eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Oktober 29, 2009

jangan meNYERAH: rakus SUNTIKAN, mate …

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 12:39 am

Kamis, 29/10/2009 02:51 WIB

SENGGANG
51 Suntikan bunuh Jacko

oleh :

JAKARTA: Diketahui Raja Pop Michael Jackson dalam 3 bulan sebelum kematiannya menerima 51 kali suntikan obat dosis keras untuk meredakan nyeri dari Arnold Klein.

Seperti dikutip dari laman TMZ, Klein yang berprofesi sebagai dokter kulit itu menyuntikkan pereda ketegangan otot berlabel I.M Injection, obat bius Demerol dan Restylane, penghilang kerut kulit.

Hal ini diketahui dari total tagihan jasa tersebut. Untuk sejumlah suntikan Jacko harus membayar sedikitnya US$48.522.89 atau Rp465 juta. (Bisnis/alp)

bisnis.com

Oktober 26, 2009

jangan meNYERAH: GANTI menteri GANTI SUASANA pln dan ptkai

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:52 am

Pasokan Listrik Ngadat, KRL Jabotabek Bakal Lelet Sebulan
Minggu, 25 Oktober 2009 | 22:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Para pengguna Kereta Api Listrik Jabodetabek tengah diuji tingkat kesabarannya. Pasalnya, akibat pasokan listrik yang terganggu menyebabkan jadwal kereta api bakal mengalami keterlambatan 15 hingga 20 menit dalam jangka waktu yang relatif lama.

“Keterlambatan diperkirakan terjadi selama satu hingga satu setengah bulan mendatang, sesuai waktu yang kami butuhkan untuk melakukan perbaikan,” kata Mulyanta Sinulingga, Eksekutif Director Daerah Operasional (Daops) I PT Kereta Api Indonesia di kantornya, Ahad (25/10).

Mulyanta menjelaskan, gangguan terhadap pasokan disebabkan terbakarnya enam pengatur daya di gardu listrik Universitas Indonesia,Depok, Jawa Barat, Sabtu (24/10) lalu. Pengatur daya terbakar karena hubungan pendek arus listrik. “Maka, kami mengalihkan daya listrik dari Tanjung Barat dan Depok,” kata dia.

Namun, lanjut Mulyanta, pasokan listrik dari gardu terdekat tidak mampu mengoptimalkan operasional kereta pada jalur Depok hingga Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Akibatnya kereta listrik di jalur Depok hingga Pasar Minggu mengalami hambatan.

Dalam keadaan daya listrik normal, pada jalur tersebut bisa dioperasikan 8 kereta sekaligus. Tapi, dengan terganggunya pasokan listrik, maka pada saat yang bersamaan hanya 4 kereta yang mampu dioperasikan. Sehingga untuk menjaga kelancaran, pihak PT Keraeta Api membuat pengaturan waktu keberangkatan.

EKA UTAMI APRILIA

jangan meNYERAH: tua bukan HALANGAN kerja

Filed under: GLOBAL ECONOMY,Medicine — bumi2009fans @ 12:48 am

Bekerjalah Sampai Tua
26/10/2009 00:01:13 WIB
Oleh Julius Jera Rema

JAKARTA, INVESTOR DAILY
Ledakan penduduk berusia lanjut segera tiba. Ada “anjuran” untuk membiarkan para kaum gaek agar tetap bekerja, itu demi menjaga keseimbangan mental dan kesehatan, serta berkontribusi secara ekonomi. Tapi, penanganan masalah kaum berusia lanjut tetap butuh solusi khusus.

Sepasang kakek-nenek tampak menggerek lori, sejenis gerobak sampah, ke arah truk. Setelah sampah berpindah dari lori ke bak truk, mobil sampah itu segera melaju. Si kakek bertindak sebagai pengemudi, dengan si nenek duduk manis disampingnya.

Itulah sepenggal kisah dari slide yang diperlihatkan Prof Kathryn L Braun, president Active Ageing Consortium Asia Pacific (ACAP) yang juga pengajar di University of Hawaii, Amerika Serikat, pada International Symposium on Ageing and Work Ability di Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, awal pekan ini.

Kathryn lantas membeberkan fakta tentang ledakan penduduk atau manusia berusia lanjut di dunia, namun mereka sebagian besar masih berkarya alias terus bekerja.

Pada saat yang sama pekerja usia muda juga tumbuh sama pesatnya sehingga berpotensi menggerus ketersediaan lapangan pekerjaan.

Permasalahan dampak ledakan kaum usia lanjut sejauh ini juga menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna mencari solusi terbaik. Begitu pula, Kathryn mencoba memberikan solusi terhadap persoalan kaum berusia lanjut.

Menurut Kathryn, penduduk dunia berusia lanjut dari tahun ke tahun terus meningkat, dan fakta tersebut akan berdampak negatif pada sejumlah masalah, seperti kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup, dan pendidikan.

“Memang, terus bekerja dan bekerja keras bagi mereka yang berusia lanjut, itu baik bagi kesehatan dan tentu saja punya efek menghasilkan uang,” ungkap Kathryn.

Mengutip data WHO, pada Abad 21 jumlah penduduk dunia yang berusia gaek kian melonjak. Di wilayah Asia Pasifik, jumlah kaum berusia lanjut akan bertambah pesat dari 410 juta tahun 2007 menjadi 733 juta pada 2025, dan diperkirakan menjadi 1,3 miliar pada 2050.

Indonesia merupakan negara ke-4 yang penduduknya paling banyak di dunia, dan sepuluh besar memiliki penduduk paling tua di dunia. Tahun 2020 jumlah kaum lanjut usia akan bertambah 28,8 juta (11% dari total populasi) dan menjelang tahun 2050 diperkirakan 22% warga Indonesia berusia 60 tahun ke atas. Itu berarti semakin hari jumlah penduduk berusia lanjut kian banyak dan butuh solusi khusus untuk mengatasinya.

Selain Kathryn, simposium juga menghadirkan pembicara internasional lainnya, seperti Prof Takeo Ogawa dari Yamaguci Prefectural University, Jepang, DR Aris Ananta dari Institute of South East Asian Studies, Singapura, juga DR Moses Wong dari Singapura. Pembicara dari dalam negeri antara lain, DR Martha Tilaar (PT Martina Bento Tbk), Dr Boenjamin Setiawan (PT Kalbe Farma Tbk), dan DR Martina W Nasrun (Universitas Indonesia).

Lonjakan penduduk dunia berusia lanjut menjadi perhatian serius sejumlah pihak, terutama WHO dan ACAP, pimpinan Kathryn L Braun yang juga anggota Komisi Nasional Lanjut Usia Indonesia. Maklum, lonjakan penduduk berusia lanjut tak hanya terkait masalah kependudukan, namun juga merembet ke masalah sosial, seperti kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup, serta pendidikan.

Dengan mengambil kasus di AS dan Kanada, Kathryn menguraikan bahwa di dua negara maju itu persoalan penduduk berusia lanjut mendapat perhatian serius. Kelompok ini diwajibkan terus bekerja pada sektor-sektor formal maupun informal yang melayani kepentingan publik. Dengan mewajibkan mereka bekerja, kaum tua ini diharapkan bisa sehat, dan mereka tidak menjadi pemicu munculnya persoalan sosial lainnya.

“Dengan tetap bekerja mereka menjadi lebih sehat, dan karena mereka sehat maka tidak timbul masalah kesehatan dan ekonomi. Ada yang bekerja karena ingin terus beraktivitas dan itu bersifat sosial, ada juga yang punya motivasi ekonomis,” kata Kathryn.

Di AS dan Kanada pekerjaan bagi pekerja usia lanjut seperti menjadi petugas kebersihan, petugas taman kota, dan pamandu wisata. Juga, ada yang bersedia menjadi tenaga sukarela dan siap bekerja keluar negeri disesuaikan dengan keahlian masing-masing.

Dari sudut pandang motivasi ekonomi, kaum berusia lanjut yang terus berkarya, maka mereka berkontribusi nyata terhadap produktivitas ekonomi nasional.

Prof Takeo Ogawa menambahkan, di Jepang yang rata-rata penduduknya berumur 100 tahun banyak yang terus beraktivitas meski usia mereka tak lagi muda. Sektor-sektor yang dimasuki kaum tua umumnya adalah sektor-sektor pelayanan publik yang tidak membutuhkan kekuatan tenaga atau tenaga ekstra.

“Kaum usia lanjut ada yang membuka usaha UKM, seperti perancang bunga, juga ada yang menjadi pemandu wisata. Mereka ini umumnya berusia di atas 70 tahun hingga 80 tahun,” papar Ogawa.

Konflik Produktivitas Usia

Menurut Aris Ananta, ahli masalah kependudukan, pekerja lanjut usia justru dibutuhkan selain berdampak positif terhadap kesehatan, juga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. “Kendati begitu, perlu ada perubahan paradigma pembangunan ekonomi yang dikaitkan dengan peran penduduk berusia lanjut,” kata Aris.

Aris Ananta yang mantan dosen di Fakultas Ekonomi UI itu mengkritisi konsep pembangunan ekonomi Indonesia, yang dikaitkan dengan pekerja usia lanjut. Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak boleh lagi menjadi target atau hasil akhir dari pembangunan ekonomi. Target atau hasil akhir seharusnya tertuju pada manusia, misalnya orang menjadi sehat justru karena ekonomi yang membaik.

“Sudah saatnya paradigma pembagunan ekonomi diubah, dengan menargetkan manusia menjadi sehat, misalnya, justru karena ekonomi yang membaik. Bukan lagi orang harus sehat agar pertumbuhan ekonomi bisa tercapai,” papar Aris.

Dengan perubahan paradigma tersebut diyakini kesejahteraan masyarakat akan mudah dicapai. Selain mengkritik konsep pembangunan ekonomi, Aris Ananta juga menganjurkan kompensasi atau upah tenaga kerja berdasarkan usia. Di Indonesia, fakta bahwa upah pekerja dilandaskan pada masa kerja dan usia pekerja tidak lagi relevan dalam pandangan ekonom berdarah Jawa itu.

Secara konkret, upah pekerja didasarkan pada kompentensi dan produktivitas kerja itu sendiri. Itu sebabnya, meski pekerja usia lanjut tetap bekerja mereka tidak harus dibayar mahal karena mereka berusia tua, tapi mereka dibayar sesuai dengan produktivitasnya.

Dengan demikian, ada dua solusi yang ditawarkan sekaligus, yakni kaum tua terus bekerja dengan bayaran yang lebih rendah karena produktivitas mereka sudah rendah sejalan dengan pertambahan usia, sedangkan pekerja muda tidak merasa lahan pekerjaan diambil kaum tua. Sebab, dengan terus bekerja, kaum tua seolah menemukan energi agar tetap sehat. Maka, tetap berkaryalah sampai tua.

Oktober 25, 2009

jangan meNYERAH: SEMAKIN JELAS, rumah SUMBER LABA…

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 2:24 pm

October 23, 2009, 12:00PM EST
The Rise of the ‘Homepreneur’
New research shows the economic importance of home-based businesses: They account for more than half of all U.S. businesses and employ more people than venture-backed companies

By John Tozzi

More than half of all U.S. businesses are based at home. These companies often are dismissed as quaint hobbyist ventures, but new research suggests that’s a mistake. An estimated 6.6 million home-based enterprises provide at least half of their owners’ household income. Together these “homepreneurs” employ one in 10 private-sector workers, and by many measures they’re just as competitive as their counterparts in commercial spaces.

Ask Stephen Labuda, the 35-year-old president of Agency3, a Web development firm he runs from his home in Cambridge, Mass. A former programmer at Deutsche Bank (DB), Labuda started building Web sites as a side job in 2003 and took the venture full time three years later. Agency3’s revenue is in the millions, and Labuda is about to hire his fifth employee, who will work remotely, like the rest of the staff and the slew of contractors he taps. “I’m not intending to go rent office space,” he says.

You can trace the rise of home-based businesses to the early days of telecommuting in the 1980s and the mass adoption of the Internet in the 1990s. Cloud computing, online collaboration, and smartphones have accelerated the trend, and recent research clarifies the economic significance of companies like Labuda’s. “We’re seeing more and more home-based businesses that are real businesses,” says Steve King, who coauthored the new report with his wife, Carolyn Ockels. (The couple runs Emergent Research, a small research and consulting shop, from their home in Lafayette, Calif.) The pair analyzed U.S. Census data and Small Business Administration research, along with data from the Small Business Success Index, a survey of 1,500 companies sponsored by Network Solutions and the University of Maryland’s Robert H. Smith School of Business.

WIDE ACCEPTANCE AND LEGITIMACY
Here’s more of what they found: The 43% of home-based businesses that provide at least half of the owners’ household income are, on the whole, smaller than non-home-based companies. Only about 35% have revenue above $125,000, compared to 75% for non-home based businesses. But they measure up to other small companies on key aspects of doing business, including access to capital, benefits to workers, marketing, and innovation. On average they have two employees, including the owners, and together they employ more than 13 million people—more, King notes, than venture-backed companies. (Venture-backed companies employed 12.1 million people in 2008, according to the National Venture Capital Association.)

In some of these companies, the operations are concentrated in the owner’s home. Others use their residence as a headquarters but do most of their work at clients’ homes or offices. The variety of home-based businesses cuts across industries, but the top sectors are business and professional services, construction, retail, and personal services.

A few trends are driving the growth of sophisticated home businesses. First, technology has made it easier to start and run a business from anywhere. But just as important, there has been a change of consciousness in the business world to recognize home-based enterprises as legitimate.

Labuda has seen that shift at Agency3. “When I first started, I really felt compelled to go rent an office. I felt like in order for me to be taken seriously as a business, I had to have an office that my clients could come to,” he says. It didn’t matter—clients didn’t want to visit him. Labuda meets most of them at their businesses or at coffee shops. He also uses on-demand office space, where he can rent a conference room by the hour, if needed.

LOWER COSTS ARE A COMPETITIVE EDGE
Now, Labuda never feels that his working from home damages Agency3’s credibility. Instead, it’s a selling point. “It’s reflected in our pricing that we don’t have the same kind of infrastructure costs and fixed costs that some of our competitors do,” he says.

Indeed, the most obvious financial benefit for home-based entrepreneurs is lower operating costs. A 2006 SBA study compared tax returns of sole proprietors who deducted home-office expenses with those who deducted commercial rent. That analysis found that home businesses, on average, had lower sales and net profits than companies in commercial spaces. But profitable home-based ventures retained a greater share of their total receipts as net income: 36%, vs. 21% for non-home-based businesses.

King predicts that as large companies try to reduce their fixed costs by outsourcing business functions, small home-based enterprises will play an even larger role in the economy. “Over the next 20 to 30 years, you could see the percentage of people who are self-employed and home-based double, potentially,” he says.

Tozzi covers small business for BusinessWeek.com.

Properti KEDUA, nyaman, aman dan BERNILAI TAMBAH

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:43 am

Anang Hermansyah Beli Rumah di Bali
Minggu, 25 Oktober 2009 12:55 WIB

ANTARA/ Ujang Zaelani
JAKARTA–MI: Penyanyi, pencipta lagu dan produser musik Anang Hermansyah membeli rumah di Bali Kuta Residence (BKR).

“Beli rumah di Bali lebih banyak untungnya daripada ruginya,” kata mantan suami diva pop Krisdayanti ini, usai peluncuran Bali Kuta Resort & Convention Center oleh Grup Hotel Aston di Grand Indonesia, Jakarta.

Penyanyi yang baru meluncurkan single Separuh Jiwaku Pergi ini mengaku membeli rumah di kondotel itu karena dirinya, baik sendiri maupun bersama keluarga, sering sekali berkunjung di pulau dewata untuk rekreasi maupun menangani urusan bisnis. “Daripada menginap di hotel dengan biaya cukup tinggi, Rp1 juta per malam, mendingan punya rumah sendiri, ya kan,” katanya setengah bertanya.

Ia juga menyatakan senang tinggal di Bali, yang disebutnya sebagai tempat sangat religius kendati banyak sekali turis asing berkeliaran dan bahkan menetap di daerah yang dulu bernama Jawa Dwipa. Selain itu, membeli rumah di Bali juga merupakan sebuah usaha investasi yang pasti menguntungkan. “Nilai aset di Bali itu meningkat setiap bulan, tidak setahun seperti di berbagai daerah lain di Indonesia. Jadi kalau dijual setahun kemudian saja sudah dapat dihitung keuntungannya,” katanya.

Di luar alasan-alasan itu, Anang juga telah menandatangani kontrak sebagai bintang iklan BKR, kondotel pertama di Bali dengan lima konsep disain interior berbeda, masing-masing dinamakan modern classic, modern minimalist, modern retro, dan modern exclisive. (Ant/OL-03)

jangan meNYERAH: dipermalukan, atawa dimalu-maluin (2) …

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 9:31 am

Tak Hadiri Raker DPR, Alasan Menkes Tak Jelas
Rabu, 28 Oktober 2009 – 07:02 wib
TEXT SIZE :
Lamtiur Kristin Natalia Malau – Okezone

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (Foto: Daylife)
JAKARTA – Tanpa alasan yang jelas, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih urung hadir dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Rabu (27/10/2009).

Padahal, Komisi IX menjadwalkan akan membahas persoalan Laboratorium Namru 2 milik Amerika Serikat yang pernah beroperasi di Indonesia. Selain itu, DPR juga akan mempertanyakan program kerja Depkes di bawah kepemimpinan Endang.

“Ke DPR ditunda,” ungkap Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes Lily Sulistiowati saat dikonfirmasi okezone, Rabu (28/10/2009).

Namun tak diketahui alasan Menkes yang memutuskan tidak memenuhi undangan raker dengan DPR itu. Sebelumnya, anggota Komisi IX DPR Chusnunia juga membenarkan ketidakhadiran Menkes. Tapi tetap saja tidak diketahui apa sebenarnya alasan Menkes sehingga dia memilih tak hadir.

Berbagai isu memang menyerbu Endang ketika dipilih menjadi menteri oleh Presiden SBY. Endang yang pernah menjadi peneliti di Namru disebut-sebut pernah menjual sampel virus H1N1 ke luar negeri. Selain itu kompetensi Endang sebagai menteri juga diragukan karena sebelumnya dia bukan tergolong pejabat teras di lingkungan Depkes. (lam)

[ Sabtu, 24 Oktober 2009 ]
Ironi Nila Djoewita A. Moeloek
Oleh : Mahmudi Asyari

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan wawancara calon menteri pada hari pertama, sosok Nila Djoewita A. Moeloek dinilai sebagai calon yang pas untuk menduduki menteri kesehatan, Meski, menurut saya, terkesan ada aspek patronase karena istri seorang mantan menteri kesehatan. Namun, selain lantaran bisa menyerap pengalaman suaminya, saya setuju dialah calon menteri jika pahlawan pejuang pengontrolan virus, Siti Fadilah Supari, harus diganti.

Namun, ketika hasil tes kesehatan periode pertama sudah sampai ke tangan presiden, terdengar rumor bahwa sejumlah calon menteri tidak lulus tes kesehatan. Rumor itu pun semakin kuat ketika seluruh calon menteri telah menjalani tes kesehatan. Menurut rumor tersebut, salah seorang calon menteri yang tidak lolos tes adalah Nila Djoewita A. Moeloek.

Di benak saya, terlintas bahwa yang paling mungkin terempas dari calon menteri adalah Nila Djoewita A. Moeloek dengan beberapa alasan. Dia tidak mempunyai dukungan politik kuat seperti Linda Gumelar yang suaminya adalah senior SBY. Selain itu, dia sebelumnya tidak terdengar sebagai orang politik atau orang dekat presiden.

Berbeda dari sejumlah calon yang katanya juga tidak lulus tes kesehatan seperti Djoko Kirmanto dan kawan-kawan yang akhirnya tetap lolos. Sebab, mereka mempunyai dukungan politik. Jika tidak pun, mereka adalah orang dekat atau setidaknya ada yang melobi kepada presiden agar tetap diangkat menjadi menteri. Yang terlintas di pikiran saya itu memang kemudian menjadi fakta ketika presiden mengumumkan susunan kabinet.

Persoalannya kemudian, sebegitu parahkah penyakit yang diderita Djuwita, sehingga terempas dari gerbong kabinet? Dengan kata lain, jika diban ding empat calon menteri lainnya yang sama-sama dianggap tidak mempunyai kesehatan prima, dialah yang dianggap paling berat, sehingga harus tersingkir. Atau memang ada faktor lain?

Menjelang pengumuman kabinet, terdengar pula ada calon menteri yang dinilai tidak lulus fit and proper test. Lagi, Djuwita kembali masuk daftar itu. Berdasar hal tersebut, menurut saya, sesungguhnya faktor kedua itulah yang mendominasi dan bisa jadi sejak semula dia memang tidak menjadi kandidat, meski kemudian diminta mengikuti tes kesehatan.

Karena itu, tes tahap kedua (tes kesehatan) bisa dianggap sebagai basa-basi atau setidaknya untuk tidak mempermalukan. Sebab, jika ada calon yang sudah di-fit and proper test tidak diminta mengikuti tes tahap kedua, yang bersangkutan dengan sendirinya langsung tersingkir dari kemungkinan menjadi menteri.

Kepentingan Namru

Antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat saat ini sedang berlangsung perundingan berkaitan dengan nasib Namru-2. Pemerintah AS sangat berkepentingan dengan laboratorium itu guna penelitian virus yang konon tidak hanya untuk keperluan pengobatan, tapi juga untuk kepentingan militer.

Upaya AS untuk membuka Namru-2 memang terganjal oleh pendirian menteri kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I, Siti Fadilah Supari, yang bersikeras agar laboratorium tersebut ditutup. Berbagai lobi pun ditempuh, termasuk terhadap presiden melalui pendekatan Dino Pati Djalal. Namun, karena Siti Fadilah tetap pada pendiriannya, nasib Namru-2, meski menurut sejumlah pihak tetap berlangsung secara gerilya, tetap belum jelas.

Atas kepentingan tersebut, AS sangat berkepentingan dengan Namru di Indonesia, sehingga lobi untuk itu terus berjalan. Namun, yang paling penting, Siti Fadilah harus tersingkir dan harus dicari pengganti yang dekat dengan Namru-2.

Atas kepentingan itu, bukan suatu yang mustahil naiknya Endang Rahayu Setyaningsih sangat terkait dengan hal tersebut. Sebab, dia pernah bekerja sebagai peneliti di instalasi militer Angkatan Laut AS -yang kemudian ditegaskan Siti Fadilah Supari bahwa dia merupakan orang yang sangat dekat dengan Namru.

Kedekatan itulah yang, tampaknya, mengantarkan Endang menjadi menteri kesehatan. Karena itu, mencermati tersingkirnya Nila Djuwita A. Moeloek, bisa jadi dia mempunyai pandangan yang kurang pas dengan lobi AS terhadap presiden berkaitan dengan masa depan Namru di Indonesia.

Selaku bangsa Indonesia yang selalu bangga bahwa kemerdekaan diraih dengan keringat dan darah pejuang, semoga saja bukan kepentingan Namru dan AS yang menjadi faktor pengangkatan menteri kesehatan sebagai pengganti Siti Fadilah, melainkan karena kompetensi yang bersangkutan. Sebab, dia memang dikenal mempunyai penguasaan yang bagus mengenai persoalan kesehatan di Indonesia.

Meski demikian, kecurigaan terhadap aroma AS wajar saja. Mengingat, orang yang kini ditunjuk dianggap sebagai orang yang mendukung Namru agar tetap beroperasi. Untuk menepis hal itu, Endang harus membuktikan bahwa yang dia lakukan adalah untuk kepentingan negara dan bangsa Indonesia yang dengan susah payah berusaha merdeka.

Jangan hanya rakyat kecil yang selalu berteriak nasionalisme. Pemimpin negeri ini harus memberi contoh agar kelak tidak menimbulkan antipati dari masyarakat. (*)

*) Dr Mahmudi Asyari, pemerhati masalah sosial dan keagamaan, tinggal di Semarang

Setelah Nila Kini Gita
24 Oktober 2009 00:00 WIB 5970 Dibaca | 36 Komentar
KECERDASAN politik harus diimbangi dengan kecekatan administrasi. Itulah sebabnya kita diberi tahu bahwa setelah proses politik selesai, bekerjalah proses administrasi.

Sebuah keputusan politik akan kacau balau dan kehilangan kredibilitas kalau administrasinya amburadul. Karena itu, tuntutan penting bagi sebuah pemerintahan yang maju dan beradab adalah birokrasi yang cerdas dan cekatan.

Masih hangat pembicaraan tentang luka hati yang diderita Nila Djuwita Moeloek. Dia terluka karena setelah mengikuti audisi calon menteri yang sangat terbuka, ternyata digantikan di saat-saat terakhir oleh orang lain. Dan, dari semua yang mengikuti audisi, hanya dia seorang yang dinyatakan tidak lolos uji kesehatan.

Dalam kasus Nila kesalahan terletak pada pilihan membuka sebuah proses rekrutmen kepada publik untuk keputusan prerogatif presiden yang rahasia dan mutlak.

Setelah Nila, kini muncul kasus Gita Wirjawan. Bila dalam kasus Nila adalah pembatalan mendadak yang amat menyakitkan, dalam soal Gita adalah kecerobohan administratif yang juga melukai.

Gita Wirjawan–sama seperti Nila Moeloek–adalah para calon menteri yang dipanggil ke Cikeas untuk mengikuti proses audisi. Bila Nila gagal di detik-detik terakhir di wilayah Cikeas, Gita lolos tetapi terhambat di wilayah Istana.

Gita termasuk dalam nama-nama pejabat kabinet yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Rabu (21/10). Berbeda dengan para menteri yang sudah dilantik pada Kamis (22/10), Gita belum walaupun pada saat pelantikan dia hadir. Alasannya Gita yang akan menjadi Kepala BKPM dilantik bersama pejabat setingkat menteri yang dilantik kemudian.

Kemarin, Gita ada di Istana dan sempat masuk dalam ruang rapat kabinet. Kursi dan nama dia tertera di atas meja rapat. Akan tetapi, dia akhirnya disuruh keluar karena dianggap tidak berhak mengikuti rapat pertama Kabinet Indonesia Bersatu II yang dipimpin Presiden Yudhoyono.

Inilah contoh sebuah keputusan politik yang cepat, tetapi tidak dibarengi kecekatan administratif yang memadai. Kecerobohan yang pasti melukai hati Gita Wirjawan.

Untuk sebagian orang, Gita mungkin dipersalahkan karena belum dilantik kok nafsu amat sih mengikuti sidang kabinet. Tetapi bagi orang sekelas Gita, mungkin juga tidak segegabah itu menghadiri sidang kalau tidak diundang. Jajaran Sekretariat Kabinet tidak ada yang mau dipersalahkan dalam soal yang memalukan ini.

Bila Nila dicederai oleh keputusan politik, Gita dilukai oleh kecerobohan administratif. Karena politik dan administrasi negara berawal dari hulu yang sama, keduanya ternyata memiliki power untuk melukai.

Dan alangkah celakanya kalau semakin banyak orang yang terluka oleh politik yang arogan diperkuat oleh administrasi yang arogan pula. Gita dan Nila adalah contoh serius bahwa politik yang superkuat akan menggoda administrasi menjadi angkuh.

Presiden: Penyusunan Kabinet tidak Main-Main
25/10/2009 06:02:18 WIB
Oleh Novy Lumanauw

JAKARTA, INVESTOR DAILY
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan siap mempertanggungjawabkan kepada publik komposisi Kebinet Indonesia Bersatu II. Ia secara tegas mengatakan proses pengangkatan menteri dilakukan secara kredibel, akuntabel, tidak ada yang terpaksa, dan tidak main-main.

“Proses pengangkatan menteri kredibel dan akuntabel. Saya pertanggungjawabkan kabinet. Saya dibantu Wapres sejak awal menyusun visi dan misi, agenda dan prioritas, struktur kabinet, memilih siapa berada dimana,” kata Kepala Negara saat memimpin rapat kabinet perdana KIB II di Gedung Utama Sekretariat Negara, Jakarta, Jumat (23/10). Peryataan itu disampaikan SBY menanggapi pemberitaan seputar penyusunan anggota KIB.

Rapat dihadiri seluruh 34 menteri anggota KIB, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, Kepala BIN Sutanto, dan Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).

Presiden menyatakan penyusunan KIB II dilakukannya bersama Wakil Presiden Boediono secara kredibel dan akuntabel. Baik Presiden maupun Wapres juga dibantu sebuah tim kecil yang terdiri atas Menteri Sekretaris Negara dan Sekretaris Kabinet.“Tidak ada yang main-main. Tidak ada yang gegabah dan tidak ada yang tidak sistemik. Tidak ada yang dipaksa, tidak ada yang terpaksa,” tegas SBY.

Presiden mengingatkan pihak-pihak yang kecewa untuk tidak melakukan pencemaran terhadap kredibilitas seseorang sebab konsekuensinya adalah hukum. “Hukum mengatur untuk itu. Negara kita ini adalah negara hukum. Bukan negara fitnah, bukan negara yang begitu saja setiap orang bisa menghancurkan nama orang lain tanpa tanggung jawab,” kata Presiden.

Meskipun demikian, ia berharap tidak akan terjadi seseorang diseret ke meja hijau karena kasus dugaan pencemaran nama baik. Sebab, lanjutnya, semua elemen masyarakat dapat memahami susunan kabinet yang sudah terbentuk.“Semoga itu tidak terjadi karena semua elemen akan memahaminya,” ujar dia.

Ingin Bertemu
Pada bagian lain Presiden SBY menanggapi secara khusus batalnya pengangkatan Nila Djuwita Moeloek sebagai menteri setelah mengikuti seleksi calon menteri. Presiden mengaku ingin bertemu dengan Nila Djuwita Moeloek agar kesimpangsiuran mengenai pos menteri kesehatan tidak berkembang lebih jauh.

“Sekali lagi konsep `the right person, on the right place, in the right time`, saya dua hari membahas itu. Saya menerima laporan lengkap detail dari tim uji kesehatan, termasuk kesehatan jiwa. Dan kemudian saya juga berkomunikasi melalui Pak Hatta Rajasa, dan kemudian saya sendiri, dan Insya Allah saya akan bertemu langsung dengan beliau,” kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan, ia berharap dalam komunikasi nanti dengan Nila dapat memperjelas kondisi yang ada.”Masing-masing punya titik kuat oleh karena itu saya minta rakyat memahami, beliau punya kelebihan, punya peran yang besar, dan saya pun berharap dalam komunikasi saya, masih bisa mengemban tugas di wilayah lain yang tidak kalah mulianya, yang belum tentu kita bisa melaksanakan seperti itu,” katanya.

Presiden menambahkan, dia sampai sekarang masih menghormati Nila Moeloek. “Beliau memiliki kelebihan, memiliki ekspertise, memiliki peran yang juga besar. Ini kalau saya harus terus terang, tahun 2004 pun saya ingin mengajak beliau waktu itu untuk bersama di kabinet”.

Namun demikian saat itu, kata Kepala Negara, Nila dipandang memiliki kemampuan yang lebih sehingga lebih tepat untuk bidang lain.

“Kemudian dalam proses seleksi, memang beliau sangat unggul di bidang yang lain, tapi ada satu dua titik yg menurut penilaian saya, tidak tepat kalau beliau saya forsir begitu, untuk menempati pos departemen itu,” tegasnya.

Sorot Edisi 54
Kabinet Partai Bersatu
Bukan hanya didominasi wakil partai, sejumlah nama juga megejutkan.
JUM’AT, 23 OKTOBER 2009, 18:43 WIB
Heri Susanto, Arfi Bambani Amri, Eko Huda S, Agus Dwi Darmawan, Nur Farida Ahniar

Pelantikan Menteri : Kabinet Indonesia Bersatu II (AP Photo/Dita Alangkara)
Presiden Pimpin Rapat Kabinet Pertama

ARTIKEL TERKAIT
Wajah Kabinet Indonesia Bersatu II
“Semula Demokrat Tak Incar Menteri Energi”
Berpikir Untuk Ekspor Senjata
Bila Tak Sanggup Akan Kembalikan Mandat
Menkes: “Silakan Saja Curiga”
Web Tools

VIVAnews – DISERTAI salawat badar dan doa bersama, dua politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dilepas dari rumah dinas di Jalan Denpasar Raya Blok C-3 Nomor 5, Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2009. Keduanya, Ketua Umum Muhaimin Iskandar dan Helmy Faishal Zaini menuju Istana Presiden, Jakarta. Mereka akan mengikuti prosesi penting.

Pada pukul 13.30 WIB, Muhaimin bersama 35 orang lainnya akan dilantik sebagai menteri. Mengenakan jas hitam, peci dan dasi, atau berkebaya bagi wanita, 34 menteri dan dua pejabat setingkat menteri berbaris rapi di Wisma Negara. Dalam suasana khidmat dan disaksikan jutaan warga Indonesia lewat televisi, mereka mengikuti ritual formal sebelum menjalankan tugas berat.

Dipandu SBY yang membaca di atas map merah, mereka bersumpah. Sumpah tidak akan menyuap atau disuap. Sumpah setia pada UUD 1945, nusa dan bangsa. Janji untuk sekuat tenaga mengusahakan kesejahteraan rakyat. Dan janji untuk menjalankan tugas dan kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab pada bangsa dan negara.

***

Di luar istana, suasana tak sekhidmat itu. Beberapa hari menjelang pengumuman kabinet baru pada Rabu malam, 21 Oktober, pukul 22.00 WIB, kontroversi soal nama-nama calon menteri telah mencuat. Publik, pengamat hingga pelaku pasar menyorot tajam para calon menteri yang diundang ke kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat sejak Jumat lalu, 16 Oktober 2009.

Apalagi, muncul tanda-tanda sejumlah pos strategis bakal diisi oleh sosok yang jauh dari harapan publik. Misalnya saja, tampilnya Hatta Rajasa, politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai Menteri Koordinator Perekonomian. Banyak yang menilai, Hatta—mantan Menteri Perhubungan dan Menteri Sekretaris Negara—tak cukup punya keahlian dan jam terbang untuk mengemudikan perekonomian negeri ini. Apalagi, jika merunut jejak di pemerintahan sebelumnya, posisi penting ini selalu ditempati ekonom senior atau teknokrat handal. “Bisa saja dipegang politikus, tapi harus mengerti ekonomi,” kata ekonom Mirza Adityaswara.

Tak heran, pelaku pasar sempat bereaksi negatif atas susunan kabinet baru SBY. Meski indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat tembus hingga 2.520,92 pada Senin, 19 Oktober, keesokan hari selama tiga hari berturut-turut IHSG terus melorot ke bawah 2.500. Bahkan, pada Kamis, 22 Oktober, indeks merosot tajam hingga level 2.433,80.

“Selain faktor global, pasar meragukan Hatta sebagai Menko Perekonomian,” kata analis pasar modal, Felix Sindhunata.

Pengamat politik Sukardi Rinakit juga mengritik tajam. Ini mengistilah kabinet ini sebagai “kabinet pertemanan” karena banyak politikus dan figur yang tidak pas di posnya. “Awalnya saya optimistis, SBY akan membentuk kabinet profesional. Tapi, ini mengecewakan,” kata Sukardi.

Senada dengan Sukardi, politisi Golkar Yuddy Chrisnandi melihat Presiden terkesan didikte partai. Pengamat politik Universitas Indonesia, Boni Hargens, menyuarakan kekecewaannya antara lain karena ada orang yang gagal jadi anggota DPR malah diangkat jadi menteri. “Contohnya, posisi Menko Kesejahteraan Rakyat,” ia menunjuk Agung Laksono yang tak terpilih pada pemilu legislatif kemarin.

***

Dari susunan nama yang diumumkan SBY, tak bisa dipungkiri Kabinet Indonesia Bersatu II lebih condong ke kutub politikus. Dari total 34 menteri, sebanyak 19 orang atau hampir 60 persen berasal dari partai. Demokrat dapat jatah enam menteri, PKS empat, Golkar dan PAN masing-masing tiga, lalu PKB dan PPP sama-sama dijatah dua.

Itu masih ditambah tiga nama yang berada di lingkaran terdekat SBY, yakni Sudi Silalahi untuk posisi Menteri Sekretaris Negara; mantan Panglima TNI Djoko Suyanto di posisi Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Kemanan; serta mantan Kapolri Sutanto sebagai Kepala Badan Intelijen Negara.

Yang tajam disorot, sebagian besar kursi menteri ekonomi juga diduduki oleh orang partai. Ada belasan portofolio ekonomi yang dikontrol politikus. Yang dipegang profesional cuma lima posisi, yakni Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Negara BUMN, dan Menteri Pekerjaan Umum.

Persoalannya berikutnya, ada banyak nama yang nyaris belum dikenal publik sama sekali, termasuk mereka yang dinilai tidak tepat posisi dan dianggap kontroversial.

Misalnya saja tiba-tiba muncul nama Darwin Zahedy Saleh sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Jangankan kiprahnya di sektor energi, namanya pun selama ini—seperti kata sebuah iklan—“nyaris tak terdengar.” Mendadak, ia memegang posisi sangat strategis dan bergelimang uang. Berkaitan dengan itu, posisinya sebagai Ketua Bidang Ekonomi Partai Demokrat cukup menggelitik rasa curiga banyak orang.

Darwin bukan hanya mendapat tugas mengatur perputaran bisnis minyak yang mencapai ratusan triliun per tahun, namun juga mengurus bisnis batu bara, emas dan tambang lainnya. Ia harus berkutat dengan masalah energi yang jadi rebutan banyak negara. Belum lagi soal subsidi BBM yang mahasensitif dan kontrak kerja sama migas yang rumit njelimet.

“SBY mustinya jangan pilih orang yang masih belajar energi,” kata pakar energi Pri Agung Rakhmanto setengah meledek.

Darwin sendiri mengaku semula Demokrat tak mempersiapkan diri untuk portofolio Menteri Energi. “Itu setelah mendapatkan pengarahan dari Pak Presiden,” katanya.

***

Selain itu, ada banyak pos lain yang juga mengundang tanda tanya. Contohnya, Purnomo Yusgiantoro, mantan Menteri Energi yang geser posisi jadi Menteri Pertahanan. Lucunya lagi, Purnomo belum tahu apa itu peralatan sistem persenjataan utama (alutsista). “Kami wawancara singkat, belum tahu apa itu alutsista?” kata Purnomo seusai mengikuti wawancara oleh SBY di Cikeas, 17 Oktober 2009.

Tampilnya Purnomo, mantan Menteri ESDM yang dikenal sebagai orang kepercayaan SBY, juga membuat banyak orang garuk-garuk kepala. Di Cikeas, usai wawancara calon menteri, dia bahkan mengaku tak paham apa itu “alutsista.” Apalagi, semula beredar kabar salah satu calon Menteri Pertahanan adalah seorang Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji, mantan Dekan Fakultas Teknik UI yang menjabat Dirjen Potensi Pertahanan.

Kontroversi semakin mencuat tatkala SBY mendadak mencoret calon Menteri Kesehatan Nila Djuwita Anfasa Moeloek. Nila yang sudah mengikuti proses seleksi wawancara dan tes kesehatan, tiba-tiba diganti pada Rabu siang, 21 Oktober dengan alasan tak lolos uji kejiwaan karena dinilai tak bakal tahan menanggung beban stres seorang menteri. Padahal, malamnya SBY akan mengumumkan susunan kabinet.

Yang membuat makin kontroversial, Nila diganti oleh Endang Rahayu Setyaningsih. Begitu namanya dicalonkan, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari bereaksi keras. Menurut Siti, Endang pernah ia lengserkan sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Biomedis Departemen Kesehatan karena pernah menjual sampel virus ke luar negeri.

***

Toh begitu, kabinet ini disusun SBY dengan penuh jibaku. Presiden mengatakan masa 10 hari sebelum pengumuman adalah hari-hari yang berat. Situasi semakin menekan karena dua tiga hari menjelang pengumuman, semakin banyak pihak yang ingin bertemu dan memasukkan calonnya.

“Lebih baik tak bertemu dulu,” kata Presiden sebelum mengumumkan kabinet di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu malam, 21 Oktober. “Ini agar saya bisa memilih dan menetapkan secara profesional dan obyektif.”

Beredar kabar, tarik ulur penyusunan kabinet berlangsung cukup alot. Apalagi, Partai Golkar kemudian bergabung dalam koalisi sehingga mengurangi jatah partai yang berkeringat sejak awal kampanye. Tarik-menarik antara Cikeas-PDIP kubu Taufiq dan PDIP-Mega tentang bergabung atau tidaknya kader PDIP dalam kabinet juga menambah kerumitan.

Belum lagi, sejumlah faksi dalam partai yang sama mengajukan daftar calon yang berbeda. Kandidat yang diandalkan partai pun belum tentu dipilih. Hidayat Nur Wahid yang dijagokan jadi menteri oleh PKS, misalnya, ternyata tak masuk daftar Cikeas. “Pak Hidayat dicarikan posisi yang lebih baik sepertinya, karena kabinet sudah penuh sesak,” kata Juru Bicara PKS Ahmad Mabruri, berupaya legawa.

***

Achmad Mubarok, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, menjelaskan
SBY dan Boediono butuh waktu lama karena harus memilih komposisi terbaik yang dipertimbangkan dari berbagai sudut. “SBY harus mengakomodasi kepentingan politik, gender, suku, agama, kampus dan daerah,” katanya.

Jadi, janganlah heran jika kemudian terbentuk kabinet dengan komposisi yang sangat amat bersatu.

Dalam hal partai, kabinet SBY ditopang kokoh oleh enam partai—Partai Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PPP, dan PKB—yang secara bersama-sama menguasai sekitar 75 persen kursi di parlemen. Hanya tiga partai yang berada di luar pemerintahan, yakni PDI-P (95 kursi), Gerindra (26 kursi), dan Hanura 18 (kursi)

Soal keterwakilan wilayah, SBY merangkul Menteri Perhubungan Freddy Numberi dari Papua, Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar asal Aceh, sampai Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, Wakil Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Dari sisi almamater juga demikian. Jika sebelumnya, tim ekonomi nyaris dikontrol oleh ekonom-ekonom asal UI, kini lebih beragam. Komandan tim ekonomi, Hatta Rajasa berasal dari ITB, Kepala Bappenas dan Menteri Perindustrian dari Universitas Padjajaran, dan Menteri Negara BUMN dari IPB. Yang berasal dari UI cuma dua, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Perdagangan Mari Pangestu.

“SBY sepertinya ingin diversifikasi,” kata pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa.

• VIVAnews

Oktober 23, 2009

jangan meNYERAH: asean 2015 THE TARGET…

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 9:19 am

Q+A: What’s on the agenda at the Asian summit?
Fri Oct 23, 2009 4:32am EDT
By Martin Petty

HUA HIN, Thailand (Reuters) – Leaders of 16 Asia-Pacific countries are meeting in the Thai seaside town of Hua Hin for the ASEAN and East Asia summits, a forum twice postponed because of political unrest.

Trade ties, regional security, disaster relief and human rights are among the issues up for discussion at the annual meetings, which Thailand is determined to complete after a series of embarrassing mishaps.

The East Asia Summit was initially scheduled for December last year but was postponed when anti-government protestors shut down Bangkok’s airports. It was moved to Pattaya in April but was subsequently aborted when a rival protest group stormed the summit venue.

WHO WILL ATTEND?

ASEAN — Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapore, Laos, Cambodia, Myanmar, Brunei the Philippines and Indonesia — meets on Friday. Their leaders will be joined on Saturday by the leaders of China, Japan and South Korea for the ASEAN+3 summit. On Sunday three more countries — New Zealand, Australia and India — will join the grouping for the East Asia Summit.

WHICH ECONOMIC ISSUES WILL BE UP FOR DISCUSSION?

ASEAN is seeking to establish an EU-style economic community by 2015 and is due to sign an ASEAN Trade in Goods Agreement in Hua Hin, which would be a major step toward that goal. ASEAN is also pushing for a free trade zone with Japan, China and South Korea that might expand to other regional players. At least 42 agreements are expected to be signed this week, including the inauguration of an ASEAN-Australia-New Zealand free trade pact and an intellectual property agreement between ASEAN and China, according to Thailand’s Foreign Ministry. HOW IS THE ASEAN CHARTER PROGRESSING?

ASEAN adopted a charter two years ago that aims to create a rules-based political, economic and security community. The economic integration is proceeding in fits and starts. The political integration will prove much tougher. ASEAN’s much-derided Human Rights Mechanism will be launched in Hua Hin. But with no power to punish members, such as serial rights abuser Myanmar, the watchdog is toothless. As for the security issue, ASEAN is holding meetings with legal experts to discuss the establishment of a Dispute Settlement Mechanism, a contentious issue among ASEAN members, many of which have centuries-old rivalries that occasionally resurface.

WHAT OTHER ASEAN ISSUES ARE ON THE TABLE?

ASEAN is expected to push for greater cooperation on disaster relief. Millions of people were affected in Southeast Asia this month when Typhoon Ketsana tore through the Philippines and parts of Indochina, and a 7.6 magnitude earthquake struck Indonesia’s Sumatra, killing at least 1,000. A declaration on climate change is also due to be adopted, and members will also talk about food security and bio-fuels.

WHAT WILL ASEAN+3 TALK ABOUT?

Leaders are expected to reaffirm their finance ministers’ agreement to implement the Chiang Mai Initiative by the end of this year, a Japanese official said. The initiative is a $120 billion web of bilateral swap arrangements aimed at providing emergency liquidity for countries in financial crisis.

WHAT IS THE EAST ASIA SUMMIT?

It came into being in 2005 as an annual meeting among leaders of the 16 Asian nations attending this meeting in Hua Hin. It mainly discusses trade and economic issues, although security, human rights and geopolitical issues often feature in discussions on the sidelines. The grouping is still searching for an identity.

WHAT IS THE STATUS OF THE EAST ASIA COMMUNITY?

Japanese Prime Minister Yukio Hatoyama will pitch his version of turning the EAS into an East Asian Community, a proposed EU-style trade bloc but without a common currency, at least not until the distant future. The idea has been batted around since the EAS started four years ago and is still ill-defined. Tokyo envisages the community would bring together the 16 EAS members.

WILL NORTH KOREA BE DISCUSSED?

Three countries involved in the stalled six-party talks on North Korean nuclear disarmament will be in town — Japan, South Korea and China — but no substantive talks are expected. Officials from China and India could meet on the sidelines, with talks expected to focus on a long simmering border dispute.

ARE PROTESTS A THREAT TO THE SUMMIT?

More than 18,000 police and members of the armed forces, empowered by a tough Internal Security Act, have set up a no-go zone around Hua Hin to ensure there is no repeat of the chaotic Pattaya meeting, when half of the leaders were evacuated by helicopter and others effectively imprisoned in their hotels.

(Editing by Jeremy Laurence and Bill Tarrant)

jangan meNYERAH: dipermalukan, atawa dimalu-maluin …

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:08 am

… semoga rumor audisi calon menteri TIDAK MENJADI IDOLGATE … memang benar bahwa psikotes itu penting, tapi BUKAN YANG UTAMA … karena dalam hal PEMILIIHAN CALON MENTERI, HAK PREROGATIF PRESIDEN lah yang TERUTAMA … jadi ga usa MEMPERMALUKAN CALON MENTERI YANG POSISINYA LEBIH RENDAH STATUSNYA DARIPADA SANG INCUMBENT PRESIDENT, tapi juga ga usa MEMPERMALUKAN SANG RI 01 juga … gimana caranya? well, mungkin seperti Obama menangani kasus seorang warganegara amrik yang terkait isu rasialis … yaitu diundang dan bicara-bicara tanpa minta maaf sama sekali … well, liat aja dah
Kabinet Indonesia Bersatu II
SBY Beberkan Gagalnya Nila Jadi Menkes
Yudhoyono berjanji akan segera menemui Nila Djuwita Moeloek untuk menjelaskan masalah ini.
JUM’AT, 23 OKTOBER 2009, 11:08 WIB
Umi Kalsum, Muhammad Hasits

Nila Djuwita Moeloek (Antara/ Widodo S Jusuf)
BERITA TERKAIT
Apa Kerjaan Kuntoro Mangkusubroto?
Inilah Janji Menteri ESDM Darwin Zahedy
Hatta Ajak Menteri Baru Kompak
Sri Mulyani Lupa Terima Kasih
Baru Dilantik, Hatta Ajak Menteri Kerja Keras
Web Tools

VIVAnews – Nila Djuwita Moeloek gagal menjadi menteri tanpa penjelasan. Padahal dia sudah dipanggil ke Cikeas, mengikuti audisi calon menteri. Sudah pula melakukan tes kesehatan di RSPAD. Kritikan tajam lalu dialamatkan kepada model rekruitmen para menteri ini. Nila sendiri merasa disepelekan.

Berbagai kritik itu juga didengar oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Terutama menyangkut gagalnya Nila Djuwita Moeloek duduk di kursi Menteri Kesehatan.

Sebelum rapat pertama Kabinet Indonesia Bersatu II Jumat siang, 23 Oktober 2009, di Istana Negara, SBY menjelaskan soal gagalnya Nila masuk kabinet.

SBY juga mengaku bahwa dirinya sangat menghormati Nila. Bahkan ia sudah mengincar Nila sejak 2004 lalu. Nila dinilai memiliki kelebihan, expertise dan peran yang sangat besar.

“Tahun 2004 pun saya ingin mengajak Beliau. Kemudian dalam proses seleksi memang Beliau sangat unggul di bidang lain. Tapi ada satu dua titik yang menurut penilaian saya tidak tepat kalau beliau saya forsir untuk menempati pos departemen itu,” ungkap SBY.

Masalah itu, kata dia, dibahasnya secara cermat. Begitu menerima laporan lengkap dari tim kesehatan dan kejiwaan, SBY langsung mengkomunikasikan masalah ini dengan berbagai pihak.

saya akan bertemu langsung kepada beliau

“Sekali lagi konsep the right person, on the right place in the right time. Saya dua hari membahas itu. Saya menerima laporan lengkap detil dari tim uji kesehatan, termasuk kesehatan jiwa dan kemudian saya juga berkomunikasi melalui Pak Hatta Rajasa, dan kemudian saya sendiri, dan Insya Allah saya akan bertemu langsung kepada beliau. Ini tidak luar biasa,” beber SBY.

Nila, lanjut dia, memiliki kelebihan, kekuatan, peran di penugasan lain yang lebih tinggi manfaatnya bagi rakyat ketimbang menempati pos yang dirancangnya.

“Saya misalkan. Mungkin dulu di militer oke. Alhamdulillah saya mengemban amanah di kepala pemerintahan. Belum tentu saya memimpin organisais bisnis bisa. Tidak sesukses yang lain, belum tentu saya memimpin DPR bisa seperti Pak Agung. Ya mungkin, cocoknya saya di TNI, kemudian di pemerintahan,” ungkapnya.

Masing-masing orang, kata SBY memiliki titik kuat, oleh karena itu ia minta rakyat memahami. SBY kembali menegaskan Nila memiliki kelebihan, punya peran yang besar, dan memiliki tugas di wilayah lain yang tidak kalah mulianya yang belum tentu bisa dilaksanakan orang lain.

SBY mengaku sengaja menjelaskan masalah ini supaya tidak ada salah tafsir ataupun pandangan keliru dalam masalah Nila Moelok. “Beliau tetap, she is the great woman, tetap saya hormati untuk bisa berkiprah di medan pengabdian yang tidak kalah mulianya dengan sekarang,” kata dia.

Nama Nila tersingkir di detik-detik terakhir. Padahal Nila telah mengikuti serangkaian tes. Namanya digantikan Endang Rahayu Sedyaningsih yang pernah menjadi peneliti di laboratorium milik Angkatan Laut AS, Namru-2.

• VIVAnews

Jumat, 23/10/2009 05:03 WIB
Permalukan Nila Moeloek, Audisi Menteri Dinilai Main-Main
Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Jakarta – Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kartono Muhammad menilai audisi menteri yang dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya main-main. Alih-alih mencari menteri berkualitas, SBY harus mempermalukan Nila Juwita Afansa Moeloek di hadapan publik.

“Cara audisi menteri itu mempermalukan Bu Nila. Ini main-main sama orang, kasihan dia dipermalukan dimana-mana,” kata Kartono saat berbincang dengan detikcom, Jumat (23/10/2009).

Kartono menyayangkan audisi menteri yang menurutnya terlampau ramai dilihat publik. Ini membawa dampak buruk bagi yang tidak lolos seleksi menteri.

“Mestinya lain kali kalau manggil menteri tidak perlu ramai-ramai diem-diem saja,” keluh Kartono.

Solusi yang terbaik, menurut Kartono, pemerintah harus menjelaskan kalau memang Nila Moeloek tidak lolos tes kesehatan. “Katakan saja kalau tidak memenuhi tes kesehatan supaya jelas,” imbuhnya.

“Kalau yang membeberkan itu dokter RSPAD itu namanya melanggar kode etik,” tandasnya.

SBY akhirnya memilih Endang Rahayu Sedyaningsih menjadi Menkes. Hal ini memicu kontroversi mengingat Nila Moeloek yang dipanggil SBY mengikuti audisi menteri, justru gagal karena divonis tidak lolos tes kesehatan.

(van/lrn)

Jumat, 23/10/2009 00:00 WIB

Senyum & tanda tanya seputar pelantikan menteri

oleh :

Kerimbunan pohon trembesi di halaman depan Kompleks Istana Kepresiden menjinakkan terik matahari siang Jakarta, kemarin. Para menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II yang baru saja dilantik berjalan dengan santai meninggalkan istana, bersama pasangan masing-masing.

Di antara mereka tampak Endang Rahayu Sedyaningsih, menteri kesehatan yang baru. Dia menjadi perhatian pers karena sebelumnya yang mengikuti tes sebagai calon menkes adalah Prof. Nila Djuwita Anfasa Moeloek.

Begitu diketahui bahwa Endang yang akan menjadi menteri kesehatan, tersiar desas desus bahwa hal itu karena lobi Washington, terkait dengan persoalan riset di Indonesia oleh Namru (Naval Medical Research Unit) milik AS.

Endang, lulusan Harvard University jurusan kesehatan masyarakat, menurut pernyataan mantan Menkes Siti Fadillah di televisi, pernah memberikan virus flu burung ke pihak asing-suatu tindakan yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah.

Siti Fadilah kemudian memutasikan Endang dan menempat-kan dia di laboratorium yang tak berurusan lagi dengan virus flu burung.

Endang sendiri santai saja menanggapi tuduhan tersebut, terlihat dari air mukanya yang tenang ketika menjawab pertanyaan pers di istana. Suaminya hanya tersenyum simpul sambil turut mendengarkan.

Nila Moeloek mengatakan bahwa pada saat pemeriksaan kesehatan dia mengakui tidak kuat menghadapi stres. “Tapi saya tidak minta [untuk jadi menteri], jadi biasa saja,” kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengenai perasaannya tak jadi dilantik.

Tiga perempuan yang jadi buah bibir-Siti Fadilah, Endang, dan Nila-tadi malam bertemu dalam acara serah terima menkes. Mereka kelihatan bertegur sapa sambil sekali-sekali melempar senyum. Seolah tak ada apa-apa, sebagaimana berusaha diyakinkan oleh Hatta Rajasa.

Nama-nama kandidat menteri datang ke Presiden dari berbagai penjuru, kata Hatta Rajasa. Berbeda dengan menteri dari partai politik, yang datang de-ngan “kendaraan” yang lebih jelas, informasi siapa-siapa yang menyodorkan para menteri dari kalangan profesional atau karir hingga sampai ke Presiden sangat minim.

Nama Endang bisa jadi tak muncul tiba-tiba. Presiden menjelaskan bahwa dia dan Wakil Presiden Boediono mulai bekerja sejak keduanya ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.

Hatta Rajasa, dalam posisi sebagai Menteri Sekretaris Negara-kini dia Menteri Koordinator Bidang Perekonomian-juga menepis kabar bahwa nama Endang baru sampai ke Presiden menjelang pengumuman susunan kabinet.

“Semua menempuh prosedur yang sama. Tidak ada yang ujug-ujug muncul,” tegasnya.

Kabar bahwa Endang disusupkan ke kabinet untuk mengakomodasi kepentingan negara tertentu segera ditangkisnya. “Dia kredibel. Tidak betul [kabar itu]. Itu sesuatu yang terlalu spekulatif. Itu tidak betul.”

Urung dilantik

Dalam upacara pelantikan para calon menteri kemarin, wajah tiga pejabat setingkat menteri, yang nama-namanya pada Rabu malam dibacakan Presiden dalam susunan KIB II, juga terlihat di ruang upacara di istana.

Wakil Sekretaris Kabinet Lambok Nahattandas membacakan Keputusan Presiden Nomor 84 P/2009 untuk pengangkatan ke-34 menteri, lalu dilanjutkan dengan pengangkatan Kuntoro Mangkusubroto sebagai Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan melalui Keputusan Presiden Nomor 85 P/2009 dan Keppres No. 86 P/2009 yang dikeluarkan untuk mengangkat Sutanto menjadi Kepala Badan Intelejen Negara.

Dan Lambok berhenti sampai di situ. Perhatian jurnalis pun tersedot.

Tak ada Keputusan Presiden untuk Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal yang akan diisi oleh Gita Wirjawan, dalam daftar yang dibacakan oleh Lambok.

Gita sendiri, alih-alih berdiri bersama para anggota kabinet yang lain, mengambil tempat di barisan untuk para keluarga dan undangan.

Tak sulit menemui Gita seusai acara pelantikan. Ia terlihat menuntun tangan putri kecilnya Gia Putri Wirjawan. Parasnya cerah. Dia meladeni rasa ingin tahu para jurnalis dengan ramah.

“Saya nanti dilantik bersamaan dengan Sekretaris Kabinet. Dalam waktu dekat ini,” tuturnya.

Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi mengatakan pelantikan Gita akan dilakukan bersama dengan pejabat yang lain, seperti wakil menteri.

Sudi menjelaskan Presiden memiliki waktu dua pekan untuk menyusun kabinet, termasuk wakil menteri dan pejabat setingkat menteri. “Ini kan baru satu hari. Tapi semuanya dalam proses,” ujarnya.

Tersiar kabar bahwa bahwa keppres pengangkatan Gita belum diteken Presiden.

Gita disebut-sebut termasuk orang yang memiliki hubungan langsung dengan Cikeas. Konon kabarnya Agus Harimurti, putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kuliah di Harvard University, AS, menggunakan scholarship Gita, yang juga lulusan dari universitas bergengsi tersebut.

Gita Wirjawan mendapat undangan sebagai Kepala BKPM untuk menghadiri sidang kabinet pertama pada hari ini, padahal Keppres pengangkatan kepala baru dan pemberhentian kepala lama belum dikeluarkan oleh Sekretariat Kabinet.

Mudah-mudahan ini bukan gambaran bahwa kekisruhan bakal terjadi pada kabinet yang baru dilantik itu. Semuanya bergantung pada kemampuan Presiden Yudhoyono untuk menjaga kekompakan anggota kabinetnya, lepas dari apa yang disebut-sebut sebagai rivalitas antara menteri-menteri yang tergolong senior. (Linda Tangdialla) (ratna.ariyanti@bisnis.co.id/irsad. sati@bisnis.co.id/ neneng.herbawati@bisnis.co.id)

Oleh Ratna Ariyanti, Irsad Sati & Neneng Herbawati

Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Oktober 22, 2009

jangan meNYERAH: ekonomi CHINA ngeJOSSS

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 4:15 pm

China’s Economy Grows 8.9%, Fastest Pace in a Year (Update2)

By Bloomberg News

Oct. 22 (Bloomberg) — China’s economy expanded at the fastest pace in a year as stimulus spending and record lending growth helped the nation lead the world out of recession.

Gross domestic product rose 8.9 percent in the third quarter from a year earlier, the statistics bureau said in Beijing today. The median of 34 estimates in a Bloomberg News survey was for a 9 percent gain. Separate reports showed industrial production and retail sales accelerated in September.

The dollar headed higher and Asian stocks dropped on concern that the acceleration in China’s growth will spur policy makers to consider withdrawing record fiscal and monetary stimulus in coming quarters. Qin Xiao, chairman of China Merchants Bank Co., this week said it’s “urgent” for the central bank to tighten policy to avert asset-price bubbles.

“It’s all a question now of making sure they don’t overdo the stimulus,” said Stephen Green, head of China research at Standard Chartered Plc. “The probability of stronger guidance to banks on lending growth is rising.”

The MSCI Asia Pacific stock index slid 0.5 percent to 120.56 as of 12:30 p.m. in Hong Kong. China’s benchmark Shanghai Composite Index was little changed after losing as much as 0.8 percent earlier today. The dollar benefited from its status as a haven, advancing 0.2 percent to 91.17 yen and $1.4986 per euro. The yuan was little changed, trading at 6.8270.

Cabinet Statement

While China’s cabinet said late yesterday that it will maintain stimulus measures, it also signaled that inflation concern will be an increasing focus of policymaking. The State Council said the economy exceeded officials’ expectations for the first nine months of the year.

Surging auto sales helped industrial production to rise 13.9 percent in September from a year earlier, the fastest pace in more than a year, today’s data showed. Wolfsburg, Germany- based Volkswagen AG, the biggest overseas carmaker in China, sold a record 150,000 vehicles in the nation in September.

Urban fixed-asset investment climbed 33.3 percent in the first nine months from a year earlier, the statistics bureau said, as the $586 billion stimulus plan spurred the construction of roads and power plants. Retail sales gained 15.5 percent in September.

Consumer prices fell 0.8 percent in September from a year earlier, the smallest drop since declines began in February. Prices rose 0.4 percent in September from August. Producer prices slid 7 percent from a year earlier.

Annual Target

There is a “very good chance” that China will meet its economic growth target of 8 percent for this year, Vice Premier Li Keqiang told a conference in Beijing today.

For the first nine months of 2009, the economy grew 7.7 percent, with domestic demand accounting for all of the advance. Consumption, including household spending, contributed 4 percentage points of the total and investment added 7.3 percentage points. A decline in net exports of goods and services shaved off 3.6 percentage points.

By contrast, trade contributed 2.6 percentage points to economic growth in 2007, before the global crisis slashed overseas demand for Chinese products.

The nation has countered an 11-month slide in exports with the stimulus package and a record $1.27 trillion in new loans this year. Policy makers also, from July last year, halted the yuan’s gains against the dollar, providing support to exporters battered by the contraction in overseas demand.

Impetus for World

China’s advance is aiding the global economy. Japan’s government today reported that the country’s exports fell at a slower pace in September in part as the drop in shipments to China halved from the previous month. Hiroshima, Japan-based Mazda Motor Corp. said today it sold a record 91,000 vehicle in China in the six months through September.

The third-quarter GDP gain underscores China’s role as the world’s fastest-growing major economy. U.S. government figures next week are projected to show a 3.1 percent annual rate of expansion in the third quarter from the previous three months.

Premier Wen Jiabao’s government now needs to oversee a transition to encouraging business and household spending to pick up the lead from government stimulus, analysts said.

“Compared with pouring money into the economy, draining money from the economy is a much tougher job for central banks,” Qin, the chairman of China’s fifth-largest bank by market value, wrote in the Financial Times. “The dilemma is this: if we tighten monetary policy, there is a high possibility of a ‘second dip’ next year; and if we continue the loose policy, another asset bubble might be not far away.”

Inflation Outlook

In yesterday’s State Council statement, China’s government said “the policy focus of the next few months is to balance the need to maintain stable and relatively fast growth, the need to adjust the economic structure and the need to better manage inflationary expectations.”

That “change in rhetoric” suggests a tighter policy stance may be on the way, with an increase in banks’ reserve requirements possible in the first quarter of next year, said Mark Williams, a London-based economist at Capital Economics Ltd.

The Asian Development Bank has warned that keeping stimulus measures for too long risks diverting money into stocks and real estate, eroding bank asset quality and stoking inflation. Banking regulator Liu Mingkang warned yesterday of rising credit risks for banks and also told them to be ready for shifts in government policy, while the central bank said on Oct. 20 that inflation pressures are gradually building.

Asset Prices

The 68 percent gain in the Shanghai Composite Index this year and a 73 percent increase in property sales in the first nine months highlight the risk of asset bubbles.

“This emergency intervention has been executed very fast and very successfully,” Yolanda Fernandez Lommen, chief China economist at the Asian Development Bank in Beijing, said in an interview last week. “The question now is how long can the economy sustain the stimulus package and when is the moment to exit these policies?”

An exit may not be easy without unnerving investors: A plunge in July loan growth sent the benchmark stock index down more than 20 percent in August.

“China’s recovery is based on bank lending and infrastructure investment, not exports,” said Alaistair Chan, an economist with Moody’s Economy.com in Sydney. “Exports remain weak. The government will not remove stimulus measures soon.”

jangan meNYERAH: ekonomi TEKNOKRASI…

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 2:47 pm

Hatta Rajasa Bangga Lima Menteri Ekonomi dari ITB
Kamis, 22 Oktober 2009 – 21:19 wib

Andina Meryani – Okezone

JAKARTA – Seusai resmi menjadi Menko Perekonomian, Hatta Rajasa langsung meluncur untuk menghadiri silahturahmi yang diadakan almamaternya, yakni ITB. Dirinya tiba di acara pada pukul 20.50 WIB.

Sebagai Ketua Alumni ITB, dirinya mengaku bangga terhadap almamaternya terutama dengan banyaknya alumni ITB dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu jilid kedua yang mencapai tujuh punggawa. Kendati demikian, dia tidak mengungkapkan siapa-siapa saja yang berasal dari ITB.

“Alumni ITB ada tujuh orang di KIB, lima orang di antaranya di menteri ekonomi,” ujarnya bangga, saat menghadiri silaturahmi dan halal bihalal Alumni ITB di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Kamis (22/10/2009) malam.

Selain itu, dirinya juga meminta para alumni ITB untuk meningkatkan bantuan untuk dana riset dan teknologi dan dimasukkan dalam AD/ART kampus, sebagaimana yang dilakukan oleh alumni di luar negeri.

Dalam acara ini turut dihadiri pula oleh Direktur PLN Fahmi Mochtar, Wakil Ketua DPR Pramono Anung, serta Mantan Menristek Kusmayanto. (ade)

… mo itb kek, mo ui kek, ugm kek, YANG PENTING SIAP2 AJA DIRESHUFLE KALO EKONOMI GA BIKIN RAKYAT SEJAHTERA …

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: