu memanjakan investor jalan tol dengan menetapkan kebijakan kenaikan tarif setiap 2 tahun. (m08/ Mia Chitra Dinisari/Nurudin Abdullah/Tularji/Hery Trianto) (dadan.muhanda@bisnis.co.id)

Oleh A. Dadan Muhanda
Bisnis Indonesia

Februari 21, 2010

pelan-pelan saja: avandia dan risiko jantungan …210210

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 2:00 am

Bloomberg
Glaxo Knew Avandia Caused Heart Risk, Report Says (Update1)
February 20, 2010, 04:39 PM EST

By Rob Waters
Feb. 20 (Bloomberg) — Safety reviewers at the U.S. Food and Drug Administration urged the agency to take GlaxoSmithKline Plc’s diabetes drug Avandia off the market in 2008 because they said it was causing 500 additional heart attacks per month. Two U.S. senators say they want to know why the medicine remains on pharmacy shelves.
A report released today by Senators Max Baucus and Charles Grassley said Glaxo knew Avandia may cause heart damage several years before a study documented the risk and the company pressed doctors to retract warnings about side effects. Baucus, chair of the Senate Finance Committee, and Grassley, the committee’s ranking Republican, are pressing the FDA for answers.
Avandia came on the market in 1999 and achieved annual revenue of $3 billion by 2006, including sales of a combination drug that includes Avandia. Sales plummeted to $1.2 billion in 2009, two years after a study was published in the New England Journal of Medicine that linked Avandia to a 43 percent increased risk of heart attack. Two FDA officials also reviewed the drug’s safety and concluded in their 2008 report that Avandia was exposing users to higher risks for heart attacks, or myocardial infarctions, without being any more effective than a rival drug, Tokyo-based Takeda Pharmaceutical Co.’s Actos.

Heart Failure

“These increased risks have caused a substantial excess of acute myocardial infarctions and heart failure that would not have occurred” had Actos been used instead, wrote David Graham and Kate Gelperin, the two FDA officials, in the report. Avandia “should be removed from the market.”
Glaxo, in a statement e-mailed today by Mary Anne Rhyne, a company spokeswoman, said it rejects conclusions that Avandia is risky for patients.
“The scientific evidence simply does not establish that Avandia increases ischemic cardiovascular risk or causes myocardial ischemic events,” she said.
“The FDA considered all the available scientific evidence on Avandia, including Dr. Graham’s assertions of elevated heart attack risk and demands that the product be withdrawn,” the statement said. “Based on the scientific evidence and a recommendation by an independent advisory committee of experts convened by the FDA, the agency has ruled that Avandia remain available to patients for the treatment of Type 2 diabetes.”

FDA Reviewing

Karen Riley, an FDA spokeswoman, said in an e-mail that the agency is “reviewing the report from the senators, we take it very seriously and we will reply quickly.”
In the 2008 report, the FDA safety officers also said that a medical trial comparing Avandia with Actos that was being planned would be “unethical and exploitive” because it would expose patients to unwarranted risks. That trial, called TIDE, which was planned to involve 16,000 patients, is now under way.
Baucus, a Montana Democrat, and Grassley, an Iowa Republican, sent a letter Feb. 18 to FDA Commissioner Margaret Hamburg asking what steps the agency was taking to protect patients in the TIDE trial and demanded a response to their concerns by March 4.
Today’s Senate committee report said executives of London- based Glaxo obtained a copy of the 2007 New England Journal study in advance of its publication from a company consultant who also worked as a reviewer for the journal. Although company scientists internally recognized the study’s validity and acknowledged Avandia’s heart risks, Glaxo prepared a public relations effort to refute suggestions that the drug triggered heart attacks, according to internal e-mails reviewed by Senate researchers cited in the report.

Downplay Findings

“It can be argued that GSK had a duty to warn patients and the FDA of the Company’s concerns,” wrote Baucus and Grassley in the Senate committee report. “Instead, GlaxoSmithKline executives attempted to intimidate independent physicians, focused on strategies to minimize or misrepresent findings that Avandia may increase cardiovascular risk, and sought ways to downplay findings that a competing drug might reduce cardiovascular risk.”
The risks were described in today’s New York Times in a story based on the Senate report and other documents.
Glaxo pressed medical researchers who observed the emergence of heart and liver problems in patients taking Avandia to stop disseminating their findings, contacting the doctors’ superiors in several cases, according to the report.
Glaxo fell 58 cents, or 1.5 percent, to $38.26 in New York Stock Exchange composite trading yesterday. The stock is up 18 percent in the past 12 months.
Sales of Actos, Takeda’s competing drug, were $4.4 billion for the year ended March 2009.

–Editors: Donna Alvarado, Sylvia Wier

Februari 20, 2010

pelan-pelan saja: MENABUNG SAJA mah BUNTUNG

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 10:30 pm

High interest rates for savers who switch
By Steve Lodge
Published: February 19 2010 19:03 | Last updated: February 19 2010 19:03
Savers who have regularly switched banks and building societies in pursuit of the best interest rates could have earned total returns as high as 70 per cent over the past decade, substantially outperforming most share investments and underlining the potential of cash to deliver rewards at low risk.

Research for the FT by Defaqto, the industry analyst, found that cash investors who transferred their money annually between the best-available one-year fixed savings bonds could have boosted returns by nearly 30 percentage points compared with sticking to a standard account between 2000 and end-2009.

In 2009, for example, this approach to cash management could have yielded gross returns of 5 per cent, in contrast to rates of about 1 per cent offered by the average instant access account.

David Black, Defaqto banking consultant, said: “The key for savers is to be proactive: those who stay in the same account for years are unlikely to earn a good rate; those who regularly review the rates they are earning and switch providers can vastly improve returns.”

Savers’ returns could have averaged more than 5 per cent a year, before tax, over the decade, the results show, while cash individual savings accounts (Isas) could have produced tax-free yields at almost the same level.

This compares with a total return of 16 per cent from the FTSE All-Share index, including gross dividends, between 2000 and end-2009, and 69 per cent from a benchmark gilt index, according to the recently published Barclays Capital Equity Gilt Study of long-run investment performance.

Barclays calculates the return from building society savings, based on rates from Nationwide’s InvestDirect postal account, at 41 per cent, before tax.

The past decade was unusually poor for equity investment, with shares suffering from the bursting of the dotcom bubble and then the credit crisis, while gilts had a strong run on the back of lower inflation.

However, financial advisers said that many share investors will have been lucky to have even matched the index return, given the cost and inconsistency of actively managed funds.

By contrast, switching cash to take advantage of higher interest rates could have ensured improved building society returns.

Defaqto’s analysis was based on selecting the best one-year fixed-rate savings bond at the start of each year, but savers who were more flexible approach may have been able to generate even higher returns.

Investment advisers point out that shares generally outperform over the long term and have even beaten cash over most two-year periods, according to Barclays’ analysis of more than 100 years of data.

In fact, shares have returned an average of 4.2 percentage points a year more than cash since 1900, according to research by Credit Suisse.

However, Adrian Coles, director-general of the Building Societies Association, said that the question for private investors was whether shares offered an adequate premium, “given that they could also lose a lot of money”.

“The case for cash has been underplayed,” said Jason Butler of Bloomsbury Financial Planning.

Many wealthy investors don’t need to take much risk to meet their goals, he suggested.

He predicts a growth in banking services that will find the best rates and spread risks for individuals.

But Elroy Dimson of London Business School, joint author of the Credit Suisse research, warned against investors holding too much cash.

If you can make 3 to 4 per cent more a year from equities over 15 years then you’re a lot richer,” he said.

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: