eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Desember 29, 2008

putus nyambung: analis2 pada bertebaran, cek lah…

Filed under: GLOBAL ECONOMY,Terkait Saham BEI — bumi2009fans @ 10:32 am

I am Investor: putus nyambung: optimistik realistik anti-resesi anti-deflasi anti-anjlok…

Iklan

putus nyambung: katanya, katanya…

Filed under: Terkait Saham BEI — bumi2009fans @ 12:45 am

3 Saham Tahan Banting Vs Krisis Ekonomi 2009

Sabtu, 27 Desember 2008 – 14:52 wib

Ahmad Nabhani – Okezone

<!–// –>

JAKARTA – Terdapat beberapa saham yang tahan banting dan layak dikoleksi bagi pelaku pasar di tengah lambatnya pertumbuhan ekonomi di tahun depan. Di antaranya, sektor semen, konsumer dan telekomunikasi.

“Ketiga saham ini akan menjadi unggulan para broker,” kata pengamat pasar modal Bahana Sekuritas Harianto mengatakan, di Jakarta, Jumat (27/12/2008).

Alasan ketiga sektor saham tersebut layak dikoleksi karena, sektor semen akan banyak menyerap kebutuhan infrastruktur yang akan digenjot lebih kencang dari pemerintah. Kendatipun pertumbuhan sektor properti diproyeksikan turun.

Sementara di sektor konsumer dan telekomunikasi akan banyak permintaan di tengah perputaran uang yang sangat kencang menyambut Pemilu 2009. Di sisi lain, peluang kembali diturunkannya acuan suku bunga Bank Indonesia (BI rate) menjadi sentiment positif.

Dia pun menegaskan, tahun depan masih ada secerca harapan membaiknya kondisi pasar modal dalam negeri. Meskipun pertumbuhan ekonomi berjalan lambat.

Keyakinan pasar modal masih membaik ditunjukkan dari mulai masuknya dana-dana asing di pasar modal dan ini membuktikan para investor asing masih mempercayai kondisi pasar dalam negeri untuk berinvestasi. “Harapan investasi pasar saham dalam negeri membaik sangat terbuka lebar,” paparnya.

Meskipun demikian, dia menilai tahun mendatang para investor dalam negeri belum mampu menggerakkan pasar saham dan masih digerakkan oleh investor asing. Hal tersebut disebabkan, minimnya investasi dalam negeri dan sosialisasi investasi saham yang masih kurang bagi investor dalam negeri.

Selain itu, Harianto juga mengingatkan para pelaku saham dan pemula untuk bisa lebih selektif dalam investasinya di pasar modal dan jangan terbawa pada manajemen investasi yang asal-asalan dan akhirnya merugikan investasi jangka panjang. (rhs)

putus nyambung: O factor is the cure …

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:41 am
28/12/2008 – 12:06
2009, Obama akan Angkat Wall Street?
INILAH.COM, New York – Tahun ini menjadi tahun kelabu bagi Wall Street karena begitu banyak saham yang melorot nilainya akibat berbagai tekanan menyusul krisis keuangan AS dan global.

Mampukah bursa saham terbesar dunia itu menggeliat kembali tahun depan? Meski belum dapat dipastikan, namun pasar berekspektasi tahun depan harga saham akan mulai bangkit secara bertahap. Lantas apa yang mendasari ekspektasi itu?

Ternyata pasar banyak berharap pada faktor Barack Obama, yang akan dilantik pada 20 Januari mendatang. Setelah presiden AS ke-44 ini menduduki Gedung Putih, ada harapan ia akan mulai mengambil kebijakan taktis dan strategis untuk dapat memulihkan kembali kinerja Wall Street, tempat bernaungnya sejumlah perusahaan penggerak ekonomi Amerika dan dunia.

Obama juga diharapkan dapat membebaskan perekonomian Amerika dari jeratan resesi melalui paket stimulus senilai lebih dari US$ 800 miliar, seperti yang diumumkan tim ekonomi presiden terpilih itu beberapa waktu lalu.

Bursa saham AS belakangan tumbuh sekitar 20% dari posisi terendahnya pada 21 November lalu dan ada kesempatan untuk terus menguat setelah mendapat dukungan dari Federal Reserve yang melakukan berbagai kebijakan penurunan sukubunga,” kata Alfred Goldman, chief market strategist di Wachovia Securities.

The Fed telah berjanji melakukan langkah apapun untuk membantu memulihkan perekonomian dan melonggarkan aliran kredit dengan memangkas sukubunga secara drastis hingga mendekati nol persen.

Goldman mengatakan tingkat valuasi saham sangat menarik saat ini dan risiko terjadinya depresi sepertinya tak akan terwujud. Ia juga memperkirakan resesi akan berakhir medio tahun ini.

“Kami tahu bahwa 2009 akan memunculkan gagasan-gagasan baru dari presiden terpilih,” ujar Goldman menggambarkan prospek pasca pelantikan Obama melalui paket stimulusnya.

Di tengah lesunya pasar tenaga kerja dan pemangkasan pengeluaran serta seretnya aliran kredit, tanda-tanda pertumbuhan mulai terlihat sehingga dapat tercapai pemulihan sedang mulai pertengahan 2009, kata Stephen Auth dari Federated Investors.

Pada pekan yang berakhir Jumat (26/12), indeks Dow Jones jatuh 0,74% menjadi 8.515,55 menyusul penurunan 0,59% pada pekan sebelumnya.

Sementara indeks Nasdaq melorot 2,17% menjadi 1.530,24 dan indeks Standard and Poor’s 500 turun 1,69% menjadi 872,80.

Kejatuhan harga saham itu terkait dengan lesunya data dari sektor perumahan, dan kecemasan terhadap masa depan sektor otomotif serta jatuhnya kinerja keuangan perusahaan dan ambruknya nilai properti sektor keuangan.

Paul Nolte, director of investments di Hinsdale Associates, memperkirakan penguatan akan terjadi pada awal tahun depan.

Namun, ia memperingatkan bahwa jika pelemahan masih terjadi hingga kuartal kedua 2009, maka pasar akan kembali lesu hingga semester pertama tahun depan hingga periode delapan bulan pertama 2009.

“Kami memperkirakan pada semester kedua tahun depan bukan hanya menampilkan kinerja yang bagus, tapi perekonomian negara ini akan mulai menggeliat,” ujarnya. [tra]

putus nyambung: euro is the cure …

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:39 am
29/12/2008 – 07:01
Rahasia di Balik Sukses Euro
Asteria & Vina Ramitha

INILAH.COM, Berlin – Sepuluh tahun lalu, Eropa meluncurkan eksperimen besar menggunakan mata uang bersama, yaitu euro. Meski awalnya sempat terpuruk terhadap dolar AS, euro berhasil bangkit dan diprediksi dapat menjadi mata uang terkuat di dunia.

Mendekati hari jadinya yang ke-10, 1 Januari 2009 mendatang, euro sudah memenuhi janjinya untuk menekan biaya, meningkatkan perdagangan dan pariwisata, memacu perumbuhan, dan memperkuat komunitas Eropa.

Di tengah krisis finansial global, euro seakan memberi keamanan pada negara-negara yang bergabung dengan mata uang bersama yang kuat. “Setelah 10 tahun, euro benar-benar mampu menciptakan sebuah kawasan yang aman dan stabil,” ujar Menteri Keuangan Prancis, Christine Lagarde pertengahan Desember lalu.

Dari semua sisi, menurutnya, euro secara nyata telah membuktikan asumsi-asumsi yang salah tentang mata uang ini saat pertama kali digunakan.

Ketika dilucurkan untuk kepentingan non tunai pertama kali tahun 1999, hanya 11 negara yang bergabung, yaitu Austria, Belgia, Finlandia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Portugal dan Spanyol. Sedangkan saat uang kertas dan koin diperkenalkan tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1 Januari 2002, negara-negara yang bergabung bertambah banyak. Siprus, Yunani, Malta, Slovenia, dan Slovakia, ikut serta sehingga jumlah total menjadi 16 negara.

Otmar Issing, mantan anggota Bank Sentral Eropa (ECB) mengatakan, daya tarik euro adalah kemampuannya menyediakan stabilitas dan keamanan dari badai krisis global. ECB menciptakan sentimen positif berlebihan terhadap euro, bahwa mata uang itu anti inflasi. Sikap ini mirip dengan bank sentral Jerman, Bundesbank, salah satu pendahulu ECB.

“Euro adalah mata uang yang stabil, ekspektasi inflasi dikontrol sejak awal. Namun, para peneliti, skeptis terhadap hasil pengendalian inflasi tersebut,” ujarnya.

Adapun keluhan utama beberapa pemerintah negara yang sudah menggunakan euro selama 10 tahun adalah penerapan kebijakan suku bunga bank yang seimbang. Ini berarti, suatu negara tidak bisa langsung memotong suku bunga ketika perekonomian mereka turun.

Namun, pelemahan ekonomi global yang berawal dari AS ini merata di semua negara pengguna euro secara bersamaan, sehingga perasaan senasib ini membuat mereka melupakan bahwa euro juga pernah melemah. Pada Oktober 2000 lalu, 1 euro yang senilai dengan US$ 1,18 saat diluncurkan, anjlok menuju ke 82 sen.

Saat itu, ECB dan Bank Sentral AS (The Fed) harus melakukan intervensi untuk menyelamatkan euro. Ekonom IHS Global Insight London, Howard Archer mengtakan, pada awal penggunaan, pelemahan nilai euro sempat membuat khawatir beberapa pihak. Namun sejak itu, kekuatannya terus melesat hingga mencapai US$ 1,6038 tahun ini. Meskipun sempat turun ke level US$ 1,40, mata uang tunggal Eropa ini tetap menguat dibandingkan poundsterling.

Salah satu syarat menggunakan euro adalah menyelesaikan utang negera. Menurut dosen ekonomi Hunter College New York, Randall Filer, syarat itu adalah hal yang tepat. Sebab, pemerintah mendapatkan pondasi kuat untuk membuat reformasi ekonomi. “Pemerintah-pemerintah ini mampu memulai pasar buruh dan reformasi fiskal yang sangat diperlukan,” ujar Filler.

Senada dengan itu, ekonom Bocconi University di Italia, Franco Bruni, mengatakan, euro memberikan kebijakan moneter yang lebih baik daripada mata uang lama mereka, lira. Lira rentan inflasi.

Euro seolah memberi kekuatan anti inflasi pada ECB pada negara-negara yang tadinya tak memilikinya. “Dengan demikian, pengguna euro terintegrasi dengan negara asing lainnya dan mempermudah investasi ke luar negeri. Bank di Italia kini bisa beroperasi di skala yang lebih besar dan membeli saham dengan mudah.”

Selama enam tahun terakhir, perdagangan dan pariwisata semakin mudah dengan sistem pasar tunggal. Selain itu, sistem ini berhasil menciptakan 15 juta lapangan pekerjaan dan investasi asing. Kecuali Slowakia, euro telah digunakan sekitar 330 juta orang dengan GDP lebih dari 4 triliun euro atau setara dengan US$ 5,5 triliun (Rp60,5 biliun dengan kurs Rp11.000 per dolar AS).

Negara pengguna euro kini menikmati pasar obligasi yang lebih besar dan efisien dengan risiko devaluasi mata uang serta inflasi yang lebih rendah. Negara anggota baru UE seperti Polandia, Republik Ceko, serta negara Baltik seperti Latvia, Lithuania, dan Estonia sedang dalam proses untuk bergabung dengan mata uang tunggal itu.

Sayangnya, terpaan badai krisis membuat niat itu sementara tertunda. Sentimen pro-euro ini juga tersebar di negara yang sebelumnya menolak seperti Swedia. Melemahnya mata uang lokal mereka, krona, membuat Swedia harus memikirkan ulang penolakan mereka itu.

Selain itu, menurut ekonom Lars Calmfors, respon cepat pemimpin UE untuk menuangkan miliaran modal dan loan guarantee ke sistem keuangan mereka semakin menambah kepercayaan terhadap euro. “Artinya, jika kita tetap berada di luar, kita tidak akan berada di meja ketika keputusan di ambil,” pungkasnya. [I4]

putus nyambung: bailout is the cure?

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:35 am

December 28, 2008

Economic View
nyt

Bailout of Long-Term Capital: A Bad Precedent?

THE financial crisis is a result of many bad decisions, but one of them hasn’t received enough attention: the 1998 bailout of the Long-Term Capital Management hedge fund. If regulators had been less concerned with protecting the fund’s creditors, our current problems might not be quite so bad.

Long-Term Capital was advised by finance quants, or quantitative analysts, who made a number of unsound, esoteric bets, including investments in interest rate derivatives. When Russia’s inability to pay its debts roiled global markets, the fund, saddled with high-leverage and off-balance-sheet obligations, was near collapse.

Because Long-Term Capital owed large sums to banks and other financial institutions, the Federal Reserve Bank of New York organized a consortium of companies to buy it out and cover the debts. Alan Greenspan, then the Fed chairman, eased monetary policy to restart capital markets, which were starting to freeze up. Long-Term Capital’s shareholders were wiped out, but none of the creditors took losses.

At the time, it may have seemed that regulators did the right thing. The bailout did not require upfront money from the government, and the world avoided an even bigger financial crisis. Today, however, that ad hoc intervention by the government no longer looks so wise. With the Long-Term Capital bailout as a precedent, creditors came to believe that their loans to unsound financial institutions would be made good by the Fed — as long as the collapse of those institutions would threaten the global credit system. Bolstered by this sense of security, bad loans mushroomed.

Of course, there were many reasons for the reckless lending and failures of risk management that led to the most recent systemic credit shocks. And we have now entered the realm of trillion-dollar bailouts, vast contagion across financial institutions, rapid deleveraging of banks and an economic crisis that some people are starting to compare to the Great Depression.

The Long-Term Capital episode looks small when viewed against all of that. But it was important precisely because the fund was not a major firm. At the time of its near demise, it was not even a major money center bank, but a hedge fund with about 200 employees. Such funds hadn’t previously been brought under regulatory protection this way. After the episode, financial markets knew that even relatively obscure institutions — through government intervention — might be able to pay back bad loans.

The major creditors of the fund included Bear Stearns, Merrill Lynch and Lehman Brothers, all of which went on to lend and invest recklessly and, to one degree or another, pay the consequences. But 1998 should have been the time to send a credible warning that bad loans to overleveraged institutions would mean losses, and that neither the Fed nor the Treasury would make these losses good.

What would have happened without a Fed-organized bailout of Long-Term Capital? It remains an open question. An entirely private consortium led by Warren E. Buffett might have bought the fund, but capital markets might still have frozen because of the realization that bailouts were not guaranteed.

And Fed inaction might have had graver economic consequences, especially if a Buffett deal had fallen through. In that case, a rapid financial deleveraging would have followed, and the economy would have probably plunged into recession. That sounds bad, but it might have been better to have experienced a milder version of a downturn in 1998 than the more severe version of 10 years later.

In 1998, there was no collapsed housing bubble, the government’s budget was in surplus rather than deficit, bank leverage was much lower, and derivatives markets were smaller and less far-reaching. A financial crisis related to Long-Term Capital, however painful, probably would have been easier to handle than the perfect storm of recent months.

The ad hoc aspect of the bailout created a precedent for what has come to be called “regulation by deal” — now the government’s modus operandi. Rather than publicizing definite standards and expectations for bailouts in advance, the Fed and the Treasury confront each particular crisis anew. Decisions are made as to whether a merger is possible, whether a consortium can be organized, what kind of loan guarantees can be offered and what kind of concessions will be extracted in return. So far, every deal — or lack thereof, in the case of Lehman Brothers — has been different.

While there are some advantages to leaving discretion in regulators’ hands, this hasn’t worked out very well. It has become increasingly apparent that the market doesn’t know what to expect and that many financial institutions are sitting on the sidelines, waiting to see what regulators will do next. Regulatory uncertainty is stifling the ability of financial markets to engineer at least a partial recovery.

John Maynard Keynes famously proclaimed that “in the long run we are all dead.” From the vantage point of 1998, today is indeed the “long run.”

We’re not quite dead, but we are seriously ailing. As we look ahead, we may be tempted again to put off the hard choices. But perhaps the next “long run,” too, is no more than 10 years away. If we take the Keynesian maxim too seriously, and focus only on the short run, our prospects will be grim indeed.

Tyler Cowen is a professor of economics at George Mason University.

putus nyambung: LIRP is the cure (2)…

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 12:29 am

BOJ cuts interest rate to 0.1%

THE ASAHI SHIMBUN

2008/12/20

Describing the Japanese economic situation as “worsening,” the Bank of Japan on Friday cut its key interest rate by 0.2 percentage point to 0.1 percent per annum.

The BOJ had cut its target for the uncollateralized overnight call rate in late October for the first time in nearly eight years, and some BOJ officials argued that more time should have been set aside to determine the effectiveness of that rate cut.

However, the BOJ Policy Board decided Friday that another interest cut was needed to help bolster the Japanese economy, with only one of the eight Policy Board members opposing the move.

Desember 28, 2008

putus nyambung: carry trade is the cure…

Filed under: GLOBAL ECONOMY — bumi2009fans @ 11:34 pm

kontan.com

JAKARTA. Suku bunga akan menjadi kunci pemilihan valas di 2009. Seperti yang diketahui, belakangan terjadi penurunan suku bunga dunia. Misalnya saja European Central Bank (ECB) dan The Federal Reserve (the Fed). Bahkan Jepang yang selama ini merupakan Negara dengan suku bunga terendah, ikut pula memangkas suku bunga patokannya hingga tinggal 0,1%.

Tren bunga rendah ini yang bakal terus berlanjut hingga 2009 sehingga membuat para pemain valas kembali memburu high yield currency. Praktik carry trade pun bakal kembali marak, terlebih setelah Jepang ikut menurunkan suku bunga. “Masih terbuka peluang masuk ke mata uang negara yang ekonominya solid dan menawarkan bunga tinggi,” ujar Kepala Tresuri BCA Branko Windoe.

artinya, carry trade 2009 lebih banyak asal sumber dananya: jepun, amrik, dan mungkin eurozone kalo emang jadi turun s/d 1%, atau malah oz, jika emang juga mo turun ke 1% … tapi kayanya, carry trade juga akan menjadi biang keladi kecemasan jika investor emang terlalu serakah

Catatan saja, carry trade merupakan suatu kondisi yang memicu investor meminjam duit dari negara yang suku bunganya rendah, lalu menanamkannya kembali di negara-negara dengan bunga tinggi.

Namun Kepala Tresuri ANZ Panin Willing Bolung berpendapat lain. Menurutnya, valas yang bakal menjadi idola di 2009 adalah valas yang fluktuatif. “Daya tarik bagi investor justru terletak pada volatilitasnya. Biasanya karena adanya perubahan di bidang ekonomi, politik dan keamanan,” ujar Willing.

Hari Widowati, Avanty Nurdiana KONTAN

putus nyambung: buka2an, tapi buka otak doang…

Filed under: Investasi Reksa Dana — bumi2009fans @ 11:30 pm

http://www.kontan.co.id/index.php/Pemula… itu link untuk calon investor untuk mulai membuka wawasan … trus bole juga liat2 ke ekonomi tak serius bagian investasi reksa dana di indonesia 2008 … buka wawasan dulu, baru buka dompet … jangan sebaliknya

putus nyambung: emasmu, emasmu, emasku, emas…

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:27 pm

Sabtu, 27 Desember 2008 | 10:32
Penuh Perhitungan dalam Berbelanja Logam Mulia

JAKARTA. Meski harga emas masih berpotensi naik tahun depan, namun investor yang baru mau masuk harus berhitung benar sebelum berbelanja logam mulia tersebut sekarang ini.

Menurut Country Representative World Gold Council Leo Hadi Loe, saat emas sudah nangkring di harga US$ 800-an per troy ounce seperti sekarang, hanya investor yang mau jangka pendek yang kebanyakan bermain di kontrak berjangka emas saja yang boleh masuk. Sebab, karena harga emas masih menyimpan potensi naik hingga US$ 900-an per troy ounces.

Tapi bagi investor jangka panjang dan yang bermain di fisik emas, mengoleksi emas saat ini bukan langkah tepat. “Untuk investor jangka panjang, harga segitu sudah enggak menarik karena ada potensi terkoreksi sampai ke level US$ 500-an,” papar Leo.

Untuk mengetahui arah pergerakan harga emas ke depan, investor harus terus mencermati kondisi Amerika di tiga bulan pertama 2009. Di rentang waktu itulah, tren pergerakan banderol emas akan lebih jelas terlihat.

Saat perekonomian AS membaik, investor bakal berani kembali menanam duitnya di instrumen pasar keuangan. Seperti saham dan obligasi. Walhasil, duit yang selama ini tertanam di emas perlahan akan keluar. Kalau ini terjadi, harga emas akan merangsek turun.

Sejauh ini memang belum ada analis yang dengan lugas dan lantang menyatakan krisis global belum akan segera berakhir. Tapi, meski masih malu-malu kucing, beberapa analis mulai optimistis krisis finansial bakal berakhir tahun depan. “Posisi AS sudah mulai menunjukkan bottom out,” ujar Radityo S. Wibowo, Kepala Riset Monex Investindo Futures. “Tren harga emas di 2009 adalah menurun, tidak akan semenarik tahun 2008,” imbuh Radityo.

Sebaliknya, bagi investor yang baru mau belanja emas, tunggulah sampai ada tanda ekonomi AS membaik dan harga emas turun. “Saat harga sudah mendekati US$ 850-US$ 880 per troy ounce, saat itu kemungkinan banderol emas bersiap turun,” ujar Radityo.

Yang pasti, cermat dan jeli mengendus arah pergerakan pasar adalah syarat utama dalam investasi emas 2009. Dengan begitu, senyum para investor tetap mengkilap seperti kemilau emas.
Ruisa Khoiriyah, Andri Indradie KONTAN

putus nyambung: jangan taruh semua di satu tempat

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:19 pm

BII Thamrin Bobol Lagi Rp 10 Miliar Korban Bertambah, Fakta Dibantah

[JAKARTA] Korban pembobolan safe deposit box (SDB) di Bank Internasional Indonesia (BII) Thamrin, Jakarta Pusat (Jakpus) terus bertambah. Senin (22/12), Susana, warga Pluit, Jakarta Utara kembali melaporkan telah kehilangan sejumlah perhiasan seperti emas dan berlian di SDB tersebut. Total kerugian mencapai lebih dari Rp 10 miliar.

“Saya tidak bisa memberikan angka pasti karena sangat banyak dan berharga. Tetapi, angkanya di atas Rp 10 miliar,” kata Susana di Jakarta, Senin (22/12).

Laporan Susana adalah yang terbaru dan kerugian yang sangat besar. Dia sengaja mengecek perhiasan di kotak deposit pada Minggu (14/12) bersama anaknya karena ada berita pembobolan di BII Thamrin. Ternyata benar, perhiasan Susana juga ikut hilang.

Dia mengaku kecewa karena saat dikonfirmasi ke customer care BII, sehari sebelum dicek Sabtu (13/12), ditegaskan, perhiasannya aman dan masih ada. Bahkan, berita yang ada dianggap rumor saja.

“Mereka cuek. Pada saat barang saya hilang, tidak ada tanggung jawab apa-apa. Pegawai BII, Ester Evalin yang ikut cek hanya bilang, oh iya ada kehilangan. Setelah itu pergi. Saya benar-benar kecewa,” tutur Susana yang mengaku telah 10 tahun menjadi nasabah BII.

“Perhiasan saya hilang. Tiap tahun, saya bayar Rp 1 juta untuk sewa SDB. Tetapi mereka sama sekali tidak ada pertanggungjawaban,” tambahnya.

Sebelumnya, pada Rabu (10/12), Rina, warga Taman Sari, Jakarta Barat telah melaporkan kehilangan sejumlah perhiasan di SDB tersebut dengan kerugian Rp 500 juta. Dua hari berikutnya, Elna, warga Kedoya, Jakarta Barat melaporkan hal yang sama. Elna tidak bisa memastikan angka kerugian, tetapi diperkirakan Rp 300-500 juta.

Sabtu (20/12) lalu, Ivone Santoso juga melaporkan kehilangan perhiasan di SDB Thamrin dengan kerugian mencapai Rp 5 miliar.

Kepala Divisi Komunikasi BII, Esti Nugraheni membantah pihaknya masa bodoh terhadap kasus tersebut. Ia menegaskan telah menyerahkan penyelidikan kasus itu ke pihak kepolisian. Diingatkan, ada pasal dalam surat pernyataan nasabah penyimpan perhiasan bahwa BII tidak bertanggung jawab atas isi barang yang disimpan.

“Kami tidak tahu apa isi yang disimpan. Jadi, kami tidak bertanggung jawab,” ujar Esti, Senin sore. Saat ditanya apakah itu berarti tidak bertanggung jawab atas barang yang hilang, ia tidak menjawabnya.

“Tunggu saja yah penyelidikan polisi. Laporan yang ada adalah klaim nasabah,” jawabnya dengan diplomatis.

Di tempat terpisah, Elna yang merupakan salah satu korban pembobolan menjelaskan, barang nasabah yang hilang kebanyakan berada di blok D, Menara II BII. Pada isi kotak yang hilang, tidak terlihat ada kerusakan yang berarti. Yang ada hanya bekas cungkilan pada gembok kotak. Dengan kenyataan itu, ia sangat yakin ada oknum BII yang terlibat.

“Orang luar kan tidak boleh masuk. Jadi, kuat dugaan oknum BII terlibat,” tegas Elna, Senin malam. [RBW/U-5]

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: