eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

Desember 29, 2007

2700-2800: Evaluasi

Filed under: Investasi Reksa Dana di Indonesia 2008 — bumi2009fans @ 1:27 am

akhirnya, ihsg ditutup di level antara 2700 dan 2800, sesuai dengan ekspektasi gw 3 bulan terakhir dan gw tulis di blog minggu lalu: yaitu di 2745,826 … artinya ihsg kira2 naek 50%-an (dibanding tgl 22/12/2006: +55,44%), sementara dibanding 29/12/05: +136,23% … padahal dow jones (bursa amrik) mungkin hanya gain sekitar 10% maksimal, n bursa nikkei (jepun) malah ditutup terkoreksi sekitar beberapa persen … walau pun tetap didera oleh beberapa kasus dalam operasional bursa, ihsg n saham2 pertambangan tetap menjadi primadona bursa 2007 … jadi selama 5 taon, ihsg tetap berada di kisaran top 5 … lumayan lah … persoalannya, disclaimer selalu bilang: pencapaian historikal atau masa lalu tidak bisa dijadikan pegangan masa depan … jadi, apakah setelah 5 taon, gain sebesar ini masih bisa diraih? prediksi kebanyakan ahli ekonomi lokal sih bilangnya tetap positif, walau pun tetap dibumbui oleh

kekuatiran semacam ambruknya kredit perumahan, angka
pertumbuhan ekonomi amrik yang berkisar 0-1% (atau malah negatif kecil), harga
minyak dunia yang menggila, inflasi di banyak negara “emerging” seperti BRIC
(brazil, rusia, india, dan cina), dan suasana geopolitik termasuk politik
indonesia menjelang pilpres 2009 …

namun, angka pertumbuhan global terutama asia pasifik yang masih cukup menjanjikan, di kisaran 7-8% itu telah memberikan harapan minimal pencapaian ihsg 2008 ga terlalu beda dengan 2007, mungkin tidak melebihi 2007, tapi mungkin juga gain turun menjadi sekitar 25-30% saja … masalah utama untuk gain di ihsg adalah komposisi investor asing dan lokal, karena selama 5 taon investor asing cukup dominan di pasar … investor lokal yang rasional masih terlalu sedikit jumlahnya, sehingga faktor emosi masih berperan terlalu besar sehingga ketika bursa bergejolak sedikit saja, sebagian besar investor lokal akan cepat2 cut loss atau jarang hold … bila jumlah investor lokal rasional bertambah, maka ekspektasi 25% saja mungkin bisa dicapai, karena pengaruh faktor eksternal minimal bisa dikurangi dengan aksi hold investor lokal untuk kepentingan jangka panjang dan menengah, minimal sampai sesudah exit poll pilpres 2009 … mungkin kah? kalo gw mah tetap aja harus optimis dong, kalo ga bwat apa porsi terbesar investasi gw ada di reksa dana, dan porsi terbesar reksa dana gw amat terkait dengan reksa dana saham … tapi, secara kontrarian, gw pasti panen saat ihsg mencapai rekor, dan gw pasti masuk pada saat crash … itu sudah merupakan naluri sih … jadi, diversifikasi dan aksi kontrarian tetap harus gw jalankan, demi mengamankan investasi dan keberlangsungan investasi, dan ujung2nya gw bole memanfaatkan hasil gain bwat kebutuhan sehari-hari yang makin lama makin mahal (apalagi hiperinflasi mungkin saja terjadi lagi pasca 2005) … semoga calculated risk yang gw jalankan masih bisa berfungsi di taon yang katanya bershio tikus … hehehehhehehe

Fuad Rahmany mengatakan dibandingkan dengan indeks utama di Asia Pasifik, kinerja IHSG berada di peringkat kedua terbaik sepanjang 2007. “BEI mencatat kinerja terbaik kedua di Asia Pasifik setelah Shenzen.”

Sabtu, 29/12/2007
Indeks gagal ditutup di level 2.800

JAKARTA: Kendati tidak berhasil menembus kembali level psikologis 2.800, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia tetap mencatat rekor dengan pertumbuhan 52,08% sepanjang tahun ini. Indeks sempat mencapai 2.810,96 pada 11 Desember 2007.

Pada penutupan transaksi tahun ini, indeks kemarin naik 6,12 poin ke level 2.745,83. Level ini sekaligus merupakan titik tertinggi selama perdagangan kemarin.

Peningkatan indeks terjadi tiba-tiba pada menit terakhir perdagangan dari level 2.733, atau lebih rendah dari posisi penutupan sehari sebelumnya, yaitu 2.739,70.

“Tidak ada window dressing. Saham PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Astra International menjadi penggerak utama,” tutur Head of Research Recapital Securities Poltak Hotradero kepada Bisnis kemarin.

Di tempat terpisah, Equity Capital Market Strategist Trimegah Securities Satrio Utomo menilai kenaikan indeks yang mendekati 2.750 sejalan dengan ekspektasi pasar.

Sementara itu, rupiah menguat 0,3% menjadi Rp9.399 per dolar AS kemarin sore. Mata uang ini sudah turun 0,4% sejak awal Desember 2007.��

“Kenaikan mingguan ini terjadi akibat penjualan dolar AS� menyusul data ekonomi pemerintah yang memburuk,” kata Janto Havianto, diler PT Bank Rabobank Internasional Indonesia, di Jakarta, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.�������������

Perdagangan kemarin merupakan aktivitas terakhir Bursa Efek Indonesia sepanjang 2007. Penutupan dilakukan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati didampingi Ketua Bapepam-LK A. Fuad Rahmany dan direksi BEI.

Menkeu menyambut positif pertumbuhan kapitalisasi pasar modal selama 2007. Nilai kapitalisasi pasar pascamerger Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya� mencapai Rp2.539 triliun per 27 Desember.

Sri Mulyani menolak klaim ada hubungan yang hilang antara pertumbuhan pasar modal dan sektor riil. Dampak langsung pasar modal ke sektor rill, menurut dia, tampak dari besarnya dana yang mengalir dan dimanfaatkan langsung pelaku usaha untuk ekspansi.

“Itu klaim yang keliru,” ujarnya.

Informasi bisnis

Dia berharap pebisnis menginformasikan kegiatan usahanya yang terkait langsung dengan sektor rill. Menurut dia, terdapat informasi yang hilang di masyarakat yang menilai pasar modal tidak berdampak langsung pada sektor riil.

Dalam kesempatan yang sama, Dirut BEI Erry Firmansyah mengatakan kinerja pasar modal tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan. Itu terlihat dari tingginya aktivitas perdagangan harian.

“Nilai rata-rata transaksi saham harian sepanjang tahun ini mencapai Rp4,3 triliun,� melonjak 138,88% dibandingkan dengan 2006, sebesar Rp1,8 triliun.”

Sementara itu, transaksi obligasi korporasi naik dari Rp130 miliar pada 2006 menjadi Rp278,47 miliar tahun ini.

Dalam transaksi perdagangan harian, menurut Erry, porsi pemodal asing dan domestik sudah berimbang. Berbeda dengan tahun lalu,� di mana pemodal asing menguasai 70%.

“Bursa Efek Indonesia juga mengharapkan pemodal individu meningkat dari 750.000 hingga satu juta orang menjadi dua juta orang pada 2008.”

Fuad Rahmany mengatakan dibandingkan dengan indeks utama di Asia Pasifik, kinerja IHSG berada di peringkat kedua terbaik sepanjang 2007. “BEI mencatat kinerja terbaik kedua di Asia Pasifik setelah Shenzen.”

Sepanjang 2007, bursa mencatat 22 emisi saham melalui penawaran umum perdana, dua reksa dana yang dapat diperdagangkan (exchange traded fund), dengan total dana yang terhimpun Rp44,54 triliun.� Dari jumlah itu, Rp16,87 triliun berasal dari penawaran umum perdana, Rp25,5 triliun dari right issue, dan Rp2,08 triliun dari waran.

Sekitar 25 emiten melakukan penawaran umum saham dengan hak memesan efek terlebih dahulu, naik 56,25% dari tahun lalu 16 emiten.

Nilai emisi rights issue melonjak� 205,29% dari Rp9,76 triliun menjadi Rp29,8 triliun tahun ini.

Dalam emisi obligasi, tercatat 39 perusahaan melakukan penawaran umum surat utang, meroket 178,57% dari tahun lalu yang hanya 14 perusahaan, sedangkan total nilai obligasi melambung 173,14% dari Rp11,45 triliun tahun lalu, menjadi Rp31,275 tahun ini.

Fuad mengatakan draf peraturan pemerintah tentang pemberian� insentif pajak sebesar 5% bagi emiten yang ber-floating 40% dari kepemilikan minimal 300 orang, tengah digodok pemerintah.

Menurut dia, ada sedikitnya 80% yang memenuhi syarat tersebut.�

“Saat ini draf tersebut di tangan Presiden. Kami berharap insentif pajak ini bisa keluar pada 2 Januari agar emiten yang ingin listing makin banyak,” ujar Fuad.

Dia menargetkan setidaknya 30 emiten baru bisa masuk bursa pada tahun depan. (06) (pudji.lestari@bisnis. co.id/rahayuningsih@bisnis.co.id/mia. chitra@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari, Rahayuningsih, & Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia

Iklan

Desember 28, 2007

belajar, belajar, belajar lagi

Filed under: Investasi Reksa Dana di Indonesia 2008 — bumi2009fans @ 4:23 pm

… enaknya di dunia maya, semua mudah dicari …
BERKENALAN DENGAN
REKSA DANA (2)
Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 667/XIII

Sebetulnya apa saja keunggulan reksa dana dibanding jenis investasi lainnya?

1. Yang pertama, Anda yang belum biasa melakukan investasi akan sangat terbantu karena ada manajer investasi yang akan mengevaluasi investasi Anda setiap harinya. Anda tidak perlu bersusah payah mengevaluasi, karena Anda cukup mendapatkan report-nya setiap bulan atau beberapa bulan sekali.

2. Yang kedua, Anda bisa melakukan investasi dengan jumlah dana awal yang kecil jumlahnya. Beberapa reksa dana bisa dimulai hanya dengan dana awal Rp 100.000,-. Bayangkan, Anda tentu tidak bisa membuka deposito dengan dana sekecil itu, bukan? Namun dengan reksa dana, dana sejumlah itu sudah bisa untuk melakukan investasi (salah satunya) ke dalam deposito.

3. Keuntungan ketiga adalah adanya diversifikasi atau penyebaran risiko. Dengan reksa dana, Anda bisa menyebar risiko investasi Anda dengan leluasa. Sebagai contoh, bila dana Anda hanya Rp 1 juta, maka Anda tidak mungkin bisa membuka beberapa deposito secara bersamaan di beberapa bank karena untuk membuka satu deposito saja dibutuhkan dana minimal Rp 500 ribu. Tapi dengan melakukan investasi di reksa dana deposito, maka uang Anda bisa tersebar di berbagai deposito dalam berbagai bank, tanpa Anda harus memiliki dana yang besar.

4. Keuntungan keempat adalah dari segi perpajakan. Pembelian maupun penjualan kembali UP dari produk reksa dana adalah bebas pajak. Ini dilakukan atas kebijakan pemerintah (Dirjen Pajak), untuk merangsang dunia investasi di Indonesia.

Bisakah Manajer Investasi Dipercaya?

Sebetulnya, kata “manajer” ditujukan bagi orang, bukan perusahaan. Tapi peraturan menyebutkan bahwa kata “Manajer Investasi” ditujukan bagi perusahaan yang mengelola investasi Anda. Orang-orang yang bekerja di dalamnya hanya disebut Wakil Manajer Investasi. Kadang-kadang disebut juga Tim Pengelola Investasi, atau Komite Investasi (Anda bisa melihatnya di prospektus Anda). Dalam bahasa keuangan, orang yang tugasnya mengelola dana investasi seperti ini disebut fund manager.

Tidak sembarang orang bisa menjadi fund manager. Dia harus mendapatkan izin dari Pemerintah (BAPEPAM atau Badan Pembina dan Pengawas Pasar Modal). Untuk mendapatkan izin tersebut, maka seorang calon fund manager harus melalui ujian yang tingkat kesulitannya sangat tinggi. Untuk mengetahui siapa saja fund manager atau anggota Tim Pengelola Investasi Anda, Anda bisa membacanya di prospektus reksa dana Anda.

Bagaimana Kalau Perusahaan Reksa Dananya Bangkrut?

Produk Reksa Dana diterbitkan oleh Perusahaan Reksa Dana, yang sekaligus bertindak sebagai manajer investasi. Karena itu, perusahaan Manajer investasi hidup dari komisi yang diterimanya sewaktu investor membeli UP (Unit Penyertaannya). Besar komisi ini biasanya maksimal sekitar 3% dari nilai UP yang dibeli nasabah. Dari komisi-komisi yang terkumpul inilah perusahaan reksa dana ini “menggaji” dirinya sendiri. Terkadang, komisi juga didapat bila nasabah menjual kembali UP yang mereka miliki.

Mungkin saja terjadi, pendapatan yang diterima manajer investasi dari komisi-komisi tersebut lebih kecil daripada biaya-biaya yang harus dia keluarkan untuk membiayai perusahaannya. Akibatnya, bisa saja manajer investasi (Perusahaan Reksa Dana) ini tidak bisa hidup lebih lama, dan akhirnya bangkrut. Pertanyaannya, apakah harta Reksa Dana yang dibeli para investor ikut hilang?

Jawabannya: tidak. Menurut peraturan, harta Reksa Dana harus disimpan dalam sebuah tempat terpisah, yang disebut dengan nama Bank Kustodian. Bank Kustodian adalah sebuah lembaga/badan yang sudah memiliki izin dari BAPEPAM untuk bisa menyimpan harta dari suatu aset reksa dana. Perusahaan Reksa Dana tidak boleh menyimpan sendiri harta reksa dananya. Dia harus menyimpannya di tempat lain, yaitu pada Bank Kustodian.

Jadi, bila Perusahaan Reksa Dana/Perusahaan Manajer investasi bangkrut, maka harta Reksa Dana yang Anda miliki dijamin tetap aman. Bacalah prospektus reksa dana Anda, di situ akan tertulis Bank Kustodian mana yang dipakai oleh perusahaan reksa dana Anda.

PEMBAGIAN REKSA DANA

Berdasarkan produk investasi yang dipilih oleh manajer investasi, ada 4 macam produk Reksa Dana:

1. Reksa Dana Saham. Ini adalah produk Reksa Dana di mana manajer investasi kebanyakan menginvestasikan uang nasabahnya ke dalam saham. Dari segi potensi keuntungan, Reksa Dana Saham dianggap bisa memberikan potensi keuntungan paling besar. Ini karena sifat saham yang nilainya bisa naik dan bisa juga turun, di mana kenaikannya bisa besar sekali, tapi penurunannya juga bisa besar sekali. Karena itulah, Reksa Dana Saham paling berisiko dibanding ketiga produk Reksa Dana yang lain.

2. Reksa Dana Pendapatan Tetap. Ini adalah produk Reksa Dana di mana manajer investasi kebanyakan menginvestasikan uang nasabahnya ke dalam surat berharga yang memberikan pendapatan tetap, yaitu obligasi. obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan dan dijual kepada masyarakat. Potensi keuntungan yang diberikan Reksa Dana Pendapatan Tetap biasanya dianggap tidak sebesar seperti pada Reksa Dana Saham. Namun demikian, potensi penurunan nilainya biasanya juga tidak besar. Itulah sebabnya, Reksa Dana Pendapatan Tetap risikonya dianggap lebih kecil daripada Reksa Dana Saham.

3. Reksa Dana Campuran. Di sini manajer investasi menginvestasikan uang nasabahnya biasanya secara sama rata ke dalam saham dan obligasi. Untuk risiko, karena Reksa Dana ini merupakan reksa dana yang mencampur saham dan obligasi, maka dianggap lebih besar daripada Reksa Dana Pendapatan Tetap, tapi lebih kecil daripada Reksa Dana Saham.

4. Reksa Dana Pasar Uang. Di sini manajer investasi menginvestasikan uang nasabahnya ke dalam produk-produk Pasar Uang seperti Deposito, SBI, dan Obligasi Jangka Pendek. Pada Reksa Dana ini, potensi keuntungannya jauh lebih kecil dari ketiga reksa dana di atas, namun pasti.

belajar, belajar juga dari orang lain…

Filed under: Investasi Reksa Dana di Indonesia 2008 — bumi2009fans @ 4:21 pm

biar gw uda lama memahami soal reksa dana dan tenggelam dalam aktivitas bereksadana, tetap aja ada hal2 yang gw ga terlalu ngerti … tapi yang penting untungnya itu lho .. hehheheheheh….
BERKENALAN DENGAN
REKSA DANA (1)
Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 666/XIII

Pada edisi yang lalu kita telah berbicara sekilas mengenai apa itu saham. Sekarang, saya akan mengajak Anda berkenalan dengan apa yang namanya Reksa Dana. Dalam Bahasa Inggris, Reksa Dana dikenal dengan nama mutual fund.

Reksa Dana adalah sebuah bentuk investasi yang dilakukan secara kolektif (bersama-sama), dan investasi ini dikelola oleh sebuah perusahaan manajemen investasi. Perusahaan manajemen investasi adalah perusahaan yang kerjanya mengelola investasi nasabahnya.

Sebagai contoh, ada investor A, B, C, D, dan E masing-masing memiliki uang berbeda-beda dan memutuskan untuk melakukan investasi secara bersama-sama. Di sini, mereka bisa menggabungkan semua uang yang mereka miliki untuk diserahkan pengelolaan investasinya pada sebuah perusahaan manajemen investasi.

Nantinya, apabila investasi itu memberikan keuntungan, katakan sebesar 15% dalam setahun, maka masing-masing dari investor tersebut akan mendapatkan keuntungan yang besarnya sesuai dengan proporsi jumlah yang mereka investasikan. Tapi bila investasi itu merugi, tentu saja masing-masing dari mereka juga akan merugi sesuai dengan proporsi jumlah yang mereka investasikan tadi.

Nah, bentuk investasi yang dilakukan secara kolektif (bersama) di mana pengelolaan investasinya diserahkan kepada sebuah perusahaan manajemen investasi inilah yang disebut dengan nama investasi Reksa Dana. Perusahaan Manajemen Investasi (selanjutnya kita sebut saja Manajer Investasi) inilah yang lalu akan melakukan investasi ke berbagai macam produk investasi seperti saham, deposito, surat utang, dan lain sebagainya. Reksa Dana sebetulnya merupakan cara yang baik untuk melakukan investasi, karena investasi Anda dikelola oleh tim pengelola investasi yang memang cakap dan (biasanya) berpengalaman.

Bagaimana Cara Kerja Reksa Dana?

Dalam prakteknya, Manajer investasi tidak menunggu investor untuk memasukkan uang lebih dulu sebelum mereka membeli produk investasi, tapi dibalik. Mereka beli dulu produk-produk investasinya, baru kemudian investasi itu dijajakan kepada investor.

Bagaimana caranya? Oke, pertama-tama, manajer investasi (yang menerbitkan Reksa Dana) akan mengundang sejumlah pihak untuk menjadi sponsor/promotor (penyandang dana). Dari sponsor inilah akan didapat dana yang cukup besar, yang akan dialokasikan ke sejumlah produk investasi.

Untuk contoh, kita misalkan saja total dana yang didapat dari sponsor adalah Rp 1 triliun. Dana sebesar itu, oleh Perusahaan Reksa Dana (melalui tim pengelola investasi-nya) akan dibelikan sejumlah investasi, seperti dibelikan sejumlah deposito di berbagai bank, dengan jangka waktu satu bulan. Contoh seperti Tabel 1.

Setelah itu, Perusahaan Reksa Dana akan membagi investasi tersebut ke dalam pecahan-pecahan kecil, yang disebut dengan nama Unit Penyertaan (UP), dimana masing-masing UP akan bernilai Rp 1.000. Sehingga dari total investasi senilai Rp 1 triliun seperti dicontohkan diatas akan didapat UP sebanyak Rp 1 triliun : Rp 1.000 = 1 miliar UP.

Nah, UP inilah yang akan diterbitkan dan dijual ke masyarakat. Dengan demikian, investasi yang dilakukan oleh investor adalah dengan cara membeli UP itu. Untuk menyeragamkan, maka UP Reksa Dana pada awalnya selalu dijual dengan harga awal Rp 1.000. Dalam hal ini, harga atau nilai UP tersebut disebut juga dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB).

Jumlah UP yang dibeli investor berbeda-beda, ada yang hanya membeli 100 UP, tetapi ada juga yang membeli 1.000, 5.000, atau bahkan 10.000 UP. Semua itu tergantung dana masing-masing investor. Selain itu, investor juga harus membayar komisi untuk Perusahaan Reksa Dana, yang biasanya maksimal sekitar 0,75% sampai dengan 3% dari total investasi Anda. Sebagai contoh, bila Anda membeli 1.000 UP dengan harga total Rp 1.000.000, maka Anda harus menambahkan sekitar Rp 7.500 sampai Rp 30.000 untuk komisi manajer investasi.

Dalam dunia reksa dana, komisi untuk manajer investasi ini sering disebut dengan nama “biaya penjualan”. Ini karena komisi tersebut harus Anda bayar pada saat Anda membeli UP yang dijual itu.

Selanjutnya, karena reksa dana diatas dialokasikan ke dalam Deposito Berjangka 1 bulan, maka tentunya setelah 1 bulan, akan ada bunga deposito yang didapat, sehingga akibatnya NAB dari UP Anda akan naik. Dalam contoh di atas, kita misalkan bahwa masing-masing deposito akan memberi bunga yang sama (meski kenyataannya akan berbeda-beda), seperti contoh tabel 2.

Menurut contoh tersebut, nilai UP yang tadinya dibeli seharga Rp 1.000, setelah satu bulan telah naik menjadi Rp 1.010. Ini berarti, dalam 1 bulan, si pemilik UP (investor) telah mendapatkan kenaikan NAB sebesar 1% per bulan.

Dalam kenyataannya, perubahan NAB suatu reksa dana sangat bergantung pada instrumen investasi yang dipilih tim pengelola investasi. Apabila mereka memilih instrumen deposito sebagai produk investasinya, maka NAB reksa dananya akan terus naik dan tidak mungkin mengalami penurunan. Ini karena sifat deposito yang pasti memberikan keuntungan berupa bunga, sehingga akan terus menambah nilai aset reksa dana.

Tapi ada juga reksa dana yang khusus berinvestasi ke dalam saham. Saham, tidak seperti deposito, memiliki kemungkinan keuntungan yang tidak pasti sifatnya. Bisa naik, bisa pula turun. Karena itu, nilai UP pada reksa dana saham memiliki kemungkinan untuk naik dan juga untuk turun. UP yang tadinya Anda beli seharga Rp 1.000, misalnya, bisa saja jadi Rp 900 pada satu bulan kemudian karena saham-saham yang dipilih oleh manajer investasi turun nilainya. Di sisi lain, bila nilai saham naik, besar kenaikan tersebut bisa lebih besar daripada deposito. Itulah sebabnya, reksa dana jenis ini disebut dengan nama reksa dana growth income.

Reksa dana lainnya ada yang berinvestasi ke dalam obligasi (surat hutang), dan ada juga yang berinvestasi ke dalam kombinasi dari dua atau lebih instrumen investasi, semisal gabungan saham dan obligasi, atau obligasi dan deposito.

Jadi, sebelum membeli reksa dana, tanyalah pada si penjual reksa dana atau bacalah terlebih dahulu prospektusnya (penjelasannya) sehingga Anda tahu reksa dana jenis apakah yang akan Anda beli. Apakah itu reksa dana yang mengalokasikan investasinya pada saham, obligasi, deposito, atau kombinasi antara dua atau tiga instrumen investasi.

Menjual Kembali Reksa Dana Yang Telah Anda Miliki

Setelah beberapa waktu, Anda bisa menjual kembali UP yang Anda miliki kepada perusahaan reksa dana Anda. Jenis reksa dana di mana Anda bisa menjual kembali UP Anda kepada perusahaan penerbitnya disebut dengan nama Reksa Dana Terbuka (open end mutual fund). Lawan dari Reksa Dana Terbuka adalah Reksa Dana Tertutup (closed end mutual fund). Reksa Dana Tertutup adalah jenis reksa dana di mana Anda tidak bisa menjual UP yang Anda miliki kepada penerbitnya, tapi Anda hanya bisa menjualnya kepada investor yang lain, dan penjualan tersebut harus dilakukan lewat bursa.

Untuk Reksa Dana Terbuka, bila sewaktu-waktu Anda ingin menjual UP Anda, maka Anda bisa menjualnya kembali kepada penerbit reksa dana Anda, dan perusahaan reksa dana dilarang untuk menolak penjualan kembali UP dari nasabahnya. Ini tentunya akan menguntungkan Anda.

Sebaliknya, pada Reksa Dana Tertutup, proses penjualan kembali sering mengalami hambatan karena tidak selalu ada investor yang mau membeli UP Reksa Dana Anda. Jadi dengan kata lain, UP dari Reksa Dana Terbuka lebih likuid dari UP pada Reksa Dana Tertutup.

debat kusir data kemiskinan

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 2:14 am

Faisal Basri: Data Kemiskinan Yudhoyono dan Wiranto Ngawur
Kamis, 27 Desember 2007 | 20:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai perdebatan data statistik kemiskinan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto sia-sia. “Data keduanya tidak ada yang benar,” katanya, dalam refleksi akhir tahun, di Sekretariat Gerakan Pemuda Ansor, Jakarta, Kamis (27/12).

Faisal menyebut, beberapa waktu lalu, Yudhoyono menyatakan jumlah orang miskin dan pengangguran berkurang. Pernyataan itu diambil dari data Badan Pusat Statistik. Sementara itu, Wiranto justru menyatakan jumlah orang miskin dan penganggur bertambah. “Wiranto mengambil data dari Bank Dunia dan Bank Dunia datanya dari BPS. Jadi sama saja,” katanya.

Perdebatan data kemiskinan dan pengangguran, lanjut dia, justru membuat pemerintah semakin jauh dari substansi penanganan kemiskinan dan pengangguran. Kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah juga dinilai tidak berpihak pada masyarakat bawah. “Substansi kemiskinan tidak pernah dijamah,” kata Faisal.

Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan jumlah orang miskin pada 2007 hanya 16,5 persen, jauh lebih rendah dari jumlah orang miskin pada 1998 sebesar 24,2 persen. Namun klaim presiden berhasil menurunkan angka kemiskinan dibantah Wiranto melalui iklan layanan di media elektronik. Dalam iklan layanan masyarakat tersebut, Wiranto menyebutkan tingkat kemiskinan saat ini justru mencapai 49,5 persen.

Perbedaan data jumlah kemiskinan tersebut, menurut Faisal, karena keduanya merujuk pada sumber yang berbeda. Presiden merujuk data Badan Pusat Statistik sedangkan Wiranto merujuk pada data Bank Dunia. “Dua-duanya ngawur,” katanya.

Dwi Riyanto Agustiar

… jelas debat di atas berhasil mengalihkan perhatian orang kepada soal beda data, bukan ke soal kemiskinan itu sendiri, sehingga yang terpinggirkan tetap saja tidak mendapat perhatian … bung Faisal yang kurang populer di kalangan masyarakat umum ini memang seperti berteriak di gurun sahara …

Abad 21: Tetap Idem Dito

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 1:58 am

Bhutto’s body flown to home province 8:14pm EST
ISLAMABAD (Reuters) – The body of Pakistani opposition leader Benazir Bhutto was taken to her family village for burial on Friday, a day after she was assassinated by a suicide bomber, plunging the nuclear-armed country into one of the worst crises in its 60-year history.
….. sami mawon, kekerasan kontra demokrasi … bahkan di indonesia: keletihan terhadap demokrasi:
Indra Jaya Piliang

Kalau Bukan Demokrasi, Apa?
Rabu, 26 Desember 2007

TEMPO Interaktif, Jakarta: Persoalan reshuffle kabinet mengemuka sebagai langkah politik yang ditunggu pada awal 2007. Namun, sejumlah diskusi penutup akhir tahun justru mulai meragukan demokrasi. Sungguh ironis, para peragu atas demokrasi itu datang dari komunitas masyarakat sipil dan politik. Mereka berkata, betapa demokrasi berbiaya mahal, persoalan sepele dibahas berbulan-bulan, keindonesiaan ditelanjangi, olahraga selalu kalah, sedangkan rakyat tetap miskin.

Sikap lelah atas demokrasi sama berbahayanya dengan ketakutan atas sistem monarki dan diktatorial. Kita masih ingat petuah Tan Malaka, betapa yang sama berpengaruh buruk atas republik adalah kolonialisme dan feodalisme. Ketika kolonialisme tertendang dan feodalisme memudar, kekuasaan menjadi personal dalam orasi Bung Karno dan senyum Soeharto.

Ahli sayap pesawat terbang lulusan Jerman, Profesor Dr B.J. Habibie, mereparasi keindividuan kekuasaan itu dengan menyodorkan demokrasi. Dan Habibie menjadi korban pertama demokrasi yang dia lahirkan, yakni ditolak menjadi presiden hasil pemilihan umum. Abdurrahman Wahid, yang seluruh hidupnya bertumpu pada ranah demokrasi kultural, ikut-ikutan terjungkal lewat demokrasi struktural dan prosedural.

Bangsa malang ini lantas mendapatkan seorang jenderal purnawirawan lagi, setelah Soeharto, yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Tentu ia bukan peracik sajian demokrasi itu, kendati mendirikan Partai Demokrat. Sejauh ini Yudhoyono pantas disebut sebagai aktor penting yang gandrung akan demokrasi. Yudhoyono tidak tampak seperti jenderal, walau muncul sinyalemen bahwa ia lebih berperilaku sebagai menantu jenderal. Saking demokratisnya, Yudhoyono lebih berupaya memperkuat sistem multipartai ketimbang sistem presidensial. Ia memberi porsi kepada wakil-wakil partai di kabinet.

Doktrin Kalla

Lain lagi Jusuf Kalla, sekondan Yudhoyono. Ia terlalu menimbang untung dan rugi dalam neraca demokrasi. Tidak mengherankan kalau Kalla sering menuduh demokrasi tidak efektif dan inefisien. Biaya demokrasi terlalu mahal. Pemilu legislatif harus bersamaan dengan pemilu eksekutif. Kalau bisa, pemilihan kepala daerah digelar serentak. Demokrasi bukan tujuan, melainkan alat mencapai tujuan. Begitulah bunyi “doktrin Kalla”.

Ironis, banyak yang mengikuti doktrin Kalla. Dr Amir Santoso (Pelita, 16 Desember) dan Radhar Panca Dahana (Seputar Indonesia, 19 Desember) mulai mengutuk demokrasi. Lembaga Ketahanan Nasional mengatakan gubernur seharusnya ditunjuk saja oleh presiden. Para aktivis juga ikut-ikutan menyatakan demokrasi mengubah Indonesia menjadi negara politikus, setelah tampak seperti negara polisi. Kaum muda menyatakan saatnya mereka berkuasa, tapi emoh masuk partai politik.

Tapi doktrinasi sudah kehilangan tempat. Para politikus di Senayan menolak keras doktrin itu. Ya, masyarakat yang mengatakan partai politik paling tidak dipercaya barangkali menganggap bahwa yang untung dengan demokrasi hanya segelintir partai politik dan aktivis lembaga swadaya masyarakat, sebagaimana tuduhan Amir Santoso. Maka wajar-wajar saja partai politik mendukung demokrasi.

Bangsa Indonesia memang tidak pernah sabar atas demokrasi. Seusai Pemilu 1955 yang ultraliberal, empat tahun kemudian Soekarno tidak lagi menjalankan pemilu, dengan mengeluarkan konsep demokrasi terpimpin. Hasilnya, Soekarno diangkat sebagai presiden seumur hidup. Soeharto, atas nama demokrasi Pancasila, malah bertahan lebih lama. Hanya mahasiswa bandel dan cendekiawan keras kepala yang membangkang, tapi segera menghuni pintu penjara.

Dengan pola kediktatoran terselubung itu, rakyat memang terlihat sabar. Hanya, sejarah mencatat betapa hak-hak warga negara terampas, pelanggaran hak asasi manusia meningkat, serta kekayaan menumpuk hanya di segelintir konglomerat hitam.

Sewindu

Hanya delapan tahun sejak Pemilu 1999, ada yang mencoba mengusik lagi ketidaksabaran rakyat atas demokrasi. Belum ada yang menawarkan monarki atau diktatorialisme. Pola partai tunggal juga tidak diberi alternatif. Adapun teokrasi terdengar sayup-sayup sampai dalam teriakan-teriakan di jalan-jalan. Berarti penolakan atas demokrasi disertai oleh ruang hampa menganga, tanpa tawaran apa-apa. Sabdo pandito ratu? Manunggaling kawulo-gusti? Atau Ana al-Haq?

Politik 2007 memang penuh dengan pemilihan kepala daerah serta sengketanya. Juga barisan politikus dan pejabat yang masuk penjara. Mereka ada pada pucuk pemimpin lembaga atau organisasi yang disebut sebagai tulang belakang demokrasi, yakni partai politik. Mereka besar dan dibesarkan oleh coblosan para pengemis serta orang lapar, penyakitan, dan berpendidikan rendah di kotak-kotak suara. Sebagai pemulung suara rakyat dengan jabatan terhormat, mereka tak segan mempertontonkan fasilitas mewah yang diterima.

Tapi apa benar demokrasi yang menjadi tersangka silang-sengkarut itu? Rasa-rasanya bukan. Kalau demokrasi tidak hadir, barangkali pasukan loreng masih merajalela di jalan-jalan. Preman berpentung dan menggunakan sangkur di pinggang juga terus memburu pedagang kaki lima. Warung-warung makan beratap rumbia dipenuhi oleh gambar pemilik warung bersama orang-orang berpangkat. Ruang-ruang tamu orang-orang pasti dihiasi foto salaman dengan pejabat.

Jelas sudah, demokrasi menghilangkan pangkat orang berpangkat. Presiden pun mudah dituduh tidak punya nyali atau memilih orang-orang tak tepat. Apabila tidak suka dengan keputusan presiden, bisa Anda gugat di pengadilan. Para ulama yang kehilangan terompah di tangga Istana diam-diam ditinggal umatnya. Menteri-menteri yang doyan bernyanyi tak lagi bisa dihafal nama-namanya oleh para pelajar. Buku-buku yang tak masuk akal disobek-sobek atau dicorat-coret hingga tak bisa lagi dibaca.

“Minimal kami punya satu suara untuk menentukan ini negeri, Tuan!”

Itu jawaban atas soal-soal demokrasi yang diseret-seret ke wilayah abstrak dan filosofis itu. Selain rakyat, Anda semua adalah pengemis. Memang, Anda gagah di depan kami, tapi tanpa suara kami, Anda terus menghinakan diri. Demokrasi terang sekali memberi makna substantif, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kini Anda presiden, besok pagi silakan jadi pesinden. Kemarin Anda susah dicari ketika berkuasa, hari ini Anda harus menyediakan secangkir kopi dan sepiring gorengan untuk membujuk para wartawan datang.

Delapan tahun terlalu singkat untuk sekadar lelah dengan demokrasi. Bagi ukuran pelajar, masih setahun lagi lulus sekolah menengah serta belum tentu lulus masuk perguruan tinggi negeri. Usia sewindu hanya memanjangkan beberapa depa pohon kelapa tradisional, kecuali kelapa salak yang bisa berbuah dalam usia satu setengah tahun. Artinya, kalau Anda lelah dengan demokrasi, panjat saja sebatang pohon kelapa berusia 20 tahun. Paling Anda berkeringat atau terjatuh, tapi batang pohon itu tetap tertancap kukuh.

Tanpa kearifan intelektual dan kegigihan bak pejuang, demokrasi memang terlihat menyedihkan. Hanya, bangsa ini belum pernah benar-benar hidup berdampingan dengan demokrasi. Akibat-akibat negatifnya berusia lama, termasuk kegamangan atas demokrasi yang mengalir dalam pena para penolaknya.

* Indra Jaya Piliang, Analis Politik dan Perubahan Sosial Center for Strategic and International Studies, Jakarta

Desember 27, 2007

Contrarian view: Ancaman di balik Peluang?

Filed under: Contrarian Strategy,Investasi Reksa Dana di Indonesia 2008 — bumi2009fans @ 1:27 am

selalu terjadi, 2 kali sudah, terjadi pergerakan luar biasa reksa dana di indonesia, minimal yang gw ingat: 2005, saat kenaikan bbm ke2 kali, maka bursa saham langsung goncang, reksa dana saham ikut goyang, tapi yang paling goyang adalah reksa dana pendapatan tetap, sehingga dari nilai aktiva bersih sudah mencapai 70T, rontok ke 40T … 2006, ketika the fed menaikkan suku bunganya, maka bursa saham langsung goncang, tapi lagi2 nilai aktiva bersih dari pendapatan tetap lah yang paling tergusur, sehingga total nilai aktiva bersih rontok dari 80T ke 20T …. lalu 2007, walau pun terjadi crash di 16 Agustus, dan juga berkali-kali crash kecil lainnya sepanjang 2007, tapi nilai aktiva bersih yang didominasi kenaikan reksa dana saham hampir2 tidak pernah takluk oleh kerusakan finansial perumahan di amrik dan isu slowdown di amrik dan china … apakah 2008 akan terjadi suasana persis sama 2007, kayanya ga lah? harus ada pemahaman baru tentang kondisi global dan lokal, karena sudah pasti terjadi perubahan dalam ekonomi makro global dan lokal…. apa ya perubahannya?
Kamis, 27/12/2007
Saatnya reksa dana saham unjuk gigi

Seperti sudah diduga sebelumnya, tahun ini manajer investasi kembali mengeruk keuntungan luar biasa dari kenaikan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana yang sempat melesat hingga Rp90,47 triliun pada 6 Desember 2007.

Faktor pendorong kebangkitan reksa dana tahun ini adalah pemahaman pemodal terhadap investasi dan tren penurunan tingkat suku bunga.�

Total NAB reksa dana per 19 Desember 2007 mencapai Rp88,85 triliun, tumbuh 74,66% dibandingkan dengan NAB 28 Desember 2006 yaitu Rp50,87 triliun.

Jera dengan keterpurukan yang dialami dua tahun lalu, mendorong manajer investasi giat menyebarkan pengetahuan tentang bagaimana dampak dan keuntungan dari berinvestasi di reksa dana kepada pemodal.

Sosialisasi yang gencar dilakukan oleh manajer investasi berujung pada pemahaman yang mendalam dari pemodal tentang berinvestasi di reksa dana.

Itu terlihat dari data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) per 15 Agustus ketika kasus subprime mortgage mulai memengaruhi pasar modal Indonesia. Total dana yang ditarik mencapai Rp5,25 triliun seimbang dengan dana yang masuk Rp5,81 triliun. Memang pada periode 31 Juli-15 Agustus, total dana kelolaan reksa dana turun 4,11% dari Rp73,67 triliun menjadi Rp70,64 triliun.

Para manajer investasi berpendapat penurunan dana kelolaan disebabkan oleh penurunan indeks yang sangat memengaruhi underlying asset reksa dana khususnya reksa dana jenis saham yang paling digemari pemodal tahun ini.

Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK Djoko Hendratto mengatakan bahwa penarikan yang signifikan dalam 15 hari pada Agustus karena banyaknya jenis reksa dana yang dibubarkan.

Dia menjelaskan dalam dua bulan itu ada 95 reksa dana yang dibubarkan termasuk di antaranya karena pembatalan surat pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Total reksa dana yang bubar itu terdiri dari reksa dana pendapatan tetap 49, pasar uang 15, campuran 13, terproteksi 12, dan enam reksa dana saham.

Reksa dana yang memberitahukan pembubaran terdiri dari 11 reksa dana pendapatan tetap, lima reksa dana pasar uang, sembilan reksa dana terproteksi, dan dua reksa dana saham. Tidak ada satu pun reksa dana campuran yang memberitahukan pembubaran.

“Itu artinya pemodal dengan karakter konvensional [yang umumnya memilih reksa dana campuran] berinvestasi secara jangka panjang dan masih yakin pasar saham ke depan akan bullish lagi,” katanya.

Penurunan IHSG

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Head of Mutual Funds Sales PT Schroder Investment Management Indonesia Lilis Setiadi mengatakan penurunan dana kelolaan bukan disebabkan oleh penarikan secara besar-besaran melainkan dipicu oleh penurunan IHSG terimbas sentimen negatif krisis subprime mortgage di AS.

Menurut Lilis, kondisi seperti itu tidak perlu dikhawatirkan oleh para pemodal. Ini karena penurunan indeks tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di bursa regional dan global.

“Penarikan yang terjadi selama Agustus masih dalam batasan normal karena diikuti juga dengan subscription yang tinggi. Gara-gara indeks menurun, total dana yang masuk menjadi tidak berdampak signifikan terhadap nilai aktiva bersih,” tuturnya.

Selain berkat tangan dingin manajer investasi, faktor yang paling memengaruhi pertumbuhan aktivitas reksa dana tahun ini adalah kebijakan Bank Indonesia yang agresif menurunkan tingkat suku bunga, sehingga mengharuskan pemodal memutar haluan investasi dari deposito ke jenis yang memberikan tingkat return tinggi.

Dari data yang dilansir oleh Bank Indonesia, terlihat posisi deposito periode Januari-Oktober mencapai Rp648,29 triliun naik Rp33,13 triliun dari Rp615,61 triliun per Desember 2006. Kenaikan tersebut tidak sebesar periode yang sama tahun sebelumnya dari Rp565,03 triliun menjadi Rp608,7 triliun atau naik Rp43,67 triliun.

Dengan kata lain, terjadi perlambatan kenaikan deposito sebesar 24,13% dari sebelumnya naik Rp43,67 triliun menjadi Rp33,13 triliun.

Banyak pihak menilai penurunan dana masyarakat di deposito karena telah terjadi pengalihan dana ke instrumen lainnya yang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi seperti surat utang negara dan reksa dana.

Agar bisa terus menambah pundi-pundi uang, masyarakat harus jeli memarkirkan dananya di reksa dana.

Kepercayaan pemodal terhadap instrumen investasi di reksa dana terlihat dari kenaikan reksa dana secara signifikan tiap bulannya. Bahkan, ketika kasus subprime mortgage pertama kali berhembus di pasar saham Indonesia, pemodal seolah tidak bergeming untuk tetap menanamkan modalnya.

Tetap primadona

Bertahun-tahun lamanya reksa dana pendapatan tetap menjadi incaran pemodal, tetapi posisi tersebut akhirnya diganti oleh oleh reksa dana saham yang diyakini memberikan imbal hasil menjanjikan.

Dari data yang dilansir oleh Bapepam-LK, penutupan akhir tahun lalu total dana kelolaan reksa dana pendapatan tetap mencapai Rp18,86 triliun, naik 11,45% menjadi Rp21,02 triliun. Reksa dana saham tahun lalu mencapai Rp8,25 triliun melesat hingga 296,12% menjadi Rp32,68 triliun.

Reksa dana lainnya yang berkontribusi terhadap pencapaian dana kelolaan per 19 Desember 2007 adalah reksa dana terproteksi Rp16,44 triliun, campuran Rp13,77 triliun, pasar uang Rp4,76 triliun, indeks Rp109,06 miliar, dan exchange traded fund (ETF)� saham Rp63,67 miliar.

Sementara itu, total dana kelolaan reksa dana terproteksi pada 2006 adalah Rp11,5 triliun, campuran Rp8,42 triliun, saham Rp8,25 triliun, pasar uang Rp3,79 triliun dan reksa dana indeks Rp29,63 miliar untuk periode yang sama tahun lalu.

Pengalihan minat investasi ke reksa dana saham disebabkan oleh sikap optimistis kenaikan indeks dalam tahun ini yang sempat menyentuh level tertinggi 2.800 pada 12 November.

Dalam periode 2 Januari-26 Desember, indeks harga saham gabungan tumbuh 47,8% dari 1.836,52 pada pembukaan pasar Januari menjadi 2.714,54 pada penutupan perdagangan kemarin.

Berdasarkan data PT Infovesta Utama, lima reksa dana saham yang memberikan return tertinggi periode 28 Desember 2006-19 Desember 2007 adalah Makinta Mantap sebesar 97,04% yang dikeluarkan oleh Makinta Securities dan Fortis Ekuitas 77,41% dari Fortis Investments.

Reksa dana saham lainnya adalah Pratama Saham 71,93% dari Pratama Capital Indonesia, Reksa Dana Dana Ekuitas Prima 63,44% dari Bahana TCW Investment Management, Trim Kapital dari Trimegah Securities 61,80%.

Apakah reksa dana pada 2008 bisa tumbuh sepesat tahun ini ketika volatilitas indeks masih tinggi karena subprime mortgage masih membayangi? Kita tunggu saja! (rahayuningsih@bisnis.co.id)

Oleh Rahayuningsih
Wartawan Bisnis Indonesia

Desember 18, 2007

tekanan inflasi

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 1:49 am

seperti yang gw ramal bahwa 2008 adalah taon inflasi, maka niat pemerintah untuk menaikkan harga eceran bbm (pengalihan jenis) akan bisa menjadi bumerang bwat ekonomi dan pemerintah sendiri …
Isu BBM Ancam SBY di Pemilu 2009

JAKARTA, KCM—Rencana penghapusan subsidi BBM disinyalir merupakan cara untuk menyingkirkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu 2009. Hal itu disampaikan pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (17/12)

Menurut Ichsanuddin, pemerintah memang bisa menghemat Rp 25-30 triliun dari pengubahan premium oktan 88 ke oktan 90. Namun, hal itu justru akan memperburuk perkembangan ekonomi sektor riil dan menambah kemiskinan.

“Dan berani betul kalau itu menjadi kampanye 2009, karena itu parah. Dan kalau itu dilakukan, itu menyingkirkan Susilo Bamabang Yudhoyono yang sekarang tidak ada tandingan,” kata Ichsan.

Ichsanuddin juga menganggap rencana tersebut sebagai rencana untuk membebaskan pasar minyak dan gas (migas). “Isu soal kenaikan harga memang niatnya untuk membebaskan pasar migas,” kata ahli pusat studi ekonomi kerakyatan Universitas Gajah Mada tersebut.

Namun, menurut Ichsanuddin, pembebasan itu justru tidak memberikan manfaat apa-apa bagi pemerintah. Mengutip data dari Energy Information Administration (EIA) di Amerika Serikat, Ichsanuddin mengatakan tidak benar ada masalah pada neraca jumlah suplai dan permintaan migas di dunia. “Pakai hukum pasar sekalipun, tidak logik terjadi kenaikan (harga minyak mentah),” paparnya.

Dia menghitung, ongkos produksi minyak mentah di Indonesia sekira Rp500-Rp700/liter. Dengan demikian, sesuai teori manajemen, harga minyak jadi di tangan masyarakat mestinya Rp5.000–Rp7.000. Harga itu adalah harga nonsubsidi..(LHW)

2700-2800

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 1:16 am

gw pernah ditanyain kira2 prediksi gw ihsg jakarta akan sampai berapa? saat itu kalo ga keliru, ihsg uda 2600-an … ya, gw memperkirakan sekitar 2700-an … yang nanya mendesak: kalo 2800? hmmm, gw bilang mungkin aja, tapi kayanya 2800 itu kalo tercapai juga itu mungkin tertinggi, karena alasan gw, taon 2008 adalah taon yang mungkin lebih sulit daripada 2007, karena banyak faktor ketidakpastian eksternal dan internal … jadi, gw berharap ihsg jangan naik terlalu tinggi lagi, supaya kalo rontok ga juga terlalu dalam … ternyata, emang, ihsg di desember ini aja uda fluktuatif cenderung bearish … well, bandingin ama artikel di bawah:

Selasa, 18/12/2007
PREDIKSI
Koreksi indeks bakal makin dalam

* Cetak

JAKARTA: Koreksi diperkirakan masih melanda indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam jangka pendek, menjadikan saham semakin menarik untuk dikoleksi sebagai antisipasi January effect.

Indeks melanjutkan penurunan untuk keempat hari sejak Rabu pekan lalu. IHSG pada perdagangan kemarin anjlok 2,74% atau 75,14 poin ke level 2.664,92.

Analis Sinarmas Sekuritas Samuel Sudeswanto Yeung mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan penurunan yang terjadi karena secara fundamental kondisi makroekonomi ataupun pasar modal Indonesia masih kuat.

Indeks juga berada pada posisi support di 2.607. Sebagai kebalikannya, dia menetapkan level resistance indeks di 2.700.

Menurut dia, penurunan yang terjadi pada indeks diakibatkan oleh aksi ambil untung yang dilancarkan pemodal menjelang liburan. “Sebagian portofolio dicairkan terutama yang berhubungan dengan [transaksi] margin,” kata dia kemarin.

Fasilitas margin yang disedikan oleh sejumlah sekuritas memungkinkan pemodal bertransaksi dalam jumlah besar meskipun modal yang dimilikinya lebih kecil. Ketentuan margin dengan beban bunga pinjaman yang menyertainya membuat pemodal memilih mempersingkat jangka waktu pinjaman.

Kendati pasar mengalami konsolidasi dalam beberapa hari terakhir, Samuel menilai pasar saham domestik masih berpotensi untuk tumbuh di masa datang. “Indeks bisa menguat dalam jangka menengah.”

Hari bursa yang singkat pada pekan ini dan pekan depan membuka peluang bagi pemodal untuk mengamankan keuntungannya, sehingga pemodal perlu waspada terhadap koreksi pasar.

Dengan kondisi yang demikian, Samuel menyarankan agar pemodal melakukan aksi beli terhadap saham berfundamental bagus yang harganya sedang jatuh. “Kalau mau beli untuk disimpan, sebagai persiapan menghadapi January effect.”

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Desember 15, 2007

lumayan keren tuh:

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 11:54 am

http://portalreksadana.com/…. banyak diskusi tentang reksa dananya … sayang pernah crash juga, kaya nasib reksa dananya beberapa kali dalam beberapa tahun belakangan yang tren sebenarnya adalah bullish sih …. namanya juga usaha, crash mah harus diantisipasi dong … kalo uda diantisipasi tetap crash juga, mending ke blog aja d… daripada punya server sendiri ga kuku, mending nebeng di google d … hehehehhehe

justifikasi poligini?

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 11:12 am

seandainya manusia diakui sebagai evolusi dari binatang, sebenarnya poli-poli apa pun gpp sih … akui aja emang manusia ga beda dari hewan … gitu aja repot … hehehehehh

Sedari awal Cahyadi menekankan, ia menulis buku ini bukan dalam rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami. Yang ia tolak adalah praktek poligami itu sendiri. Sebab banyak fakta dan kasus poligami yang menghancurkan institusi keluarga, khususnya perempuan dan anak.

Cahyadi tetap mengakui, pada kasus-kasus tertentu, seperti menolong janda dan anak korban konflik, poligami tetaplah menjadi solusi. Tapi jarang sekali suami berpoligami karena alasan tersebut. Alasannya lebih karena perempuan yang akan dijadikan istri selanjutnya itu lebih muda, lebih menarik, lebih pintar, dan lebih segalanya dibandingkan dengan istri sebelumnya.

Seperti diketahui, biasanya para pelaku poligami membenarkan perbuatannya itu berdasarkan dua hal: Al-Quran surat An-Nisa ayat 3 dan mengikuti sunah Nabi. Padahal, bila merujuk pada kehidupan Nabi secara cermat, sesungguhnya Nabi melakukan monogami. Dalam kurun waktu kehidupan rumah tangganya, Nabi sangat monogami.

Kehidupan rumah tangga Nabi dengan Khadijah berlangsung 25 tahun. Sedangkan poligami yang dilakukan Nabi hanya berlangsung 10 tahun. Itu pun setelah Khadijah wafat dan kebanyakan pernikahannya itu lebih karena menolong janda-janda sahabat beliau yang wafat akibat perang membela Islam (halaman xviii).

Sementara itu, ayat Al-Quran yang menjadi acuan poligami itu pun titik tekannya pada sikap suami yang bisa berlaku adil. Sikap ini sulit sekali ditentukan ukurannya karena sangat melibatkan perasaan, tidak hanya kecukupan materi dan kepuasan seksual. Seperti diulas dengan baik oleh Bintu Syathi dalam bukunya, Istri-istri Nabi, kehidupan istri-istri Nabi saja tak sepenuhnya harmonis, malah cenderung saling cemburu.

Untuk lelaki setingkat Nabi saja, yang banyak diberi kelebihan oleh Allah, mengelola perasaan dan menghadapi istri-istrinya itu cukup merepotkan. Apalagi untuk lelaki biasa. Cahyadi pun menyimpulkan, karena kita bukan Nabi, istri kita pun bukan Aisyah, maka jangan coba-coba berpoligami (halaman 238).

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: