eK0n0mi taK seriU$ d/h ekonomitakserius@blogspot.com

April 26, 2007

adakah kaitannya

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 3:46 am

antara lonjakan indeks harga saham gabungan bursa efek jakarta dengan ekonomi riil terutama wong cilik? 25 april 2007, bisnis indonesia online menulis:
Tembus level 2.008,51
oleh : Taufik Wisastra
JAKARTA (Bloomberg): IHSG pagi ini naik 21,84 poin menembus 2.008,51 ditopang penguatan harga saham PT Telkom, PT Astra International dan PT Unilever Indonesia. Harga saham Bank Internasional Indone turun Rp10 jadi Rp205 yang merupakan paling aktif diperdagangkan. Sekitar 47 juta lembar saham diperdagangkan. Sementara itu, harga saham PT Agis naik Rp40 jadi Rp1.320; PT Bumiteknokultura Unggul naik Rp10 jadi Rp82; PT Bakrieland Development naik Rp5 jadi Rp255; PT Central Proteinaprima naik Rp15 jadi Rp300. Indeks harga saham gabungan dibuka pada 1.996,82, atau naik 0,51% dari penutupan sebelumnya. (tw)
bisnis.com
kalo menurut wartawan bisnis indonesia: TIDAK ADA.
Tapi, sudahlah… kinerja ekonomi virtual seperti bursa saham bukanlah harapan utama bagi jutaan rakyat Indonesia. Hasil penelitian dua ekonom Prancis-Gerald Dumenil dan Dominique dalam Capital Resurgent,Roots of the Neoliberal Revelolution (2004)- menegasakan hal itu. Manfaat perputaran uang di tingkat virtual sangat minim bagi perkembangan di sektor riil.
Lengkapnya:
Rabu, 25/04/2007 11:37 WIB
Indeks 2.000 dan reshuffle kabinet
oleh : Abraham Runga Mali
Tinggal menghitung hari, indikator perdagangan Bursa Efek Jakarta (BEJ) menembus posisi psikologis 2.000. Pada penutupan kemarin, indeks bertengger di posisi 1.981,570.
Menarik disimak bahwa puncak pencapaian indeks itu terjadi bersamaan dengan merebaknya wacana reshuffle (perombakan) kabinet.
Dua setengah tahun lalu, menjelang penobatan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) sebagai presiden-wapres, para analis masih bernubuat tentang kenaikan indeks hingga 1.000.
Berdasarkan prediksi saat itu, jika indeks mampu merambat ke posisi 1.000 pun sudah cukup mencengangkan. Karena, pada 5 April 2004, saat pemilu tahap pertama digelar, indeks masih bercokol di posisi 750,652. Saat serah terima jabatan dari Megawati Soekarnoputri ke SBY, indikator perdagangan BEJ itu terdongkrak ke posisi 840,791.
Pada pertengahan masa pemerintahan SBY-JK, indeks mendekati level 2.000. Itu berarti selama pemerintahan SBY-JK, terjadi kenaikan IHSG sekitar 1140,779 poin atau sebesar 135,670%.
Kalau saja Anda menjadi investor yang memperdagangkan kontrak berjangka indeks BEJ, dalam periode tersebut Anda menikmati keuntungan luar biasa, jauh melebihi return yang ditawarkan Dressel yang menelan banyak korban-banyak di antaranya selebritis dan orang penting negeri ini.
Yang paling demonstratif dalam membuat prediksi kinerja bursa dan ketokohan SBY-JK adalah analis dari JP Morgan. Masih ingat hasil riset perusahaan sekuritas itu pada edisi 21 April 2004 berjudul Indonesian Strategy, SBY+Kalla=This is it!?
Menurut analisis itu, kalau SBY-JK terpilih, maka indeks akan melampui 1.000. Ternyata bukan hanya sampai ke angka itu. Kepada SYB-JK, indeks berbaik hati dengan menambah 1.000 lagi menjadi 2.000.
Apakah dengan demikian, prediksi itu menjadi valid? Mari kita periksa alasan di balik deretan angka-angka. Paket SBY-JK, menurut analis tadi, adalah dua tokoh yang paling ideal dan diterima pasar.
Alasannya sederhana. Kedua figur itu, demikian analis tersebut, memiliki kemampuan yang saling melengkapi. SBY dinilai memahami dinamika sosial-ekonomi di wilayah barat Indonesia, dan Kalla mengerti tentang kondisi di wilayah timur. Dengan demikian, keduanya diharapkan mampu mengorganisasikan semua potensi dalam negeri yang kemudian dipacu untuk mencapai kemajuan.
Pertanyaannya, apakah SBY-JK berhasil memenuhi harapan pasar itu? Jawaban atas pertanyaan di atas sangat penting untuk memastikan apakah indeks yang merambat naik itu bergerak simetris dengan pergerakan kinerja kedua pemimpin itu. Atau, bisa dibuat sebuah rumusan pertanyaan lain, apakah kinerja kepemimpinan SBY-JK demikian optimal sehingga menarik indikator perdagangan ke level tersebut?
Untuk mengevaluasi SBY-JK, mari kita langsung menukik dari wacana reshuffle yang menjadi tema paling panas saat ini. Mengapa reshuffle? Alasannya jelas, masyarakat telanjur tidak puas dengan kinerja pemimpin mereka. Lagipula, merajut perubahan dengan mencopot sejumlah menteri, itu yang paling mungkin dilakukan, karena pasangan SBY-JK tak bisa berhenti begitu saja di tengah jalan.
Terkait dengan reshuffle, persoalan utama SBY-JK bukan pada keberanian dan kemauan. Reshuffle menjadi salah satu cermin dari kinerja keduanya. Mengiyakan reshuffle, berarti menegaskan kegagalan perjalanan kepemimpinan mereka berdua hingga sekarang.
Sekurang-kurangnya peristiwa pergantian menteri mengonfirmasi kegagalan SBY-JK dalam memilih pembantunya (baca: menteri). Atau, kalau pilihan mereka benar, kemungkinan lain SBY-JK gagal mengorganisasikan mereka.
Pertanyaan lanjutan, kalau keduanya terbukti kurang optimal untuk tidak mengatakan gagal, bagaimana menjelaskan kenaikan indeks yang sangat tajam? Bukankah itu sekaligus menegaskan kenaikan indeks tak berhubungan dengan kinerja SBY-JK seperti yang diramalkan analis menjelang masa kepemimpinan mereka?
Keuangan global
Kalau disimak, ternyata indeks mempunyai jalan ceritanya sendiri. Kenaikan indeks lebih banyak bercerita tentang lalu lalang keuangan global yang terus berupaya mengembangbiakkan dananya melalui investasi di bursa.
Pelbagai data yang dilansir dari transaksi bursa global membuktikan pasar modal Indonesia adalah salah satu ladang subur bagi perputaran uang bernilai miliaran dolar.
Institute of International Finance pada awal tahun memperkirakan dana swasta yang siap digelontorkan ke emerging market, termasuk Indonesia, pada 2007 akan mencapai US$470 miliar. Angka ini sedikit menurun dibandingkan US$502 miliar pada 2006 dan US$509 miliar pada 2005.
Khusus dana yang diinvestasikan ke portofolio saham tahun ini, jumlahnya diperkirakan sebesar US$63 miliar. Tahun lalu, jumlah tersebut mencapai US$70 miliar. Dari jumlah pada 2006 itu, investasi portofolio di China menghabiskan US$32 miliar, dan diperkirakan menurun tahun ini menjadi US$18 miliar.
Bandingkan dengan aliran dana asing yang masuk ke bursa Indonesia (capital inflow) pada tahun lalu yang mencapai US$3,5 miliar. Jumlah tersebut hanya 2% dari total aliran dana yang mengguyur emerging market wilayah Asia. Porsi untuk Indonesia ini masih kecil dibandingkan dengan realisasi sebelum krisis 1997 ketika capital inflow mencapai 7%.
Mudah sebenarnya kalau pemerintah Indonesia mau bekerja untuk menarik lebih banyak lagi dana ke bursa Indonesia. SBY-JK cukup mengingatkan Menneg BUMN Soegiharto agar proses privatisasi, terutama yang melalui penawaran perdana (IPO-initial public offering), lebih cepat diselesaikan.
Harap dicatat bahwa selama pemerintahan SBY-JK dengan Sugiharto sebagai komandan BUMN, belum satu pun BUMN yang diprivatisasi melalui IPO. Rencana IPO Jasa Marga dan Wijaya Karya yang sudah lama direncanakan, hingga kini terkatung-katung. Konon, masih terjadi tarik menarik kepentingan antara Menneg BUMN dan Komisi XI DPR. Tapi, biarlah SBY-JK yang menilai kinerja para pembantunya.
Yang pasti agak mengherankan adalah bahwa pemerintah SBY-JK yang sangat neoliberal itu mengabaikan privatisasi BUMN. Padahal, IPO BUMN biasanya menjadi pemicu terpenting masuknya portofolio seperti yang pernah terjadi secara signifikan di China pada 2006.
Apalagi, seperti yang diakui CEO Tempeleton Emerging Markets Fund Inc, Mark Mobius, harga saham-saham di Indonesia-terutama saham emiten BUMN yang masuk dalam keranjang investasi Templeton-sudah sangat tinggi (over valued). Itulah sebabnya dari US$33 miliar dana yang dikelola Templeton, hanya sebesar US$330 juta (1%) yang ditempatkan di bursa saham Indonesia.
Tapi, sudahlah… kinerja ekonomi virtual seperti bursa saham bukanlah harapan utama bagi jutaan rakyat Indonesia. Hasil penelitian dua ekonom Prancis-Gerald Dumenil dan Dominique dalam Capital Resurgent,Roots of the Neoliberal Revelolution (2004)- menegasakan hal itu. Manfaat perputaran uang di tingkat virtual sangat minim bagi perkembangan di sektor riil.
Permainan di bidang finansial terkadang laksana gasing yang berputar-putar pada dirinya. Maka tak perlu diherankan bahwa kendati indeks di pasar modal kelihatan tumbuh gagah perkasa, sektor riil tetap merayap penuh susah payah. Itulah ironi yang terjadi di masa pemerintahan SBY-JK.
Kalau demikian, apa yang harus dibuat SBY-JK? Reshuffle? Pertanyaannya, apakah cukup dalam waktu dua tahun orang-orang baru yang akan mengisi kabinet itu mampu memperbaiki kinerja kabinet SBY-JK?
Atau jangan-jangan ini hanya sekadar reaksi tambal sulam untuk merestorasi pencitraan kedua pemimpin kita itu yang tengah merosot di tangan sejumlah lembaga survei? Bukankah tahun depan, yang tinggal beberapa bulan lagi, SBY-JK dan para pembantunya mulai sibuk melakukan akrobat politik dalam rangka suksesi 2009?
Lalu, dari mana datangnya perubahan kinerja SBY-JK? Hanya keduanya (dan Tuhan) yang tahu. Yang pasti, dengan reshuffle, keduanya kembali memberi harapan kepada bangsa ini.
Mirip emiten yang menawarkan prospek kepada pemodal di lantai bursa melalui sebuah prospektus. Pemodal-yang menarik keuntungan dari ekonomi virtual-bisa saja hidup dari prospek. Tapi, orang kebanyakan harus berpijak di atas realitas.
bisnis.comURL : http://web.bisnis.com/artikel/2id96.html
© Copyright 1996-2007 PT Jurnalindo Aksara Grafika

Iklan

April 21, 2007

hari2 penuh risiko

Filed under: Uncategorized — bumi2009fans @ 3:08 am

virginia tech diguncang pembunuh massal yang beriwayat kelainan jiwa, irak dibom abis2an, n uda ada lawmaker dari partai demokrat amrik yang lempar handuk putih, bursa saham diguncang oleh angka bagus banget dari gdp china 11,1%, para menteri kabinet sby tambah jantungan nungguin siapa yang kena babat, private equity makin merajalela menyeret perusahaan2 raksasa keluar dari bursa saham, 1 euro = 2 usd … hasil2 investasi dibanding akhir taon 2006:

per 20/04/2007
indeks harga saham gabung bursa efek (saham) jakarta (jsx index) 20/04/2007: 1968 (new record) … +11.44% (against the numbers on 20/12/2006)
gold price in indonesian rupiah term: 202,200 … +10.19% (against the price per gram tgl 15/12/06)
mutual funds:
equity based mutual funds
fortis ekuitas : 6272.11 … against the level on 22/12/06: +13.37% (new record)
manulife dana saham: 4625.04 ..against the level on 22/12/06: +9.00%
schroder dana istimewa: 1979.62 … against the level on 12/01/2007: +12.94%

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: