eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Juli 31, 2009

parasit: Mahal dan PENIPU…

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 5:19 am
… artikel di bawah ini menunjukkan bahwa EKSPEKTASI TERLALU BERLEBIHAN pada MAKANAN ORGANIK, padahal selain MAHAL, juga kandungan gizinya SAMA SAJA… tentu saja faktor higienis juga dipertimbangkan …

Organic food is no healthier, study finds
Wed Jul 29, 2009 12:29pm EDT

LONDON (Reuters) – Organic food has no nutritional or health benefits over ordinary food, according to a major study published Wednesday.

Researchers from the London School of Hygiene & Tropical Medicine said consumers were paying higher prices for organic food because of its perceived health benefits, creating a global organic market worth an estimated $48 billion in 2007.

A systematic review of 162 scientific papers published in the scientific literature over the last 50 years, however, found there was no significant difference.

“A small number of differences in nutrient content were found to exist between organically and conventionally produced foodstuffs, but these are unlikely to be of any public health relevance,” said Alan Dangour, one of the report’s authors.

“Our review indicates that there is currently no evidence to support the selection of organically over conventionally produced foods on the basis of nutritional superiority.”

The results of research, which was commissioned by the British government’s Food Standards Agency, were published in the American Journal of Clinical Nutrition.

Sales of organic food have fallen in some markets, including Britain, as recession has led consumers to cut back on purchases.

The Soil Association said in April that growth in sales of organic products in Britain slowed to just 1.7 percent in 2008, well below the average annual growth rate of 26 percent over the last decade, following a plunge in demand at the end of the year.

(Reporting by Ben Hirschler; editing by Simon Jessop)

Iklan

parasit: posmo di ui

Filed under: Medicine — bumi2009fans @ 1:56 am

Jumat, 31/07/2009 00:54 WIB

SENGGANG
UI buka jurusan herbal

oleh :

JAKARTA: Untuk pertama kalinya masalah herbal menjadi program studi khusus yang terintegrasi dalam Program Pendidikan Pascasarjana di UI.

Pencetus pembentukan prodi Herbal Indonesia, tersebut adalah pendiri dan owner Martha Tilaar Group Martha Tilaar dan Rektor UI Gumilar R. Simantri.

Penandatanganan MoU pendidikan dan penelitian dalam bidang herbal itu dilakukan oleh Gumilar dan Martha Tilaar di Kampus UI Depok kemarin.

Gumilar mengatakan penerimaan mahasiswa S2 untuk Prodi Herbal Indonesia yang berada dalam bidang Farmasi, Fakultas MIPA UI ini, dilakukan mulai September. Adapun perkuliahan dimulai Januari 2010. (Bisnis/YR)

bisnis.com

Juli 30, 2009

parasit: RAKYAT INDONESIA LOM SEJAHTERA

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 11:26 pm

… maksud gw, apa yang terjadi di negara2 sedang berkembang termasuk indo memang masih jauh dari kesejahteraan … lapisan ekonomi menengah yang mapan terlalu kecil jumlahnya dibandingkan dengan lapisan ekonomi rendah yang tidak mapan … itu juga yang Boediono pernah mengungkapkan pada saat pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar … bahwa demokrasi yang mapan harus dipenuhi lewat jumlah populasi ekonomi menengah yang mayoritas … karena indo jelas sekali masih jauh dari prasyarat itu maka pada saat KECEMASAN GLOBAL masih berlangsung,

mayoritas dana Rupiah dan valas indo yang dikuasai oleh sejumlah kecil lapisan ekonomi menengah dan mapan menjadi sasaran utama perbankan indo dan bank sentral serta pemerintah indo … kelompok kecil ini jelas punya posisi tawar yang lebih besar dibandingkan pelaku lembaga keuangan indo

maka mayoritas dana Rupiah dan valas indo yang dikuasai oleh sejumlah kecil lapisan ekonomi menengah dan mapan menjadi sasaran utama perbankan indo dan bank sentral serta pemerintah indo … kelompok kecil ini jelas punya posisi tawar yang lebih besar dibandingkan pelaku lembaga keuangan indo … walau pun inflasi merosot sekali, dan angka pertumbuhan ekonomi indo cukup positif, tingkat suku bunga perbankan MASIH TERLALU VULGAR TINGGINYA … itu maksud gw sebenarnya, sebagian besar rakyat indo jelas belum sejahtera mapan dan keuangan negeri kaya alam ini masih amat lemah dalam posisi tawar terhadap para pemilik modal raksasa indo, yaitu 400 keluarga terkaya dan lapisan ekonomi menengah mapan yang beraset lebih dari Rp.100 M … padahal jelas ekonomi indo, sama seperti dengan ekonomi semua negara di dunia, amat tergantung pada kemampuan finansial perbankannya … waspada lah … 😛 mirip bang Napi …

Senin, 03 Agustus 2009 | 16:58

JAKARTA. Salah satu penyebab respons perbankan lamban menurunkan suku bunga kredit adalah posisi tawar para deposan besar. Hal ini ditegaskan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Darmin Nasution, Senin (3/8).

“Dari total dana pihak ketiga (DPK) yang ada di bank, 50%-nya dikuasai oleh hanya 1% nasabah,” ujar dia.

Para deposan besar ini kebanyakan adalah perusahaan pelat merah seperti dana pensiun atau asuransi. Darmin bilang mereka inilah salah satu biang penyebab masih tingginya bunga kredit bank saat ini. Maklum, sebagai penyimpan dana dalam jumlah triliunan, mereka biasanya menuntut bunga simpanan khusus aliasspecial rate.

“Kalau mereka diberi bunga simpanan rendah oleh bank, bank takut deposan besar ini berpindah tempat,” imbuhnya.

Namun, Darmin belum mau menjelaskan lebih detail apa langkah yang akan diambil oleh Bank Indonesia untuk mengatasi permasalahan ini.

Ruisa Khoiriyah

kalo jumlah nasabah bank indo ada 30 juta, maka 1%nya adalah 300.000 orang saja … bayangkan 300.000 menguasai sekira Rp.1000-1500 T

Hot Money Banjiri Asia
Rabu, 29 Juli 2009 – 12:23 wib
TEXT SIZE :
Nurfajri Budi Nugroho – Okezone

(Foto: Koran SI)
JAKARTA – Pergerakan positif di pasar saham Asia belakangan ini didorong oleh banyaknya jumlah aliran dana asing jangka pendek (hot money) yang mengalir ke kawasan untuk mencari pertumbuhan.

Faktor kunci lain yang menyebabkan banjir likuiditas ini adalah pelonggaran batasan dana keluar di China yang ditujukan untuk investasi asing langsung.

Walhasil, para investor berpesta seperti saat membumbungnya pasar pada akhir 2007. Ketika itu pasar saham regional melaju ke rekor tertingginya, mengikuti usulan China untuk memberikan lampu hijau bagi warga negaranya di China daratan untuk membeli saham langsung di Hong Kong –atau disebut skema ‘through train’.

Dalam artikel di Straits Times yang dilansir hari ini, Rabu (29/7/2009), para analis melihat adanya garis pararel langsung antara saat itu dan kini, termasuk risiko penggelembungan aset yang cepat.

Para perdagangan Selasa kemarin, sejumlah perusahaan mencatat lonjakan gain, seperti DBS Group Holdings yang naik 72 sen menjadi USD13,72 dan United Overseas Bank yang naik 54 sen ke USD17,38. Lonjakan juga dialami raksasa properti CapitalLand sebesar 12 sen menjadi USD4,06.

Dalam laporannya pekan lalu, Morgan Stanley mengatakan lonjakan pada pasar regional sama dengan rebound yang disebabkan through train, setelah anjloknya pasar pada Agustus dua tahun lalu.

Dalam beberapa bulan ini, arus hot money ke China telah meningkat. Hasilnya, cadangan devisa China melonjak ke level tertingginya sebesar USD2,13 triliun pada Juni lalu.

Terlepas dari hot money, pemberian pinjaman massif oleh perbankan China menciptakan likuiditas berlimpah, dan menyebabkan pasar saham Shanghai melonjak 88,8 persen tahun ini.

Di Tanah Air sendiri, aliran hot money ke pasar saham belakangan merupakan salah satu pendukung penguatan IHSG dan rupiah. Saat ini IHSG berada di atas level 2.200, sementara rupiah sudah berada di kisaran di bawah Rp10.000/USD. Kemarin sore misalnya, rupiah melenggang di kisaran Rp9.940 per USD, menguat 20 poin dibanding perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp9.960 per USD.

Semakin banyak hot money yang masuk ke lantai bursa, maka akan membuat rupiah mendapatkan berkah penguatan. Namun tetap saja perlu diwaspadai aksi ambil untung karena penguatan terjadi dalam waktu yang cepat.(jri)

Pembayaran Bunga Utang Indonesia Rp 109 T
Nilai tersebut turun Rp 1,04 triliun dibanding pagu dalam dokumen stimulus fiskal 2009.
SABTU, 1 AGUSTUS 2009, 11:58 WIB
Arinto Tri Wibowo, Agus Dwi Darmawan

Uang Rupiah (Antara)
BERITA TERKAIT
DPR: Pemerintah Mesti Transparan Soal Utang
Rasio Utang Atas PDB Turun Sejak 2005
Chatib: Rasio Utang Sudah Jauh Menurun
“Rasio Utang Indonesia Lebih Rendah”
“Siapa Saja Presidennya, Akan Hadapi Utang”
Web Tools

VIVAnews – Pemerintah dan Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati pembayaran bunga utang Indonesia senilai Rp 109,59 triliun untuk anggaran 2009.

Nilai tersebut turun sebesar Rp 1,04 triliun dibanding pagu dalam dokumen stimulus fiskal 2009 yang disepakati sebesar Rp 110,6 triliun.

Koordinator Panja Helmy Faishal Zaini mengatakan, penurunan tersebut terjadi karena adanya perubahan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah disepakati.

Sebelumnya, dalam dokumen stimulus fiskal disebutkan nilai tukar disepakati Rp 11.000 per dolar AS.

“Berdasarkan kesepakatan, sekarang nilai tukar berubah menjadi Rp 10.500 per dolar AS,” kata dia dalam pembacaan kesepakatan rapat antara Panitia Anggaran dan pemerintah, di Jakarta, Jumat malam 31 Juli 2009.

Selain menyepakati pembayaran bunga utang, dia melanjutkan, panja juga menyepakati belanja negara dalam APBN Perubahan 2009 berubah menjadi Rp 1.000,8 triliun atau lebih rendah dari pagu dalam APBN 2009 sebesar Rp 1.037,6 triliun.

Belanja negara dalam APBN-P tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp 691,5 triliun dan transfer ke daerah Rp 309,3 triliun.

Menurut Helmy, perubahan belanja tersebut dipengaruhi beberapa faktor seperti memburuknya prospek perekonomian global yang diperkirakan berdampak bagi Indonesia.

“Kami juga sudah memperhitungkan beberapa perubahan asumsi dasar ekonomi makro lainnya,” ujarnya.

Perubahan asumsi makro tersebut di antaranya kesepakatan harga minyak Indonesia (ICP) dari rata-rata US$ 45 per barel menjadi US$ 61 per barel.

Hasil panja lainnya mencakup produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp 5.401,6 triliun, pertumbuhan ekonomi diperkirakan 4,3 persen, inflasi 4,5 persen, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tiga bulan sebesar 7,5 persen, lifting minyak 960 ribu barel per hari, produksi batu bara 250 juta ton, dan lifting gas sebanyak 7.526,3 mmscfd.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews

parasit: saat semua hepi, SEMUA MULAI!

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 11:04 pm

Shares Move Higher but Fall Off the Day’s High
DOWS & P 500NASDAQ

By JACK HEALY
Published: July 30, 2009
Upbeat earnings news and a decrease in the number of people receiving unemployment benefits helped to catapult stock markets upward on Thursday, lifting them to their highest levels since last autumn. Shares, however, pulled back in the last hour of trading and finished off of their highs for the day.

After a few days of listless trading, Wall Street bounded back with another day of heady gains, extending a three-week surge that has lifted global markets more than 10 percent.

On Thursday, nearly every major market was in the black. Stocks rose modestly in Asia, closed nearly 2 percent higher in Europe and were up from Mexico to Brazil. The Standard & Poor’s 500-stock index came close to reaching 1,000 points. The technology-heavy Nasdaq index, which is up 26 percent for the year, rose to its highest point since October.

A confluence of positive earnings news, analyst upgrades and economic figures ignited the surge.

Mastercard, the BT Group, Nissan and Honda all reported better-than-expected earnings for the quarter, and the mobile phone company Motorola posted a profit after analysts had predicted a loss. Alcatel-Lucent, the French-American telecommunications company, posted a quarterly profit for the first time since it was created nearly three years ago. A Goldman Sachs analyst upgraded General Electric. And the government said that the number of people on the unemployment rolls fell by 132,000 for the week ended July 18.

All sectors of the market were in positive territory, led by industrial producers and big banks. Investors bought into companies that make basic materials like chemicals and metals as the price of oil, copper and gasoline all bounced back from their losses a day earlier.

At the close, the Dow Jones industrial average was up 83.74 points or 0.9 percent at 9.154.46, while the S.&P. 500 was 1.19 percent or 11.60 points higher at 986.75. The Nasdaq was up 0.84 percent or 16.84 points at 1,984.30.

Oil prices also rose, settling at $66.92 a barrel, up $3.57 on the day.

As lending rates among banks continue to fall and interest rates on corporate bonds settle, volatility is easing out of the markets, and more investors are being enticed to buy, analysts said. The economy is still struggling, and unemployment is expected to reach at least 10 percent by next year, but many investors are pushing aside those concerns and buying stocks.

“There’s mounting evidence that housing is bottoming,” said Thomas J. Lee, chief United States equity strategist at JPMorgan Chase. “The stress in the employment markets is easing. There’s a lot more function in the credit markets.”

Kamis, 30 Juli 2009 | 19:38

INVESTASI CHINA

China Investment Kembali Merapat ke Indonesia

JAKARTA. China tak hentinya membidik Indonesia sebagai target investasi. Kali ini China Investment, perusahaan pelat merah asal negeri tirai bambu itu tertarik menanamkan modalnya.

Oleh sebab itu, delegasi China Investment yang dipimpin Vice Chairman Dr. Gao Xiqing beserta Duta Besar Republik Rakyat China (RRC) untuk Indonesia, Zhang Qiyue, menyambangi kantor Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (30/7).

Dalam pertemuan itu Presiden didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafei Djamal, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Muhammad Lutfi.

Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro mengatakan investor China tertarik menanamkan modal di sektor pertambangan, energi, infrastruktur, dan perhubungan.

“Diharapkan bisa menjadi momen bagi penandatanganan perjanjian kerjasama, terutama kerjasama dagang dan kerjasama yg kita bicarakan tadi,” kata Purnomo.

Hans Henricus kontan

Kamis, 30 Juli 2009 | 20:29

JAKARTA. Sejumlah angka-angka perekonomian Indonesia yang positif menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki prospek cerah kendati sempat mendapat ancaman dari teroris. Hal ini ditegaskan oleh Arga Samudro, Analis BNI Securites melalui laporannya yang dirilis hari ini, Kamis (30/7).

Rupiah maupun IHSG terus menggelindingkan tren mediumnya. Arga menilai, pergerakan rupiah di pasar spot akan terus dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS. Sementara itu IHSG berada di rel yang semestinya untuk mencerminkan daya tahan perekonomian Indonesia dalam menjembatani krisis global. Bahkan, sejak awal tahun ini, indeks telah naik hampir 53%.

Menurutnya, peningkatan indeks maupun rupiah terjadi lantaran meningkatnya foreign direct investment (FDI), ongkos atau harga yang cukup murah dan pertumbuhan ekonomi yang berada di zona aman. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, total investasi paruh pertama 2009 mencapai US$ 7,3 miliar. Selain itu, jumlah proyek FDI juga naik dari 561 proyek di periode yang sama tahun 2008 menjadi 614.

Arga mencermati, motor penggerak perekonomian Indonesia sangat disetir oleh kekuatan daya beli masyarakat. Bahkan, lebih dari dua per tiga GDP disumbang dari sektor ini. Namun, sejak pemerintah mengurangi harga bahan bakar bersubsidi pada awal tahun 2009, ongkos transportasi yang menyumbang sekitar 30% dari Consumer price Index (CPI) kena imbasnya; yaitu mengkerut ke level yang paling rendah dalam sejarah perekonomian Indonesia.

Karenanya, ia memprediksi inflasi year-on-year bakal berkisar di level 2,16% di akhir tahun 2009. Sehingga, pertumbuhan CPI kemungkinan akan mencapai titik dasarnya dan berada dibawah garis tren menjadi 4,21%.

Rendahnya inflasi Juli 2009 akan memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menggelontorkan dananya melalui kebijakan moneter. Sejak rupiah makin bertenaga terhadap si hijau, Arga memprediksikan suku bunga patokan alias BI Rate akan dibabat lagi sebesar 25 basis poin menjadi 6,50% pada pertemuan mereka 5 Agustus 2009 mendatang.

“Kami yakin bahwa perekonomian Indonesia akan bisa mencapai pertumbuhannya sebesar 4,1% ditengah prediksi yang cukup buruk terhadap beberapa negara lain seperti Malaysia maupun Thailand,” ujarnya.

Investor Global, imbuh Arga, masih melihat Indonesia sebagai target investasi yang menarik dalam portfolio objektif mereka.

Femi Adi Soempeno kontan

Kamis, 30 Juli 2009 | 20:05

PREDIKSI INFLASI JULI 2009

BNI Sekuritas: Ongkos Plesiran Tinggi, Surung Inflasi Juli 0,22%

JAKARTA. Motor penggerak perekonomian Indonesia sangat disetir oleh kekuatan daya beli masyarakat. Bahkan, lebih dari dua per tiga GDP disumbang dari sektor ini. Namun, sejak pemerintah mengurangi harga bahan bakar bersubsidi pada awal tahun 2009, ongkos transportasi yang menyumbang sekitar 30% dari Consumer price Index (CPI) kena imbasnya; yaitu mengkerut ke level yang paling rendah dalam sejarah perekonomian Indonesia.

Hal ini ditegaskan oleh Arga Samudro, Analis BNI Securites melalui laporannya yang dirilis hari ini, Kamis (30/7).

Bulan lalu, CPI menyusut ke level 3,65 year-on-year meski month-on-month naik tipis 0,11% yang dipimpin oleh sektor makanan dan minuman. Dengan deflasi yang di sektor makanan dan tingginya ongkos liburan, Arga menilai CPI akan tumbuh 0,22% month-on-month, namun year-on-year akan menyentuh rekor terendahnya di level 2,47%.

“Kami menghitung, inflasi year-on-year bakal berkisar di level 2,16% di akhir tahun 2009,” tegasnya. Sehingga, pertumbuhan CPI kemungkinan akan mencapai titik dasarnya dan berada dibawah garis tren menjadi 4,21%. “Tahu sendiri, tren CPI Indonesia biasanya 6%,” imbuhnya.

Perhitungan itu tidak hanya berdasarkan pengurangan harga bahan bakar bersubsidi, tetapi Arga juga optimis bahwa panen yang menggembirakan di semester pertama tahun ini akan menggemukkan persediaan yang akan mampu memenuhi permintaan sebesar 31 juta ton pada tahun 2009 ini.

Femi Adi Soempeno kontan

EKONOMI
30/07/2009 – 17:50
BI: Pertumbuhan Ekonomi Hanya 3,9%

Budi Rochadi
(ist)
INILAH.COM, Ternate – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Rochadi mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2009 diperkirakan mencapai 3,9 persen dan akhir tahun ini akan mencapai 3,5-4,0 persen.

Deputi Gubernur BI mengatakan hal tersebut di Ternate, Kamis (30/7), pada pelantikan kepala BI Ternate, Maluku Utara (Malut) dari Endih Santosa kepada Marlison Hakim. Marlison Hakim sebelumnya sebagai Deputi Pimpinan Bank Indonesia Kediri, Jawa Timur.

Menurut Budi, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2009 didukung oleh kuatnya permintaan domestik, terutama konsumsi yang diperkirakan tumbuh 5 persen dan rendahnya laju inflasi.

Ia mengatakan, di sisi eksternal transaksi berjalan Indonesia mengalami surplus sebesar 2,2 miliar dolar AS sejalan dengan perbaikan kinerja ekspor terkait dengan mulai membaiknya ekonomi negara mitra dagang Indonesia.

“Pelaksanaan Pemilu yang berjalan baik telah berdampak positif terhadap arus dana asing ke pasar domestik dan berkontribusi terhadap peningkatan kinerja neraca pembayaran Indonesia dan cadangan devisa,” ujarnya

Menurutnya, posisi cadangan devisa saat ini mencapai 56,8 dolar AS, sementara nilai tukar rupiah meskipun sempat tertahan dan sedikit melemah sehubungan dengan adanya tragedi ledakan dan teror bom, masih menunjukkan tren menguat.

Posisi pada 27 Juli 2009, kata Budi, nilai tukar rupiah terus menguat dan merupakan yang tertajam dalam skala Asia yakni mencapai Rp9.965.

Menyingung peran Kantor Bank Indonesia (KBI) di daerah, ia mengatakan, tetap diperlukan dalam upaya mendukung perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter nasional melalui pengumpulan data atau informasi.

Selain itu, KBI di daerah juga berperan memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang perbankan dan kelancaran sistem pembayaran. Disamaping itu, KBI di daerah juga bertugas untuk melakukan fungsi edukasi, informasi, konsultasi dan fasilitasi kepada Pemda, ujarnya.

Ia mengharapkan, KBI di daerah dapat berperan sebagai sumber pandangan yang cerdas dengan solusi yang inovatif dan kreatif bagi persoalan pembangunan daerah. [*/cms]

Juli 28, 2009

parasit: keputusan PAHIT harus DITELAN, itu OBAT seh

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 6:03 pm

JULY 27, 2009
Bernanke Feared a Second Great Depression
Taking His Case to the People, Fed Chairman Defends Aggressive Actions to Stem Financial Crisis, Calls for Regulatory Overhaul
By SUDEEP REDDY

KANSAS CITY, Mo. — Federal Reserve Chairman Ben Bernanke on Sunday said he engineered the central bank’s controversial actions over the past year because “I was not going to be the Federal Reserve chairman who presided over the second Great Depression.”

Speaking directly to Americans in a forum to be shown on public television this week, Mr. Bernanke pushed back against Kansas City area residents who suggested he and other government officials were too eager to help big financial institutions before small businesses and common Americans.

“Why don’t we just let the behemoths lay down and then make room for the small businesses?” asked Janelle Sjue, who identified herself as a Kansas City mother.

“It wasn’t to help the big firms that we intervened,” Mr. Bernanke said, diving into a discourse on the damage to the overall economy that can result when financial firms that are “too big to fail” collapse.

“When the elephant falls down, all the grass gets crushed as well,” Mr. Bernanke said. He described himself as “disgusted” with the circumstances that led him to rescue a couple of large firms, and called for new laws that would allow financial firms other than banks to fail without going into bankruptcy.

Mr. Bernanke appeared stoic at times as he sought to explain his actions during the financial crisis at the town-hall-style meeting with 190 people at the Federal Reserve Bank of Kansas City hosted by the NewsHour’s Jim Lehrer. But he also joked with the crowd, saying “economic forecasting makes weather forecasting look like physics.” He quipped that he could face malpractice charges if he offered investment advice — although he then recommended that a questioner practice diversification and avoid trying to time the stock market.

The hourlong session was the latest unusual forum where the Fed chairman has explained his actions in recent months, including bailouts and massive lending. Mr. Bernanke appeared before the National Press Club in February, agreed to an interview with CBS’s “60 Minutes” in March and took questions on camera from Morehouse College students in April.

Sunday’s setting offered the former Princeton economics professor a chance to speak outside of congressional testimony and speeches to economists, as his tenure leading the central bank faces increasing scrutiny. With just six months left in his term as chairman, Mr. Bernanke will learn in the coming months whether President Barack Obama will reappoint him to another four-year term or replace him.

Mr. Bernanke repeatedly used the frustrations voiced by people in the room to show his limited options during the crisis and reiterate the need for a regulatory overhaul.

David Huston, who called himself a third-generation small-business owner, said he was “very frustrated” to see “billions and billions of dollars” sent to large financial firms and called the government approach “too big to fail, too small to save.”

“Small businesses represent the lifeblood of small cities, large cities and our American economy,” he said, and they are “getting shortchanged by the Federal Reserve, the Treasury Department and Congress.”

Mr. Bernanke responded that “nothing made me more frustrated, more angry, than having to intervene” when firms were “taking wild bets that had forced these companies close to bankruptcy.”

More than 20 people asked questions of the Fed chairman, on topics ranging from bailouts to mortgage-regulation practices to the Fed’s independence, a topic that drew the most forceful tone from the Fed chairman. Mr. Bernanke suggested that a movement by lawmakers to open the Fed’s monetary-policy operations to audits by the Government Accountability Office is misunderstood by the public.

Congress already can look at the Fed’s books and loans that could be at risk for taxpayers, he said. Under the proposed law, the GAO would also be able to subpoena information from Fed officials and make judgments about interest-rate decisions based on requests from Congress.

“I don’t think that’s consistent with independence,” he said. “I don’t think people want Congress making monetary policy.”

After appearing before lawmakers three times last week, Mr. Bernanke broke little new ground in explaining the state of the economy. He said the Fed’s expected economic growth rate of 1% in the second half of the year would fall short of what is needed to bring down unemployment, which he sees peaking sometime next year.

“The Federal Reserve has been putting the pedal to the metal,” he says. “We hope that’s going to get us going next year sometime.”

parasit: pemulihan itu masih berdarah-darah…

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 5:54 pm

Consumer confidence falls further in July

Job worries cause confidence to fall further in July, private research group says

By Anne D’Innocenzio, AP Retail Writer
On Tuesday July 28, 2009, 12:16 pm EDT
NEW YORK (AP) — Americans’ confidence in the economy eroded further in July as worries about job security offset any enthusiasm about the resumed stock market rally that has helped bolster retirement accounts.

The souring outlook presents yet another obstacle for stores’ critical back-to-school season.

The New York-based Conference Board said Tuesday that its Consumer Confidence Index, which retreated last month, fell to 46.6, down from 49.3 in June. Economists surveyed by Thomson Reuters were expecting a reading of 49. It would take a reading above 90 to signal that the economy is on solid footing.

The second straight month of decline follows an upswing in confidence this past spring fueled by a stock market rally and some signs that the economy was improving.

parasit: cara pencegahan API RAKSASA di rumah

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 10:05 am

Tips Cegah Kebakaran di Rumah
Untuk mencegah musibah ini terjadi, Anda perlu mengamankan rumah dari pencetus kebakaran.
SELASA, 28 JULI 2009, 16:54 WIB
Petti Lubis

Kebakaran Pangkalan Minyak di Cililitan (VIVAnews/Tri Saputro)
BERITA TERKAIT
Kronologi Tewasnya Sang Model
Satu Hari Dua Kebakaran Terjadi di Jakarta
Melina Jadi Freelancer Sejak Kuliah
Surprise Ulang Tahun Pun Batal Selamanya
Isak Tangis Iringi Sang Model ke Pusara
Web Tools

VIVAnews – Musibah bisa datang tanpa diduga. Salah satunya, kebakaran di rumah. Yang membahayakan, musibah ini dapat terjadi saat penghuni rumah terlelap, dan tanpa mengetahui si jago merah telah melahap rumah.

Kejadian tragis ini dialami model cantik, Melina Rachmawati Aditia di rumahnya di Kawasan Tebet, Jakarta, pagi tadi. Yang menyedihkan, model di beberapa iklan ini beserta tiga orang kerabatnya tak bisa menyelamatkan diri. Peristiwa yang cukup mengenaskan.

karean itu, untuk mencegah musibah ini terjadi di rumah, Anda perlu mengamankan rumah dari pencetus ‘serbuan’ si jago merah ini. Menurut situs propertykita.com, penyebab kebakaran bisa beragam, seperti gas dari kompor, puntung rokok yang tidak mati sempurna atau penggunaan barang-barang elektronik yang dapat mengakibatkan terganggunya aliran listrik. Anda bisa melakukan:

– Jauhkan korek api dari jangkauan anak-anak. Hal ini untuk mencegah si kecil bermain api di rumah. Karena itu, simpan korek api di tempat yang tinggi letaknya.

– Pastikan puntung rokok sudah benar-benar mati. Matikan dan buang puntung rokok pada tempatnya.

– Cermat saat menggunakan peralatan listrik. Jika Anda mencium bau gosong/asap dari peralatan listrik yang sedang digunakan, segera matikan arus listrik dengan mencabut steker. Bila terdapat kabel yang rusak, lakukan penggantian.

– Jaga arus listrik tetap aman. Sebaiknya jangan membuat cabang aliran lebih dari tiga dan hindari peletakan kabel di bawah karpet. Selain itu, jangan mengganti sekering melebihi kemampuan kabel. Gunakan kabel yang besar untuk peralatan dengan daya besar.

– Hati-hati saat memasak. Ketika menyalakan api kompor untuk memasak, usahakan agar Anda tetap di dapur. Jangan biarkan minyak goreng tetap panas ketika selesai memasak karena ketika bertemu dengan oksigen akan cepat terbakar. Tutuplah wajan dengan penutup yang aman untuk mencegah panas bertemu dengan oksigen.

– Teratur mengecek kompor. Usai memasak, bersihkan kompor. Bila kompor menyatu dengan oven, Anda bisa sekalian membersihkannya. Jauhkan kompor dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Jangan lupa, cek kebocoran gas secara teratur, minimal tiga hari sekali.

– Lengkapi keamanan rumah dengan alat kebakaran praktis. Beli dan letakkan alat pemadam api ringan (APAR) di area yang seri ng berhubungan dengan api. Ajarkan cara penggunaan APAR kepada anggota keluarga sehingga semua sudah bisa menggunakan pada saat tak terduga.

• VIVAnews

Juli 27, 2009

parasit: : P … bandar antibom… seh

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:06 pm

26/07/2009 – 20:34
Bom Ritz-Marriott Kuras Devisa
Ahmad Munjin

Bom di Hotel Ritz Carlton & JW Marriott.
(ist)
INILAH.COM, Jakarta – Banyak pihak yang mengatakan tragedi bom di Hotel Ritz Carton dan JW Marriott, tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian. Buktinya, pasar saham dan rupiah justru menguat. Namun di balik itu, cadangan devisa Indonesia ternyata ikut terkuras.

Meski tragedi ledakan bom di Kawasan Mega Kuningan Jumat (17/7) pekan lalu itu bukan satu-satunya penyebab terkurasnya cadangan devisa RI, namun pengaruh negatif dari ledakan itu ternyata berbeda dengan yang dikatakan banyak pihak itu.

Pasalnya, tidak bisa tidak, Bank Indonesia harus mengintervensi rupiah agar fluktuasinya wajar pasca ledakan bom itu. Bukan hanya BI, pemerintah pun ditenggarai telah mengintervensi pasar saham melalui Jamsostek ataupun institusi BUMN lainnya.

Meski intervensi itu tidak kuat mempertahankan indeks di area positif namun koreksinya menjadi tidak terlalu tajam. Pada perdagangan Jumat (17/7), IHSG ditutup melemah tipis 11,597 poin (0,55%) ke level 2.106,353. Rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta pada hari yang sama juga hanya melemah 30 poin menjadi 10.160.

Di balik koreksi tipis indeks adalah instruksi Menteri Keuangan, yang diberikan beberapa jam setelah ledakan terjadi. Ketika itu, Sri Mulyani meminta agar petinggi bursa ‘menjaga’ pasar secara lebih ketat.

Paling tidak untuk masa perdagangan selama tiga hari. Artinya, dengan cara apapun, pemerintah ingin dan akan berusaha sekuat tenaga agar IHSG tidak mengalami longsor berat.

Instruksi ini langsung direspon pengurus BEI, sore hari setelah ledakan bom yang terjadi pada harinya, manajemen bursa langsung melakukan pertemuan dengan sejumlah sekuritas dan bandar-bandar. Dalam meeting tersebut, kabarnya, BEI meminta pelaku pasar ikut menjaga stabilitas. “Kami diminta supaya jangan hanya mencari untung,” kata sang bandar.

Sepekan telah berlalu sejak terjadinya ledakan bom. Kini Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya melaporkan cadangan devisa yang dimiliki hingga Jumat (24/7) tinggal US$ 56,9 atau turun sekitar US$ 700 juta dibandingkan posisi pada 30 Juni 2009.

Cadangan devisa ini, salah satunya juga digunakan untuk melakukan intervensi terhadap nilai tukar rupiah yang sempat terganggu ketika terjadi peledakan bom di JW Marriot dan Ritz Charlton. Selain itu, devisa juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan valuta asing bagi pembayaran utang luar negeri.

Menurutnya, bagi Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah merupakan tugas pokok. Untuk itu, pihaknya menjaga jangan sampai terjadi gejolak rupiah yang terlalu dalam. “Yang penting volatilitas tidak berlebih,” imbuhnya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi A Sarwono mengatakan pada saat terjadi peledakan bom di JW Marriot, BI melakukan intervensi untuk meredakan kepanikan pasar sesaat.

Saat itu menurut Hartadi rupiah sempat langsung terperosok. Ia menceritakan, pada saat dibuka pagi itu rupiah berada di 10.050-10.100, namun langsung menguat hingga puncaknya 10.250. “Hal ini mendorong BI mengintervensi rupiah sehingga kembali menguat di 10.080,” imbuhnya.

Kepala Ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan memberikan rasa optimisme. Ia menilai aman penyusutan cadangan devisa menjadi US$ 56,9 miliar. “Angka itu jika dibandingkan dengan import cover dan debt cover masih cukup untuk 5,6 bulan. Masih okelah,” tuturnya.

Import cover dan debt cover adalah berapa bulan cadangan devisa jika digunakan untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri. Adapun titik kritisnya, lanjut Anton adalah tiga bulan atau sebesar US$ 30 miliar. “Pada level itu, pasar sudah mulai panik,” imbuhnya.

Meskipun mengakui cadangan devisa lebih tinggi memang lebih baik, namun angka di atas level US$ 50 dinilainya aman. Apalagi pada kondisi pasar saat ini cukup tenang. “Kalau masih di atas angka US$ 50, masih oke,” tandasnya.

Bahkan, BI cenderung lebih konservatif. Menurut Anton, otoritas moneter itu sudah mulai hati-hati jika cadangan devisa hanya cukup untuk empat bulan impor ataupun debt cover pada kisaran cadangan devisa US$ 44 miliar. [E1]

Juli 24, 2009

wajahmu mengalihkan duniaku:china tolong AMRIK, LUMRAH seh

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 5:55 am

Dana Tunai China Lebih Likuid dari AS
Jum’at, 24 Juli 2009 – 09:49 wib
TEXT SIZE :
Widi Agustian – Okezone

Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA – Dana segar (cash money) yang dimiliki China tercatat lebih likuid jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS). Adapun per Juni 2009, dana tunai yang dimiliki China adalah sebesar 98 persen, sementara AS hanya sebanyak delapan persen saja.

“Cash money (dana segar) China sebesar 98 persen, lebih likuid dibanding AS yang sebesar delapan persen,” kata pengamat ekonomi Yanuar Rizky, di Jakarta, Jumat (24/7/2009).

Dana tunai dari kedua negara ini berbanding terbalik dengan angka portofolionya. Di mana per Juni 2009, aset portofolio (meliputi saham, obligasi, dan lainnya) AS mencapai 92 persen, sedangkan China hanya 11,93 persen.

Yanuar menambahkan, aset China di International Portofolio sebesar 0,15 persen dari total alokasi dana di China. Menurutnya, China memang memiliki banyak surat utang di AS, tapi China menerapkan aturan repatriasi yang ketat, yaitu uang eksportir yang melakukan bisnis di China harus disimpan di China.

“Sumbangan dana “stay tune” yang paling besar di Juni 2009 ini 43,57 persen. Jangan salah, China tidak agresif untuk mengalirkan sisa uangnya dalam surat utang, karena mereka konsisten membeli emas terus. Kalau dihitung, China memang “bulus” mengambil aset asing sebesar 0,15 persen. Namun China juga mengambil utang ke internasional sebesar 0,11 persen,” paparnya.

Selain itu, Yanuar mengungkapkan hal yang berbeda tentang AS. Dia mengatakan hampir 50 persen dari portofolio AS berada di negara lain. Sehingga, dalam kondisi kekeringan likuiditas seperti sekarang ini, AS ‘menggoyang’ portofolio dunia.

“Dari portofolio AS, sebanyak 49,99 persen ada di pasar keuangan negara lain. Kalau Anda di posisi AS untuk bertahan hidup, ya goyangin portofolio dunia,” jelasnya.

Sementara itu, Indonesia yang memang mengandalkan dana dari luar, baik untuk portofolio maupun sektor riil, memiliki peranannya sendiri bagi kedua negara tersebut. “Indonesia di mata AS untuk “goyang portofolio”, tapi di mata China untuk “goyang duit”. Nah, di mata kita sendiri?,” pungkasnya sembari bercanda. (ade)

wajahmu mengalihkan duniaku:indo tolong eropa, JAMAKlah

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 5:54 am

Arus Modal dari Eropa Berpotensi Ditarik
Jum’at, 24 Juli 2009 – 11:53 wib
TEXT SIZE :
Ahmad Nabhani – Okezone

Foto: corbis
JAKARTA – Pemerintah melihat ada potensi terjadinya penarikan arus modal yang berasal dari negara-negara Eropa terhadap negara-negara di dunia dan termasuk yang ada di Indonesia. Pasalnya, saat ini perekonomian Eropa belum sepenuhnya pulih bila dibandingkan dengan Amerika Serikat.

“Kalau ekonomi Eropa masih tidak stabil, pasar uang terus berfluktuasi dan mereka butuh modal dan untuk itu maka arus modal bisa ditarik di seluruh dunia termasuk Indonesia,” ungkap Staf khusus Menteri Keuangan Chatib Basri kepada wartawan di Gedung Depkeu, Jakarta, Jumat (24/7/2009).

Menurutnya, dampak dari belum pulihnya ekonomi Eropa sangat berpengaruh bagi Indonesia khususnya ekspor. Kendati Eropa bukan pasar utama ekspor untuk Indonesia.

Potensi terjadinya penarikan arus modal dari negara Eropa di seluruh dunia tidak terlalu terpengaruh besar bagi fluktuasi nilai tukar rupiah.

“Fluktuasi rupiah akibat penarikan arus modal di seluruh dunia bisa ditahan karena AS masih tetap memerlukan dolar untuk membuat current account-nya baik. Bila ini dilakukan, rupiah masih tetap stabil di Rp10.000 per USD,” jelasnya.

Dia pun memprediksikan pemulihan ekonomi di Eropa masih panjang, karena secara fundamental sektor keuangannya saat ini belum pulih.

Kata Chatib, pemerintah harus tetap mewaspadai segala bentuk risiko yang ada walaupun kredit default swap Indonesia turun hingga 300 basis poin (bsp).

“Segala macam risiko tetap kita jaga karena kita tidak bisa memastikan krisis di sektor keuangan di negara maju sudah berakhir,” ungkapnya.

Menyinggung dampaknya bagi sektor riil, dia menilai sejauh ini belum terasa dampak negatifnya. Pasalnya, pasar ekspor mengalami kenaikan di mana outlook global sudah naik dari 1,9 persen menjadi 2,5 persen. Maka, nilai ekspor akan tetap lebih baik walaupun butuh waktu yang cukup lama.

Dia pun kembali menegaskan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan tetap tumbuh karena disokong sektor swasta yang pulih dan konsumsi pemerintah dan masyarakat.

Meskipun dirinya masih pesimistis harapan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun sebesar lima persen bisa terealisir. (ade)

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: